
Extra part 46
Setelah peristiwa di hotel itu, Keira lebih banyak
mengurung diri di dalam kamarnya. Ia menghabiskan waktu dengan mengenang
masa-masa kecilnya. Masa-masa indah bersama keluarganya. Ada papa, mama, dan
juga adiknya, Jordan.
Tapi masa-masa indah itu harus berakhir ketika
kakeknya, Anton harus melepas jabatannya sebagai direktur utama perusahaan karena
sakit. Jodi dan Katty harus berangkat keluar negeri untuk mengurus perusahaan
Anton disana. Jordan yang masih kecil, tentu saja ikut dengan mereka.
Keira seharusnya ikut juga dengan keluarganya,
pindah keluar negeri. Tapi Keira sudah terlanjur terbujuk dengan kebebasan.
Hidup bebas tanpa pengawasan orang tua. Tentu saja Keira sangat hebat membujuk Katty
agar mengijinkannya tetap tinggal bahkan mulai tinggal di apartment seorang
diri.
Air mata jatuh membasahi kedua pipi Keira. Ia
sangat merindukan orang tuanya, tapi Keira tidak mungkin merengek meminta Jodi
dan Katty pulang. Katty tidak akan melepaskannya kalau mendengar Keira
merengek. Gadis yang kuat dan mandiri, itulah Keira dimata kedua orang tuanya. Jodi
dan Katty tidak perlu mengkuatirkan apapun tentang Keira.
“Mah, aku kangen mama sama papa. Aku harap kalian
ada disini, meskipun cuma sebentar. Beberapa hari saja. Aku ingin bersama...”
lirih Keira sambil memeluk lututnya. Gadis itu menangis sedih seorang diri.
Disekitarnya tampak berserakan foto-foto masa kecilnya dan beberapa mainan
kesayangan Keira.
Keira merasakan kepalanya di elus seseorang. Ia
mengangkat kepalanya dan melihat sosok Katty tersenyum padanya.
“Mah?” panggil Keira bingung. Apa keinginanku bisa
tercapai semudah itu?
“Iya, sayang. Ini mama. I’m home, dear.” Katty merentangkan tangannya memeluk Keira dengan
erat. Jodi juga ikut memeluk putri mereka itu.
Keira tersenyum sangat bahagia, ia langsung
melupakan kesedihannya dan kembali bertingkah seperti gadis kecil yang ceria.
Tidak ada apapun yang bisa membuat Keira sedih setelah Katty dan Jodi kembali.
Jordan, tentu saja juga ikut pulang dengan mereka.
“Keira, kami sudah mendengar dari X. Tapi apa yang
terjadi selama dua jam di dalam kamar hotel itu, bahkan X juga tidak tahu,
sayang. Kamu mau cerita?” tanya Katty ketika mereka sedang duduk santai sambil
menikmati kursi pijat elektrik.
“Kei cuma bantu Bilar aja, mah. Nggak lebih. Kei
masih ingat batasan, kok,” ucap Keira enggan bicara.
Kejadian di dalam kamar itu hanya Keira yang tahu.
Mungkin Bilar juga tahu atau setidaknya ia merasakan apa yang terjadi di kamar
itu. Keira hanya ingin menjadikan momen berdua dengan Bilar saat itu sebagai
kenangan terindah yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Katty melihat Keira tersenyum malu-malu, asyik
sendiri dengan pikirannya.
“Sayang, kami mau kamu bertemu dengan seseorang.
Dia pria yang baik, bertanggung jawab, tampan juga,” pinta Katty.
Keira menggeleng, ia belum bisa melupakan Bilar.
Tapi Keira mengatakan kalau masih terlalu awal untuk mengenal seorang pria. Gadis
itu masih ingin menikmati masa mudanya tanpa terikat dengan seseorang.
“Apa kamu yakin, sayang? Dia ganteng banget loh,”
tawar Keira.
