Duren Manis

Duren Manis
Hubungan batin


__ADS_3

Rara dan Jodi sampai juga di rumah sakit XXX. Mereka melihat si kembar duduk di depan ruang ICU bersama mama Mia.


Riri masih sesenggukan habis menangis sementara mata Rio merah menahan tangis.


Rara : "Mana mama, nek?"


Mama Mia : "Mama didalem. Masih ditangani dokter."


Rara : "Papa mana?"


Mama Mia : "Papamu di UGD. Tadi pingsan, sekarang lagi istirahat."


Rara hampir jatuh saat kakinya tiba-tiba lemas. Jodi dengan sigap membantunya duduk disamping Rio.


Jodi : "Aku beli minum dulu ya. Bentar."


Jodi berlari ke mesin penjual minuman di sudut lorong rumah sakit. Ia kembali membawa beberapa botol minuman dingin.


Jodi : "Minum dulu, Ra. Riri, Rio, bu."


Rara meneguk minumannya hingga tersisa setengah. Ia mencoba tenang dan tidak menangis.


Mereka menoleh saat suster keluar dari ruang ICU dan memanggil keluarga Mia.


Jodi mendekat bersama mama Mia. Sementara Rio memegangi Rara dan Riri dalam pelukannya.


Suster : "Tolong tebus obat ini. Disini tidak ada persediaan. Segera ya."


Jodi : "Saya ke apotik dulu ya, bu."


Jodi berjalan cepat tanpa menoleh pada Rara dan si kembar. Ia mengemudikan mobilnya ke apotik terdekat yang masih buka.


Mama Mia kembali duduk disamping ketiga cucunya.


Mama Mia : "Untung ada Jodi ya. Gak kebayang kondisi mamamu begini, papamu juga ikutan drop lagi."


Rio : "Rio mau liat papa dulu ya."


Rio beranjak ke UGD meninggalkan Riri dan Rara duduk bersama mama Mia.


Tak lama kemudian, Jodi datang membawa obat untuk Mia. Ia mengetuk pintu ruang ICU dan memberikan obat di tangannya.


Jodi : "Ada lagi obat yang harus dibeli, suster?"


Suster : "Belum ada, pak."


Jodi duduk di depan ruang ICU, ia terlihat lelah dan berkeringat. Rara pindah duduk disamping Jodi, ia memberikan air minum pada Jodi yang langsung meneguk habis minuman itu.


Rara : "Kak, makasih banyak ya."


Jodi : "Iya, Ra. Papamu gimana?"


Rara : "Rio lagi liat kesana. Kakak pulang aja dech. Keliatan banget capeknya."


Jodi : "Aku pulang kalau kamu juga pulang, Ra. Aku uda janji sama Arnold."


Rara tidak memaksa lagi, ia sudah cukup lelah untuk berdebat. Mungkin sudah seharusnya ia pulang sekarang untuk istirahat.


Alex muncul dari lorong rumah sakit bersama Rio. Ia melihat Rara dan berjalan mendekatinya.


Alex memeluk Rara yang memeluknya duluan.


Rara : "Papa gak pa-pa kan?"


Alex : "Gak pa-pa. Ra, kamu disini? Gimana Arnold?"


Rara : "Mas Arnold uda sadar, pah. Tapi masi tahap pemulihan. Dokter belum bolehin dijenguk. Astaga!"


Alex : "Kenapa?"

__ADS_1


Rara : "Rara lupa ngasih tau papa Ronald. Rara telpon dulu bentar ya."


Rara mengeluarkan ponselnya. Alex berpaling pada Jodi.


Alex : "Jodi, makasih udah bantuin beli obat."


Jodi : "Saya yang makasih, om."


Alex memeluk Jodi yang merasa canggung. Apalagi Rara ngliatin papanya sampe segitunya.


Jodi : "Ok, om. Ini agak absurd."


Alex melepaskan pelukannya setelah Jodi menepuk pundaknya dua kali. Alex melengos ke samping Rio dan bersandar padanya.


Rara tersenyum geli melihat wajah Rio yang meringis ditimpa papanya.


Jodi : "Papamu kenapa?"


Rara menoleh melihat Jodi mengambil disinfektan yang tersedia di dekat ruang ICU.


Rara : "Papaku lagi sedih, kak bukan kena penyakit menular."


Jodi : "Jangan salah paham, aku dari luar tadi. Harus steril kan?"


Rara cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan Jodi. Ia sudah terhubung dengan papa mertuanya.


Rara : "Halo, pah."


Ronald : "Rara, ada apa malam-malam telpon? Kamu baik-baik aja?"


