Duren Manis

Duren Manis
Ngidam parah


__ADS_3

Setelah acara wisuda selesai, mereka makan bersama untuk merayakannya. Alex memilih restauran keluarga dengan hidangan yang cukup beragam.


Alex menatap Mia dengan khawatir. Meskipun Mia belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, tapi apa ia mau makan sekarang.


Mama Mia melihat keanehan pada cara makan Mia. Ia memesan mie goreng seafood yang ia sukai tapi tidak memakan potongan seafood itu sama sekali.


Alex sampai membantunya memisahkan antara mie dan potongan seafood agar Mia bisa cepat memakannya.


Mama Mia : "Mia, kamu kenapa?"


Mia : "Gak pa-pa, mah. Emang kenapa, mah?


Mama Mia : "Kamu aneh, makanan kesukaan tapi kok gak dihabiskan."


Mia : "Lagi gak pengen makan seafoodnya mah."


Mama Mia : "Kamu hamil?"


Semua orang menghentikan acara makan mereka dan menatap Mia yang balik menatap mereka, kecuali nenek.


Alex : "Iya, mb test pack-nya menunjukkan begitu. Tapi kami belum cek ke dokter kandungan, mb."


Rara : "Wah, beneran mah?!


Mia : "Iya, Ra."


Rio : "Yes, dapet adik cowok."


Riri : "Belum tahu, kali. Tunggu umurnya lima bulan."


Rio : "Darimana kau tahu itu?"


Riri : "Kan ada di pelajaran Biologi. Apa kau tidur selama pelajaran itu."


Rio menepuk keningnya, sudah sangat jelas kalau Riri lebih pintar darinya. Dia bisa ingat setiap pelajaran dengan baik.


Alex : "Besok papa sama mama ke dokter ya. Sekarang biar mama bisa makan, jadi harus diturutin maunya apa."


Mama Mia : "Wah, siap-siap nich Alex. Kalo ngidamnya parah, bisa repot."


Alex : "Uda resiko saya, mb."


Alex menatap Mia yang sudah menghabiskan mie gorengnya. Ia lanjut ingin makan pudding tapi harus rasa mangga. Kebetulan di restauran itu tidak ada pudding.


Si kembar cepat-cepat browsing tempat jual pudding terdekat dan menemukannya di sebelah restauran. Mereka berjalan kesana untuk membeli pudding mangga.


Alex tersenyum senang melihat si kembar juga perhatian dengan kehamilan Mia.


Tak lama mereka kembali membawa pesanan Mia, ia terlihat sangat senang mendapatkan makanan yang ia inginkan. Sesekali Mia membagi puddingnya pada si kembar dan Rara.


Keharmonisan keluarga mereka tidak luput dari pandangan seseorang yang sejak wisuda Mia, sudah mengikuti mereka sampai ke restauran.


-------


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Mia terbangun dengan rasa mual yang sangat mengganggu perutnya. Ia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah disana.


Alex yang mendengar suara orang muntah-muntah segera terbangun sambil memicingkan matanya. Ia melihat pintu kamar mandi terbuka dan berlari kesana.


Alex membantu menahan tubuh Mia yang masih muntah-muntah.


Alex : "Sayang, kamu gak pa-pa kan?"


Mia : "Aku mual... hoeeekk..."


Alex : "Kita ke dokter ya. Kamu bisa mandi sendiri?"


Mia : "Mandiin..."


Alex langsung semangat saat mendengar Mia ingin dimandikan. Sekalian ia ingin memastikan bagian mana saja dari tubuh Mia yang mengembang dengan baik karena kehamilannya.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Alex membopong Mia keluar dari kamar mandi. Mereka sudah selesai mandi, dan keluar hanya berbalut handuk.


Tok, tok, tok... Alex mendengar suara ketokan di pintu kamarnya. Ia mengambil kaos putih dari lemari dan langsung memakainya. Alex membuka pintu kamar, nenek membawa secangkir susu hangat untuk Mia.


