
Sedang asyik bermesraan, Rara dan Arnold tidak menyadari kalau Fadli sudah masuk ke dalam apartment Arnold.
Fadli : "Ups, maaf pak. Saya akan kembali nanti."
Arnold : "Tunggu bentar diluar."
Rara merapikan bajunya yang berantakan, ia memilih masuk ke dalam kamar dan beristirahat disana.
Fadli yang mendapat telpon dari Arnold, masuk lagi ke dalam apartment.
Arnold : "Tolong bantu aku."
Fadli membantu mengangkat Arnold ke atas kursi roda. Dan mendorongnya masuk ke kamar Arnold.
Fadli menutup pintu kamar bosnya itu dan duduk di sofa. Ia membereskan meja dengan cepat. Setelah itu ia melamun mengingat permintaan Arnold padanya.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Flash back...
Arnold : "Saya ingin kamu pura-pura jadi pelatih terapi untuk saya."
Fadli : "Pelatih terapi?"
Fadli yang awalnya bekerja sebagai bodyguard, diminta datang ke apartment Arnold untuk menjadi pengawal. Ia tidak menyangka, bosnya itu akan memintanya melakukan sandiwara seperti ini.
Ia harus berpura-pura menjadi pelatih untuk Arnold yang kelihatan sehat-sehat saja.
Fadli sempat berpikir bosnya sudah gila. Apalagi mengetahui istri bosnya sedang hamil.
Tapi apa daya dirinya hanya seorang pemain dalam sandiwara ini. Bosnya hanya pernah curhat sekali saat mereka sedang mengobrol biasa.
Arnold : "Aku sangat kangen sama istriku."
Fadli : "Kenapa bos melakukan ini?" Fadli akhirnya berani bertanya pada Arnold.
Arnold : "Aku ingin tahu sejauh apa dia mencintaiku. Aku sudah koma tiga bulan. Selama itu istriku selalu bersama sahabatku."
Fadli : "Maksud bos, istri bos berkhianat?"
Arnold : "Bukan gitu. Sahabatku memang mencintai istriku tapi istriku tidak mencintainya. Mereka teman di kampus. Setelah aku sadar, aku merasa hubungan mereka sedikit terlalu akrab."
Fadli : "Oh, bos cemburu ya."
Arnold : "Bagaimana aku tidak cemburu kalau melihat mereka bersama dan sahabatku terlihat sangat mengerti keadaan istriku melebihi aku sendiri."
Fadli : "Apa bos tidak percaya pada istri bos?"
Arnold : "Aku percaya Rara, aku tahu dia setia. Tapi perasaanku benar-benar campur aduk setiap mendengar Jodi menceritakan keadaan istriku."
Fadli : "Kalau bos percaya dengan istri bos, kenapa tinggal berjauhan?"
Arnold : "Ini hanya sementara sampai aku yakin Rara masi mencintaiku."
Fadli : "Tapi sampai kapan, bos? Bos gak kasian lihat istri bos lagi hamil."
Arnold : "Hatiku sakit, tapi aku terlalu egois untuk mengatakan yang sebenarnya sekarang. Semakin kesini semakin kulihat cinta istriku hanya untuk aku sendiri."
Fadli : "Jadi kapan bos akan jujur?"
Arnold : "Kita tunggu saja."
Fadli cuma bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang keras kepala. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi istri bosnya saat tahu kelakukan bosnya ini.
Flash back end...
πΉπΉπΉπΉπΉ
Arnold : "Fadli..."
Fadli yang masih melamun tidak mendengar panggilan Arnold.
Arnold : "Fadli!!"
Fadli : "Ya, bos!"
__ADS_1
Fadli bergegas ke depan pintu kamar Arnold dan melihat istri bosnya sudah bersiap untuk pulang.
Arnold : "Ayo kita antar Rara ke bawah."
Fadli : "Baik, bos."
Fadli menggantung tas Rara di pegangan kursi roda. Ia mendoron kursi roda Arnold keluar apartement dan mengunci pintu.
Mereka berjalan ke dekat lift, menunggu lift terbuka. Saat itu beberapa ibu-ibu lewat di dekat mereka.
Ketiga orang itu bisa mendengar bagaimana ibu-ibu itu menggunjingkan Arnold yang duduk di kursi roda.
Ibu-ibu : "Kasian ganteng-ganteng tapi cacat. Mana istrinya lagi hamil."
Rara memejamkan mata menahan emosinya, tangannya terasa dingin seiring hatinya yang membeku mendengar kata-kata pedas lainnya.
Bahkan mereka tidak berusaha mengecilkan suara mereka yang sedang membicarakan orang lain.
Arnold menggenggam tangan Rara lebih erat. Rara membuka matanya dan menoleh menatap Arnold."