Rara : "Rara baik, pah. Itu Rara mau ngabarin mas Arnold sudah sadar. Papa ada di kota Y?"


Ronald : "Beneran, Ra??!! Syukurlah. Papa di kota M."


Rara : "Besok papa kesini ya. Kalau sekarang dokter belum kasi jenguk. Tekanan darahnya belum stabil."


Rara : "Iya, pah. Mmm... Pah..."


Ronald : "Kenapa Ra? Ada masalah?"


Rara : "Gak... Gak ada, pah. Sampai ketemu besok, pah."


Ronald : "Iya, sampai ketemu besok, Ra."


Rara menutup telponnya, Jodi yang mendengarkan pembicaraan Rara dengan mertuanya, bertanya padanya,


Jodi : "Kenapa kamu gak cerita kondisi Mia?"


Rara : "Aku gak mau mereka kepikiran. Besok aja."


Alex : "Ra... Kamu pulang dulu sana. Kasian bayimu."


Rara : Ya, pah. Ayo, kak."


Jodi : "Om, bu, Riri, Rio, saya pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, telpon saya saja."


Alex : "Iya, Jodi. Makasih."


Tiba-tiba ponsel Jodi berbunyi,


Jodi : "Ntar, Ra. Katty telpon."


Jodi duduk lagi dan bicara dengan Katty,


Katty : "Halo, Jodi. Kamu dimana? Kok belum pulang?"


Jodi : "Aku masih di rumah sakit. Kenapa? Kangen ya."


Jodi nyengir lebar kearah Rara yang masih menatapnya sambil geleng-geleng kepala. Rara berpindah duduk disamping mama Mia sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


Alex : "Jodi ngomong sama sapa?"


Rara : "Biasa, pah. Sama kak Katty. Dasar bucin. Lama dah nich."


Alex : "Emang biasanya berapa lama?"


Rara : "Paling gak setengah jam. Boleh nengok mama gak ya?"


Alex : "Coba tanya susternya."


Rara beranjak ke pintu ruang ICU dan mengetuknya.


Suster : "Ada apa, bu?"


Rara : "Boleh nengok mama saya sebentar?"


Suster terlihat bingung, di ruang ICU itu ada dua pasien laki-laki dan seorang wanita yang masih muda.


Suster : "Mama? Siapa namanya?"


Rara : "Mia."


Suster : "Ooh... Tapi gak bisa lama-lama ya."


Rara : "Iya, suster. Makasih."


Rara memakai baju steril dan berjalan ke bilik yang ditunjuk suster.


Tampak Mia terbaring dengan oksigen terpasang di hidungnya. Dua selang infus menjuntai dari atas gantungan infus. Ada semacam suntikan juga di samping lengan Mia.


Alat pantau jantung dan juga tekanan darah menunjukkan kondisi Mia. Rara meraih tangan kanan Mia yang terlihat pucat.


Rara : "Mah... Mama gak pa-pa kan?"


Rara mencium tangan Mia, mengusapkan tangan itu ke pipinya.


Rara : "Mah, gimana Rara bisa jalani semua ini kalau mama gak ada?"


Rara mengusap sudut matanya, ia tidak ingin menangis di depan Mia. Meskipun Mia tidak bisa melihatnya saat ini.


Rara : "Mah, bangun mah. Mas Arnold sudah bangun. Tinggal mama sekarang. Jangan jadikan Rara piatu untuk kedua kalinya, mah. Rara gak sanggup, mah."


Rara terdiam sejenak, ia merasakan sesuatu saat menggenggam tangan Mia. Jemari Mia bergerak, diam, dan bergerak lagi.


Rara : "Suster?!"


Alat pantau jantung menunjukkan aktifitas diatas normal. Suster meminta Rara menyingkir sebentar. Ia memeriksa sesuatu di layar dan menelpon dokter.


Diluar, Alex dan kelurganya menatap heran pada dokter yang berlari masuk ke ruang ICU. Alex mencoba mengintip karena Rara juga masih di dalam.


Rara berdiri di dekat jendela, ia tidak sengaja menyibak korden hingga Alex bisa melihat dokter memeriksa Mia. Tampak tubuh Mia berguncang entah karena apa.


Mata Mia terbuka, ia menggapai Rara yang berdiri tak jauh darinya. Rara mendekat mencoba menenangkan Mia.


Rara : "Mama tenang. Adik kembar baik-baik aja. Tenang, mah."


Mia mendengar kata-kata Rara, perlahan detak jantungnya kembali normal. Rara menoleh menatap Alex yang menatapnya dan mengangguk.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2