Benar kata orang kalau seorang gadis sudah jatuh
cinta, mau disodorin yang lebih tampan juga nggak bakalan mau. Bahkan nggak ada
__ADS_1
minat sedikitpun untuk kepo, setampan apa pria itu. Keira menggeleng lagi, ia
tidak mau dikenalkan dengan pria lain lagi.
“Kak, apa Bilar itu membuatmu menangis?” tanya
Jordan dengan songongnya. Keira tersenyum melihat Jordan berdiri di depannya
sambil berkacak pinggang.
“Sejak kapan kamu jadi kepo gini, anak kecil,”
sahut Keira sambil menahan tawanya.
“Aku bukan anak kecil! Kakak lihat ini, disini...,”
tunjuk Jordan ke lehernya. Keira mendekat, pura-pura tidak melihat apapun di
sana. “Ini! Aku punya jakun! Itu artinya aku sudah dewasa, kak. Biar aku yang
beri pelajaran sama cowok itu. Akan kuhajar dia.”
Keira menyentil jakun Jordan, membuat adiknya itu
gelagapan sambil memegangi lehernya.
“Jangan sok jagoan dech. Badannya Bilar itu lebih
besar dari kamu. Ototnya keras, bentuknya juga bagus...eh, maksud kakak, kamu
tuch nggak akan kuat ngelawan Bilar. Badan kecil, kurus kerempeng gini,” ejek
Keira mencairkan suasana.
“Aku kuat! Aku bisa nglawan dia. Kalau dia kesini,
aku akan beri dia pelajaran,” ucap Jordan dengan arogannya.
“Dia nggak tahu kakak disini. Jadi nggak mungkin
dia kesini, adikku sayang.” Keira tidak menyadari kalau sebentar lagi ia akan
bertemu dengan pria itu lagi.
**
Keira duduk di depan meja rias. Beberapa pelayan
tampak memulaskan make up di wajahnya dan mengatur rambut Keira. Gaun yang
sangat cantik tampak membalut tubuh Keira, kakinya juga memakai heels
bertahtakan permata.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan ya? Ini kan cuma
makan malam biasa,” kata Keira tapi pelayan hanya senyum-senyum melihat
Usai di rias, Keira memperhatikan keseluruhan
penampilannya. Ia merasa akan menghadiri pesta yang besar. Pelayan meninggalkan
Keira sendirian di kamarnya.
“Sepertinya mama serius mau ngejodohin aku, kali
ini,” gumam Keira sedih. Tapi ia malas sekali untuk mensabotase makan malam
kali ini.
Tok, tok, tok! Pintu kamar Keira diketuk seseorang.
Pelayan memberitahu Keira kalau acara akan segera dimulai. Keira menghela nafas
panjang, ia harus menghadapi ini sekarang juga.
Semua orang yang sudah datang, menoleh menatap
Keira yang baru menuruni tangga. Keira belum memperhatikan sekelilingnya, ia
fokus menuruni tangga. Gadis itu tersenyum pada Pak Jang yang menunggunya di
ujung tangga.
“Opa Jang,” sapa Keira ramah lalu mengulurkan
tangannya pada Pak Jang. Gadis itu berjalan di sisi Pak Jang yang mengantarnya
menuju meja makan.
Saat mereka sampai di dekat meja makan, Keira
tertegun melihat Bianca dan Ilham ada disana. Keira mencengkeram lengan Pak
Jang, ia beringsut ke belakang pria paruh baya itu.
“Nona Keira, silakan duduk,” pinta Pak Jang, tapi Keira
malah bersembunyi di belakangnya.
“Opa Jang, aku nggak mau,” bisik Keira menahan
tangisannya.
“Kei...,” panggil Bilar yang sudah berdiri di depan
Pak Jang.
Keira menelan salivanya, nafasnya mulai tidak
__ADS_1
beraturan, ia mengintip Bilar dari balik tubuh Pak Jang. Tapi tetap tidak
berani menatapnya langsung. Malu, sedih, galau, senang, semua perasaan itu
bercampur mengobrak-abrik hati Keira.
