Duren Manis

Duren Manis
Malam panas


__ADS_3

Dion : “Kau terlalu


banyak nonton film. Cepat tidur sana.”


Lili : “Beneran


dech ada yang teriak.”


Dion hampir membuka


pintu kamar Lili,


Lili : “Kamu mau


kemana?”


Dion : “Kenapa? Mau


kutemani tidur?”


Lili : “Boleh kalau


kau mau...”


Dion : “Beneran?”


Lili : “Iya, kau


tidur di kamarmu. Aku tidur disini. Dasar mesum.” Lili membalik tubuhnya dan


mulai melepas kancing kebaya yang berderet panjang dari tengkuk sampai ke


pinggangnya. Ia menggapai ke belakang punggungnya dan terlihat kesulitan


melepas kancing-kancing itu. Dion menggelengkan kepalanya, ia segera membantu


Lili melepas kancing-kancing itu.


Lili : “Di... Dion,


kamu belum pergi?”


Dion : “Kamu lagi


kesusahan gini masa aku tinggal.”


Bulu kuduk Lili


merinding saat tangan Dion mengelus punggungnya yang tidak tertutup apapun


lagi. Lili menahan kebaya bagian depannya agar tidak jatuh.


Dion : “Kamu gak


pake bra?”


Lili : “Kebaya ini


menyatu sama kembennya. Jadi buat apa pake bra lagi.”


Lili merasakan


sentuhan Dion semakin intens ke punggungnya,


Lili : “Dion,


tanganmu kemana? Jangan nakal.”


Lili berbalik ingin


memukul tangan Dion tapi orangnya sudah menghilang dari kamar Lili.


*****


Di kamar pengantin


Elo dan Riri, mereka berdua masih belum ada kemajuan apa-apa. Keduanya hanya


saling menyentuh bagian tubuh masing-masing tanpa tahu harus berbuat apa lagi.


Elo : “Ri, kamu


capek?”


Riri : “Iya, mas.”


Elo  “Apa kita tidur aja?”


Riri : “Gak jadi


macem-macem?” tanya Riri dengan wajah imut


Elo menggaruk


kepalanya, dia juga bingung gimana cara melakukannya.


Elo : “Terus


terang, aku bingung gimana caranya.”


Riri : “Sama, mas.”


Elo : “Apa kita


telpon papamu?” Elo nyengir sambil garuk-garuk kepala.


Riri : “Jangan,


mas... Malu.”


Elo : “Iya juga


ya.”


Elo mulai membuka


bathrobenya, membiarkan Riri melihat tubuh telanjangnya. Riri menatap tubuh


polos Elo sampai ke bagian sensitifnya, wajah Riri merona melihat benda pusaka


Elo.


Tangan Elo


menurunkan tali lingeri yang dipakai Riri, Riri sempat menahan tangan Elo tapi


ia tersenyum malu dan membiarkan Elo melucuti penutup tubuhnya.


Elo : “Aku hanya


memastikan... Aku boleh? Malam ini?”


Riri : “Iya, mas.”


Elo tersenyum


manis, ia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


Elo : “Kalau sakit,


dorong saja aku ya.”


Riri : “Aku gak


yakin bisa dorong, mas.”


Elo : “Gigit saja


kalo gitu, cakar juga boleh. Gak pa-pa.”

__ADS_1


Elo mengelus pipi


Riri dan mulai membaringkan tubuh istrinya itu. Tak lama, mulai terdengar


suara-suara khas percintaan orang dewasa dari kamar pengantin Riri dan Elo.


Suara-suara itu menyentil pendengaran Dion yang tentu saja sudah nangkring di


tempat favoritnya. Balkon kamarnya.


Author ngbayangin


ya, suara yang keluar berbentuk tanda hati yang keluar kalo tokoh komik


mengirimkan flying kiss. Trus tanda cinta itu melayang keluar dan nimpukin


kepala Dion yang berdiri di balkon kamarnya. Karena kesel, Dion mengambil


tongkat baseball dan memukul satu persatu tanda hati itu sampai melayang jatuh


ke halaman rumah besar. “Woi, thor. Ngajak gelut ya!” teriak Dion sambil


marah-marah. Author ngumpet aja dech. Sensi amat si Dion. Siapa suruh bukannya


tidur malah ngjagain kamar pengantin Elo. Panas sendiri kan jadinya.


*****


Dimalam yang sama,


di kamar Jodi dan Katty. Katty sedang menunggui Jodi memeriksa dokumen yang


sudah disiapkan Guntur. Asisten Jodi itu akan segera menikahi Anisa hingga


mengebut mengerjakan semua tugasnya agar bisa libur setidaknya 2 hari saja


untuk pernikahannya nanti.


Jodi menumpuk


dokumen yang sudah ia tanda tangani. Ia menghitung map dokumen itu dan


jumlahnya sudah sesuai dengan yang dikatakan Guntur tadi.


Jodi : “Sayang, aku


capek.”


Katty : “Aku juga


capek, tapi...”


Jodi menatap


bingung pada Katty yang menatapnya dengan tatapan menggoda.


Katty : “Kayaknya


babymu mau dijenguk, papa.”


Jodi : “Sini,


sayang.”


