Duren Manis

Duren Manis
Pernikahan Guntur dan Anisa


__ADS_3

Suasana meriah tampak di rumah Anisa yang sudah dihias dengan indah. Pengantin wanita


sudah selesai berdandan dan terlihat gugup menunggu kedatangan Guntur dan


keluarganya. Katty dan Kaori sudah datang juga bersama Jodi dan Rio. Mereka


berkumpul di dekat kamar pengantin wanita.


Ketika rombongan Guntur akhirnya datang, Kaori masuk ke dalam kamar pengantin wanita


untuk memberitahu tante Anisanya.


Kaori : “Tante, om Guntur udah dateng. Wow, tante cantik banget.”


Anisa : “Beneran? Haduh, tante tambah gugup nich.”


Wanita cantik itu meremas-remas ujung kebaya putih yang dipakainya. Ia memakai busana


pengantin lengkap dengan hijab putih yang serasi.


Kaori : “Tenang aja, tante. Om Guntur pasti lancar ijab-nya.”


Anisa : “Haduh, tante gak bisa tenang nich. Gimana dong?”


Kaori : “Tante pikirin tentang malam pertama aja. Mau ngapain ntar.”


Anisa mencubit pinggang Kaori yang iseng menggodanya. Pipinya merona mengingat malam


nanti ia akan mulai sekamar dengan Guntur. Kaori menggoda tantenya lagi sampai


mereka tertawa bersama.


Tiba-tiba pintu kamar Anisa terbuka, Katty masuk dan mengatakan kalau mereka sudah siap


menunggu Anisa keluar.


Katty : “Tante, ayo. Om Guntur sudah nunggu tuch.”


Anisa : “Emangnya uda selesai ijab?”


Katty : “Udah dari tadi, tante. Om Guntur udah gak sabar tuch. Ayo keluar.”


Anisa : “Cepet banget sich. Tante udah cantik belum? Ada yang luntur gak?”


Kaori dan Katty saling menatap melihat tantenya mirip cacing kepanasan. Mereka akhirnya


mengapit lengan Anisa kiri dan kanan dan membawa pengantin wanita itu keluar


dari kamarnya. Anisa menunduk malu-malu saat mata semua orang terpaku


menatapnya.


Sesaat pandangan Anisa bertemu dengan Guntur yang tersenyum manis kearahnya. Anisa


memperlambat jalannya karena merasa sangat malu. Tapi Katty dan Kaori tetap


menariknya hingga sampai di sebelah Guntur. Anisa di dudukkan di samping


Guntur.


Penghulu : “Silakan pengantin wanita cium tangan pengantin prianya. Kalian sudah sah


menjadi suami istri.”


Anisa menarik nafasnya dan bergerak ke samping sambil menunduk, ia meraih tangan


Guntur dan mencium punggung tangan suaminya itu. Tapi saat Guntur ingin mencium


kening Anisa, Anisa menegakkan kepalanya dengan cepat, dan...


Dug! Kepala Anisa membentur telak dagu Guntur. Guntur meringis menahan sakit di dagunya,

__ADS_1


Anisa melongo melihat perbuatannya barusan dan langsung panik melihat Guntur


kesakitan.


Anisa : “Maaf, maaf, mas. Gak pa-pa?”


Anisa dengan agresif menyentuh kedua pipi Guntur dan mengusap-usap dagunya dengan


jempol Anisa. Keduanya sangat dekat sampai membuat beberapa orang tua yang


mengajak anak mereka langsung menutup mata anak-anaknya.


Penghulu : “Ehem...”


Anisa masih sibuk memeriksa dagu Guntur, kali ini meniup dagu suaminya itu sampai pipi


Guntur memerah dibuatnya.


Kaori : “Ehem... Ehem...!”


Katty : “Tante, disini banyak orang. Nanti aja di kamar.”


Buahahahahaha... Tawa membahana semua orang yang melihat kejadian itu memenuhi rumah Anisa.


Sungguh Anisa merasa sangat malu sampai menutup wajahnya dengan tangannya yang


berhiaskan nail art.


Saat para tamu undangan sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan, Anisa


sedang bicara dengan papa dan mama Katty melalui sambungan v-call. Anisa sangat


bahagia melihat kakak iparnya sudah membaik. Meskipun mereka tidak bisa hadir


di acara pernikahannya, tapi kehadiran dua ponakannya sudah cukup bagi Anisa.