Arnold : "Ra..."
Rara : "Aku gak pa-pa, mas. Eh, liftnya uda ke buka. Ayo masuk."
Rara tersenyum manis pada Arnold. Benar-benar terlihat tegar dan iklas menerima keadaan suaminya. Rara masih menggenggam tangan Arnold saat pintu lift menutup kembali.
Sopir kantor Arnold sudah siap sedia di depan lift saat pintu lift terbuka.
Rara : "Mas, aku balik ke kantor dulu ya."
Arnold : "Nanti siapa yang nganter pulang?"
Rara : "Kak Jodi bilang mau jemput sich. Dadah, mas."
Rara melepaskan tangan Arnold dan melambaikan tangan padanya. Bahkan sampai di depan mobil, Rara sesekali masih berbalik menatap Arnold. Ia tidak ingin pergi, tapi sebentar lagi ada meeting penting di kantor Arnold.
Arnold : "Fadli, siap-siap. Kita ke rumah mertuaku sekarang. Aku mau buat kejutan untuk Rara."
Fadli : "Baik, bos."
Fadli : "Saya mengerti, bos."
Arnold : "Tapi aku akan merekomendasikanmu pada Jodi. Dia perlu beberapa bodyguard untuk perusahaannya."
Fadli : "Makasi, bos."
Mereka berdua masuk lagi ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai tempat kamar apartment Arnold.
πππππ
Sore harinya, Arnold datang ke rumah Alex. Saat itu Mia baru selesai memandikan dan menyusui bayi Rava dan Reva.
Mia : "Arnold? Loh, kakimu?"
Arnold : "Hai, mah. Aku uda sembuh."
Mia : "Tapi Rara bilang masih diperpanjang 2 minggu lagi terapimu."
Arnold duduk di ruang keluarga bersama Mia. Nenek yang mendengar ada tamu, keluar dari dalam kamarnya.
Nenek : "Loh, Arnold uda sembuh?"
Nenek menatap Arnold yang terlihat sehat dan bisa bergerak dengan normal.
Arnold : "Sebenarnya saya sudah bisa jalan setelah sadar. Tapi masih memakai tongkat dan terapinya selesai lebih cepat."
Nenek : "Syukurlah kamu sudah sembuh sekarang."
Mia : "Rara pasti seneng melihatmu sembuh. Sebentar lagi dia pulang."
Arnold : "Tolong bantu saya memberi kejutan untuk Rara. Saya akan sembunyi dulu di dekat sini."
Mia : "Ok."
Nenek : "Ok."
__ADS_1
Mia saling menatap dengan nenek dan tersenyum. Akhirnya penantian Rara akan segera berakhir.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Rara baru sampai di rumah Alex bersama Jodi. Bersamaan dengan Alex yang baru memarkir mobilnya di garasi.
Jodi membawakan tas dan kotak bekal Rara sambil menunggunya keluar dari mobil.
Jodi : "Sore, om."
Alex : "Mampir dulu, Jodi."
Jodi : "Saya langsung aja ya, om. Sampai besok, Ra."
Rara : "Iya, kak. Makasih ya. Besok agak pagian bisa, kak?"
Jodi : "Ok."
Alex dan Rara berdiri di depan gerbang menunggu Jodi berlalu dengan mobilnya.
Alex : "Capek, Ra?"
Rara : "Iya, pah. Banget. Pinggang Rara sakit lagi."
Alex : "Mandi trus istirahat ya."
Rara : "Iya, pah."
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dan disambut Mia dan nenek.
Mia : "Uda pulang ya. Rara, kamu kenapa?"
Rara : "Capek banget, mah. Rara langsung masuk kamar ya."
Mia : "Iya, sayang."
Mia dan Alex menatap Rara yang berjalan pelan menuju kamarnya. Sesekali ia mengelus pinggangnya.
Alex : "Sayangku..."
Mia : "Iya, masku..."
Alex celingukan sebentar sebelum mencium bibir Mia. Mia membalas ciuman Alex sambil melingkarkan tangannya di leher Alex. Mereka terlalu asyik berciuman sampai tidak menyadari kalau Arnold sudah berdiri di depan pintu depan.
Arnold : "Ehhemm..."
Arnold menggaruk kepalanya melihat adegan didepannya semakin panas.
Arnold : "Ehem... Ehem..."
Mia dan Alex melepaskan ciuman mereka dan menoleh menatap Arnold.
Alex : "Arn... Mmmppp!"
Mia langsung membekap mulut Alex yang hampir berteriak memanggil nama Arnold.
Alex : "Apa sich, sayang? Arnold kok bisa..."
Mia : "Ini kejutan buat Rara. Ayo, kita ke dalam dulu."
Mereka beriringan masuk ke ruang keluarga.
γ
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1