
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 9
Guyuran hujan membasahi jendela besar di apartment Alfian. Di kamar tidur, tampak kedua insan berlainan jenis tengah tertidur lelap di bawah selimut. Merry bergerak dari tidurnya, ia berbalik menghadap keatas sebelum membuka matanya perlahan.
“Hii... dingin banget,” gumamnya sambil bergidik kedinginan.
Selimut yang ia pakai belum cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Merry menggosok kedua lengan
gembulnya hingga terasa lebih hangat. Tanpa sengaja ia menyenggol lengan Alfian yang tidur di sampingnya. Merry menoleh kesamping dengan cepat, ia langsung terduduk ketika menyadari keberadaannya. Semalam, ia minum sedikit minuman yang disiapkan Alfian dan sepertinya terlanjur mabuk.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” gumam Merry sambil menggelengkan kepalanya.
Samar, ingatannya kembali ke malam sebelumnya saat mereka sudah selesai makan malam.
--Flashback—
Merry menuangkan minuman beralkohol rendah itu sekali lagi ke gelas mereka berdua. Tinggal beberapa menit lagi sebelum hari ulang tahun Alfian. Kue kecil yang disiapkan pria itu sudah terhidang di atas meja, lengkap dengan lilinnya. Merry menegak minumannya sampai habis. Ia menggeleng melihat angka tiga dan dua diatas kue itu.
“Tiga dua? Kamu yakin? Bukannya kamu bilang umurmu... tunggu dulu, kamu nggak pernah bilang umurmu berapa. Tahun lalu dua enam, harusnya sekarang dua tujuh. Gimana sich?” protes Merry yang mulai mabuk.
“Umurku tiga tiga, tahun ini. Kamu yang asal nebak umur,” sahut Alfian sambil menarik Merry lebih mendekat padanya.
“Berarti kamu lebih tua dari aku, dong. Harusnya aku panggil kamu kakak, dong,” kata Merry lagi.
Alfian menunduk menyatukan kening mereka dan mengatakan kalau ia ingin dipanggil ‘sayang’. Merry tertawa keras mendengar kata-kata Alfian dan menganggapnya candaan belaka.
“Jangan main-main denganku ya. Aku nggak mau tertipu lagi. Sudah cukup hinaan kalian, aku sudah kenyang,” racau Merry sambil menegak habis minuman di dalam gelasnya lagi. “Kalian jahat! Memangnya kenapa kalo aku gendut,” ucap Merry lagi sebelum mulai bersandar pada sofa besar.
Alfian menatap Merry yang masih setengah sadar tapi terus mengoceh tentang masa lalunya. Jam di ponselnya memberitahu hari sudah berganti. ‘Selamat ulang tahun, Alfian.’ Rekaman suara Merry terdengar dari ponsel itu. Pria itu sengaja merekam suara Merry ketika mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi sepertinya pria itu tidak perlu mendengarkan rekaman itu lagi. Kali ini orangnya sudah ada di depan
matanya.
“Merry, ucapkan ‘selamat ulang tahun’ untukku,” pinta Alfian.
“Hmm? Selamat ulang tahun, Alfian,” kata Merry dengan senyum manisnya.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Alfian. Merry menatap dalam mata Alfian sebelum ia menunduk
lagi. Pria itu meraih dagu Merry, memaksanya menatap dirinya lagi. Mata Merry berkaca-kaca kali ini, ia memohon pada Alfian untuk tidak mengganggu perasaannya. Meskipun gendut, ia juga ingin bahagia dan hidup dengan baik.
“Hentikan, Al. Jangan mempermainkan aku. Hatiku sudah hancur karena cinta. Aku nggak mau terluka
lagi,” ucap Merry nelangsa.
“Akan kubuktikan aku main-main atau serius denganmu,” sahut Alfian sebelum menunduk mengecup bibir
lembut Merry.
Tubuh Merry membeku merasakan ciuman pertamanya diambil Alfian. Nafasnya terasa terhenti sejenak,
lalu tergesa-gesa menarik nafas lagi. Alfian terus mengejar Merry, mencurahkan perasaannya lewat sentuhan lembut pada wanita pujaannya itu. Alfian memuja Merry, ia melihat sosok wanita yang berbeda dalam diri Merry. Sesuatu yang selalu membuatnya merasa tenang setiap kali melihat wanita itu.
