
Mia menutup pintu kamar Rara yang sudah tertidur setelah selesai makan malam dan curhat panjang lebar tentang kejadian di resort. Mia jadi sedikit khawatir mendengar cerita Rara yang polos dan apa adanya. Tapi ia harus percaya kalau Arnold akan memegang janjinya pada Alex.
Lampu ruang tamu dan ruang keluarga sudah dimatikan saat Mia sampai di lantai bawah. Ia membawa nampan berisi piring kotor ke dapur dan mencucinya. Seseorang sudah menanti Mia di dekat tangga saat Mia akan kembali ke rumahnya.
Alex : "Sayang, malam ini tidur disini ya. Dikamarku..."
Mia : "Ntar keciduk anak-anak loh. Gak baik buat mereka. Nanti mereka pikir mereka boleh melakukan itu sebelum menikah."
Alex : "Ikut aku."
Alex mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil sementara Mia mengambil tasnya. Alex mengemudikan mobilnya menembus malam menuju suatu tempat.
Mia memegang tangan Alex saat mobil memasuki parkiran sebuah hotel.
Mia : "Mas, kita ngapain kesini?"
Alex : "Check-in. Aku mau menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Janji gak nakal."
Mia : "Beneran nich gak nakal..."
Alex : "Aku mau kita ngobrol tentang banyak hal. Persiapan pernikahan juga."
Mia mengikuti keinginan Alex check-in di hotel. Resepsionis memberikan kunci kamar sambil senyum-senyum gak jelas.
Dan disinilah mereka sekarang, berdua saja di dalam sebuah kamar hotel yang sangat nyaman dengan lampu temaram.
Alex mulai membuka pakaiannya, menyisakan boxer saja. Ia mengambil 2 bathrobe di dalam lemari dan memakai salah satunya.
Alex : "Ganti bajumu. Biar gak kusut."
Mia hampir beranjak ke dalam kamar mandi, tapi Alex menahannya. Dengan cepat Alex melucuti pakaian Mia membuat wajah gadis itu memerah.
Setelah menutupi tubuh Mia dengan bathrobe, Alex menggantung baju mereka di lemari.
Mia naik ke atas ranjang, ia menarik selimut menutupi kakinya sampai pinggang. Alex juga mengikuti Mia naik ke atas ranjang.
Diam yang sangat canggung, mereka larut dalam pikiran masing-masing untuk sejenak.
Alex : "Sayang, apa semua persiapan pernikahan sudah kau pilih?"
Alex menggeser tubuhnya menghadap Mia, ia memainkan ujung rambut Mia dengan tangannya.
Mia : "Yang utama gedung, dekorasi dan catering, aku sudah survey beberapa tempat dan menemukan dua yang cocok. Yang satu dekat rumahku, yang satunya dekat rumahmu, mas."
Alex : "Kamu mau yang mana? Cari yang dekat rumahku saja."
Mia : "Kenapa gitu?"
Alex : "Biar cepat pulang abis resepsi...hehe..."
__ADS_1
Mia menoleh menatap Alex yang sudah tersenyum mesum.
Mia : "Mas yakin mau malam pertama di rumah? Ntar gak bebas jerit-jerit..."
Alex : "Yang, ternyata kamu mesum juga ya. Ngapain jerit-jerit segala, kan aku tinggal ini..."
Alex melumat bibir Mia, memanaskan suasana yang cukup dingin di dalam kamar hotel itu.
Alex membenamkan wajahnya di leher Mia, menghembuskan nafas panasnya di leher gadis itu.
Mia : "Mas, nanti kebablasan..."
Alex : "Gak, malam ini aku cuma pengen menghabiskan waktu berdua saja sama kamu. Meskipun cuma tidur sambil pelukan. Akhir-akhir ini susah punya waktu berdua, kamu selalu sibuk kalau ada anak-anak. Mia, kamu mau punya anak berapa?"
Mia menatap Alex yang sudah menatapnya juga. Ia mengelus rambut Alex dan memperhatikan ada satu uban muncul disela-sela rambut hitam Alex.
Mia : "Satu aja ya. Mas, ada uban nich." Alex meraba rambutnya,
Alex : "Sepertinya aku sudah tua ya. Tapi aku masih bisa bikin anak dua sampai tiga lagi."
