Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 10


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 10


Ken tersenyum lalu menghapus air matanya. “Ada


alasan kenapa aku ditukar sama Renata, mah. Dan aku harus tahu alasan itu.


Kalaupun perbuatan ini harus dibalas, aku akan pastikan mereka akan dapat


balasannya,” ucap Ken tegas.


“Tapi Ken, mama cemas kamu pergi kayak gini. Kalau


Endy kasar sama kamu, gimana?” tanya Mia.


“Dia tidak akan melakukan hal itu sebelum


keinginannya tercapai, mah. Aku cukup tangguh, bisa berkelahi, mama tenang aja


dech.” Ken mencoba menenangkan Mia, tapi malah tambah membuat wanita itu


kuatir.


Ken buru-buru keluar dari kamar Alex dan Mia. Ia


tidak mau penghuni rumah lain memergokinya keluar dari kamar itu. Tapi belum


sampai di ruang kerja, Ken balik lagi ke kamar Alex dan Mia. Ia hampir masuk


saat mendengar kata-kata Mia,


“Mas, nggak bisa ya Ken tinggal sama kita? Renata


juga tinggal disini kan.” Mia merajuk pada Alex.


“Ken pasti pulang, sayang. Dia harus selesaikan


masalah ini dulu. Kalau kita mengganggunya, nanti malah menyusahkan dia. Mas


janji akan selalu membantunya. Kamu yang tenang ya,” bujuk Alex sambil


mengelus-elus punggung Mia.


“Aku bahkan nggak tahu makanan kesukaannya, mas,”


rengek Mia membuat Alex mulai panas.


“Palingan sama kayak kamu. Nasi panas pake sambel


terasi. Coba tanya,” sahut Alex.


“Ngawur. Disana mana ada sambel terasi. Kayak mas


nggak, sukanya sup iga,” balas Mia.


“Nggak lah. Aku sukanya makan kamu, sayang,” kata


Alex sambil meraih dagu Mia, hampir mencium istrinya itu.


“Ehem!” Ken berdehem di depan pintu yang sedikit


terbuka.


“Eh, Ken, sini masuk. Kenapa balik lagi?” tanya Mia


sambil mendorong Alex menjauh.


“Nggak, cuma mau nanya aja. Nanti boleh pamitan


sama Kaori nggak? Cipika-cipiki gitu. Dikit aja,” pinta Ken dengan wajah


imutnya.


Alex melempar bantal kearah Ken yang ditangkap pria


itu dengan mudah. Disaat seperti itu, Ken terlihat sangat mirip dengan Reva


yang jahilnya minta ampun. Alex hampir bangun dari duduknya disamping Mia,


ingin memukul anak itu.


“Yah, nggak boleh ya. Ya, udah dech, om. Ntar aku


cium sekalian,” goda Ken sambil melempar balik bantal itu mengenai tubuh Alex.


Ken segera berlari menuju ruang kerja dan menutup


pintunya rapat-rapat. Sementara Alex harus memilih antara mengejar Ken atau


menghadapi godaan Mia di pagi hari yang cerah itu.


**


Jam delapan pagi, sebuah mobil mewah tampak


memasuki halaman rumah Alex. Ken yang sudah bersiap, mengucapkan selamat


tinggal pada Mia.


“Ken, kamu nggak mau pamitan sama Kaori?” tanya Mia


sebelum Ken keluar dari dalam rumah.


“Nggak, ma..., tante, lebih baik Kaori tidak tahu. Bilang


saja aku pulang ke mansion papa Endy,” kata Ken sambil tersenyum. “Pa... om


Alex tidur lagi ya, mah?”


Mia mengangguk, suaminya itu tertidur pulas setelah


meminta jatah malam dan pagi butanya. Padahal Ken sudah hampir pergi dari rumah


itu, tapi Alex belum keluar juga dari kamarnya.


“Aku pergi ya, tante,” kata Ken yang tidak mau


identitasnya ketahuan.


Ken keluar dari rumah Alex, lalu berjalan mendekati


seorang pria yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Pria itu


menunduk hormat pada Ken sebelum Ken memasuki mobil. Ken menoleh sekali lagi ke

__ADS_1


arah rumah Alex, ia tidak mengijinkan Mia keluar dari dalam rumah untuk


mengantarnya. Ken tidak mau melihat air mata Mia lagi. Sudah tidak bisa mundur


lagi, Ken harus menghadapi apapun yang akan terjadi nanti, sendirian.


