Duren Manis

Duren Manis
Extra part 18


__ADS_3

Extra part 18


Rio membuka matanya ketika ia terbangun beberapa saat kemudian. Keringat tampak membasahi kening dan lehernya. Sweater yang dipakainya sedikit basah, membuat Rio merasa tidak nyaman. Ia melepaskan sweater


yang dipakainya lalu kembali berbaring.


Rio menoleh keluar jendela yang kordennya tidak tertutup. Diluar sudah mulai gelap dan tampaknya langit cukup cerah tanpa awan. Ada beberapa bintang yang masih malu-malu menunjukkan cahayanya. Pemandangan yang dulu sering ia lihat untuk mengisi waktu luangnya sampai ia mengantuk dan tertidur.


Dia pernah mengalami hal-hal seperti itu, kesepian karena kepergian orang terkasih. Rasanya sangat tidak enak, tidak, rasanya mengerikan. Tapi Rio tidak punya kekuatan untuk bersama orang lain saat itu.


Rio menoleh ke samping, ia melihat wajah cantik seorang wanita yang sudah beberapa tahun belakangan ini selalu mendampinginya. Memberinya dukungan dalam setiap langkahnya, bahkan sanggup bertahan dengan sikap keras kepalanya.


Gadis tampak tertidur di sisi Rio, wanita cantik itu masih memakai lingerienya. Tali kecil yang tersampir di bahunya sudah terjatuh ke bagian lengan.


Mata Rio dimanjakan dengan pemandangan yang bahkan lebih indah dari langit malam. Saat melihat Gadis, seolah wanita itu memiliki magnet yang menarik Rio ke dekatnya. Rio hampir melakukannya, tangannya sudah terulur hampir menyentuh lengan Gadis.


Rio mengepalkan tangannya, Gadis jelas-jelas melarang Rio menyentuhnya. Pandangan mata Rio berpindah ke plafond kamar itu. Ia tersenyum senang, meskipun tidak bisa menyentuh istrinya saat ini, setidaknya


Rio masih bisa menatap wajahnya.


Tring! Tring! Ponsel Rio berbunyi, ia cepat-cepat mengambilnya dan melihat mama calling. Rio bangkit dari atas tempat tidur lalu berjalan ke dekat jendela.


“Halo, mah,” sapa Rio.


“Rio, kamu dimana? Gadis belum pulang dari tadi siang. Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Mama juga nggak bisa nelpon dia. Aduh, ini gimana?” tanya Mia panik.


“Tenang, mah. Gadis sama aku. Kami di apartment. Bentar lagi kami pulang, kok,” sahut Rio tenang.


“Kok bisa? Kalian janjian? Tadi Gadis pamitnya mau ke mall aja.” Tanya Mia kepo.


“Iya, mah. Udah dulu ya, mah. Gadis masih tidur, ntar dia bangun,” bisik Rio.


Sambungan terputus, saat Rio berbalik, ia melihat Gadis sudah bangun. Istrinya itu duduk diatas tempat tidur dengan mata belum terbuka sepenuhnya, menoleh kearah dirinya.


“Yank, kamu udah bangun. Mama nelpon, kita pulang sekarang?” tanya Rio sambil berjalan mendekat lagi ke tempat tidur.

__ADS_1


Rio duduk di pinggir tempat tidur, ia menjaga jarak agar Gadis merasa nyaman. Keduanya tersenyum satu sama lain dan tampak malu-malu. Gadis merasakan debaran yang sama saat mereka baru bersama dulu,


sebelum menikah. Meskipun dulu Rio lebih agresif dan ingin selalu memadu kasih diatas ranjang mereka, tapi kali ini sikap pria itu lebih menahan dirinya.


“Rio... sini,” panggil Gadis menepuk tempat kosong di sampingnya.


Rio terlihat ragu tapi akhirnya mendekat juga. Gadis menyandarkan kepalanya ke pundak Rio dengan sangat nyaman.


“Yank, kamu masih marah?” tanya Rio masih ragu.


“Nggak. Aku juga salah, nggak perhatiin kamu. Maafin aku ya, sayang,” kata Gadis sambil memainkan jemarinya di dada Rio.


Rio tersenyum lega, akhirnya masalah mereka bisa selesai dengan baik. Tapi Rio masih belum berani pegang-pegang Gadis, takut salah.


“Yank, gimana penampilan baruku?” tanya Gadis sambil berpindah duduk di pangkuan Rio.


Rio menarik nafas panjang berusaha menenangkan juniornya dibawah sana. Ia takut Gadis akan marah lagi kalau Rio mengajaknya mendaki gunung, menuruni lembah sekarang.


