
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 3
Sampai pagi menjelang, Renata akhirnya tidak bisa tidur. Ia keluar dari kamarnya sambil menyeret koper dengan kantung mata menghitam dibawah matanya. Mia yang melihat Renata tampak lesu, tersenyum simpul. Pagi-pagi sekali Reynold juga turun dengan raut wajah yang sama. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar.
“Ren, duduk sini. Sarapan dulu. Nanti berangkat jam berapa?” tanya Mia.
Bukannya menjawab, Renata malah bengong saja. Mia kembali tersenyum. Diliriknya Reynold yang baru datang dari luar, langsung duduk di samping Renata. Meskipun sudah berganti pakaian, tapi penampilannya masih acak-acakan.
“Aduch, cucu oma yang ganteng. Kenapa lesu gitu? Sarapan dulu ya,” kata Mia mencoba menarik perhatian Renata.
Keduanya malah tambah bengong tanpa menanggapi kata-kata Mia. Renata menundukkan kepalanya sampai menyentuh meja makan, ia ingin tidur lagi. Reynold juga melakukan hal yang sama. Anggota keluarga lain segera berkumpul untuk sarapan, juga heran melihat keduanya terkantuk-kantuk.
“Ren, tidur lagi sana. Reynold juga. Kalian begadang semalam?” tanya Alex.
“Iya, opa,” sahut Reynold lalu berdiri sambil menarik tangan Renata.
“Eh, kalian mau kemana?” tanya Alex yang melihat Reynold menggeret Renata ke arah pintu keluar.
“Kami mau berangkat ke bandara, opa. Sekalian istirahat di pesawat jet. Renata masih ada interview besok. Bye semua,” sahut Reynold.
“Eh, ini kopernya Renata ketinggalan, Rey. Anak-anak ini,” kata Mia sambil menyusul Reynold dan Renata.
Reynold mendudukkan Renata di kursi penumpang. Lalu memasukkan koper Renata ke dalam bagasi mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Reynold mendekati Mia lalu celingukan sebentar. Ia ingin mencium pipi omanya itu tapi takut dipergoki Alex.
“Apa sich, Rey? Kenapa?” tanya Mia geli melihat tingkah Reynold.
“Mau cium oma, nanti opa marah. Ntar aku nggak boleh pulang lagi,” kata Reynold.
“Nggak gitu, Rey. Sini cium oma. Peluk juga boleh,” kata Mia sambil tersenyum manis.
Benar saja, baru sempat mencium pipi omanya dan hampir memeluk Mia, Alex sudah muncul dari dalam rumah. Pria tua itu berkacak pinggang di depan teras sambil menatap tajam ke arah Reynold.
“Mas, Reynold cuma mau bilang sampai jumpa. Sana masuk lagi. Kopinya dingin loh,” kata Mia manis.
“Cepetan berangkat sana. Ntar ditinggal pesawatmu,” sahut Alex masih tidak mau pergi.
“I—iya, opa. Oma, sampai ketemu lagi. Mungkin bulan depan Rey pulang lagi,” kata Reynold buru-buru masuk ke mobilnya.
Selama perjalanan ke bandara, Renata sudah tertidur pulas. Reynold juga sebenarnya mengantuk, tapi ia berusaha menjaga kesadarannya. Untung saja mereka bisa tiba di bandara dengan selamat. Reynold menggendong Renata masuk ke dalam pesawat yang sudah siap berangkat. Sementara kopernya dibawa masuk oleh pramugari. Setelah mendudukkan Renata dan memakaikan sabuk pengaman, Reynold juga duduk.
Tak lama, pesawat mulai mengudara. Reynold memindahkan Renata ke dalam kamar agar bisa tidur lebih nyaman. Melihat Renata tertidur, Reynold tergoda ingin mencium tantenya itu. Saat bibir Reynold hampir menyentuh bibir Renata, pria itu kembali menjauh. Ia memutuskan mandi air dingin untuk mendinginkan kepalanya.
Renata terbangun ketika Reynold masih di kamar mandi. Ia menggeliat sebentar sebelum membuka matanya. Dari jendela pesawat tampak langit biru dan beberapa awan. Mereka baru akan sampai beberapa jam lagi.
__ADS_1
“Hoaaahheemmm...!” Renata menguap lebar sambil merenggangkan tubuhnya.
Masih terkantuk-kantuk di atas tempat tidur, Renata menoleh saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Reynold keluar dari sana tanpa memakai apapun. Mata Renata terbelalak kaget melihat sesuatu di bawah sana yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Kak Rey!!!! Iihh!!! Cepat pakai celana!!” jerit Renata malu banget sampai menutup wajahnya dengan bantal.