__ADS_1
Alfian menarik Merry agar bangkit lalu mendorongnya masuk ke dalam kamarnya. Keduanya kembali
berciuman lembut yang lama kelamaan semakin menuntut dan panas. Beberapa kali Merry berpaling untuk sekedar mengambil nafas. Tapi Alfian terus mengejarnya sampai tidak bisa menghindar lagi. Semudah merampas permen dari tangan anak kecil, Alfian menarik penutup tubuh Merry.
Wanita itu sempat terhenyak, merasa malu dengan tubuhnya yang tidak sesempurna model. Merry menggeleng, ia tidak ingin melanjutkan apa yang diinginkan Alfian malam ini. Tapi Alfian yang sudah dikuasai hasrat membara, masih mencoba mendapatkan sesuatu dari Merry.
“Jangan, Al. Hanya ini yang paling berharga dalam diriku,” lirih Merry berusaha menutupi tubuhnya.
“Kau harus setuju setelah pernikahan,” pinta Alfian.
Wajah Merry merona ketika Alfian mengecup keningnya. Dirinya masih belum bisa menerima maksud hati
Alfian. Terlalu indah baginya merasakan hal-hal bersama pasangan seperti itu.
“Merry, menikahlah denganku. Sudah lima tahun. Kamu mau nunggu sampai kapan?” tanya Alfian.
Merry mengeluh kepalanya pusing, lalu berbaring tanpa memakai kembali pakaiannya. Alfian menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, lalu ikut terlelap di samping Merry.
--Flashback off—
“Kamu sudah bangun. Mau sarapan apa?” tanya Alfian sambil membuka matanya.
Merry melirik tubuh Alfian yang sudah melepaskan pakaiannya semalam. Otot perutnya membuat Merry
malu sendiri. Alfian yang melihat arah pandangan Merry, sengaja menurunkan selimutnya hingga hampir memperlihatkan sesuatu di bawah perutnya.
“Atau kamu mau sarapan roti sobek sama susu?” goda Alfian.
Merry mencari pakaiannya yang entah terlempar kemana semalam. Ia melirik Alfian yang masih menatapnya dengan pose menggoda. Selimut yang menutupi tubuh mereka hanya satu, Merry tidak bisa kemana-mana tanpa penutup tubuhnya.
“Al, ambilin bajuku dong. Ini udah hampir siang, kamu nggak ke kantor?” tanya Merry.
Alfian langsung bangkit dari tempat tidurnya membuat Merry menjerit kaget. Wanita itu menutupi wajahnya dengan selimut lagi. Jantungnya berdetak kencang, takut melihat tubuh Alfian yang paling sensitif. Pria itu mengambil bathrobe dari dalam lemarinya, memakainya, lalu mengambil satu lagi untuk Merry.
“Ini bathrobemu. Tapi... cium dulu,” pinta Alfian.
“Al... aku nggak mau,” lirih Merry.
Ciuman mereka semalam saja masih menyisakan debaran jantung yang belum mereda. Kalau mereka ciuman
lagi, Merry akan benar-benar meledak. Alfian menatap tajam mata Merry, ia tidak menerima penolakan. Cium atau Merry tidak boleh kemana-mana. Wanita itu menarik bathrobe di tangan Alfian, menghilangkan keseimbangan pria itu hingga jatuh menimpanya. Alfian tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencuri ciuman Merry sekali lagi.
**
Wajah Merry merah merona saat tiba di kantor FoRena Group pagi itu. Di belakangnya Alfian berjalan cepat mengejar Merry. Wanita itu turun duluan dari mobil dan meninggalkannya yang masih sibuk parkir sendirian. Merry menekan tombol lift dengan sadis, ia ingin cepat-cepat masuk agar Alfian tidak bisa mengejarnya. Meskipun lift yang mereka pakai berbeda, tetap saja Merry takut bersama Alfian saat ini.
“Selamat pagi, bu,” sapa Renata membuat Merry berjengit kaget.
Merry mengelus dadanya yang hampir meledak saking kencang jantungnya berdebar. “Renata! Aduh, kaget tau,” kata Merry sambil menarik Renata mendekat.
