Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 18


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 18


Kamar bernuansa soft pink khas kamar anak gadis, beraroma mawar yang tercium dari setiap sudut kamar


itu. Tidak ada yang tahu apa tujuan kamar itu didesain sedemikian rupa. Hanya keinginan pembuatnya yang mengharuskan kamar itu tercipta. Konsep minimalis dengan perabotan yang minimalis pula. Mahal? Tentu saja tidak. Interior di kamar itu bukan interior terbaik yang ada di dunia saat itu. Bukan pula interior kekinian yang akan tergilas jaman.


Kamar itu khusus di desain sesuai dengan selera calon pemiliknya. Bagaimana kamarnya di belahan


bumi sana, begitulah kamar ini tercipta. Duplikasi sepenuhnya sampai detail terkecil termasuk wallpapernya juga. Hanya satu yang berbeda, seprai dan selimutnya. Aromanya tetap sama, aroma mawar yang pekat. Sekilas ketika masuk ke dalam kamar itu, seolah kamar pemilik aslinya pindah kesana.


Dinding kamar dipenuhi rak-rak kecil berisi banyak miniatur benda-benda di dunia. Bahkan tujuh keajaiban dunia ada disana. Disusun seadanya tanpa konsep. Kenapa? Sedangkan di belahan dunia sana, miniatur itu tersusun sesuai kategorinya. Detail, pemiliknya tidak suka melihat sesuatu yang diluar kategori. Semuanya harus masuk dalam kategorinya, dalam konsepnya. Apa tujuannya? Pencipta ingin pemiliknya mengusun


sendiri semua miniatur itu. Bisa berjam-jam kalau melakukannya sendiri.


Rencana-rencana yang sudah disusun bertahun-tahun. Diuji coba untuk mencari kegagalannya lalu di


rencanakan ulang. Begitu terus sampai tersusun rencana yang matang tanpa cela. Siapa pencipta? Siapa pemilik? Pencipta tentu saja Reynold dan pemiliknya adalah Renata yang tercantik di dunia Reynold.


Reynold membeli sebuah mansion mewah yang satu kompleks dengan mansion Steven. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Steven. Selain kamar pribadinya, Reynold mendesain satu kamar khusus untuk Renata. Dirinya sudah menyusun rencana memindahkan jabatan Renata menjadi asisten pribadinya. Otomatis gadis itu harus tinggal bersamanya.


Nyatanya ada kejadian tak terduga yang tidak bisa diprediksi Reynold. Abdi menculik Renata yang tengah


pingsan dan mencoba menodainya. Ia tidak punya pilihan selain membawa Renata ke mansion mewahnya. Menempatkan gadis itu di kamar yang sudah ia siapkan hanya untuk gadis pujaannya. Calon ratu masa depan di mansion mewahnya.


Sedih, Reynold tidak bisa melihat senyum ceria Renata ketika pertama kali ia kesini. Harapan Reynold adalah bisa melihat senyum senang Renata ketika melihat kamarnya lagi. Kamar yang ia tempati di rumah Alex sama persis dengan kamarnya di mansion mewah Reynold. Tubuh mungil itu terbaring lemah dengan beberapa luka yang masih baru. Saat pertama melihat keadaan Renata di gudang itu, Reynold ingin menghancurkan


dunia. Ia marah pada dirinya sendiri, marah karena tidak bisa melindungi Renata.


Mungkin itu juga yang membuat Reynold tidak mau melepaskan identitasnya sebagai direktur FoRena Group


yang misterius. Dirinya malu menatap mata Renata jika gadis itu terbangun nanti. Entah apa reaksinya, akankah Renata berteriak atau menangis histeris. Semua pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi nanti memenuhi kepala Reynold. Lihatlah sosoknya sekarang, duduk di kursi di pinggir tempat tidur Renata.


Kepala pelayannya yang setia sudah menghidangkan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah kosong. Tapi Reynold tidak mau menyentuhnya. Renata saja belum makan dan minum. Meskipun ada infus menusuk tangannya, bagi Reynold, Renata belum makan apa-apa. Dokter Christina sudah bilang Renata akan sadar sebentar lagi. Ditunggu sebentar, gadis itu bahkan tidak bergerak sama sekali.


Kamar itu kosong, hanya ada Reynold dan Renata. Pria itu tidak mau ada orang lain ketika Renata terbangun nanti. Mau sekarang, sebentar lagi, bahkan besok pun. Reynold hanya ingin menunggu di samping Renata sampai gadis itu sadar. Harapannya akhirnya terkabul, Renata mulai membuka matanya.


