Duren Manis

Duren Manis
Terapi lagi


__ADS_3

Mia menggeliat merenggangkan tubuhnya ketika alarm ponselnya berbunyi. Ia mengerjapkan mata dan melihat sekeliling, mengingat sedang ada dimana dirinya saat ini.


Ia sedang berbaring di ranjang Alex, bingung kenapa ia bisa ada disana. Seingatnya semalam, ia sudah berpamitan pada nenek dan si kembar untuk pulang ke rumahnya.


Lebih bingung lagi mendapati tidak ada pakaian yang melekat di tubuhnya. Mia melihat ke samping, Alex berbaring di sampingnya, masih tidur dengan rambut acak-acakan dan bertelanjang dada.


Mia bangkit dari tidurannya dan memeriksa tubuhnya. Seingatnya lagi semalam Alex tidak ada di rumah. Ia pergi siang hari keluar kota untuk meeting penting selama sehari.


Jadi bagaimana dia bisa berada disini dengan kondisi seperti ini? Ditengah kebingungannya, Alex menggeliat bangun.


Alex : "Pagi, yang."


Mia tidak menjawab karena masih bingung. Tapi saat Alex menarik tubuhnya agar kembali berbaring dan melakukan sesuatu pada bagian tubuhnya yang sensitif, Mia mulai menggeliat.


Mia : "Ja...jangan mas..."


Alex tidak mendengarkan Mia, ia tetap melanjutkan aktifitasnya sampai tubuh Mia menegang. Alex tersenyum puas melihat ekspresi wajah Mia yang bergairah.


Saat Alex melanjutkan lagi menyentuh Mia lebih jauh, tiba-tiba... Bruk!


Mia : "Aduch...!"


Mia menyusap pinggangnya yang sakit. Ia melihat sekeliling dan mendapati dirinya ada di dalam kamarnya.


Mia menyusupkan wajahnya ke dalam selimut, ia sangat malu saat menyadari sudah bermimpi mesum bersama Alex.


Ini efek godaan Alex selama ini, pikirannya ikutan mesum sampai alam bawah sadarnya membuat fantasi gila.


Mia bergegas mandi dan ganti baju, ia sampai keramas pagi-pagi untuk mendinginkan seluruh tubuhnya. Kalau sampai Alex tahu tentang mimpinya, ia tidak akan bisa mengelak lagi sampai hari pernikahan mereka digelar.


Usai mandi, Mia keluar dari kamarnya. Ia melihat mama dan keluarga yang lain hampir selesai sarapan. Jam di dinding bahkan baru menunjukkan jam 6.30 pagi.


Keluarga Mia terbiasa bangun pagi dan sarapan bersama.


Mama Mia : "Pagi, sayang. Tumben kesiangan."


Mia : "Iya, mah. Mia capek banget."


Mama Mia : "Kamu sibuk banget ya akhir-akhir ini. Mama lihat juga kamu sering nginap di rumah Alex."


Mia : "Mia sibuk ngurus si kembar, mah. Mereka manja banget kalau Mia kesana. Mia juga sibuk beresin skripsi, revisi, sama persiapan pernikahan juga."


Mama Mia : "Emang Alex gak bantuin, kamu belum nikah aja uda kecapean begini, gimana kalau uda nikah nanti."


Mia : "Mia kan nikah uda beres kuliah, mah. Paling sibuk buat anak aja. Mas Alex juga bantu kok, cuma lebih banyak Mia yang ngurus."


Mama Mia menggelengkan kepala mendengar kata-kata Mia yang cengengesan. Anak gadisnya sudah cukup dewasa sampai berani berkata vulgar seperti itu.

__ADS_1


--------


Sementara itu di apartment Arnold, Rara merasakan tubuhnya berat tertindih sesuatu. Ia melihat sebuah lengan melintang diatas dadanya dan tangan lainnya nangkring di salah satu dadanya.


Rara : "Aarrggghh...!!!"


Rara terlonjak bangun sambil berteriak kencang, dadanya bergemuruh saat menyadari kalau dia tidak berada di kamarnya.


Arnold yang kaget, ikut tertarik tubuh Rara dengan tangan masih memeluk tubuh gadis itu. Ia memicingkan matanya dan mendapati dimana letak tangannya berada.


Arnold segera menarik tangannya dari tubuh Rara dan duduk menjauh, memegangi kepalanya yang sakit karena bangun tiba-tiba.


Rara menyibak selimut dan bergegas lari ke kamar mandi. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi tadi.


Sementara Arnold kembali berbaring, ia memperhatikan tangannya yang tadi memegang aset Rara. Ukurannya tidak besar juga tidak kecil. Pas sekali dengan tangannya.