Nenek : "Coba minum ini dulu ya. Kalo bisa nanti sarapan. Ibu dengar suara muntahnya keras sekali."


Alex : "Iya, makasi bu."


Alex membawa susu itu mendekati Mia. Mia mencoba meminumnya dan perutnya merasa lebih baik.


Alex : "Masi mual, sayang? Kamu mau makan apa?"


Mia : "Aku mau makan nasi sama telor mata sapi aja, mas."


Alex : "Ok, kita pakai baju dulu ya."


Mia berpakaian dibantu Alex, ia mengkerutkan kening melihat pilihan dress yang ditunjukkan Alex dan memilih memakai kaos dan celana longgar yang nyaman.


Alex menatap penampilan istrinya yang sedikit tomboy menurutnya. Tapi apapun yang dipakai Mia, ia tetap terlihat cantik alami.


Alex menyesuaikan penampilannya dengan Mia, mereka berjalan keluar kamar dan bersiap sarapan.


Mia : "Mas yang buatin."


Alex beranjak mengambil apron dan memakainya. Ia menyiapkan penggorengan dan menuangkan minyak. Mia menatap Alex yang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuknya.


Sepertinya anak dalam perutnya sangat suka membuat papanya susah. Mual yang dirasakan Mia sudah hilang untuk saat ini.


Alex menghidangkan sarapan di depan Mia yang langsung menyantapnya dengan nikmat. Masakan Alex meski cuma telur mata sapi, ludes dalam sekejap.


Mia mengelus perutnya yang terasa penuh, ia sudah menghabiskan segelas susu dan sekarang sarapan nasi. Mia tidak bisa membayangkan akan sebulat apa jadinya dia nanti.


Alex : "Uda kenyang, sayang? Mau lagi?"


Mia : "Aku uda kenyang, mas. Kita berangkat sekarang?"


Alex : "Ayo, berangkat. Abis itu kita mampir ke kantor bentar ya. Aku ada meeting."


Mia melihat penampilan Alex yang terlihat ganteng dengan kaos putih, celana jeans sobek-sobek dan sepatu kets. Masa Alex mau ke kantor dengan penampilan begitu.


Alex : "Sekali-kali seru juga pakaian begini. Lagian cuma meeting internal."


Mia : "Hmmppp... tapi kamu keliatan ganteng, maass... Pokoknya ganti baju ntar."


Alex saling pandang dengan nenek yang mengangkat bahunya, seolah mengatakan monggo dituruti daripada ngambek.


Nenek tersenyum geli melihat reaksi Alex yang garuk-garuk kepala dengan kelakuan bumil. Sekarang dia gak boleh kelihatan ganteng. Ok fix, ngidamnya Mia lebih parah dari Selvi dulu.


Akhirnya mereka berangkat juga ke rumah sakit tempat dokter kandungan yang dulu menangani Selvi. Alex mengusulkan dokter itu pada Mia yang setuju saja.


Tapi Alex akan mengganti dokternya kalau Mia merasa tidak nyaman.


Setelah menunggu beberapa saat, suster memanggil mereka masuk ke ruang periksa dokter.


dr. Rian : "Apa kabar, pak Alex."


Alex : "Baik, dokter. Ini istri saya, Mia. Kami mau cek kandungan."


dr. Rian : "Oh, sudah di cek lewat test pack? Kapan terakhir datang bulannya?"


Alex : "Sudah garis dua, dokter. Terakhir mens, bulan lalu sekitar tanggal 10."


dr. Rian : "Coba kita cek ya. Silakan berbaring."


Mia berbaring di bed dibantu Alex, suster mengoleskan cairan yang terasa dingin di perut Mia dan dokter mulai mengarahkan alat ke perut Mia.


dr. Rian : "Wah, sudah kelihatan besar sekali ya. Bisa lihat? Bayangan hitam yang bulat ini."


Alex dan Mia mengamati bayangan yang ditunjuk dokter Rian. Mereka berpegangan tangan dan tersenyum satu sama lain.