Kepalanya celingukan mencari keberadaan Alfian yang sudah menghilang entah kemana. Hatinya sedikit
__ADS_1
lega karena untuk empat jam kedepan, dirinya tidak akan bertemu dengan Alfian dulu. Renata yang digeret masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, bingung dengan sikap Merry pagi itu. Ia seharusnya masuk ke lift khusus direktur, tapi sepertinya Merry ingin mengatakan sesuatu yang penting.
“Ada apa, bu? Kenapa kayaknya bingung gitu?” tanya Renata.
“Kamu lihat Alfian nggak tadi? Dia kemana?” tanya Merry sedikit lega.
Renata menggeleng, ia memang tidak melihat Alfian sejak masuk ke lobby kantor tadi. Tapi kenapa Merry
tampak seperti ketakutan seperti ini. Apa yang terjadi pada mereka kemarin? Merry melihat di leher Renata ada tanda merah bekas ciuman. Renata yang menyadari arah pandangan Merry, merapatkan kemeja dan rambutnya.
“Apa yang terjadi, Renata?”tanya Merry bersamaan.
“Apa yang terjadi, ibu?” tanya Renata bersamaan.
Keduanya sepakat akan saling bercerita saat makan siang dengan catatan, Renata bisa menjauhkan Alfian
dari Merry pada saat itu. Disinilah Renata sekarang, berdiri di depan ruangan Alfian, sedang menunggu pria itu datang. Ketika Alfian muncul, Renata langsung memintanya tidak mengganggu Merry dulu untuk hari ini. Alfian hanya mengangguk tanpa ekspresi ataupun bertanya apapun.
Mereka melewati hari yang cukup sibuk, bahkan untuk makan siang saja harus dilakukan detik-detik
terakhir. Alfian menepati kata-katanya untuk tidak menemui Merry di kantin karyawan. Pria itu memang makan disana, tapi di meja yang berbeda dengan Merry dan Renata. Dari kejauhan, Merry melirik Alfian yang duduk membelakangi mereka.
“Ren, kemarin hampir kejadian. Kami itu... hampir gituan,” kata Merry memulai ceritanya.
“Gituan? Maksud ibu, berhubungan intim?” tanya Renata mempertegas kata-kata Merry.
Wanita tambun itu meminta Renata merendahkan suaranya. Ia melihat sekeliling, tidak ada siapapun di dekat mereka berdua. Merry mengungkapkan perasaannya yang kacau setelah kejadian semalam. Renata jadi kepo dan meminta Merry untuk cerita apa yang terjadi padanya dan Alfian setelah mereka berpisah.
Ungkapan kekagetan, keheranan, bahkan terkejut keluar dari bibir Renata ketika mendengar cerita Merry. Apalagi Merry bercerita tanpa sensor agar Renata paham apa yang sudah terjadi semalam.
“Aku bingung, Ren. Harus gimana ya? Aku takut nerima Alfian, nanti aku kecewa lagi. Nggak sanggup
nanggungnya, Ren,” curhat Merry.
“Tapi kalau pak Alfian sampai mau nikahin ibu, berarti dia serius dong. Ya, kan?” tanya Renata.
Merry mengangguk ragu. Diliriknya sosok Alfian yang sudah menghilang dari tempat ia duduk tadi.
Wanita tambun itu menarik nafas panjang, lalu menunduk di meja tempat mereka makan.
“Bu, memangnya ibu tidak suka sama pak Alfian?” tanya Renata sambil menahan senyumnya.
Alfian berdiri di belakang Merry yang masih menunduk. Ia tidak mau menjawab sebelum memikirkan
jawabannya.
“Memangnya aku boleh suka sama pria sempurna seperti dia. Aku takut, bukan sama pandangan orang
tentang kami berdua. Tapi aku trauma karena dulu pernah ada laki-laki yang mempermainkan aku. Ren, aku pikir aku sudah bertemu cinta sejatiku. Tapi dia malah menjadikan aku bahan taruhannya. Dia bertaruh bisa mendapatkan cintaku dalam sebulan. Aku nggak bisa percaya lagi pada laki-laki sejak itu, Ren,” ucap Merry.
Tiba-tiba Alfian menarik tangan Merry, memintanya ikut bersamanya. Merry menahan langkahnya dan menanyakan kemana Alfian akan membawanya, tapi pria itu malah menarik tangannya. Merry menoleh ke belakang minta bantuan pada Renata, tapi gadis itu hanya bisa melambaikan tangannya dengan bingung.
__ADS_1