Mia : "Rumah mas uda penuh gitu, mau ditaruh dimana anak lagi tiga?"
Alex : "Aku mau jebol rumah sebelah."
Mia : "Apaa..??!!"
Mia : "Kita pindah ke rumah sebelah?"
Alex : "Aku mau jebol tembok depan sama tembok di ruang keluarga. Cuma disitu yang aman untuk dijebol. Gerbangnya juga jadi satu aja di rumah sekarang. Kita bisa malam pertama di kamar kita, gak perlu khawatir ada yang dengar."
Mia : "Kapan mau dijebol, mas?"
Alex : "Rumahnya apa kamunya?" Alex mendekat dan mencium Mia lagi, merapatkan pelukannya ke tubuh Mia.
Mia : "Aku..."
-------
Alex mengambil ponselnya, sudah jam 2 pagi. Ia mengusap keringat yang membasahi leher dan keningnya. Alex berjalan ke kamar mandi, ia mandi cepat dengan air hangat. Keluar dari kamar mandi, ia mengambil bathrobe yang terjatuh dari atas ranjang dan memakainya.
Alex menatap Mia yang sudah tertidur, bathrobe-nya tergeletak di ujung ranjang, begitu juga pakaian dalamnya. Mia tidur tengkurap dengan rambut berantakan, pundak dan punggungnya terlihat dari balik selimut yang juga sudah berantakan.
Alex mematikan lampu tidur di kamar hotel itu, berbaring di samping Mia. Ia mencoba tertidur tapi lagi-lagi membuka matanya. Alex mengusap wajahnya dengan kasar, membuyarkan kepingan kejadian yang tadi mereka alami.
Perlahan mata Alex mulai terpejam dan tertidur lelap.
-------
Alarm jam ponsel Mia terdengar nyaring memenuhi kamar hotel yang sepi itu. Mia mengambil ponselnya sambil meraba-raba disekitar ranjang. Matanya belum juga mau terbuka karena mengantuk.
__ADS_1
Dengan sangat malas dan sedikit kesal mendengar alarm yang ribut, Mia turun dari ranjang dan mendekati sofa tempat tas-nya tergeletak.
Mia mengambil ponselnya dan melihat sudah jam 5 pagi. Ia balik lagi ke atas ranjang dan menggulung tubuhnya dengan selimut.
Mia : "Hii... dingin banget... Eh, pagi mas..."
Alex yang sudah bangun sejak alarm ponsel Mia berdering, senyum-senyum melihat Mia.
Mia : "Kenapa, mas?"
Alex : "Sayang, kalau kita uda nikah, kamu gak boleh pake baju di kamar ya..."
Mia mengintip ke dalam selimutnya dan melihat tubuh polosnya di dalam sana. Mia melirik Alex yang masih menatapnya, geli melihat wajah Mia yang memucat.
Mia : "Kenapa aku bisa...?" Mia semakin membenamkan wajahnya ke dalam selimut.
Alex : "Barusan kau tidak malu, kenapa sekarang malu-malu gitu."
Mia : "Aku gak sadar kalau belum pakai baju. Lagian mas kenapa gak kasi tahu sih!"
Alex : "Dan melewatkan pemandangan indah, gak mungkinlah. Hahahahaha...."
Mia mencubit lengan Alex yang tertawa terbahak-bahak. Alex menahan tangan Mia, mencium jemarinya.
Alex : "Aku ingin setiap pagi saat bangun selalu melihat senyummu, sayang. Bisa menciummu tanpa keraguan, dan membuat tubuhmu lemas tanpa takut apapun."
Mia : "Mas, kalau yang pertama dan kedua, aku gak masalah. Tapi kalau yang ketiga, kok ngeri ya..."
Alex : "Kamu ini, ngerusak momen romantis aja."
Mia : "Hehehe... aku kan masih polos, OM..."
Lagi-lagi Mia membuat Alex gemas karena memanggilnya om. Giliran Mia yang tertawa terbahak-bahak.
Alex : "Awas ya, om-om ini bisa bikin kamu gak bisa jalan..."
Mia : "Ampun, OM...!!
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
-------
__ADS_1