
Suasana meriah tampak di rumah Anisa yang sudah dihias dengan indah. Pengantin wanita
sudah selesai berdandan dan terlihat gugup menunggu kedatangan Guntur dan
keluarganya. Katty dan Kaori sudah datang juga bersama Jodi dan Rio. Mereka
berkumpul di dekat kamar pengantin wanita.
Ketika rombongan Guntur akhirnya datang, Kaori masuk ke dalam kamar pengantin wanita
untuk memberitahu tante Anisanya.
Kaori : “Tante, om Guntur udah dateng. Wow, tante cantik banget.”
Anisa : “Beneran? Haduh, tante tambah gugup nich.”
Wanita cantik itu meremas-remas ujung kebaya putih yang dipakainya. Ia memakai busana
pengantin lengkap dengan hijab putih yang serasi.
Kaori : “Tenang aja, tante. Om Guntur pasti lancar ijab-nya.”
Anisa : “Haduh, tante gak bisa tenang nich. Gimana dong?”
Kaori : “Tante pikirin tentang malam pertama aja. Mau ngapain ntar.”
Anisa mencubit pinggang Kaori yang iseng menggodanya. Pipinya merona mengingat malam
nanti ia akan mulai sekamar dengan Guntur. Kaori menggoda tantenya lagi sampai
mereka tertawa bersama.
Tiba-tiba pintu kamar Anisa terbuka, Katty masuk dan mengatakan kalau mereka sudah siap
menunggu Anisa keluar.
Katty : “Tante, ayo. Om Guntur sudah nunggu tuch.”
Anisa : “Emangnya uda selesai ijab?”
Katty : “Udah dari tadi, tante. Om Guntur udah gak sabar tuch. Ayo keluar.”
Anisa : “Cepet banget sich. Tante udah cantik belum? Ada yang luntur gak?”
Kaori dan Katty saling menatap melihat tantenya mirip cacing kepanasan. Mereka akhirnya
mengapit lengan Anisa kiri dan kanan dan membawa pengantin wanita itu keluar
dari kamarnya. Anisa menunduk malu-malu saat mata semua orang terpaku
menatapnya.
Sesaat pandangan Anisa bertemu dengan Guntur yang tersenyum manis kearahnya. Anisa
memperlambat jalannya karena merasa sangat malu. Tapi Katty dan Kaori tetap
menariknya hingga sampai di sebelah Guntur. Anisa di dudukkan di samping
Guntur.
Penghulu : “Silakan pengantin wanita cium tangan pengantin prianya. Kalian sudah sah
menjadi suami istri.”
Anisa menarik nafasnya dan bergerak ke samping sambil menunduk, ia meraih tangan
Guntur dan mencium punggung tangan suaminya itu. Tapi saat Guntur ingin mencium
kening Anisa, Anisa menegakkan kepalanya dengan cepat, dan...
Dug! Kepala Anisa membentur telak dagu Guntur. Guntur meringis menahan sakit di dagunya,
__ADS_1
Anisa melongo melihat perbuatannya barusan dan langsung panik melihat Guntur
kesakitan.
Anisa : “Maaf, maaf, mas. Gak pa-pa?”
Anisa dengan agresif menyentuh kedua pipi Guntur dan mengusap-usap dagunya dengan
jempol Anisa. Keduanya sangat dekat sampai membuat beberapa orang tua yang
mengajak anak mereka langsung menutup mata anak-anaknya.
Penghulu : “Ehem...”
Anisa masih sibuk memeriksa dagu Guntur, kali ini meniup dagu suaminya itu sampai pipi
Guntur memerah dibuatnya.
Kaori : “Ehem... Ehem...!”
Katty : “Tante, disini banyak orang. Nanti aja di kamar.”
Buahahahahaha... Tawa membahana semua orang yang melihat kejadian itu memenuhi rumah Anisa.
Sungguh Anisa merasa sangat malu sampai menutup wajahnya dengan tangannya yang
berhiaskan nail art.
Saat para tamu undangan sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan, Anisa
sedang bicara dengan papa dan mama Katty melalui sambungan v-call. Anisa sangat
bahagia melihat kakak iparnya sudah membaik. Meskipun mereka tidak bisa hadir
di acara pernikahannya, tapi kehadiran dua ponakannya sudah cukup bagi Anisa.
