
Pengakuan Gadis
Rio menunggu di sebuah warung di depan kost-an Gadis. Ia berpura-pura ingin mencari tempat kost dan sedang menunggu temannya agar tidak ada yang curiga padanya. Gadis keluar lagi dari kamar kost-nya. Ia
berjalan ke arah warung tempat Rio duduk.
Rio merapatkan hoodie-nya menutupi wajahnya. Gadis hanya ingin membeli sebotol minyak kayu putih. Ia tidak memperhatikan sekitarnya dan langsung berbalik masuk ke kamar kost-nya lagi. Rio tetap diam
disana sampai lampu kamar Gadis mati.
*****
Gadis terbangun dengan kondisi yang sangat tidak enak. Ia merasa pusing dan mual sejak bangun pagi. Merasa dirinya tidak akan bisa masuk kerja hari ini, ia mengirimkan pesan pada Alex dan Romi. Dan minta
maaf karena minta ijin tidak masuk kerja lagi karena sakit.
Alex dan Romi tidak mempermasalahkan itu karena pekerjaan Gadis selalu beres dan gampang dicari. Setiap instruksi yang disampaikan Alex lewat memo, selalu diselesaikan Gadis dengan baik. Alex
membalas chat Gadis dengan mengatakan untuk beristirahat sampai dia pulih.
Gadis membuat mie goreng untuk sarapannya. Ia
merasa lebih baik setelah mencium bau mie goreng. Gadis melihat sekeliling
kamar kost-nya. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan berakhir sendirian di
kamar yang sempit itu.
Dalam pikirannya terlintas bayangan dirinya
berjalan dengan perut besar dan semua orang mencibirnya yang hamil di luar
nikah. Atau dia bisa memilih mengatakan semuanya pada Rio dan minta Rio
bertanggung jawab.
Gadis menggeleng, ia tidak mau melihat Rio
menatapnya dengan pandangan jijik lagi. Harga dirinya belum habis sampai ia
harus mengemis pada Rio.
Gadis : “Mama akan menjagamu, nak. Kita akan selalu sama-sama.”
Gadis berkata sambil mengelus perutnya yang masih
rata. Ia menghitung jumlah tabungannya, seharusnya cukup sampai ia melahirkan.
Setelah itu ia akan mencari pekerjaan lain. Gadis membuka browsing di ponselnya.
Ia mencaritahu sampai berapa lama ia akan mengalami mual dan muntah ini.
Gadis : “Sampai 3 bulan atau lebih. Hmm... Aku bisa tetap bekerja di kantor sampai perutku mulai terlihat dan aku akan mengundurkan diri. Jadi kemana sebaiknya kita pergi, nak?”
Gadis mencari tempat melahirkan yang nyaman dan murah. Ia menemukan beberapa tempat yang bagus dan menyimpannya untuk bahan pertimbangannya nanti.
Gadis : “Kita bisa pergi ke tempat yang bagus, nak. Anggap saja liburan ya. Mama belum pernah liburan lagi sejak tante Kaori meninggal.”
Gadis tertawa sendiri, ia mengelus-elus perutnya seolah janin dalam kandungannya bertanya siapa tante Kaori.
Gadis : “Tante Kaori itu teman kuliah mama. Dia cinta sejati papamu. Nak, gak pa-pa kan kalau kita gak bersama papamu. Mama bisa kok menjagamu sendiri tanpa papa. Jangan marah sama mama ya. Mama gak bisa bersama papamu.”
Gadis menangis lagi. Ia mengusap matanya kuat-kuat
sampai air matanya berhenti mengalir. Ia berbaring di kasurnya. Suasana pagi
__ADS_1
hari yang sejuk membuat Gadis mengantuk lagi. Gadis hampir terlelap lagi.
Tok, tok, tok!
Gadis tersentak saat mendengar suara ketukan di
pintu kamarnya. Dia sedang tidak ingin menerima tamu saat ini dan tidak membuat
janji dengan siapapun. Siapa yang datang ke kost-nya? Tidak ada yang tahu
dimana ia tinggal bahkan mamanya sekalipun.
Tok, tok, tok!
Gadis mengingat lagi, mungkin itu tuan rumah
kost-nya. Ia bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu. Nafasnya tertahan
ketika melihat siapa yang berdiri di di depan pintu kamarnya. Gadis menetralkan
wajahnya terkejutnya dengan cepat.
