
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 10
Ken tersenyum lalu menghapus air matanya. “Ada
alasan kenapa aku ditukar sama Renata, mah. Dan aku harus tahu alasan itu.
Kalaupun perbuatan ini harus dibalas, aku akan pastikan mereka akan dapat
balasannya,” ucap Ken tegas.
“Tapi Ken, mama cemas kamu pergi kayak gini. Kalau
Endy kasar sama kamu, gimana?” tanya Mia.
“Dia tidak akan melakukan hal itu sebelum
keinginannya tercapai, mah. Aku cukup tangguh, bisa berkelahi, mama tenang aja
dech.” Ken mencoba menenangkan Mia, tapi malah tambah membuat wanita itu
kuatir.
Ken buru-buru keluar dari kamar Alex dan Mia. Ia
tidak mau penghuni rumah lain memergokinya keluar dari kamar itu. Tapi belum
sampai di ruang kerja, Ken balik lagi ke kamar Alex dan Mia. Ia hampir masuk
saat mendengar kata-kata Mia,
“Mas, nggak bisa ya Ken tinggal sama kita? Renata
juga tinggal disini kan.” Mia merajuk pada Alex.
“Ken pasti pulang, sayang. Dia harus selesaikan
masalah ini dulu. Kalau kita mengganggunya, nanti malah menyusahkan dia. Mas
janji akan selalu membantunya. Kamu yang tenang ya,” bujuk Alex sambil
mengelus-elus punggung Mia.
“Aku bahkan nggak tahu makanan kesukaannya, mas,”
rengek Mia membuat Alex mulai panas.
“Palingan sama kayak kamu. Nasi panas pake sambel
terasi. Coba tanya,” sahut Alex.
“Ngawur. Disana mana ada sambel terasi. Kayak mas
nggak, sukanya sup iga,” balas Mia.
“Nggak lah. Aku sukanya makan kamu, sayang,” kata
Alex sambil meraih dagu Mia, hampir mencium istrinya itu.
“Ehem!” Ken berdehem di depan pintu yang sedikit
terbuka.
“Eh, Ken, sini masuk. Kenapa balik lagi?” tanya Mia
sambil mendorong Alex menjauh.
“Nggak, cuma mau nanya aja. Nanti boleh pamitan
sama Kaori nggak? Cipika-cipiki gitu. Dikit aja,” pinta Ken dengan wajah
imutnya.
Alex melempar bantal kearah Ken yang ditangkap pria
itu dengan mudah. Disaat seperti itu, Ken terlihat sangat mirip dengan Reva
yang jahilnya minta ampun. Alex hampir bangun dari duduknya disamping Mia,
ingin memukul anak itu.
“Yah, nggak boleh ya. Ya, udah dech, om. Ntar aku
cium sekalian,” goda Ken sambil melempar balik bantal itu mengenai tubuh Alex.
Ken segera berlari menuju ruang kerja dan menutup
pintunya rapat-rapat. Sementara Alex harus memilih antara mengejar Ken atau
menghadapi godaan Mia di pagi hari yang cerah itu.
**
Jam delapan pagi, sebuah mobil mewah tampak
memasuki halaman rumah Alex. Ken yang sudah bersiap, mengucapkan selamat
tinggal pada Mia.
“Ken, kamu nggak mau pamitan sama Kaori?” tanya Mia
sebelum Ken keluar dari dalam rumah.
“Nggak, ma..., tante, lebih baik Kaori tidak tahu. Bilang
saja aku pulang ke mansion papa Endy,” kata Ken sambil tersenyum. “Pa... om
Alex tidur lagi ya, mah?”
Mia mengangguk, suaminya itu tertidur pulas setelah
meminta jatah malam dan pagi butanya. Padahal Ken sudah hampir pergi dari rumah
itu, tapi Alex belum keluar juga dari kamarnya.
“Aku pergi ya, tante,” kata Ken yang tidak mau
identitasnya ketahuan.
Ken keluar dari rumah Alex, lalu berjalan mendekati
seorang pria yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Pria itu
menunduk hormat pada Ken sebelum Ken memasuki mobil. Ken menoleh sekali lagi ke
__ADS_1
arah rumah Alex, ia tidak mengijinkan Mia keluar dari dalam rumah untuk
mengantarnya. Ken tidak mau melihat air mata Mia lagi. Sudah tidak bisa mundur
lagi, Ken harus menghadapi apapun yang akan terjadi nanti, sendirian.