Flash back...
Papa Katty akhirnya sadar setelah 24 jam berlalu. Kondisinya segera membaik dan bisa
ke rumah sakit ketika papa Katty sudah selesai dipindahkan ke kamar VVIP. Kaori
dan Rio sedang kuliah dan akan datang sore nanti.
Papa Katty memperhatikan sekeliling kamar yang terlihat sangat mewah dengan
fasilitas seperti hotel bintang 5. Papa Katty menoleh pada mama Katty ia
menanyakan apa uang mereka cukup untuk membayar semua kenyamanan itu.
Mama Katty mengatakan kalau Katty dan Jodi yang membayar semua biaya operasi dan
juga persiapan pernikahan mereka. Mama Katty memohon pada papa Katty untuk
tidak memikirkan hal lain selain kesembuhannya sendiri.
Papa Katty : “Kita harus memberikan sertifikat rumah pada mereka, mah. Atau papa
tidak akan tenang. Biar papa yang bicara nanti.”
Mama Katty : “Aku sudah bilang seperti itu, pa. Tapi anak-anak gak mau terima.”
Papa Katty : “Papa yang ngomong nanti. Mereka akan kesini kan?”
Mama Katty : “Iya. Sepertinya masih di jalan.”
Katty dan Jodi segera sampai di rumah sakit dan masuk ke kamar VVIP tempat papa Katty
di rawat.
Katty : “Papa...”
__ADS_1
Katty mendekat dan memeluk papanya yang sudah tampak segar. Jodi tersenyum manis, di
tangannya ada makanan untuk mereka semua.
Papa Katty : “Nak, papa tau kalian yang bayar biaya rumah sakit. Tolong simpan
sertifikat rumah papa ya. Papa pasti kembalikan uangnya.”
Katty : “Itu lagi yang dibahas. Papa tuch perlu istirahat. Jangan mikirin hal lain.”
Papa Katty : “Tapi, nak. Uang papa cukup kok.”
Katty : “Pah, Katty tahu berapa uang papa dan mama. Semua perhiasan mama dan sertifikat
rumah. Mama sudah bilang semuanya. Tapi kami anak-anak papa dan mama, sudah
tugas kami menjaga papa sama mama.”
Jodi : “Iya, pah.”
Katty : “Papa jangan mikirin apapun lagi. Cukup cepat sembuh dan sehat saja, kami sudah
senang sekali.”
Jodi : “Iya, pah.”
Katty : “Kalau papa ngotot, Katty ngambek nich.”
Jodi : “Iya, pah.”
Ketiganya menoleh menatap Jodi yang sibuk makan sambil tetap bilang ‘iya, pah’. Katty
mendekati Jodi sambil berkacak pinggang, Jodi menghabiskan cemilan kesukaannya.
Melihat calon istrinya berdiri di depannya, Jodi nyengir sambil menutup kotak
kosong di tangannya.
Jodi : “Aku laper, yank.”
Katty sudah menaikkan sebelah alisnya sambil melotot pada Jodi,
Jodi : “Iya, iya, aku pesen lagi. Galak amat sich.”
Jodi memesan makanan online dibawah tatapan galak Katty. Papa dan mama Katty menatap
keduanya dengan senyum bahagia.
Flash back end...
Anisa mengembalikan ponsel Katty setelah selesai mengobrol. Ia menatap Guntur yang sedang memperhatikan tamu undangan yang datang. Anisa tersenyum malu-malu dan menyenggol lengan
Guntur pelan.
Anisa melihat ke arah Guntur lagi, tapi suaminya itu tidak menoleh padanya. Sedikit
kesal, Anisa menyenggol lengan Guntur lagi. Dan suaminya itu tetap tidak
menoleh padanya. Anisa menarik nafas dan menghembuskannya dengan kesal.
Tiba-tiba Guntur bergerak mengambil botol air minum di samping Anisa. Anisa menelan
salivanya saat melihat wajah mereka sangat dekat.
*****
Aoowww... Guntur mau ngapain tuch?”
Jangan lupa vote kk. Mau MP Guntur & Anisa?
Ntar saya share di GC ya kalau yang vote banyak.
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).