“Emm... Ssss,” desis kesakitan keluar dari bibir manisnya.


“Renata? Kamu sudah sadar?” ucap Reynold yang masih menyamar.


“Siapa? Jangan mendekat! Lepaskan!” jerit Renata mulai histeris lagi. Padahal Reynold tidak menyentuhnya, kedua lengan Renata terbelenggu selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Pandangan mata gadis itu tampak ketakutan melihat Reynold yang masih menyamar.


Reynold tidak berani bergerak dari tempatnya duduk, ia menahan dirinya untuk tidak memeluk Renata


sekarang. Refleks Reynold menunduk bersikap menjaga jarak dari Renata, perlahan ia memundurkan kursi yang didudukinya sebelum berdiri.


“Pak direktur, saya dimana?” tanya Renata yang menyadari kalau pria di hadapannya adalah bosnya.


“Renata, kamu tahu aku? Boleh aku mendekat?” tanya Reynold hati-hati.


Renata berusaha bangun, tapi tubuhnya terasa sakit. Ia mengintip ke balik selimutnya, tubuhnya polos tanpa penutup apapun selain selimut. Melihat Renata memucat, Reynold memilih berdiri di tempat dan bicara dengan gadis itu.


“Renata, jangan bergerak dulu. Dokter sudah memberi obat, untuk sementara tetap berbaring ya. Kamu mau minum? Atau makan sesuatu?” tanya Reynold hati-hati.


Hiks... hiks... Isak tangis terdengar dari bibir Renata yang pucat. Dirinya ketakutan setelah kejadian di dalam gudang itu bersama Abdi. Takut kalau pria itu berhasil merengut kehormatannya. Dirinya takut hamil tanpa suami. Saat itu Renata berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja.


“Renata, tidak terjadi apa-apa. Kami datang tepat waktu. Alfian memberitahuku kalau Abdi melarikan diri setelah mengancam Merry. Waktu kami mencari Abdi, kami menemukanmu di dalam gudang bersama dia. Dokter bilang kalau dirimu masih utuh, Renata. Abdi belum sempat berbuat jauh.” Reynold berusaha menjelaskan secepat dia bisa.


“Sungguh?” tanya Renata di sela-sela tangisannya.


Hati Reynold hancur melihat kekasihnya menangis sangat menyedihkan. Ia ingin menghajar Abdi sekali


“P—pak direktur mau kemana? Tolong jangan pergi,” pinta Renata gagap.


“Aku mau panggil dokter Christina dan juga pelayan wanita. Kamu tentu tidak nyaman bicara tanpa memakai pakaian seperti itu, kan?” pungkas Reynold masih membelakangi Renata.


Tidak mendengar jawaban dari Renata, Reynold mengeluarkan ponselnya lalu menelpon dokter Christina dan Alfian. Dirinya masih tetap membelakangi Renata, takut gadis itu tidak nyaman kalau Reynold berbalik. Tak lama, kedua orang itu masuk ke kamar Renata. Dokter Christina memperkenalkan dirinya dengan baik dan menjelaskan hasil visum Renata dengan sabar. Renata hanya diam mendengarkan dengan wajah masih ketakutan.


“Renata, dokter dan pelayan akan membantumu berpakaian. Aku dan Alfian keluar dulu ya,” ucap Reynold sambil beranjak keluar.


“Pak direktur!” panggil Renata lagi. Ia menggeleng, tidak mau ditinggalkan sendirian bersama dokter Christina dan pelayan disana.


Reynold menghela nafas, ia meminta semua orang untuk keluar dulu. Setelah kamar itu kembali lengang, Reynold beranjak ke depan lemari besar di dekat tempat tidur. Ia mengambil bathrobe dan pakaian yang sudah disiapkan pelayan di dalam sana. Langkahnya terhenti saat melihat Renata menarik selimut menutupi sebagian wajahnya juga. Hanya terlihat rambut dan bagian mata gadis itu.


“Renata, pakai baju dulu ya. Kamu bisa bangun?” tanya Reynold lembut.


Renata mencoba duduk, meskipun susah payah, ia berhasil duduk dengan wajah meringis menahan sakit di


sekujur tubuhnya. Padahal Abdi tidak memukulnya dengan sengaja, tapi saat melawan pria brengsek itu, Renata nyaris menghabiskan seluruh tenaganya. Tubuhnya terasa sakit setelah itu. Reynold menyodorkan bathrobe, setidaknya tubuh Renata tertutup sesuatu dulu.


Baginya tidak masalah melihat tubuh Renata, tapi masih ada Alfian dan kepala pelayan di mansionnya.

