
Pernikahan Riri
tinggal beberapa jam lagi, calon pengantin wanita tampak sedang mengemasi
kopernya. Kaori tetap setia mendampingi sahabatnya itu.
Kaori : “Sudah
semua baju yang mau kamu bawa?”
Riri : “Sudah sich.
Aku gak bawa banyak baju, cuma beberapa aja.”
Kaori : “Trus dus
itu isinya apa?” Kaori menunjuk dus di dekat pintu kamar.
Riri : “Bukunya mas
Elo. Belum selesai kubaca.”
Kaori mengangkat
koper agar berdiri dan mendorongnya ke dekat dus. Riri menoleh melihat
ponselnya yang berdering nyaring. Keith calling.
Kaori : “Siapa yang
telpon?”
Riri : “Kak Keith.”
Kaori : “Kok gak
diangkat?”
Riri : “Aku males
nanggepin dia.”
Kaori : “Angkat aja
sapa tau penting.”
Riri : “Aku gak
mau, Ri. Kalo mas Elo sampai tau, nanti dia marah.” Ponsel Riri berhenti
berdering dan menyala lagi.
Kaori : “Tuch dia
nelpon lagi. Sini aku yang angkat.”
Riri : “Biarin aja,
serius nich.”
Dering ponsel
berhenti, digantikan spam chat. Riri menatap malas pada ponselnya, ia akhirnya
mau menanggapi Keith. Hanya untuk terakhir kalinya. Riri membaca chat dari
Keith,
Keith : “Ri, ini
beneran, kamu mau nikah?”
Keith : “Foto
undangan pernikahan Riri.’
Keith : “Ri, jawab
telponku.”
Keith : “Riri!”
Keith : “Tolong
jawab telponku. Aku perlu bicara penting sama kamu.”
Riri : “Ngomong
lewat chat aja, kak.”
Keith : “Ri, kamu
beneran mau nikah sama Pak Angelo? Kamu kan masih kuliah.”
Riri : “Iya, kak.”
Keith : “Ri, kenapa
kamu lebih milih Pak Angelo? Apa karena dia lebih kaya dariku?”
Riri : “Aku kenal
mas Elo tanpa tahu latar belakangnya, kak. Aku kira dia cuma pegawai biasa.”
Keith : “Gak
mungkin! Apa kamu dipaksa nikah?”
Riri : “Aku sudah
bilang kan, aku cinta sama mas Elo.”
Keith : “Apa kamu
sudah hamil?”
Riri : “Itu bukan
urusan kakak.”
__ADS_1
Kaori mengepalkan
tangan membaca chat dari Keith.
Kaori : “Dia pikir
perempuan itu semuanya murahan, baru berjodoh sama orang kaya, dianggap menjual
diri. Bacot.”
Riri : “Biarin aja,
Ri. Nich, udah ku blokir nomornya.”
Kaori : “Maaf ya,
tadi aku nyuruh kamu angkat telpon dia. Aku gak nyangka sepicik itu pikirannya.”
Riri : “Gak pa-pa.
Kamu kapan nyusul aku?”
Kaori : “Aku? Kerja
aja belum. Kamu enak udah dapet Pak Angelo.”
Riri : “Maksudmu
orang kaya?”
Kaori : “Nggak gitu.
Pak Angelo kan udah kerja. Kamu juga kerja jadi novelis online. Aku masih jauh.
Nunggu ponakan dari kamu dech.”
Riri : “Idih. Aku masih
lama punya anak.”
Keduanya semakin
asyik mengobrol sampai waktu menunjukkan jam 12 malam. Ada chat masuk lagi ke
ponsel Riri.
Kaori : “Dari
siapa?”
Riri : “Mas Elo.”
Kaori : “Ya, udah. Aku
tidur duluan ya. Kamu jangan lama-lama chatnya. Besok ada kantung hitam di
bawah matamu.”
Riri : “Iya, bawel.
Tidur sana.”
chat dari Elo yang mengeluh kangen padanya. Mereka sudah gak ketemu sejak 2
hari lalu dan Elo sudah kangen setengah mati. Wajah Riri merona saat Elo bilang
akan menerkamnya setelah mereka sah besok.
