Duren Manis

Duren Manis
Masa lalu


__ADS_3

Selain Stella, masih ada lagi bagian dari masa lalu Alex yang mulai membayangi langkahnya. Seorang wanita cantik dan seksi berjalan penuh percaya diri keluar dari bandara kota Y.


Ia melihat sekeliling dan seorang pria menghampirinya. Pria itu mengambil koper dan tas tangannya, berjalan cepat menuju mobil yang sudah terparkir di depan mereka.


Wanita cantik itu Bianca, papanya salah satu rekan bisnis Alex dan mereka pernah bertemu saat papanya mengundang Alex ke pesta ulang tahun Bianca. Sempat terjadi rencana perjodohan antara Bianca dan Alex tapi Alex mengatakan dengan tegas kalau ia belum ingin menikah lagi saat itu.


Kali ini Bianca datang khusus untuk mengejar Alex karena ia sudah mantap mencintai Alex. Rupanya kabar pernikahan Alex belum sampai ke telinga Bianca.


Bianca : "Pak, langsung ke kantor pak Alex ya. Bapak tahu kan?"


Sopir : "Baik, nona muda."


Mobil yang membawa Bianca melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor Alex di tengah kota. Hati Bianca berbunga-bunga membayangkan wajah tampan Alex. Ia sudah tidak sabar ingin menjadikan Alex sebagai suaminya.


Sampai di kantor Alex, Bianca masuk dengan angkuh dan langsung menuju lift. Saking cepatnya kejadian itu, resepsionis sampai cuma bisa bengong. Ia hanya bisa menelpon Romi untuk memberi tahu kalau ada seorang wanita yang menerobos masuk dan menuju lantai tempat ruang kerja Alex.


Romi mengkerutkan keningnya, ia melihat ke arah lift yang sudah terbuka dan Bianca keluar dari sana. Romi dengan cepat keluar dari ruang kerjanya, ia menghadang langkah Bianca.


Romi : "Nona Bianca, apa kabar?"


Bianca : "Minggir, aku mau ketemu Alex."


Romi : "Tapi..."


Bianca : "Cepat minggir!"


Bianca dengan sigap menghindari Romi dan membuka pintu ruang kerja Alex. Alex yang sedang duduk di kursinya, terkejut melihat Bianca yang tiba-tiba masuk. Wanita berambut pendek itu langsung menghampiri Alex dan mencium pipinya.


Tubuh Bianca menempel erat pada tubuh Alex,


Bianca : "Alex, aku kangen banget sama kamu."


Alex : "Bianca!! Ngapain kamu kesini?"


Alex merasakan hawa dingin muncul di sekitar ruang kerjanya. Mia sudah menatapnya tajam dengan tangan terkepal. Waduh, Romi sampai kebingungan melihat pra perang dunia ketiga di dalam ruang kerja itu.


Bianca : "Alex, kamu kok gitu sich? Aku kesini demi kamu. Kamu mau ya jadi suamiku."


Alex : "What!! Kamu waras?!"


Bianca : "Aku gila sama kamu, marry me please."


Alex : "Woo... Tenang dulu. Kamu gak tau?"


Bianca : "Tahu apa?"


Duk! Mia menendang kursi di depannya hingga bergeser beberapa centi. Ia mendengus kesal, melipat kedua tangannya di depan dada, siap menjambak rambut Bianca.


Ia sampai lupa dengan perut buncitnya saat menendang kursi. Bianca menoleh menatap Mia dan mengabaikannya.

__ADS_1


Bianca : "Alex, kamu gak jawab aku."


Alex mendorong lengan Bianca agar menjauh darinya. Ia merasa riwayatnya akan tamat sekarang melihat kemarahan Mia. Kalau terus dibiarkan, Bianca akan membuat Mia meledak.


Alex berjalan mendekati Mia dan merangkul pinggangnya.


Alex : "Bianca, kenalkan ini Mia, istriku."


Bianca : "Gak mungkin!!"


Bianca menjerit dengan suara cemprengnya yang membuat Romi dan Alex menutup telinganya. Mia hampir melangkah maju tapi Alex menahannya.


Alex : "Dan Mia sedang hamil anak kami. Jadi aku gak bisa jadi suamimu."