Gadis : “Ngapain kamu kesini?”
Rio mengintip isi kamar kost Gadis, ia hanya
berdiri di depan Gadis tanpa bicara apa-apa. Gadis yang mulai kesal karena Rio
tidak menjawab pertanyaannya, beranjak dari depan Rio dan hampir menutup pintu
kamarnya.
Rio : “Tunggu. Kenapa kamu gak masuk kerja?”
Gadis : “Aku lagi sakit. Aku mau istirahat. Sudah ya.”
Gadis kembali berdiri di depan Rio. Keningnya mengernyit mencium wangi parfum
Rio yang mulai masuk ke kamarnya. Hummph. Hummph. Gadis mengambil minyak kayu
putih dan menuangkannya banyak-banyak di tangannya.
Ia membalur leher dan perutnya dengan cepat sambil
membelakangi Rio. Rio bisa melihat bagaimana Gadis menghirup dalam-dalam bau
minyak kayu putih itu. Senyum sinis Rio terbit di sudut bibirnya. Ia menunggu
sampai Gadis berbalik lagi dengan mata jelalatan melihat barang-barang diatas
meja.
Gadis seperti menyadari sesuatu kalau ia
meninggalkan hasil testpack masih di atas meja. Ia berjalan mendekati meja itu
dan memasukkan semua testpack ke dalam laci. Rio tahu benda apa itu. Ia sempat
melihat dua garis merah di salah satu testpack itu.
Rio : “Apa itu?”
Gadis : “Bukan urusanmu. Pergi sana. Aku mau tidur!”
Gadis sudah berjalan ke depan pintu lagi, ia
__ADS_1
menendang-nendang kaki Rio agar menjauh dari pintu kamarnya.
Rio : “Aku mau nengok kamu, masa diusir.”
Gadis : “Kita gak seakrab itu sampai kau perlu menengokku. Pergi!”
Rio : “Kamu hamil kan?”
Gadis terdiam mendengar tebakan jitu Rio. Ia
melihat ke kanan dan ke kiri. Suasana kostnya masih sepi karena kebanyakan
penghuninya masih bekerja jam segitu.
Rio : “Kenapa kamu diam? Gak bisa ngomong? Itu anakku, kan?”
Gadis : “Aku cuma masuk angin. Aku kecapean kerja. Sekarang pergi, biarkan aku istirahat.”
Rio menahan pintu yang hampir ditutup Gadis.
Rio : “Ngaku dulu, kamu hamil kan?”
Gadis : “Aku sudah jawab aku masuk angin!”
Rio : “Lalu untuk apa testpack itu?”
Gadis : “Gak ada testpack. Kamu halu, okey. Sekarang pergi!”
Rio tetap bertahan di depan pintu. Ia bahkan hampir merangsek masuk. Gadis menahan mualnya saat berdekatan dengan tubuh Rio.
Gadis : “Sebenarnya apa yang kau khawatirkan? Aku tidak menuntut apa-apa darimu. Aku tidak mengatakan apa-apa pada siapapun. Aku akan terima semua hinaan orang ‘aku hamil diluar nikah’. Ini anakku! Bukan
anakmu!”
Gadis mulai kesal, ia menumpahkan semua kekesalannya pada Rio. Sampai tidak sadar kalau kata-katanya mengakui tentang kehamilannya pada Rio.
Rio : “Jadi kau ngaku kau hamil.”
Gadis : “Iya, aku hamil! Puas!”
Rio : “Apa kau tidak takut perusahaan akan memecatmu karena ini?”
Gadis : “Apa kau mengancamku? Katakan saja pada
semua orang di kantor kalau aku hamil. Aku tidak peduli. Bahkan kalau sampai
dipecat, aku tidak peduli.”
Rio : “Katakan yang sebenarnya! Itu bayiku, kan?!”
Gadis : “Bayi ini anakku!”
Rio : “Kau tidak mungkin hamil sendiri! Memangnya kau perawan suci.”
Gadis : “Bisa saja!”
Gadis merasa mual, ia berdiri terlalu lama, banyak
bicara, dan ingin duduk tapi pria di hadapannya ini tetap bersikeras dan ngotot
tidak mau pergi dari kost-nya. Hummpp. hummp. Gadis akhirnya berbalik menahan
rasa ingin muntahnya dan merebahkan tubuhnya di kursi.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).