Riri membalas chat
Elo dengan emoji ngambek yang langsung dibalas kalau Elo cuma bercanda. Riri
senyum-senyum sendiri membalas chat Elo berikutnya. Sampai tidak sadar kalau
waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi.
Riri cepat-cepat
menyudahi chat dengan Elo dan bersiap tidur. MUA akan datang jam 5 untuk mendandaninya.
Meski tidak merasa mengantuk, Riri tetap memejamkan matanya dan perlahan
membawa Riri ke dunia mimpi yang indah.
*****
Satu jam sebelum
acara akad dimulai, Riri masih dirias oleh MUA. Sementara Kaori dan Mia sudah
siap sejak tadi. Riri tidak bisa dibangunkan karena tidur terlalu larut. Kaori
yang tidak sabaran, sibuk mengomel padanya.
Riri : “Oh, kau
ribut sekali. Kasian mbak MUA-nya jadi pusing.”
Kaori : “Aku kan
sudah bilang jangan chat lama-lama. Gini kan kamu susah dibangunkan. Acaranya 1
jam lagi, Riri.”
Riri : “Jangan
stress gitu. Aku aja santai kok.”
Kaori : “Kamu gak gugup?”
Riri : “Yang
harusnya gugup kan mas Elo. Kan dia yang ngucapin ijab ntar.”
MUA : “Ayo, pake
baju pengantinnya dulu. Habis ini lanjut lagi make up-nya.”
Kaori membantu MUA
__ADS_1
memakaikan baju pengantin pada Riri. Saking lamanya mereka di dalam kamar, Rio
sampai mengetuk pintu kamar Riri.
Rio : “Ri, udah
selesai blum? Kak Elo udah dateng tuch.”
Riri : “Bentar.”
Rio : “Cepetan.
Papa udah manggil tuch.”
Kaori membuka
pintu, sejak pagi ia sembunyi dari Rio yang penasaran dengan penampilannya.
Rio : “Wow... Cantiknya.
Ayo, Ri...” Rio menarik tangan Kaori yang langsung menahan tubuhnya.
Kaori : “Mau
kemana?”
Rio : “Kebawah.
Kita nikah duluan.”
Kaori langsung
memukuli dan mencubiti lengan Rio,
Kaori : “Lepasin!
Rio!” Rio tetap menarik Kaori keluar dari kamar Riri.
Riri : “Eh, Kaori
mau dibawa kemana?”
Rio : “Pinjem
bentar.”
Rio menarik Kaori
masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintunya. Kaori mulai panik saat Rio
mendorongnya keatas tempat tidur.
Kaori : “Rio, kamu
mau apa?”
Rio : “Cium dong.”
Kaori : “Rio,
jangan nakal. Riasanku bisa rusak ntar.”
Rio tidak mau
mendengarkan Kaori, ia naik ke tempat tidurnya dan mengukung Kaori yang menahan
tubuhnya dengan sikunya atau hair do-nya akan rusak. Kaori hanya bisa menuruti
keinginan Rio.
Riri menoleh ketika
pintu kamarnya terbuka dan Kaori masuk dengan nafas ngos-ngosan. Bibirnya
tampak pucat dengan bekas lipstik meleber ke pinggir bibirnya.
Riri : “Kamu
kenapa? Rio ngapain kamu?”
Kaori : “Hampir aja
aku malam pertama duluan tadi. Mb, minta lipstik lagi.”
MUA senyum-senyum
melihat Kaori mengambil lipstik dan memperbaiki riasan bibirnya. Riri menunduk
malu melihat kelakukan sahabatnya itu.
Kaori : “Kamu udah
selesai?”
Riri : “Dikit lagi.”
Kaori : “Cepatan
dong. Ntar pengantin prianya gak sabaran malah nyusul kesini lagi.”
Riri : “Gak sampe
gitu.”
Tok, tok, tok...
Kaori dan Riri saling pandang, kali ini siapa yang datang?
🌻🌻🌻🌻🌻
Eh, yang dateng
author minta vote dong kk. Ranking novel ini turun lagi, jadi gak semangat nich
up-nya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1