__ADS_1


dr. Rian : "Semuanya normal. Ada mual muntah?"


Mia : "Kadang ada kadang gak, dokter. Tapi kalau pas mual, muntahnya parah."


dr. Rian : "Selama tidak mengganggu aktifitas dan pola makan, saya tidak kasi obat ya. Tapi ada vitamin yang harus diminum."


Suster membersihkan perut Mia dan membantunya bangun. Dokter Rian membawa hasil print out USG, duduk kembali ke mejanya.


Mia dan Alex duduk kembali di hadapan dokter Rian. Ia sedang menuliskan resep untuk ditebus di apotek.


dr. Rian : "Vitamin ini diminum sekali sehari ya. Kalau mualnya parah sampai tidak bisa makan, kesini lagi ya."


Alex : "Makasi, dokter."


dr. Rian : "Selamat ya, sampai ketemu bulan depan."


Mia : "Iya makasi, dok."


Alex dan Mia keluar dari ruang praktek dokter Rian. Alex meminta Mia duduk saja di kursi tunggu, sementara ia menyelesaikan administrasi dan menebus obat.


Mia memperhatikan setiap langkah Alex sampai ia merasa sangat mengantuk. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi tunggu dan perlahan tertidur.


------


Mia terbangun merasakan tubuhnya terguncang. Ia melihat sekeliling, dia ada di dalam mobil. Alex tampak sedang mengemudi di sampingnya.


Alex : "Uda bangun, yang?"


Mia : "Aku bisa disini, mas?"


Alex : "Aku yang gendong tadi kamu ketiduran. Mau makan sesuatu?"


Mia melihat keluar dan meminta Alex berhenti di penjual buah. Mia langsung turun dan memilih buah yang ingin dia makan.


Setelah membayar, Alex membawa bungkusan buah itu ke dalam mobil. Mereka melanjutkan perjalanan ke kantor Alex.


Belum sampai di kantor, lagi-lagi Mia ngiler melihat kue yang dipajang di etalase toko kue di pinggir jalan. Mia meminta Alex menepi lagi.


Ia membeli sepotong kue yang dihiasi banyak buah dan roti hamburger. Alex tidak berkomentar apa-apa, ia hanya menbayar dan membawa belanjaan Mia ke dalam mobil.


Sampai di kantor, Mia melihat penjual cilok lewat di depan kantor. Mia meminta Alex memanggilkan penjual cilok itu masuk ke depan lobby kantor.


Alex menunggui Mia membeli sebungkus kecil cilok campur dan cilok biasa dengan bumbu dipisahkan. Ia menatap Mia khawatir dengan makanan yang ia beli tadi. Kalau semuanya dimakan, apa Mia tidak akan sakit perut.


Setelah membayar cilok pesanan Mia, Alex menggandeng Mia masuk ke lobby kantor. Sebelumnya Alex berpesan pada sopir kantornya untuk mengambil bungkusan dan tasnya di kursi belakang mobil dan membawanya ke ruang kerjanya.


Visual Alex yang datang ke kantor dengan pakaian santai, menarik perhatian semua orang di lobby. Resepsionis sampai melongo melihat penampilan Alex yang terlihat semakin keren dan ganteng.


Mia yang melihat itu, mencubit lengan Alex dengan gemas. Alex menatap Mia, menanyakan apa salahnya.


Mia : "Mas diliatin tuch. Sebel!"


Alex : "Haduh, salah ya aku salah lagi."


Melihat Mia cemberut, Alex jadi iseng. Ia menghentikan langkahnya, memeluk pinggang Mia dan menciumnya di bawah tatapan semua orang di lobby itu.


Wajah Mia memerah mendapat perlakuan manis dari Alex. Ia melingkarkan tangannya ke leher Alex. Alex tersenyum dan masih menikmati ciumannya dengan Mia.


Ia tidak peduli dengan pandangan setiap orang di lobby itu. Alex hanya ingin membuat hormon kehamilan Mia stabil kembali untuk saat ini.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2