“Opa Jang, aku nggak mau ketemu dia,” rengek Keira
di belakang punggung Pak Jang.
“Kei, aku mau bicara sebentar saja,” pinta Bilar.
Keira menggeleng. Ia belum siap bertemu dan bicara
dengan Bilar. Jordan yang melihat kakaknya tersudut, langsung menghalangi Bilar
yang hampir melangkah ke belakang tubuh Pak Jang.
“Berhenti disana! Kak Kei bilang nggak mau ketemu
kamu, jangan maju lagi atau kupukul kau.” Jordan mengancam Bilar di depan kedua
orang pria itu dan X.
Bilar tersenyum menatap Jordan, pria kecil ini akan
sangat mudah ditaklukkan nanti. Keira yang merasa Jordan bisa menahan Bilar,
segera berjalan cepat menuju tangga. Ia ingin masuk ke kamarnya lagi. Tapi
Keira merasakan tangannya ditarik ke belakang.
“Kei... dengar aku dulu,” pinta Bilar.
Keira menghempaskan tangan Bilar lalu berbalik
hampir berjalan lagi, tapi tangan Keira ditangkap lagi oleh Bilar. Plak! Tangan
Bilar dipukul Jordan, pria kecil itu menghalangi Bilar yang ingin mengejar
Keira. Gadis itu memilih berlari ke balkon samping rumah Jodi.
“Jangan kejar kak Keira lagi! Kamu jahat buat
kakakku nangis!” tuduh Jordan sambil mendorong-dorong tubuh Bilar.
Keira hanya mengintip dari balik jendela kaca, ia
berjalan ke pinggir balkon untuk menenangkan dirinya. Keira tersenyum malu,
ingatannya tentang kejadian di kamar hotel itu membuat pipinya merona merah.
Bahkan dengan Reynold pun, tidak bisa membuat Keira terus terbayang-bayang
seperti saat ini.
Keira tidak mengerti apa yang membuat dirinya tidak
sanggup bertemu Bilar. Keira takut mengakui perasaannya pada pria itu. Bianca
tidak akan setuju kalau mereka bersama. Tapi apa yang membuat Bianca dan Ilham
datang ke rumahnya?
Keira menoleh lagi ke belakang, menatap pintu kaca
yang memperlihatkan meja makan dari balkon. Memang ada Bianca dan Ilham disana.
Dia tidak salah lihat, bahkan orang tuanya tertawa bersama orang tua Bilar. Masih
bingung dengan apa yang terjadi, Keira melihat Jordan menggandeng tangan Bilar
menuju ke arahnya.
Menoleh ke kanan dan ke kiri, Keira mencari tempat
untuk sembunyi atau melarikan diri. Ia memakai gaun yang menghalanginya
memanjat tembok balkon. Dibawah sana ada rumput yang cukup empuk kalau Keira
memaksa untuk terjun kebawah.
Saat Jordan dan Bilar keluar dari pintu samping, mereka
memergoki Keira hampir meloncat dari balkon. Sebagian tubuhnya sudah berada di
atas pinggiran balkon dan kakinya hampir naik ke atas balkon.
“Keira! Kamu mau ngapain?” Bilar segera berlari
mendekati Keira, lalu menarik tubuh gadis itu dari atas balkon.
Keira mencoba mendorong tubuh Bilar yang langsung
memeluknya di depan Jordan.
“Jordan, tolongin kakak.” Keira meminta tolong pada
adiknya itu.
“Kakak berdua selesaiin masalah kalian dulu ya. Kak
Bilar, inget besok ya. Aku tunggu,” kata Jordan.
Keira melongo melihat Jordan tersenyum manis pada
Bilar sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. Tanpa rasa berdosa sama
sekali, Jordan langsung berbalik kembali ke ruang makan tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
“Pengkhianat kecil!” jerit Keira kesal.