Reynold tidak segera memakai celananya, ia malah duduk di pinggir tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Renata langsung bergeser sampai menempel ke dinding pesawat.
“Kak Rey, pakai baju dulu sana. Kenapa kakak keluar telanjang gitu? Aku kan ada disini,” kata Renata mulai takut.
“Aku nggak sengaja. Lagian handuk di dalam kecil semua. Aku pikir aunty masih tidur,” sahut Reynold tanpa dosa.
“Iya, tapi kan kakak bisa pakai celana dulu baru duduk disini. Kak, serius nich. Cepetan pakai bajumu!!” jerit Renata lagi.
“Aunty kenapa sich? Biasanya nggak masalah kalau aku nggak pakai baju. Ini juga baru mau pakai. Kenapa? Apa sekarang aunty mulai melihatku sebagai pria?” tanya Reynold.
Buk! Renata melempar Reynold dengan bantal. Ia cepat-cepat melompat turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar itu. Meninggalkan Reynold yang tersenyum menggoda. Renata memilih duduk di kursi dekat pintu pesawat. Seorang pramugari menawarkannya minuman dan Renata asal saja mengambil gelas yang disodorkan padanya. Belum sempat pramugari itu melarang, Renata sudah menegak habis isi gelas itu.
Rasa pengah membakar tenggorokan Renata. Bagaimana tidak? Ia meminum minuman keras yang biasa diminum Reynold. Kadar alkohol dalam minuman itu mencapai empatpuluh persen. Bukan hanya tenggorokannya yang terasa terbakar, tetapi juga perutnya. Kepala Renata mulai pusing, semua yang dilihatnya tiba-tiba ada dua. Pramugari yang panik, segera mengetuk pintu kamar untuk memanggil Reynold.
“Ada apa?” tanya Reynold setelah pintu terbuka.
“Nona Renata mabuk, Tuan. Mohon maaf,” kata pramugari itu ketakutan.
“Nona tidak sengaja minum minuman Tuan. Saya tadi menawarkannya minuman yang nol alkohol. Tapi nona salah mengambil gelasnya,” kata pramugari itu cepat.
Reynold segera menyusul Renata dan melihatnya menatap keluar jendela pesawat. Disentuhnya tangan gadis pujaannya itu. Renata menoleh menatap Reynold, wajahnya sangat merah dan matanya setengah menutup.
“Kak Rey? Kenapa kakak ada dua? Ach, sudahlah. Mau dua, mau empat. Kakak menyebalkan!” teriak Renata yang mabuk.
Pramugari menahan senyumnya melihat tingkah Renata yang menjambak rambut Reynold. Pria itu melirik tajam pramugari di depannya yang segera pergi dari sana. Reynold mencoba menggendong Renata kembali ke kamar. Tapi gadis itu meronta-ronta minta di lepaskan. Renata mendorong Reynold sampai terduduk di kursi lalu ia pun duduk di pangkuan pria itu.
“Ren, kamu sudah mabuk. Istirahat dulu ya. Ayo kita ke kamar,” bujuk Reynold sabar.
“Nggak mau! Nanti kamu cium aku lagi. Aku ini tantemu, bukan pacarmu. Kenapa kamu cium aku? Hah?!” ucap Renata tanpa sadar.
“Ren, aku mencintaimu. Sudah belasan tahun ini. Sejak kamu lahir ke dunia. Apa kamu nggak tahu perasaanku?” Reynold mengungkapkan perasaannya dalam keadaan Renata yang tidak sadar.
“Cinta? Apa cinta? Kamu itu ponakanku. Kamu nggak boleh cinta sama aku,” lirih Renata sambil memukul-mukul dada Reynold.
Omongan Renata semakin tidak jelas, entah ia mengoceh tentang apa. Sepertinya tentang pembicaraannya dengan Kaori atau dengan oma Mia. Reynold sungguh bingung dibuatnya. Bruk! Akhirnya Renata tumbang di atas dada Reynold. Hembusan nafas teratur gadis itu membuat Reynold tersenyum. Ada-ada saja kejadian yang menimpanya hari ini. Perlahan Reynold menggendong Renata masuk ke dalam kamar lagi.
Ketika ingin melepaskan tangan Renata yang merangkul lehernya, gadis itu tiba-tiba terbangun. Ditatapnya mata Reynold dalam sebelum memeluknya erat.