“Yank, kok diem aja sich?” tanya Gadis lagi kali ini mencium leher Rio.


“Yank, aku boleh pegang nggak? Aku udah nggak kuat nich,” lirih Rio berusaha menahan dirinya untuk tidak menyerang Gadis.


Gadis menggeleng, ia belum memperbolehkan Rio menyentuh dirinya. Tapi Gadis akan melakukan sesuatu untuk menghukum Rio sekarang. Wanita cantik itu kembali menciumi leher Rio, tangannya menelusuri surai Rio lalu menggigit telinga pria itu.


Desahan lolos dari mulut Rio, ia menggenggam seprai dengan erat. Tubuhnya menegang menahan gejolak yang membara, memanaskan tubuhnya. Sungguh penyiksaan yang sangat berat, ia hanya bisa diam menerima sentuhan Gadis tanpa boleh menyentuh balik.


Gadis melepas penutup tubuh Rio, membebaskan junior yang terperangkap dalam sarang. Tapi mengabaikan senjata andalan Rio itu, ia kembali menciumi leher Rio yang frustasi tanpa bisa melakukan apa-apa.


“Ach, yank. Jangan gigit leherku. Besok aku ada meeting penting,” cegah Rio saat merasakan gigit Gadis mendarat di lehernya.


“Nggak jadi dimaafin nich,” ancam Gadis.


Rio pasrah membiarkan Gadis mempermainkan tubuhnya sesuka istrinya itu. Gadis tersenyum geli melihat Rio memejamkan matanya dengan tubuh tegang dan memerah. Gadis dengan jahilnya menyenggol junior Rio, lalu mendorong tubuh Rio hingga terlentang.


“Yank... kamu beneran nyiksa aku nich.” Rio memelas hampir menyentuh pinggang Gadis.

__ADS_1


“Makanya jangan bohongin aku. Kamu tahu nggak ini akan berakhir gimana?” tanya Gadis sambil berbisik di telinga Rio.


Pikiran Rio sudah melayang kemana-mana, tapi sekali lagi ia sadar kalau Gadis sedang marah padanya. Pasti nggak akan berakhir baik. Rio mencoba menjawab pertanyaan Gadis saat ia merasakan sesuatu yang lunak


menyentuh juniornya.


“Ach!!” Rio mendongak merasakan kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Gadis melarangnya membuka mata hingga ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Gadis.


Tubuh Rio menegang sejenak sebelum kembali melemas. Rio mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Ia mengintip apa yang dilakukan Gadis pada tubuhnya tapi matanya tiba-tiba ditutup dengan sesuatu. Gadis mengikat kain menutupi mata dan tangan Rio.


Rio menelan salivanya sekali lagi, ia kembali merasakan kenikmatan sampai hampir meledak. Tapi Gadis tiba-tiba menghentikan apa yang sedang ia lakukan. Saat Rio terlihat kecewa, Gadis mengulang lagi apa yang ia


lakukan sampai Rio tidak berhenti menggeram.


“Y—yank!!” jerit Rio saat lagi-lagi Gadis menghentikan gerakannya.


Rio merasakan bibirnya dicium dengan lembut sebelum ikatan tangannya terlepas.


“Tangkap aku, sayang. Kalo bisa, aku lakukan lagi yang tadi,” kata Gadis sambil menjauh dari Rio.


Pria itu segera bangkit dari atas tempat tidur. Ia meraba-raba mencari Gadis dengan mata tertutup.


“Yank, kamu dimana sich? Kalau kamu nggak buat suara, aku kan nggak tahu kamu dimana?” kata Rio berusaha memancing Gadis.


Rio mendengar suara dari sebelah kanannya, tapi kilasan angin terasa di sebelah kirinya. Rio berbalik cepat dan menangkap Gadis yang berlari melewati Rio lewat sisi kiri pria itu.


“Rio!” pekik Gadis kaget saat suaminya itu menarik lepas lingerie-nya.


“Yank, udah ketangkep nich. Trus gimana?” tanya Rio pura-pura nggak ngerti.


Gadis menarik lepas penutup mata Rio. Pria itu memincingkan matanya sebentar sebelum menatap Gadis yang tersenyum.


“Tuan Rio, mau yang seperti apa?” tanya Gadis menggoda Rio.


Akal sehat Rio langsung ambyar. Ia mengangkat tubuh Gadis lalu membaringkannya diatas tempat tidur.

__ADS_1


“Yank, kali ini biarkan aku yang melakukannya,” bisik Rio sebelum mencium Gadis lagi.


__ADS_2