Wajah Arnold memerah membayangkan bagaimana kalau dia bercinta dengan Rara. Arnold membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak keras.


Bagaimana bisa ia membayangkan hal semesum itu? Rara sudah membuatnya kehilangan akal sehat.


Rara yang sudah selesai mandi, masih berdiam diri di kamar mandi. Ia bingung karena bathrobe dan handuk tidak ada di dalam sana.


Rara mengambil piyama tidurnya dan berpikir akan memakainya tapi piyama itu sudah basah. Tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk Arnold,


Arnold : "Ra, kamu uda selesai?"


Arnold : "..."


Lagi-lagi begini, Arnold menahan ngilu pada bagian bawah tubuhnya saat ia mengetuk pintu kamar mandi. Dan sekarang Rara memintanya mengambil handuk.


Arnold mengambil bathrobe dan handuk dari lemari dan kembali mengetuk pintu kamar mandi. Ia menyerahkan kedua benda itu sambil membelakangi pintu.


Rara segera keluar dari kamar mandi setelah memakai bathrobe. Arnold menatapnya sekilas dan tertegun melihat pemandangan di depannya. Rara bahkan belum selesai mengelap tubuhnya yang masih basah.


Saat mereka bertatapan, Arnold memejamkan matanya dan berpaling. Ia segera masuk ke kamar mandi sambil membanting pintu.


-------


Usai sarapan yang super canggung, mereka berdua sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Arnold sibuk membalas chat dokter Kevin.


Sementara Rara melihat keluar jendela, ia galau mengingat kejadian tadi pagi dan sedikit gugup. Tapi bagaimana bisa Arnold jadi memeluknya semalam?


Sesampainya dirumah sakit, Arnold mengajak Rara langsung ke ruangan dokter Kevin yang sudah menunggu mereka disana.


Terapi kedua mulai berjalan, kali ini Arnold ingin tahu bagaimana dia bisa sadar dari koma. Keringat dingin kembali membasahi tangan dan kening Arnold.


Rara melihat ke arah dokter Kevin yang mengangguk dan segera menempatkan tubuhnya disamping Arnold. Kali ini dokter Kevin sengaja menyekat bed periksa agar Rara merasa nyaman.

__ADS_1


Nafas Arnold mulai terdengar berat, ia seperti habis berlari dan kehabisan nafas. Tangan Arnold memeluk tubuh Rara, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.


Cukup lama nafas Arnold kembali normal dan Rara mulai membuka kemejanya menyisakan bra-nya saja.


dr.Kevin : "Rara, apa nafasnya Arnold sudah normal?"


Rara : "Sedikit lagi, dokter. Saya masih usahakan, dokter lanjutkan saja."


Saat session 1 hampir selesai, nafas Arnold sudah normal lagi dan ia mulai membuka matanya. Arnold melotot melihat tubuh bagian atas Rara yang sudah polos, hanya ditutupi lengannya saja.


Arnold kembali memejamkan matanya, menutup wajahnya dengan bantal yang ada disana. Sementara Rara cepat-cepat memakai pakaiannya kembali.


dr.Kevin : "Arnold, kamu sudah bangun?"


Arnold : "Sebentar, dok. Tunggu..."


Rara menyentuh lengan Arnold, memberitahunya kalau ia sudah selesai berpakaian.


Sekat ruangan dibuka dan dokter Kevin menanyakan perasaan Arnold.


Arnold : "Untuk session 2 kita undur saja ya dokter. Saya gak tahu apa yang akan terjadi kalau kita teruskan."


Dokter Kevin melihat wajah keduanya sudah merah padam. Entah apa yang terjadi di balik sekat tadi, yang jelas ingatan Arnold mulai pulih satu persatu dan emosinya jauh lebih stabil.


dr. Kevin : "Tapi kenapa, Arnold. Terapimu sudah banyak kemajuan dan sedikit lagi pasti bisa sembuh."


Arnold : "Saya gak bisa lanjutkan sekarang, dok. Saya harus menikahi Rara dulu, baru bisa melanjutkan terapi ini."


dr. Kevin : "Hmm... saya paham. Jadi kapan pertemuan berikutnya?"


Arnold : "Saya kabari dokter secepatnya. Kami permisi dulu, dok. Terima kasih."


Arnold menggenggam tangan Rara yang terasa dingin. Mereka keluar dari rumah sakit dengan cepat menuju parkiran mobil.


Lagi-lagi Arnold meminta sopir menunggu diluar dan secara mengejutkan Arnold mencium Rara lagi. Kali ini ciumannya lebih dalam dan menuntut.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2