
Dion : “Kau terlalu
banyak nonton film. Cepat tidur sana.”
Lili : “Beneran
dech ada yang teriak.”
Dion hampir membuka
pintu kamar Lili,
Lili : “Kamu mau
kemana?”
Dion : “Kenapa? Mau
kutemani tidur?”
Lili : “Boleh kalau
kau mau...”
Dion : “Beneran?”
Lili : “Iya, kau
tidur di kamarmu. Aku tidur disini. Dasar mesum.” Lili membalik tubuhnya dan
mulai melepas kancing kebaya yang berderet panjang dari tengkuk sampai ke
pinggangnya. Ia menggapai ke belakang punggungnya dan terlihat kesulitan
melepas kancing-kancing itu. Dion menggelengkan kepalanya, ia segera membantu
Lili melepas kancing-kancing itu.
Lili : “Di... Dion,
kamu belum pergi?”
Dion : “Kamu lagi
kesusahan gini masa aku tinggal.”
Bulu kuduk Lili
merinding saat tangan Dion mengelus punggungnya yang tidak tertutup apapun
lagi. Lili menahan kebaya bagian depannya agar tidak jatuh.
Dion : “Kamu gak
pake bra?”
Lili : “Kebaya ini
menyatu sama kembennya. Jadi buat apa pake bra lagi.”
Lili merasakan
sentuhan Dion semakin intens ke punggungnya,
Lili : “Dion,
tanganmu kemana? Jangan nakal.”
Lili berbalik ingin
memukul tangan Dion tapi orangnya sudah menghilang dari kamar Lili.
*****
Di kamar pengantin
Elo dan Riri, mereka berdua masih belum ada kemajuan apa-apa. Keduanya hanya
saling menyentuh bagian tubuh masing-masing tanpa tahu harus berbuat apa lagi.
Elo : “Ri, kamu
capek?”
Riri : “Iya, mas.”
Elo “Apa kita tidur aja?”
Riri : “Gak jadi
macem-macem?” tanya Riri dengan wajah imut
Elo menggaruk
kepalanya, dia juga bingung gimana cara melakukannya.
Elo : “Terus
terang, aku bingung gimana caranya.”
Riri : “Sama, mas.”
Elo : “Apa kita
telpon papamu?” Elo nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Riri : “Jangan,
mas... Malu.”
Elo : “Iya juga
ya.”
Elo mulai membuka
bathrobenya, membiarkan Riri melihat tubuh telanjangnya. Riri menatap tubuh
polos Elo sampai ke bagian sensitifnya, wajah Riri merona melihat benda pusaka
Elo.
Tangan Elo
menurunkan tali lingeri yang dipakai Riri, Riri sempat menahan tangan Elo tapi
ia tersenyum malu dan membiarkan Elo melucuti penutup tubuhnya.
Elo : “Aku hanya
memastikan... Aku boleh? Malam ini?”
Riri : “Iya, mas.”
Elo tersenyum
manis, ia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Elo : “Kalau sakit,
dorong saja aku ya.”
Riri : “Aku gak
yakin bisa dorong, mas.”
Elo : “Gigit saja
kalo gitu, cakar juga boleh. Gak pa-pa.”
__ADS_1
Elo mengelus pipi
Riri dan mulai membaringkan tubuh istrinya itu. Tak lama, mulai terdengar
suara-suara khas percintaan orang dewasa dari kamar pengantin Riri dan Elo.
Suara-suara itu menyentil pendengaran Dion yang tentu saja sudah nangkring di
tempat favoritnya. Balkon kamarnya.
Author ngbayangin
ya, suara yang keluar berbentuk tanda hati yang keluar kalo tokoh komik
mengirimkan flying kiss. Trus tanda cinta itu melayang keluar dan nimpukin
kepala Dion yang berdiri di balkon kamarnya. Karena kesel, Dion mengambil
tongkat baseball dan memukul satu persatu tanda hati itu sampai melayang jatuh
ke halaman rumah besar. “Woi, thor. Ngajak gelut ya!” teriak Dion sambil
marah-marah. Author ngumpet aja dech. Sensi amat si Dion. Siapa suruh bukannya
tidur malah ngjagain kamar pengantin Elo. Panas sendiri kan jadinya.
*****
Dimalam yang sama,
di kamar Jodi dan Katty. Katty sedang menunggui Jodi memeriksa dokumen yang
sudah disiapkan Guntur. Asisten Jodi itu akan segera menikahi Anisa hingga
mengebut mengerjakan semua tugasnya agar bisa libur setidaknya 2 hari saja
untuk pernikahannya nanti.
Jodi menumpuk
dokumen yang sudah ia tanda tangani. Ia menghitung map dokumen itu dan
jumlahnya sudah sesuai dengan yang dikatakan Guntur tadi.
Jodi : “Sayang, aku
capek.”
Katty : “Aku juga
capek, tapi...”
Jodi menatap
bingung pada Katty yang menatapnya dengan tatapan menggoda.
Katty : “Kayaknya
babymu mau dijenguk, papa.”
Jodi : “Sini,
sayang.”
Katty duduk di
pangkuan Jodi yang mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Jodi : “Kali ini
mau yang seperti apa?”