Katty duduk di


pangkuan Jodi yang mengusap lembut perutnya yang masih rata.


Jodi : “Kali ini


mau yang seperti apa?”


Katty : “Papa diem


aja ya.”


Jodi tersenyum


mereka berdua. Jodi mengangkat tubuh Katty ke atas tempat tidur mereka dan


membiarkan Katty melakukan apapun yang ia inginkan. Terjadilah apa yang


seharusnya mereka lakukan di kamar itu.


Panas kan? Apalagi


kalo ngbayangin sendiri. Author mau cek rumah Alex dulu. Om Alex lagi ngapain


ya?


*****


Alex sedang


menangis di kamar, ia bersama Mia. Si kembar sedang tidur di kamar lain bersama


mb Roh dan mb Minah. Alex masih kebawa suasana saat berpamitan di rumah Elo


tadi.


Mia : “Mas, udah


dong nangisnya. Ntar yang lain denger, mikir ada kuntilanak di rumah ini.”


Alex : “Aku kan lagi


sedih. Hibur dong, malah bercanda.”


Mia : “Loh, ini


termasuk menghibur loh, mas. Mas mau apa? Liat aku nari striptis?”


Alex : “Iya,


boleh.”


Mia : “Idih, kalo


gituan, aja cepet banget.”


Alex : “Kan kamu


yang usul. Aku sich ok aja.”


Mia : “Gak jadi. Di


perutku masih ada bekas strech mark, gak seksi.”


Alex : “Sayang, itu


namanya body shamming. Negatif, gak baik untuk ASI-mu.” Tangan Alex memencet


dada Mia.


Mia : “Ih, mas


jangan dipencet. Aku belum sempat pompa.”


Alex : “Sini, aku


yang pompain.”


Mia : “Kok aku jadi


curiga ya?”


Alex mengabaikan


Mia yang menatapnya sambil memicingkan matanya. Alex ingin bermanja-manja pada

__ADS_1


Mia dengan mendekati wajah Mia dan mulai mencium bibir istrinya itu.


Alex : “Mulailah


perawatan untuk kulitmu.”


Mia : “Apa separah


itu?”


Alex : “Kamu berhak


mendapatkan kembali tubuhmu yang dulu. Setelah si kembar lahir, sekali-kali


kamu harus melakukan perawatan itu. Aku mau kamu selalu bahagia, Mia.”


Mia : “Biayanya


pasti mahal.”


Alex : “Gak ada


yang mahal buat kamu, sayangku.”


Mia : “Mas, bisa


banget kamu ngrayu kayak gini ya.”


Mia mencium bibir


Alex, ciuman yang cukup membuat adrenalin mengalir deras yang menimbulkan


hasrat yang membara. Mereka bahkan tidak tahu kapan pakaian mereka mulai


bertebaran di pinggir tempat tidur.


Alex : “Malam ini,


mau berapa kali?”


Mia : “Dua aja,


mas. Besok kan mas harus kerja.”


Alex : “Siap,


istriku sayang.”


Dan terjadilah hal


yang harusnya terjadi yang mereka pikirkan harus terjadi.


Dan author pusing


mau ngintipin babang Rio dulu. Lagi ngapain ya?


Rio bolak-balik di


atas tempat tidurnya, ia dan Kaori langsung masuk ke kamar setelah sampai di


rumah tadi. Tentu saja Kaori tidur di kamar Riri. Kaori tidak berani pulang


karena orang tuanya lagi-lagi pergi keluar kota. Mereka berdua akan kembali ke


kampus besok pagi.


Saat Rio sedang


memikirkan Kaori yang tidur sendiri, pintu kamarnya diketuk seseorang.


Rio : “Masuk.”


Kaori : “Rio,


pinjem charger.”


Rio : “Itu diatas


meja.”


Kaori masuk ke


kamar Rio, ia langsung mendekati meja belajar Rio dan mengambil charger yang


terhubung ke ponsel Rio. Kaori melihat ponsel Rio sudah terisi penuh. Rio


melirik Kaori, malam ini gadis itu memakai piyama tidur mini. Entah sadar atau


tidak, Kaori sudah masuk ke dalam kamar serigala yang siap menerkamnya.


Kaori : “Kamu belum


tidur?”


Rio : “Gak bisa


tidur.”


Kaori : “Aku tidur


duluan ya.”


Rio : “Ya.”


Kaori tidak jadi


keluar kamar Rio, ia berbalik dan duduk di pinggir tempat tidur. Sambil


tersenyum, Kaori  mendekat dan mencium


kening Rio. Turun ke bibir Rio, mencium bibir Rio dengan hangat.


Kaori : “Masih


sedih ya? Sini peluk.”


Kaori memeluk Rio


sambil mengusap-usap rambutnya. Rio menarik Kaori agar berbaring di sampingnya.


Rio : “Bobok sini


ya.”


Kaori : “Rio...”


Rio : “Sampe aku


tidur...”


Kaori menghela


nafas dan mulai mengusap-usap rambut Rio sampai keduanya terlelap.


Besoknya bakalan


heboh tuch.


🌻🌻🌻🌻🌻


“Heboh apaan, thor?”


reader kepo nich.


“Vote dulu dong.


Pasti kejawab heboh apaan.” author nyengir kuda.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2