Perjalanan selama kurang lebih empatpuluh limamenit
itu membawa Ken menuju rumah super mewah milik kakek dan neneknya, orang tua
Endy. Pintu gerbang rumah besar itu terbuka lebar, membiarkan mobil mewah itu
masuk. Rimbunan pepohonan memenuhi kiri dan kanan jalan aspal menuju rumah
besar.
Saat mobil berhenti, seseorang membukakan pintu mobil
untuk Ken. Pria itu bersikap dingin, tidak seperti saat ia berada di rumah
Alex. Pandangan matanya tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang lain. Ken
tidak mau menunjukkan kelemahannya saat ini.
Setelah masuk ke dalam rumah, Ken disambut deretan
pelayan yang siap melakukan apapun
perintahnya. Tapi Ken lebih fokus untuk bertemu dengan kakeknya dulu.
“Tuan muda, silakan tunggu sebentar. Tuan besar
akan segera turun,” ucap seorang pelayan.
Ken duduk di sofa besar di ruang tengah. Di atas
meja ada papan catur yang sudah siap untuk dimainkan. Salah satu kebiasaan kakek
Ken kalau bertemu Ken adalah bermain catur bersama. Dan kalau Ken bisa
memenangkan permainan catur itu, Ken boleh meminta apapun dari kakeknya.
Beberapa waktu lalu saat Ken memenangkan permainan
catur itu, Ken meminta dinner bersama dengan keluarga besar. Dan untuk pertama
kalinya, seluruh keluarga Endy berkumpul atas perintah tuan besar Martin
Wiranata. Ken masih ingat suasana dinner saat itu benar-benar hangat. Tentu
saja ia sibuk berbicara dengan kakeknya. Sementara Endy dan Kinanti hanya
datang untuk makan, lalu pergi setelah makan malam berakhir.
Kali ini, Ken ingin meminta sesuatu yang lebih
egois. Sambil menunggu, Ken memikirkan baik-baik tentang permintaannya. Ken
tidak perlu banyak berpikir karena kakek Martin akhirnya turun dari lantai dua.
Ken langsung berdiri dengan gagah lalu mendekati kakek Martin dan mencium
tangannya.
“Ken, cucuku. Sudah lama tidak bertemu, kamu
semakin gagah dan tampan ya. Sudah siap?” tanya kakek Martin.
“Sudah, kek. Silakan jalan duluan,” kata Ken.
“Oho, aturan mainnya tidak begitu lagi, Ken. Kita
tentukan dari pemenang permainan catur kita selama ini. Berapa kali kamu menang?”
tanya kakek Martin.
Ken mencoba mengingat, tapi ia hanya ingat terakhir
kali, Ken memenangkan permainan itu. Kakek Martin tertawa keras, ia memanggil
pelayan yang membawa catatan permainan catur mereka berdua. Ken sudah menang
tujuhbelas kali dari tigapuluh lima kali permainan mereka. Artinya kakek Martin
sudah menang delapanbelas kali.
Kakek Martin memang bisa memulai lebih dulu, tapi
kesempatan pertama diberikan pada Ken. “Ken, kamu mulai duluan. Kalau kamu
menang, apapun itu, kakek akan kabulkan. Tapi kalau kamu kalah, kamu harus bawa
gadis itu makan malam, malam ini,” kata kakek Martin.
“Gadis yang mana, kek?” tanya Ken mencoba menahan
kekagetannya.
“Oho, apa lebih dari satu? Kamu lebih nakal dari
papamu ya,” goda kakek Martin.
Ken langsung terpikir tentang Kaori. Tapi kalau ia
membawa Kaori ke rumah besar itu, gadis itu tidak akan bisa ikut makan malam
seperti orang normal pada umumnya. Ken hampir memilih Renata atau mungkin ia
akan membawa Mia sekalian, Ken tidak peduli asal bukan Kaori. Jangan sampai
Kaori mendengarkan hinaan atas kekurangannya, Ken tidak akan bisa menahan
dirinya kalau sampai itu terjadi.
“Ken, kamu mikir apa? Ayo fokus, mulai mainnya,”
ajak kakek Martin.
Ken mencoba berkonsentrasi dengan permainan yang
sudah dimulai kakek Martin. Sedikit demi sedikit, Ken mencoba memimpin
permainan. Ia berjuang agar Kaori tidak perlu bertemu kakek Martin sekarang.
__ADS_1
Tapi fokusnya terpecah antara Kaori dan permainan catur itu. Saat ia merasa hampir
menang, kakek Martin mengatakan skak mat dengan cepat.
