Duren Manis

Duren Manis
Ngidam jilid 3


__ADS_3

Jodi berlari masuk


ke rumah sakit, ia bahkan mengabaikan panggilan security agar memindahkan mobil


sport-nya yang terparkir sembarangan. Guntur yang menyusul Jodi dengan diantar


sopir kantor, segera membereskan kekacauan yang ditimbulkan Jodi.


Bos-nya itu bahkan


tidak peduli dengan mobil sportnya dan melemparkan kunci mobilnya sembarangan


kepada security.


Jodi mencari UGD


tempat Katty dirawat, papanya sudah memberikan alamat rumah sakit dan juga


sedang menunggui calon menantunya disana. Dari kejauhan, Jodi melihat papanya


mondar-mandir di depan ruang UGD.


Jodi : “Pah! Mana


Katty?”


Anton : “Didalam,


masih ditangani dokter.”


Plak! Anton memukul


kepala Jodi dengan keras.


Jodi : “Aduch!


Kenapa Jodi dipukul, pah?”


Anton : “Kamu nich


udah miskin? Bangkrut?”


Jodi : “Nggak, pah.


Masih kaya.” Jodi bingung kenapa dirinya tiba-tiba dipukul papanya, enak aja


ngatain anaknya miskin.


Anton : “Kaya, kaya.


Trus kenapa Katty masih pake mobil butut yang gak ada airbag-nya?!”


Anton kembali


memukul Jodi tanpa ampun.


Jodi : “Jodi uda


mau beliin dia mobil, pah. Tapi Katty gak mau ganti mobilnya itu. Ampun, pah.”


Guntur yang baru


datang, cuma bengong melihat Jodi dipukuli pak Anton. Untung saja dokter segera


keluar dari ruang UGD dan melerai mereka.


Dokter : “Kalian


ini ngapain buat keributan disini! Siapa keluarga pasien Katty?”


Jodi : “Saya suaminya,


dokter.”


Dokter : “Kondisi


ibu dan bayinya sudah stabil. Tolong jaga emosi ibunya ya jangan sampai stress.”


Jodi : “Apa, dok?”


Jodi tiba-tiba jadi


bloon saat mendengar kata-kata dokter.


Dokter : “Saya


bilang kondisi keduanya sudah stabil. Ibu dan bayinya. Tolong lebih hati-hati


karena ini kehamilan trisemester awal.”


Jodi : “Tolong


diulang, dok.”


Dokter mengkerutkan


keningnya, pria tampan di depannya ini sepertinya ada masalah dengan


pendengarannya.


Dokter : “Ibu dan


bayinya...”


Jodi : “Bayi? Dia


hamil?”


Dokter : “Anda ini


sebagai suami kenapa bisa tidak tahu kalau istri anda sedang hamil?”


Anton : “Dia memang


gak peka, dokter. Menantu saya hamil berapa bulan, dokter?”


Dokter : “Tadi


dokter kandungan bilang masuk minggu ke 6. Nanti bisa ditanyakan langsung ke


dokter kandungannya saat visit. Silakan mengurus administrasi untuk pindah ke


kamar.”


Guntur : “Sudah,


dokter. Kamar VVIP.”


Anton menepuk


pundak Guntur yang sigap, dan menatap Jodi yang masih betah bengong.


Anton : “Hei, anak


setan, ngapain masih disini? Cepat lihat Katty. Bengong aja.”


Jodi : “Papa


ngatain diri sendiri ya.”


Anton : “Anak


kurang ajar!!”


Guntur hanya bisa


menahan tawanya mendengar Pak Anton tidak sadar mengatai dirinya sendiri setan


karena kekesalannya pada Jodi. Sepeninggalan Jodi, Pak Anton menatap Guntur.


Anton : “Guntur, belikan


mobil baru untuk menantuku dan juga carikan sopir. Dan sembunyikan mobil

__ADS_1


bututnya itu. Perbaiki saja, tapi sembunyikan. Ok.”


Guntur : “Baik,


pak.”


Anton : “Hehe...


sebentar lagi aku akan jadi kakek. Jodi bisa juga membuatnya.”


Guntur : “Selamat,


pak.”


Anton : “Kau juga


selamat, aku dengar kau akan menikah. Kapan?”


Guntur : “Iya, pak.


Maaf saya nikah duluan dari pak Jodi. Soalnya calon istri saya itu tantenya Ibu


Katty.”


Anton : “Hahahaha...


Gak masalah, aku hanya membayangkan Jodi harus memanggilmu om, nanti.”


Guntur : “Eh, iya


juga ya, pak. Mereka sudah keluar, pak.”


Anton menoleh saat


melihat Katty didorong keluar dari ruang UGD. Ia masih belum sadarkan diri,


tampak keningnya diperban. Jodi berjalan di belakang perawat yang mendorong bed


Katty.


Anton dan Guntur


juga mengikuti mereka, Guntur berjalan mensejajari Jodi dan menyerahkan ponsel


bosnya itu.


Jodi : “Loh, HP-ku


kenapa bisa sama kamu?”


Guntur : “Yang


bapak bawa lari tadi itu HP saya, pak.”


Jodi : “Oh, sory.”


Mereka bertukar


ponsel kembali. Guntur dengan cepat menelpon Anisa untuk mengabari kondisi


Katty.