Bianca : "Alex, katamu dulu kamu belum ingin menikah, nunggu setahun atau dua tahun lagi. Ini uda dua tahun, Lex. Tega banget."


Mia yang masih kesal, ingin melabrak Bianca agar jangan lebay, tapi Alex lagi-lagi menahannya.


Mia : "Mas, bisa lepas gak? Aku mau menyapa wanita cantik ini."


Alex : "Sabar, sayang. Ingat bayi kita. Sabar."


Mia : "Lepas gak?!"


Alex spontan melepas tangannya dari tubuh Mia yang langsung melangkah maju mendekati Bianca.


Mia : "Saya nyonya Alex. Dan tolong nona Bianca jangan pegang-pegang suami saya."


Mia menampar pipi Bianca yang lancang mengatainya. Hormon kehamilannya membuat amarahnya cepat sekali meledak. Mia hampir menjambak rambut Bianca kalau Alex tidak segera mendekapnya lagi.


Alex : "Sabar sayang, sabar."


Mia : "Dia ngatain aku, mas."


Alex : "Romi, bawa Bianca keluar, cepat!"


Romi menahan Bianca yang hampir menampar balik Mia. Ia menarik tangan wanita itu keluar dari ruang kerja Alex. Bianca berteriak kesal mengatai Mia sambil ditarik Romi.


Alex : "Duduk dulu ya, sayang. Sabar."


Mia : "Mas, siapa lagi itu??!!! Playboy genit!!!!"


Alex pasrah saja dipukuli Mia, ia berharap amarah istrinya itu akan reda setelah memukulinya. Mia menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak karena marah-marah. Ia cemburu berat saat melihat Bianca mencium Alex.


Mia : "Sebel!!!"


Alex : "Bianca itu salah satu anak rekan bisnisku. Kami sudah lama kerja sama, mana aku tahu kalau dia suka sama aku. Pake halu lagi."


Mia : "Tapi dia cium kamu, mas!! Kesel!!"

__ADS_1


Alex : "Aku juga kaget, gak nyangka dia bakalan begitu."


Mia : "Mas kenapa gak menghindar? Genit?!!"


Alex : "Aku kaget, sayang. Jangan marah lagi ya. Kasian anak kita."


Mia memegang perutnya dan menepis tangan Alex yang masih memeluknya. Ia mulai menangis sambil memeluk perutnya,


Mia : "Nak, papamu jahat!!"


Alex : "Eiit, papa gak jahat ya. Mama cemburunya kelewatan."


Mia melotot pada Alex yang tersenyum tengil. Uda tahu istrinya lagi marah, dia malah bercanda.


Alex : "Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, sayang. Beneran, sumpah."


Mia : "Jangan pake sumpah-sumpah. Jelas banget tadi kalau kalian ada hubungan khusus."


Alex : "Aku mesti gimana sich biar kamu percaya."


Mia : "Cium... Eit, gak jadi. Jauh-jauh sana."


Alex : "Sayang..."


Alex memonyongkan bibirnya menyosor bibir Mia yang sudah menjauhkan wajahnya. Sedikit gelitikan dan belaian di punggung Mia membuatnya kegelian. Alex mengambil kesempatan mencium bibir Mia.


Romi yang balik lagi ke ruang kerja Alex setelah memastikan Bianca pergi dari kantor, ia langsung balik badan ketika melihat adegan panas di depannya.


Romi : "Bos, situasi aman. Silakan lanjut lagi. Inget meeting jam 2."


Mia dan Alex melongo melihat Romi buru-buru ngibrit keluar dari ruang kerja Alex. Mereka saling pandang dan tertawa geli.


Alex : "Sayang, jangan marah lagi ya. Kontrol emosimu."


Mia : "Mau sampai kapan gini terus? Kalo gak diikutin orang, pasti gini. Capek, mas."


Alex : "Ya aku tahu, tapi aku kan gak bisa mengontrol masa laluku. Itu uda terjadi dan uda lewat juga. Sekaranh kamu masa depan aku yang akan aku jaga sampai kapanpun."


Mia : "Janji ya mas."


Alex : "Iya, aku janji, sayang."


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2