
Jodi berlari masuk
ke rumah sakit, ia bahkan mengabaikan panggilan security agar memindahkan mobil
sport-nya yang terparkir sembarangan. Guntur yang menyusul Jodi dengan diantar
sopir kantor, segera membereskan kekacauan yang ditimbulkan Jodi.
Bos-nya itu bahkan
tidak peduli dengan mobil sportnya dan melemparkan kunci mobilnya sembarangan
kepada security.
Jodi mencari UGD
tempat Katty dirawat, papanya sudah memberikan alamat rumah sakit dan juga
sedang menunggui calon menantunya disana. Dari kejauhan, Jodi melihat papanya
mondar-mandir di depan ruang UGD.
Jodi : “Pah! Mana
Katty?”
Anton : “Didalam,
masih ditangani dokter.”
Plak! Anton memukul
kepala Jodi dengan keras.
Jodi : “Aduch!
Kenapa Jodi dipukul, pah?”
Anton : “Kamu nich
udah miskin? Bangkrut?”
Jodi : “Nggak, pah.
Masih kaya.” Jodi bingung kenapa dirinya tiba-tiba dipukul papanya, enak aja
ngatain anaknya miskin.
Anton : “Kaya, kaya.
Trus kenapa Katty masih pake mobil butut yang gak ada airbag-nya?!”
Anton kembali
memukul Jodi tanpa ampun.
Jodi : “Jodi uda
mau beliin dia mobil, pah. Tapi Katty gak mau ganti mobilnya itu. Ampun, pah.”
Guntur yang baru
datang, cuma bengong melihat Jodi dipukuli pak Anton. Untung saja dokter segera
keluar dari ruang UGD dan melerai mereka.
Dokter : “Kalian
ini ngapain buat keributan disini! Siapa keluarga pasien Katty?”
Jodi : “Saya suaminya,
dokter.”
Dokter : “Kondisi
ibu dan bayinya sudah stabil. Tolong jaga emosi ibunya ya jangan sampai stress.”
Jodi : “Apa, dok?”
Jodi tiba-tiba jadi
bloon saat mendengar kata-kata dokter.
Dokter : “Saya
bilang kondisi keduanya sudah stabil. Ibu dan bayinya. Tolong lebih hati-hati
karena ini kehamilan trisemester awal.”
Jodi : “Tolong
diulang, dok.”
Dokter mengkerutkan
keningnya, pria tampan di depannya ini sepertinya ada masalah dengan
pendengarannya.
Dokter : “Ibu dan
bayinya...”
Jodi : “Bayi? Dia
hamil?”
Dokter : “Anda ini
sebagai suami kenapa bisa tidak tahu kalau istri anda sedang hamil?”
Anton : “Dia memang
gak peka, dokter. Menantu saya hamil berapa bulan, dokter?”
Dokter : “Tadi
dokter kandungan bilang masuk minggu ke 6. Nanti bisa ditanyakan langsung ke
dokter kandungannya saat visit. Silakan mengurus administrasi untuk pindah ke
kamar.”
Guntur : “Sudah,
dokter. Kamar VVIP.”
Anton menepuk
pundak Guntur yang sigap, dan menatap Jodi yang masih betah bengong.
Anton : “Hei, anak
setan, ngapain masih disini? Cepat lihat Katty. Bengong aja.”
Jodi : “Papa
ngatain diri sendiri ya.”
Anton : “Anak
kurang ajar!!”
Guntur hanya bisa
menahan tawanya mendengar Pak Anton tidak sadar mengatai dirinya sendiri setan
karena kekesalannya pada Jodi. Sepeninggalan Jodi, Pak Anton menatap Guntur.
Anton : “Guntur, belikan
mobil baru untuk menantuku dan juga carikan sopir. Dan sembunyikan mobil
__ADS_1
bututnya itu. Perbaiki saja, tapi sembunyikan. Ok.”
Guntur : “Baik,
pak.”
Anton : “Hehe...
sebentar lagi aku akan jadi kakek. Jodi bisa juga membuatnya.”
Guntur : “Selamat,
pak.”
Anton : “Kau juga
selamat, aku dengar kau akan menikah. Kapan?”
Guntur : “Iya, pak.
Maaf saya nikah duluan dari pak Jodi. Soalnya calon istri saya itu tantenya Ibu
Katty.”
Anton : “Hahahaha...
Gak masalah, aku hanya membayangkan Jodi harus memanggilmu om, nanti.”
Guntur : “Eh, iya
juga ya, pak. Mereka sudah keluar, pak.”
Anton menoleh saat
melihat Katty didorong keluar dari ruang UGD. Ia masih belum sadarkan diri,
tampak keningnya diperban. Jodi berjalan di belakang perawat yang mendorong bed
Katty.
Anton dan Guntur
juga mengikuti mereka, Guntur berjalan mensejajari Jodi dan menyerahkan ponsel
bosnya itu.
Jodi : “Loh, HP-ku
kenapa bisa sama kamu?”
Guntur : “Yang
bapak bawa lari tadi itu HP saya, pak.”
Jodi : “Oh, sory.”
Mereka bertukar
ponsel kembali. Guntur dengan cepat menelpon Anisa untuk mengabari kondisi
Katty.