__ADS_1


Reynold tidak suka miliknya dilihat orang lain, apapun alasannya. Reynold kembali bertanya bagian mana yang sakit pada tubuh Renata, tapi gadis itu menggeleng lemah.


“Pak, dia ada dimana?” tanya Renata takut-takut.


“Maksudmu Abdi? Dia sudah mati,” sahut Reynold dingin.


Mata Renata terbelalak tidak percaya, bagaimana bisa mati dengan mudah. Apa yang sudah terjadi selama dirinya pingsan? Kaori? Kaori ada dimana? Banyak pertanyaan berseliweran di kepala Renata. Ia ingin bicara, tapi tertelan sakit tenggorokannya. Dirinya tersadar, entah sudah berapa lama tidak minum air. Renata merasa sangat kehausan saat ini.


Lirikan mata Renata membuat Reynold menoleh menatap gelas air putih di atas nakas. Ada sup juga disana, itu makanan untuk Reynold. Tapi sup itu sudah dingin karena tidak tersentuh sama sekali oleh pria itu.


“Kamu mau minum? Mau makan?” tanya Reynold sambil mengambil gelas air putih lalu menyodorkannya pada Renata.


Gadis itu mengambil gelas dan meminumnya dengan terburu-buru. Belum habis isi dalam gelas itu, tiba-tiba perut Renata bergejolak. Ia mendorong gelas menjauh dan memuntahkan semuanya yang sudah masuk ke dalam lambungnya. Hoeeekkk... Uhuk... Uhuk... Selimut yang menutupi tubuhnya basah seketika. Dengan kasar diusapnya bibir merahnya. Abdi sempat menciumnya, membuat Renata jijik dengan bibirnya sendiri.


“Jangan digosok. Kamu kenapa? Bibirmu bisa berdarah nanti,” cegah Reynold sambil menarik tangan Renata.


“Di—dia mencium—ku, pak. Kotor, semuanya kotor,” ucap Renata mulai emosi lagi.


Reynold menahan kedua tangan Renata agar berhenti menggosok bibirnya. Ia bingung bagaimana memanggil


orang di luar sementara kedua tangannya masih memegang tangan Renata. Akhirnya Reynold memeluk erat tubuh Renata, mencoba menenangkan gadis itu.


“Dia sudah tidak ada, Ren. Jangan takut lagi. Aku ada disini menjagamu. Tenang ya,” ucap Reynold sambil menepuk-nepuk punggung Renata.


Gadis itu menangis dengan sangat keras sampai-sampai Reynold harus melonggarkan pelukannya agar


Renata bisa bernafas. Direktur FoRena Group itu menahan tangisnya melihat gadis yang paling ia cintai di dunia, menderita seperti itu. Reynold menyalahkan dirinya sendiri, seharusnya ia tetap mengawasi Renata meskipun sedang pergi dengan Kaori.


Tubuh mungil Renata perlahan mulai melemas lagi. Terlalu lelah menanggung rasa trauma dan kesedihan


karena kejadian itu membuatnya kembali tertidur. Reynold membaringkan tubuh mungil itu perlahan-lahan lalu menarik selimutnya yang basah. Tanpa meminta bantuan siapapun, Reynold memakaikan pakaian ke tubuh Renata. Hatinya serasa teriris pisau melihat kulit putih mulus Renata harus tercela di beberapa bagian.


Usai mengganti selimut yang basah, Reynold kembali duduk di samping Renata. Tok, tok, tok. Ketukan halus di pintu membuat Reynold menoleh. Lelah beranjak dari kursinya, Reynold hanya menyahut ‘masuk’. Wajah Alfian muncul dari balik pintu, ditangannya membawa nampan berisi makanan dan minuman lagi. Diletakkannya nampan itu diatas nakas, menggantikan makanan yang sudah tidak layak.


“Pak direktur, saya akan kembali ke kantor. Apa bapak perlu saya disini?” tanya Alfian hati-hati.


“Kembalilah dulu. Ingat besok pagi kau sudah harus ada disini pagi-pagi sekali,” titah Reynold tanpa menoleh.


“Baik, pak direktur,” ucap Alfian sebelum beranjak keluar dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


Dokter Christina yang masih berdiri di depan pintu, mengerdikkan kepalanya ke arah Alfian. Sepertinya ia juga bisa pergi dari sana dan menunggu di rumah sakit saja. Tapi belum sempat berpamitan pada Reynold, pintu kamar terbuka lebar. Reynold memanggil dokter Christina karena Renata tiba-tiba terbangun dan muntah  lagi.

__ADS_1


__ADS_2