Flash back...


Papa Katty akhirnya sadar setelah 24 jam berlalu. Kondisinya segera membaik dan bisa


ke rumah sakit ketika papa Katty sudah selesai dipindahkan ke kamar VVIP. Kaori


dan Rio sedang kuliah dan akan datang sore nanti.


Papa Katty memperhatikan sekeliling kamar yang terlihat sangat mewah dengan


fasilitas seperti hotel bintang 5. Papa Katty menoleh pada mama Katty ia


menanyakan apa uang mereka cukup untuk membayar semua kenyamanan itu.


Mama Katty mengatakan kalau Katty dan Jodi yang membayar semua biaya operasi dan


juga persiapan pernikahan mereka. Mama Katty memohon pada papa Katty untuk


tidak memikirkan hal lain selain kesembuhannya sendiri.


Papa Katty : “Kita harus memberikan sertifikat rumah pada mereka, mah. Atau papa


tidak akan tenang. Biar papa yang bicara nanti.”


Mama Katty : “Aku sudah bilang seperti itu, pa. Tapi anak-anak gak mau terima.”


Papa Katty : “Papa yang ngomong nanti. Mereka akan kesini kan?”


Mama Katty : “Iya. Sepertinya masih di jalan.”


Katty dan Jodi segera sampai di rumah sakit dan masuk ke kamar VVIP tempat papa Katty


di rawat.


Katty : “Papa...”

__ADS_1


Katty mendekat dan memeluk papanya yang sudah tampak segar. Jodi tersenyum manis, di


tangannya ada makanan untuk mereka semua.


Papa Katty : “Nak, papa tau kalian yang bayar biaya rumah sakit. Tolong simpan


sertifikat rumah papa ya. Papa pasti kembalikan uangnya.”


Katty : “Itu lagi yang dibahas. Papa tuch perlu istirahat. Jangan mikirin hal lain.”


Papa Katty : “Tapi, nak. Uang papa cukup kok.”


Katty : “Pah, Katty tahu berapa uang papa dan mama. Semua perhiasan mama dan sertifikat


rumah. Mama sudah bilang semuanya. Tapi kami anak-anak papa dan mama, sudah


tugas kami menjaga papa sama mama.”


Jodi : “Iya, pah.”


Katty : “Papa jangan mikirin apapun lagi. Cukup cepat sembuh dan sehat saja, kami sudah


senang sekali.”


Jodi : “Iya, pah.”


Katty : “Kalau papa ngotot, Katty ngambek nich.”


Jodi : “Iya, pah.”


Ketiganya menoleh menatap Jodi yang sibuk makan sambil tetap bilang ‘iya, pah’. Katty


mendekati Jodi sambil berkacak pinggang, Jodi menghabiskan cemilan kesukaannya.


Melihat calon istrinya berdiri di depannya, Jodi nyengir sambil menutup kotak


kosong di tangannya.


Jodi : “Aku laper, yank.”


Katty sudah menaikkan sebelah alisnya sambil melotot pada Jodi,


Jodi : “Iya, iya, aku pesen lagi. Galak amat sich.”


Jodi memesan makanan online dibawah tatapan galak Katty. Papa dan mama Katty menatap


keduanya dengan senyum bahagia.


Flash back end...


Anisa mengembalikan ponsel Katty setelah selesai mengobrol. Ia menatap Guntur yang sedang memperhatikan tamu undangan yang datang. Anisa tersenyum malu-malu dan menyenggol lengan


Guntur pelan.


Anisa melihat ke arah Guntur lagi, tapi suaminya itu tidak menoleh padanya. Sedikit


kesal, Anisa menyenggol lengan Guntur lagi. Dan suaminya itu tetap tidak


menoleh padanya. Anisa menarik nafas dan menghembuskannya dengan kesal.


Tiba-tiba Guntur bergerak mengambil botol air minum di samping Anisa. Anisa menelan


salivanya saat melihat wajah mereka sangat dekat.


*****


Aoowww... Guntur mau ngapain tuch?”


Jangan lupa vote kk. Mau MP Guntur & Anisa?


Ntar saya share di GC ya kalau yang vote banyak.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2