Duren Manis

Duren Manis
Pengakuan Gadis


__ADS_3

Pengakuan Gadis


Rio menunggu di sebuah warung di depan kost-an Gadis. Ia berpura-pura ingin mencari tempat kost dan sedang menunggu temannya agar tidak ada yang curiga padanya. Gadis keluar lagi dari kamar kost-nya. Ia


berjalan ke arah warung tempat Rio duduk.


Rio merapatkan hoodie-nya menutupi wajahnya. Gadis hanya ingin membeli sebotol minyak kayu putih. Ia tidak memperhatikan sekitarnya dan langsung berbalik masuk ke kamar kost-nya lagi. Rio tetap diam


disana sampai lampu kamar Gadis mati.


*****


Gadis terbangun dengan kondisi yang sangat tidak enak. Ia merasa pusing dan mual sejak bangun pagi. Merasa dirinya tidak akan bisa masuk kerja hari ini, ia mengirimkan pesan pada Alex dan Romi. Dan minta


maaf karena minta ijin tidak masuk kerja lagi karena sakit.


Alex dan Romi tidak mempermasalahkan itu karena pekerjaan Gadis selalu beres dan gampang dicari. Setiap instruksi yang disampaikan Alex lewat memo, selalu diselesaikan Gadis dengan baik. Alex


membalas chat Gadis dengan mengatakan untuk beristirahat sampai dia pulih.


Gadis membuat mie goreng untuk sarapannya. Ia


merasa lebih baik setelah mencium bau mie goreng. Gadis melihat sekeliling


kamar kost-nya. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan berakhir sendirian di


kamar yang sempit itu.


Dalam pikirannya terlintas bayangan dirinya


berjalan dengan perut besar dan semua orang mencibirnya yang hamil di luar


nikah. Atau dia bisa memilih mengatakan semuanya pada Rio dan minta Rio


bertanggung jawab.


Gadis menggeleng, ia tidak mau melihat Rio


menatapnya dengan pandangan jijik lagi. Harga dirinya belum habis sampai ia


harus mengemis pada Rio.


Gadis : “Mama akan menjagamu, nak. Kita akan selalu sama-sama.”


Gadis berkata sambil mengelus perutnya yang masih


rata. Ia menghitung jumlah tabungannya, seharusnya cukup sampai ia melahirkan.


Setelah itu ia akan mencari pekerjaan lain. Gadis membuka browsing di ponselnya.


Ia mencaritahu sampai berapa lama ia akan mengalami mual dan muntah ini.


Gadis : “Sampai 3 bulan atau lebih. Hmm... Aku bisa tetap bekerja di kantor sampai perutku mulai terlihat dan aku akan mengundurkan diri. Jadi kemana sebaiknya kita pergi, nak?”


Gadis mencari tempat melahirkan yang nyaman dan murah. Ia menemukan beberapa tempat yang bagus dan menyimpannya untuk bahan pertimbangannya nanti.


Gadis : “Kita bisa pergi ke tempat yang bagus, nak. Anggap saja liburan ya. Mama belum pernah liburan lagi sejak tante Kaori meninggal.”


Gadis tertawa sendiri, ia mengelus-elus perutnya seolah janin dalam kandungannya bertanya siapa tante Kaori.


Gadis : “Tante Kaori itu teman kuliah mama. Dia cinta sejati papamu. Nak, gak pa-pa kan kalau kita gak bersama papamu. Mama bisa kok menjagamu sendiri tanpa papa. Jangan marah sama mama ya. Mama gak bisa bersama papamu.”


Gadis menangis lagi. Ia mengusap matanya kuat-kuat


sampai air matanya berhenti mengalir. Ia berbaring di kasurnya. Suasana pagi

__ADS_1


hari yang sejuk membuat Gadis mengantuk lagi. Gadis hampir terlelap lagi.


Tok, tok, tok!


Gadis tersentak saat mendengar suara ketukan di


pintu kamarnya. Dia sedang tidak ingin menerima tamu saat ini dan tidak membuat


janji dengan siapapun. Siapa yang datang ke kost-nya? Tidak ada yang tahu


dimana ia tinggal bahkan mamanya sekalipun.


Tok, tok, tok!


Gadis mengingat lagi, mungkin itu tuan rumah


kost-nya. Ia bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu. Nafasnya tertahan


ketika melihat siapa yang berdiri di di depan pintu kamarnya. Gadis menetralkan


wajahnya terkejutnya dengan cepat.