Perjalanan selama kurang lebih empatpuluh limamenit


itu membawa Ken menuju rumah super mewah milik kakek dan neneknya, orang tua


Endy. Pintu gerbang rumah besar itu terbuka lebar, membiarkan mobil mewah itu


masuk. Rimbunan pepohonan memenuhi kiri dan kanan jalan aspal menuju rumah


besar.


Saat mobil berhenti, seseorang membukakan pintu mobil


untuk Ken. Pria itu bersikap dingin, tidak seperti saat ia berada di rumah


Alex. Pandangan matanya tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang lain. Ken


tidak mau menunjukkan kelemahannya saat ini.


Setelah masuk ke dalam rumah, Ken disambut deretan


pelayan  yang siap melakukan apapun


perintahnya. Tapi Ken lebih fokus untuk bertemu dengan kakeknya dulu.


“Tuan muda, silakan tunggu sebentar. Tuan besar


akan segera turun,” ucap seorang pelayan.


Ken duduk di sofa besar di ruang tengah. Di atas


meja ada papan catur yang sudah siap untuk dimainkan. Salah satu kebiasaan kakek


Ken kalau bertemu Ken adalah bermain catur bersama. Dan kalau Ken bisa


memenangkan permainan catur itu, Ken boleh meminta apapun dari kakeknya.


Beberapa waktu lalu saat Ken memenangkan permainan


catur itu, Ken meminta dinner bersama dengan keluarga besar. Dan untuk pertama


kalinya, seluruh keluarga Endy berkumpul atas perintah tuan besar Martin


Wiranata. Ken masih ingat suasana dinner saat itu benar-benar hangat. Tentu


saja ia sibuk berbicara dengan kakeknya. Sementara Endy dan Kinanti hanya


datang untuk makan, lalu pergi setelah makan malam berakhir.


Kali ini, Ken ingin meminta sesuatu yang lebih


egois. Sambil menunggu, Ken memikirkan baik-baik tentang permintaannya. Ken


tidak perlu banyak berpikir karena kakek Martin akhirnya turun dari lantai dua.


Ken langsung berdiri dengan gagah lalu mendekati kakek Martin dan mencium


tangannya.


“Ken, cucuku. Sudah lama tidak bertemu, kamu


semakin gagah dan tampan ya. Sudah siap?” tanya kakek Martin.


“Sudah, kek. Silakan jalan duluan,” kata Ken.


“Oho, aturan mainnya tidak begitu lagi, Ken. Kita


tentukan dari pemenang permainan catur kita selama ini. Berapa kali kamu menang?”


tanya kakek Martin.


Ken mencoba mengingat, tapi ia hanya ingat terakhir


kali, Ken memenangkan permainan itu. Kakek Martin tertawa keras, ia memanggil


pelayan yang membawa catatan permainan catur mereka berdua. Ken sudah menang


tujuhbelas kali dari tigapuluh lima kali permainan mereka. Artinya kakek Martin


sudah menang delapanbelas kali.


Kakek Martin memang bisa memulai lebih dulu, tapi


kesempatan pertama diberikan pada Ken. “Ken, kamu mulai duluan. Kalau kamu


menang, apapun itu, kakek akan kabulkan. Tapi kalau kamu kalah, kamu harus bawa


gadis itu makan malam, malam ini,” kata kakek Martin.


“Gadis yang mana, kek?” tanya Ken mencoba menahan


kekagetannya.


“Oho, apa lebih dari satu? Kamu lebih nakal dari


papamu ya,” goda kakek Martin.


Ken langsung terpikir tentang Kaori. Tapi kalau ia


membawa Kaori ke rumah besar itu, gadis itu tidak akan bisa ikut makan malam


seperti orang normal pada umumnya. Ken hampir memilih Renata atau mungkin ia


akan membawa Mia sekalian, Ken tidak peduli asal bukan Kaori. Jangan sampai


Kaori mendengarkan hinaan atas kekurangannya, Ken tidak akan bisa menahan


dirinya kalau sampai itu terjadi.


“Ken, kamu mikir apa? Ayo fokus, mulai mainnya,”


ajak kakek Martin.


Ken mencoba berkonsentrasi dengan permainan yang


sudah dimulai kakek Martin. Sedikit demi sedikit, Ken mencoba memimpin


permainan. Ia berjuang agar Kaori tidak perlu bertemu kakek Martin sekarang.

__ADS_1


Tapi fokusnya terpecah antara Kaori dan permainan catur itu. Saat ia merasa hampir


menang, kakek Martin mengatakan skak mat dengan cepat.