Ken menatap bidak catur di depannya, lalu menatap
senyuman kakek Martin. Senyuman takut ditambah helaan nafas berat dari Ken
membuat kakek Martin.
“Pelayan! Siapkan makan malam! Bawa kesini
hadiahnya!” teriak kakek Martin seperti orang sakit jiwa.
Ken hampir terjatuh dari kursinya saat melihat
Kaori dibawa masuk ke ruang tengah itu. Pria itu segera berlari mendekati Kaori
yang tampak kebingungan.
“Kaori,” panggil Ken.
“Ken, akhirnya ketemu kamu. Aku ada dimana, Ken?”
kata Kaori terlihat lega.
“Kamu di rumah kakekku. Kamu kenapa bisa kesini?
Sama siapa?” tanya Ken sambil melihat ke belakang Kaori.
Setelah Ken dibawa pergi dengan mobil kakek Martin,
sebuah mobil masuk ke rumah Alex. Pengacara kakek Martin meminta Kaori agar
ikut dengannya menyusul Ken. Alex dan Mia tentu saja mencoba menghalangi, tapi
pengacara itu menjamin kalau Kaori akan kembali dalam keadaan baik. Tentu saja
bukan hanya jaminan, tapi juga ancaman yang membuat Alex kelimpungan.
Romi menelpon kalau tiba-tiba saja, perusahaannya
mengalami penurunan harga saham dan terus menurun sampai membuat pemegang saham
lainnya mulai menelpon Alex. Kaori yang mencemaskan opa-nya, memilih ikut
dengan pengacara itu. Alex mau tidak mau harus melepas Kaori pergi bersama
pengacara kakek Martin. Lagipula kakek Martin adalah kakek kandung Kaori.
“Kek, aku kan bisa menjemputnya nanti. Kenapa Kaori
dibawa kesini?” protes Ken tanpa sadar.
Pria itu segera mengendalikan dirinya saat melihat
kakek Martin berjalan mendekati dirinya dan Kaori. Ken berdiri di depan Kaori,
memasang badan untuk gadis pujaannya itu.
“Ken, minggir. Kakek belum mengenal gadis cantik
ini. Apa kamu tidak mau mengenalkan dia?” tanya kakek Martin dengan
seringainya.
“Bentar, kek. Kaori, kakekku mau kenalan sama kamu.
Mau kan?” tanya Ken lembut pada Kaori.
“Iya, Ken,” sahut Kaori.
Kakek Martin memperkenalkan dirinya dengan baik
pada Kaori. Lalu ia mengeluh karena Ken tidak pernah memintanya menunggu. Hanya
gara-gara ada Kaori disini, kakek Martin harus menunggu sebentar. Ken langsung
gelagapan mendengar kata-kata kakeknya itu. Sedangkan Kaori hanya tersenyum
canggung.
Mereka duduk di tempat semula. Beberapa cangkir teh
dan cemilan tampak tertata di atas meja. Kotak permainan catur mereka sudah
dibereskan tadi.
“Silakan diminum, Kaori. Berapa usiamu sekarang?”
tanya kakek Martin.
“Kek, Kaori ini tunanetra. Jadi, aku akan
membantunya minum teh. Usianya setahun lebih tua dariku, kek,” kata Ken sebelum
mengambil cangkir teh lalu mencicipi teh hangat itu dengan sendok.
“Tidak sampai setahun, tuan besar. Hanya beberapa
bulan saja,” sahut Kaori sopan. Pengacara kakek Martin tadi mengatakan kalau
Kaori hanya perlu menjawab pertanyaan yang ia tahu dan memanggil kakek Martin
dengan panggilan tuan besar.
Kakek Martin tetap tersenyum melihat Ken
mendekatkan cangkir teh ke bibir Kaori. Gadis cantik itu sebenarnya tidak perlu
dibantu sampai sedetail itu. Mia dan Alex sudah mengajarkan sopan santun dan
juga cara berperilaku pada Kaori. Meskipun memiliki kekurangan pada matanya,
Kaori memiliki tata krama yang baik.
Lihat saja saat Ken menyodorkan piring kecil berisi
potongan kue krim, Kaori bisa makan dengan tenang seolah ia tidak buta. Padahal
Ken sudah siap untuk menyuapinya. Malah Kaori yang menyuapi Ken makan kue krim
itu. Kakek Martin jadi asyik menonton dua orang muda-mudi yang sedang asyik
__ADS_1
suap-suapan makanan di depannya.