Anisa : “Halo,


Mas...”


Guntur : “Halo,


Nisa. Kamu lagi dimana?”


Anisa : “Aku


dirumah, lagi mau masak. Kenapa, mas?”


Guntur : “Gini, aku


mau ngasi tahu, Katty kecelakaan.”


Anisa : “Apa, mas?


Guntur : “Sudah


stabil. Tapi dia perlu istirahat. Kami masih di rumah sakit sekarang.”


Anisa : “Di rumah


sakit mana, mas? Aku kesana sekarang.”


Guntur : “Rumah


sakit XX. Kamu bisa sekalian kasi tahu orang tua Katty?”


Anisa : “Iya, mas.


Ntar aku yang nelpon mereka. Aku kesana ya, mas.”


Guntur : “Iya,


hati-hati di jalan... sayang...”


Anisa : “Iya...


sayang... hihi...”


Guntur tersenyum


lebar, ia menutup telponnya dan melihat Jodi sedang menatapnya sambil tersenyum


geli.


Jodi : Iya, sayang.


Prett...!!”


Anton : “Jodi,


biarin Guntur. Bentar lagi kamu harus memanggil dia om. Dasar anak gak sopan.”


Jodi : “Ogah.


Diakan lebih muda dari aku.”


Anton : “Tapi dia


akan menikah dengan tantenya Katty.”


Jodi : “Bodo. Dia


juga gak keberatan, ya kan?”


Guntur : “Iya, pak.”


Jodi : “Tuch, papa


liat.”


Anton : “Dasar


bocah gila!”


Jodi : “Sapa dulu


papanya...”


Katty : “Mmm...”


Ketiganya menoleh


saat mendengar Katty bergumam,


Jodi : “Sayang,


kamu uda sadar?”

__ADS_1


Katty : “Dimana...?”


Jodi : “Kamu


dirumah sakit, sayang. Kamu gak pa-pa? Apa yang sakit?”


Katty : “...Hmmpp...


hooeekk...!”


Anton dan Guntur


langsung menghindar saat Katty tidak bisa menahan mualnya dan memuntahi Jodi.


Jodi : “Sayang... kenapa


aku yang kena?”


Jodi pasrah


dimuntahi Katty yang masih betah muntah sampai perutnya terasa sakit. Selimut


yang menutup tubuh Katty sedikit terkena muntahannya juga.


Jodi : “Guntur,


cepat panggil suster. Aku harus mandi... hmmppp... hoeekkk...”


Anton kebingungan


melihat anak dan calon menantunya bergantian muntah. Untung saja suster segera


datang dan membereskan kekacauan yang ada di kamar itu. Jodi segera masuk ke


kamar mandi, dan Guntur keluar dari kamar untuk membelikan pakaian ganti untuk


Jodi.


Katty masih berbaring


sambil sesekali memegangi kepalanya, Anton duduk di sampingnya sambil memegang


tangan Katty.


Anton : “Nak, kamu


baik-baik aja? Masih pusing?”


Katty : “Iya,


sedikit pah. Katty kok bisa disini?”


Anton : “Tadi kamu


nabrak mobil papa.”


Katty : “Apa?!


Maaf, pah...”


Anton : “Gak pa-pa.


Papa jadi punya alasan buat ganti mobil baru. Hehehehe...”


Katty : “Katty


beneran pusing banget tadi, pah. Maaf ya, pah.”


Anton : “Iya, kamu


jangan capek-capek ya. Papa uda beliin mobil baru dan sementara kamu pakai


sopir dulu.”


Katty : “Tapi pah,


mobil Katty...”


Anton : “Mobil kamu


papa sita. Gak ada protes lagi, mobil baru dan sopir titik.”


Katty kehilangan


kata-katanya dan hanya bisa mengangguk menurut. Ia merasa sangat haus dan ingin


sekali minum jus jeruk.


Katty : “Pah, ada


jus jeruk gak?”


Anton : “Jus jeruk?


Papa pesenin ya. Mau yang manis atau asem?”


Katty : “Yang asem


sama yang manis, pah.”


Anton menelpon ke


restauran rumah sakit memesan minuman dan makanan juga.


Anton : “Kamu mau


makan sesuatu?”


Katty : “Telur mata


sapi, isi tomat diatasnya.”


Anton mengkerutkan


keningnya mendengar permintaan aneh Katty, ia maklum karena Katty sedang


ngidam. Selesai memesan, Anton menoleh menatap Jodi yang baru keluar dari kamar


mandi, memakai baju rumah sakit. Jodi mengendus tubuhnya yang baru selesai


mandi.


Jodi : “Baunya


masih nempel juga... huummpp... hoek...”


Jodi berlari masuk


lagi ke dalam kamar mandi dan terdengar muntah-muntah disana.


Anton : “Kenapa


jadi dia yang ngidam?”


Katty : “Ngidam?


Jodi kenapa pah? Sakit?”


Anton : “Nak, kamu


gak tahu ya kalo lagi hamil?”


Katty : “Apaa??!!”


Katty hampir bangun


dari baringnya, untung saja Anton sigap menahan tubuh Katty.


🌻🌻🌻🌻🌻


Nah loh, Katty


hamil juga nich. Tapi yang ngidam Jodi.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2