Gadis : “Ngapain kamu kesini?”


Rio mengintip isi kamar kost Gadis, ia hanya


berdiri di depan Gadis tanpa bicara apa-apa. Gadis yang mulai kesal karena Rio


tidak menjawab pertanyaannya, beranjak dari depan Rio dan hampir menutup pintu


kamarnya.


Rio : “Tunggu. Kenapa kamu gak masuk kerja?”


Gadis : “Aku lagi sakit. Aku mau istirahat. Sudah ya.”


Gadis kembali berdiri di depan Rio. Keningnya mengernyit mencium wangi parfum


Rio yang mulai masuk ke kamarnya. Hummph. Hummph. Gadis mengambil minyak kayu


putih dan menuangkannya banyak-banyak di tangannya.


Ia membalur leher dan perutnya dengan cepat sambil


membelakangi Rio. Rio bisa melihat bagaimana Gadis menghirup dalam-dalam bau


minyak kayu putih itu. Senyum sinis Rio terbit di sudut bibirnya. Ia menunggu


sampai Gadis berbalik lagi dengan mata jelalatan melihat barang-barang diatas


meja.


Gadis seperti menyadari sesuatu kalau ia


meninggalkan hasil testpack masih di atas meja. Ia berjalan mendekati meja itu


dan memasukkan semua testpack ke dalam laci. Rio tahu benda apa itu. Ia sempat


melihat dua garis merah di salah satu testpack itu.


Rio : “Apa itu?”


Gadis : “Bukan urusanmu. Pergi sana. Aku mau tidur!”


Gadis sudah berjalan ke depan pintu lagi, ia

__ADS_1


menendang-nendang kaki Rio agar menjauh dari pintu kamarnya.


Rio : “Aku mau nengok kamu, masa diusir.”


Gadis : “Kita gak seakrab itu sampai kau perlu menengokku. Pergi!”


Rio : “Kamu hamil kan?”


Gadis terdiam mendengar tebakan jitu Rio. Ia


melihat ke kanan dan ke kiri. Suasana kostnya masih sepi karena kebanyakan


penghuninya masih bekerja jam segitu.


Rio : “Kenapa kamu diam? Gak bisa ngomong? Itu anakku, kan?”


Gadis : “Aku cuma masuk angin. Aku kecapean kerja. Sekarang pergi, biarkan aku istirahat.”


Rio menahan pintu yang hampir ditutup Gadis.


Rio : “Ngaku dulu, kamu hamil kan?”


Gadis : “Aku sudah jawab aku masuk angin!”


Rio : “Lalu untuk apa testpack itu?”


Gadis : “Gak ada testpack. Kamu halu, okey. Sekarang pergi!”


Rio tetap bertahan di depan pintu. Ia bahkan hampir merangsek masuk. Gadis menahan mualnya saat berdekatan dengan tubuh Rio.


Gadis : “Sebenarnya apa yang kau khawatirkan? Aku tidak menuntut apa-apa darimu. Aku tidak mengatakan apa-apa pada siapapun. Aku akan terima semua hinaan orang ‘aku hamil diluar nikah’. Ini anakku! Bukan


anakmu!”


Gadis mulai kesal, ia menumpahkan semua kekesalannya pada Rio. Sampai tidak sadar kalau kata-katanya mengakui tentang kehamilannya pada Rio.


Rio : “Jadi kau ngaku kau hamil.”


Gadis : “Iya, aku hamil! Puas!”


Rio : “Apa kau tidak takut perusahaan akan memecatmu karena ini?”


Gadis : “Apa kau mengancamku? Katakan saja pada


semua orang di kantor kalau aku hamil. Aku tidak peduli. Bahkan kalau sampai


dipecat, aku tidak peduli.”


Rio : “Katakan yang sebenarnya! Itu bayiku, kan?!”


Gadis : “Bayi ini anakku!”


Rio : “Kau tidak mungkin hamil sendiri! Memangnya kau perawan suci.”


Gadis : “Bisa saja!”


Gadis merasa mual, ia berdiri terlalu lama, banyak


bicara, dan ingin duduk tapi pria di hadapannya ini tetap bersikeras dan ngotot


tidak mau pergi dari kost-nya. Hummpp. hummp. Gadis akhirnya berbalik menahan


rasa ingin muntahnya dan merebahkan tubuhnya di kursi.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2