__ADS_1
“Kak Rey, aku suka banget sama kamu. Kita nggak bisa sama-sama. Nanti kak Rara marah. Kakak bisa dijewer, kayak gini,” kata Renata sambil menjewer telinga Reynold sampai memerah.
Pria itu memang psycho, ia bahkan tidak meringis kesakitan. Baginya yang paling penting di dunia ini adalah memiliki Renata. Bahkan kalau ia harus menentang keluarganya sendiri, Reynold sanggup melakukannya asalkan bisa bersama Renata.
“Aku nggak suka sama kamu, Ren. Aku cinta sama kamu. Kamu cinta nggak sama aku?” tanya Reynold memanfaatkan situasi disaat Renata sedang mabuk.
“... Cinta kok... nggak kok... disini...,” kata Renata sambil menunjuk dadanya sendiri. “Selalu berdebar kencang setiap deket kamu. Kamu pasti bawa virus jantung. Aku ketularan sakit juga. Setiap kamu menghilang, aku jadi bingung. Kenapa kamu buat aku kayak gini, Rey?” tanya Renata sambil menarik kerah kaos yang dipakai Reynold.
“Kalau kamu mau sembuh, cium aku, Ren. Tunjukkan perasaanmu yang sebenarnya,” kata Reynold lagi.
Renata menutup mulutnya dengan tangan dan menggeleng. Ia tidak mau sembuh dengan cara seperti itu. Reynold bukan dokter, bagaimana bisa ia menyembuhkan Renata. Tangan Reynold menarik paksa tangan Renata hingga terlepas dari menutup mulutnya.
“Cobalah sekali dan katakan rasanya,” bujuk Reynold.
“Kak Rey, nggak boleh lari ya. Harus tanggung jawab,” kata Renata sambil menggelengkan kepalanya yang pusing.
“Aku akan menikahimu, Ren. Akan kuberikan segalanya untukmu. Meskipun aku harus meninggalkan orang tuaku. Selama kau mau bersamaku, aku akan menjagamu selamanya,” bisik Reynold manis.
Tiba-tiba Renata tertawa, hanya tawa kecil yang lama kelamaan semakin besar dan keras. Reynold menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah apa lagi yang terjadi pada Renata kali ini.
“Kakak kebanyakan nonton drakor ya. Mana ada pria yang nggak gombal hari gini. Kakak itu takut sama kak Rara. Takut sama papa Alex. Mana berani kakak ninggalin mereka. Hadeh, kenapa panas gini sich?! AC-nya mati ya?!” Renata mulai membuka kaos yang dipakainya.
Untung saja gadis itu masih memakai tank top dibalik kaosnya. Reynold bukannya tidak tergoda, ia ingin sekali memeluk dan mencium Renata. Tapi pemaksaan hanya akan berakhir dengan memburuknya hubungan mereka. Reynold tidak ingin memiliki alasan yang membuat Renata meninggalkannya.
“Kamu mendingan istirahat dulu ya. Tidur sana. Besok kan ada interview,” kata Reynold lagi.
“Oh, iya. Interview. Bangunkan aku besok, kak. Selamat malam,” kata Renata sambil berbaring dan langsung tidur.
“Selamat tidur, cintaku. Besok akan jadi hari yang panjang untukmu. Semoga kau suka dengan kejutan dariku,” bisik Reynold.
Kapten pesawat memberi tahu kalau mereka hampir sampai di bandara negara A. Reynold masih punya waktu lima belas menit sebelum pesawat mendarat. Pria super tampan itu naik ke atas tempat tidur lalu memeluk tubuh Renata. Menahan tubuhnya agar tidak jatuh karena guncangan saat pesawat mendarat. Tapi Reynold tidak perlu mengkuatirkan itu karena pesawat mendarat dengan mulus.
Dikecupnya kening Renata yang bahkan tidak terbangun. Pria itu mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
[]”Mundurkan schedule interview kedua jadi jam sepuluh pagi. Kalau sampai orangku belum datang jam segitu, mundurkan lagi,” titah Reynold.
[]”Baik, Pak Direktur,” sahut orang yang ditelpon Reynold.
[]”Satu lagi. Setelah interview, antarkan orangku ke ruanganku dan katakan padanya untuk melapor pada asisten pribadiku,” kata Reynold lagi.
[]”Baik, Pak Direktur,” sahut orang itu lagi.
Reynold tersenyum puas, semua hal tentang interview Renata besok sudah lengkap semuanya.
__ADS_1