Katty : “Papa diem
aja ya.”
Jodi tersenyum
mereka berdua. Jodi mengangkat tubuh Katty ke atas tempat tidur mereka dan
membiarkan Katty melakukan apapun yang ia inginkan. Terjadilah apa yang
seharusnya mereka lakukan di kamar itu.
Panas kan? Apalagi
kalo ngbayangin sendiri. Author mau cek rumah Alex dulu. Om Alex lagi ngapain
ya?
*****
Alex sedang
menangis di kamar, ia bersama Mia. Si kembar sedang tidur di kamar lain bersama
mb Roh dan mb Minah. Alex masih kebawa suasana saat berpamitan di rumah Elo
tadi.
Mia : “Mas, udah
dong nangisnya. Ntar yang lain denger, mikir ada kuntilanak di rumah ini.”
Alex : “Aku kan lagi
sedih. Hibur dong, malah bercanda.”
Mia : “Loh, ini
termasuk menghibur loh, mas. Mas mau apa? Liat aku nari striptis?”
Alex : “Iya,
boleh.”
Mia : “Idih, kalo
gituan, aja cepet banget.”
Alex : “Kan kamu
yang usul. Aku sich ok aja.”
Mia : “Gak jadi. Di
perutku masih ada bekas strech mark, gak seksi.”
Alex : “Sayang, itu
namanya body shamming. Negatif, gak baik untuk ASI-mu.” Tangan Alex memencet
dada Mia.
Mia : “Ih, mas
jangan dipencet. Aku belum sempat pompa.”
Alex : “Sini, aku
yang pompain.”
Mia : “Kok aku jadi
curiga ya?”
Alex mengabaikan
Mia yang menatapnya sambil memicingkan matanya. Alex ingin bermanja-manja pada
__ADS_1
Mia dengan mendekati wajah Mia dan mulai mencium bibir istrinya itu.
Alex : “Mulailah
perawatan untuk kulitmu.”
Mia : “Apa separah
itu?”
Alex : “Kamu berhak
mendapatkan kembali tubuhmu yang dulu. Setelah si kembar lahir, sekali-kali
kamu harus melakukan perawatan itu. Aku mau kamu selalu bahagia, Mia.”
Mia : “Biayanya
pasti mahal.”
Alex : “Gak ada
yang mahal buat kamu, sayangku.”
Mia : “Mas, bisa
banget kamu ngrayu kayak gini ya.”
Mia mencium bibir
Alex, ciuman yang cukup membuat adrenalin mengalir deras yang menimbulkan
hasrat yang membara. Mereka bahkan tidak tahu kapan pakaian mereka mulai
bertebaran di pinggir tempat tidur.
Alex : “Malam ini,
mau berapa kali?”
Mia : “Dua aja,
mas. Besok kan mas harus kerja.”
Alex : “Siap,
istriku sayang.”
Dan terjadilah hal
yang harusnya terjadi yang mereka pikirkan harus terjadi.
Dan author pusing
mau ngintipin babang Rio dulu. Lagi ngapain ya?
Rio bolak-balik di
atas tempat tidurnya, ia dan Kaori langsung masuk ke kamar setelah sampai di
rumah tadi. Tentu saja Kaori tidur di kamar Riri. Kaori tidak berani pulang
karena orang tuanya lagi-lagi pergi keluar kota. Mereka berdua akan kembali ke
kampus besok pagi.
Saat Rio sedang
memikirkan Kaori yang tidur sendiri, pintu kamarnya diketuk seseorang.
Rio : “Masuk.”
Kaori : “Rio,
pinjem charger.”
Rio : “Itu diatas
meja.”
Kaori masuk ke
kamar Rio, ia langsung mendekati meja belajar Rio dan mengambil charger yang
terhubung ke ponsel Rio. Kaori melihat ponsel Rio sudah terisi penuh. Rio
melirik Kaori, malam ini gadis itu memakai piyama tidur mini. Entah sadar atau
tidak, Kaori sudah masuk ke dalam kamar serigala yang siap menerkamnya.
Kaori : “Kamu belum
tidur?”
Rio : “Gak bisa
tidur.”
Kaori : “Aku tidur
duluan ya.”
Rio : “Ya.”
Kaori tidak jadi
keluar kamar Rio, ia berbalik dan duduk di pinggir tempat tidur. Sambil
tersenyum, Kaori mendekat dan mencium
kening Rio. Turun ke bibir Rio, mencium bibir Rio dengan hangat.
Kaori : “Masih
sedih ya? Sini peluk.”
Kaori memeluk Rio
sambil mengusap-usap rambutnya. Rio menarik Kaori agar berbaring di sampingnya.
Rio : “Bobok sini
ya.”
Kaori : “Rio...”
Rio : “Sampe aku
tidur...”
Kaori menghela
nafas dan mulai mengusap-usap rambut Rio sampai keduanya terlelap.
Besoknya bakalan
heboh tuch.
🌻🌻🌻🌻🌻
“Heboh apaan, thor?”
reader kepo nich.
“Vote dulu dong.
Pasti kejawab heboh apaan.” author nyengir kuda.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).