Ken menatap bidak catur di depannya, lalu menatap


senyuman kakek Martin. Senyuman takut ditambah helaan nafas berat dari Ken


membuat kakek Martin.


“Pelayan! Siapkan makan malam! Bawa kesini


hadiahnya!” teriak kakek Martin seperti orang sakit jiwa.


Ken hampir terjatuh dari kursinya saat melihat


Kaori dibawa masuk ke ruang tengah itu. Pria itu segera berlari mendekati Kaori


yang tampak kebingungan.


“Kaori,” panggil Ken.


“Ken, akhirnya ketemu kamu. Aku ada dimana, Ken?”


kata Kaori terlihat lega.


“Kamu di rumah kakekku. Kamu kenapa bisa kesini?


Sama siapa?” tanya Ken sambil melihat ke belakang Kaori.


Setelah Ken dibawa pergi dengan mobil kakek Martin,


sebuah mobil masuk ke rumah Alex. Pengacara kakek Martin meminta Kaori agar


ikut dengannya menyusul Ken. Alex dan Mia tentu saja mencoba menghalangi, tapi


pengacara itu menjamin kalau Kaori akan kembali dalam keadaan baik. Tentu saja


bukan hanya jaminan, tapi juga ancaman yang membuat Alex kelimpungan.


Romi menelpon kalau tiba-tiba saja, perusahaannya


mengalami penurunan harga saham dan terus menurun sampai membuat pemegang saham


lainnya mulai menelpon Alex. Kaori yang mencemaskan opa-nya, memilih ikut


dengan pengacara itu. Alex mau tidak mau harus melepas Kaori pergi bersama


pengacara kakek Martin. Lagipula kakek Martin adalah kakek kandung Kaori.


“Kek, aku kan bisa menjemputnya nanti. Kenapa Kaori


dibawa kesini?” protes Ken tanpa sadar.


Pria itu segera mengendalikan dirinya saat melihat


kakek Martin berjalan mendekati dirinya dan Kaori. Ken berdiri di depan Kaori,


memasang badan untuk gadis pujaannya itu.


“Ken, minggir. Kakek belum mengenal gadis cantik


ini. Apa kamu tidak mau mengenalkan dia?” tanya kakek Martin dengan


seringainya.


“Bentar, kek. Kaori, kakekku mau kenalan sama kamu.


Mau kan?” tanya Ken lembut pada Kaori.


“Iya, Ken,” sahut Kaori.


Kakek Martin memperkenalkan dirinya dengan baik


pada Kaori. Lalu ia mengeluh karena Ken tidak pernah memintanya menunggu. Hanya


gara-gara ada Kaori disini, kakek Martin harus menunggu sebentar. Ken langsung


gelagapan mendengar kata-kata kakeknya itu. Sedangkan Kaori hanya tersenyum


canggung.


Mereka duduk di tempat semula. Beberapa cangkir teh


dan cemilan tampak tertata di atas meja. Kotak permainan catur mereka sudah


dibereskan tadi.


“Silakan diminum, Kaori. Berapa usiamu sekarang?”


tanya kakek Martin.


“Kek, Kaori ini tunanetra. Jadi, aku akan


membantunya minum teh. Usianya setahun lebih tua dariku, kek,” kata Ken sebelum


mengambil cangkir teh lalu mencicipi teh hangat itu dengan sendok.


“Tidak sampai setahun, tuan besar. Hanya beberapa


bulan saja,” sahut Kaori sopan. Pengacara kakek Martin tadi mengatakan kalau


Kaori hanya perlu menjawab pertanyaan yang ia tahu dan memanggil kakek Martin


dengan panggilan tuan besar.


Kakek Martin tetap tersenyum melihat Ken


mendekatkan cangkir teh ke bibir Kaori. Gadis cantik itu sebenarnya tidak perlu


dibantu sampai sedetail itu. Mia dan Alex sudah mengajarkan sopan santun dan


juga cara berperilaku pada Kaori. Meskipun memiliki kekurangan pada matanya,


Kaori memiliki tata krama yang baik.


Lihat saja saat Ken menyodorkan piring kecil berisi


potongan kue krim, Kaori bisa makan dengan tenang seolah ia tidak buta. Padahal


Ken sudah siap untuk menyuapinya. Malah Kaori yang menyuapi Ken makan kue krim


itu. Kakek Martin jadi asyik menonton dua orang muda-mudi yang sedang asyik

__ADS_1


suap-suapan makanan di depannya.


__ADS_2