Anisa : “Halo,
Mas...”
Guntur : “Halo,
Nisa. Kamu lagi dimana?”
Anisa : “Aku
dirumah, lagi mau masak. Kenapa, mas?”
Guntur : “Gini, aku
mau ngasi tahu, Katty kecelakaan.”
Anisa : “Apa, mas?
Guntur : “Sudah
stabil. Tapi dia perlu istirahat. Kami masih di rumah sakit sekarang.”
Anisa : “Di rumah
sakit mana, mas? Aku kesana sekarang.”
Guntur : “Rumah
sakit XX. Kamu bisa sekalian kasi tahu orang tua Katty?”
Anisa : “Iya, mas.
Ntar aku yang nelpon mereka. Aku kesana ya, mas.”
Guntur : “Iya,
hati-hati di jalan... sayang...”
Anisa : “Iya...
sayang... hihi...”
Guntur tersenyum
lebar, ia menutup telponnya dan melihat Jodi sedang menatapnya sambil tersenyum
geli.
Jodi : Iya, sayang.
Prett...!!”
Anton : “Jodi,
biarin Guntur. Bentar lagi kamu harus memanggil dia om. Dasar anak gak sopan.”
Jodi : “Ogah.
Diakan lebih muda dari aku.”
Anton : “Tapi dia
akan menikah dengan tantenya Katty.”
Jodi : “Bodo. Dia
juga gak keberatan, ya kan?”
Guntur : “Iya, pak.”
Jodi : “Tuch, papa
liat.”
Anton : “Dasar
bocah gila!”
Jodi : “Sapa dulu
papanya...”
Katty : “Mmm...”
Ketiganya menoleh
saat mendengar Katty bergumam,
Jodi : “Sayang,
kamu uda sadar?”
__ADS_1
Katty : “Dimana...?”
Jodi : “Kamu
dirumah sakit, sayang. Kamu gak pa-pa? Apa yang sakit?”
Katty : “...Hmmpp...
hooeekk...!”
Anton dan Guntur
langsung menghindar saat Katty tidak bisa menahan mualnya dan memuntahi Jodi.
Jodi : “Sayang... kenapa
aku yang kena?”
Jodi pasrah
dimuntahi Katty yang masih betah muntah sampai perutnya terasa sakit. Selimut
yang menutup tubuh Katty sedikit terkena muntahannya juga.
Jodi : “Guntur,
cepat panggil suster. Aku harus mandi... hmmppp... hoeekkk...”
Anton kebingungan
melihat anak dan calon menantunya bergantian muntah. Untung saja suster segera
datang dan membereskan kekacauan yang ada di kamar itu. Jodi segera masuk ke
kamar mandi, dan Guntur keluar dari kamar untuk membelikan pakaian ganti untuk
Jodi.
Katty masih berbaring
sambil sesekali memegangi kepalanya, Anton duduk di sampingnya sambil memegang
tangan Katty.
Anton : “Nak, kamu
baik-baik aja? Masih pusing?”
Katty : “Iya,
sedikit pah. Katty kok bisa disini?”
Anton : “Tadi kamu
nabrak mobil papa.”
Katty : “Apa?!
Maaf, pah...”
Anton : “Gak pa-pa.
Papa jadi punya alasan buat ganti mobil baru. Hehehehe...”
Katty : “Katty
beneran pusing banget tadi, pah. Maaf ya, pah.”
Anton : “Iya, kamu
jangan capek-capek ya. Papa uda beliin mobil baru dan sementara kamu pakai
sopir dulu.”
Katty : “Tapi pah,
mobil Katty...”
Anton : “Mobil kamu
papa sita. Gak ada protes lagi, mobil baru dan sopir titik.”
Katty kehilangan
kata-katanya dan hanya bisa mengangguk menurut. Ia merasa sangat haus dan ingin
sekali minum jus jeruk.
Katty : “Pah, ada
jus jeruk gak?”
Anton : “Jus jeruk?
Papa pesenin ya. Mau yang manis atau asem?”
Katty : “Yang asem
sama yang manis, pah.”
Anton menelpon ke
restauran rumah sakit memesan minuman dan makanan juga.
Anton : “Kamu mau
makan sesuatu?”
Katty : “Telur mata
sapi, isi tomat diatasnya.”
Anton mengkerutkan
keningnya mendengar permintaan aneh Katty, ia maklum karena Katty sedang
ngidam. Selesai memesan, Anton menoleh menatap Jodi yang baru keluar dari kamar
mandi, memakai baju rumah sakit. Jodi mengendus tubuhnya yang baru selesai
mandi.
Jodi : “Baunya
masih nempel juga... huummpp... hoek...”
Jodi berlari masuk
lagi ke dalam kamar mandi dan terdengar muntah-muntah disana.
Anton : “Kenapa
jadi dia yang ngidam?”
Katty : “Ngidam?
Jodi kenapa pah? Sakit?”
Anton : “Nak, kamu
gak tahu ya kalo lagi hamil?”
Katty : “Apaa??!!”
Katty hampir bangun
dari baringnya, untung saja Anton sigap menahan tubuh Katty.
🌻🌻🌻🌻🌻
Nah loh, Katty
hamil juga nich. Tapi yang ngidam Jodi.
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).