Duren Manis

Duren Manis
Tante Dewi


__ADS_3

Elo mendongak menatap Mia yang muncul dari ruang keluarga. Ia bangkit berdiri dan memberikan sofa besar pada Mia. Elo pindah ke sofa tunggal di samping sofa besar.


Mia : "Elo, apa yang terjadi?"


Elo : "Itu tadi kami pergi ke musium kota. Ada acara pelelangan buku disana. Saya mendapat undangan."


Mia : "Trus?"


Elo : "Kami bertemu tante Dewi."


Mia : "Siapa tante Dewi."


Elo menarik nafasnya perlahan, jelas sekali ia juga kesal dan sedih. Mia jadi ingin memeluk Riri dan Elo untuk menenangkan mereka.


Mia : "Apa yang terjadi? Kalian terluka?"


Elo menggeleng. Ia masih menenangkan perasaannya yang kacau karena kejadian di musium tadi. Riri muncul membawa teh hangat untuk mereka bertiga.


Riri : "Minum dulu, kak."


Elo mengambil secangkir teh dan meminumnya dulu sebelum lanjut bercerita.


Elo : "Tante Dewi itu, kakak papa saya, kak. Dia agak sombong."


Riri : "Agak, kak?"


Elo : "Ok, dia sombong sekali. Kakak tau kan tipe ibu-ibu kaya raya yang sombongnya minta ampun di sinetron gitu."


Mia dan Riri menahan senyum mendengar perumpamaan Elo. Lucu melihatnya mengatai tante Dewinya seperti itu.


Elo : "Kami ketemu dia disana dan tante Dewi mulai mempertanyakan status Riri dan asal usulnya juga."


Riri : "Menurut tante Dewi, Riri gak cocok jadi pacar kak Elo. Kesel gak."


Elo dan Mia saling pandang melihat Riri yang emosi. Elo melanjutkan ceritanya,


Elo : "Tante Dewi bicara dengan angkuhnya tentang status sosial dan harusnya saya mencari pacar yang sepadan."


Mia : "Oh, kasar sekali. Riri gak pa-pa?"


Riri : "Awalnya Riri maklum, mah. Tapi makin Riri diem, makin nglunjak. Pake bawa-bawa mama sama papa. Dia pikir dia siapa."


Mia terkejut melihat reaksi Riri, selama ia mengenal Riri, anak gadisnya itu tidak pernah menunjukkan emosinya. Kalau sampai itu terjadi, artinya orang yang memancingnya memang keterlaluan.


Mia : "Sabar, sayang. Trus apalagi yang terjadi?"


Elo : "Saya sudah bela Riri mati-matian disana. Tapi tetap saja tante Dewi menyerang Riri dengan kata-kata pedas."


Riri : "Riri uda mau bales, mah. Tapi kak Elo gak ngasi. Katanya gak usah mempermalukan diri sendiri dengan menanggapi orang gak waras."


Mia hampir keceplosan ketawa, ia berdehem menyamarkan suara tawanya.


Elo : "Biarlah saya dibilang kurang ajar, tapi tante Dewi memang keterlaluan. Saya masih nunggu sekarang apa kakek akan marah pada saya."


Baru saja Elo berkata begitu, ponselnya berdering.


Elo : "Benarkan dari kakek. Saya angkat telpon bentar ya."


Elo berdiri diteras rumah Alex, tampak bicara serius dengan kakeknya.


Mia menenangkan Riri yang hampir menangis.

__ADS_1


Mia : "Kesayangan mama, sini peluk, sayang. Sabar ya."


Riri : "Riri kesal, mah. Kenapa juga pake bawa-bawa mama Selvi. Dia mana tau mama Selvi kayak gimana. Riri juga gak tau... Hik hik..."


Mia : "Cep, cep... sayang. Mama Selvi pasti sayang banget sama Riri. Buktinya mau mengandung dan melahirkan Riri dan Rio kan."


Riri : "Hik... Kesel, mah... Hik..."


Elo duduk kembali di sofa, menatap Riri dengan pandangan kasihan.


Elo : "Maaf, Ri. Kamu jadi harus menghadapi tante Dewi. Aku juga salah gak ngecek daftar undangan dulu tadi."


Mia : "Kakekmu bilang apa?"


Elo : "Kakek cuma konfirmasi apa Elo ketemu tante Dewi apa gak? Sama nanyain Riri. Kakek mau ketemu sekarang. Riri mau ketemu kakek?"


Riri : "Ada tante Dewi gak?" Riri mengusap air matanya dengan tisu.


Elo : "Aku gak tahu, Ri. Tapi kalau ada tante Dewi, aku antar kamu pulang lagi. Gimana?"


Riri : "Boleh, mah?"


Mia : "Iya, sayang. Jangan pulang terlalu malam ya."


Elo : "Riri mau ganti baju dulu?"


Riri : "Eh, iya lupa. Tadi basah ya."


Riri beranjak ke kamarnya untuk ganti baju dan membersihkan dirinya.


Mia : "Kenapa bajunya bisa basah?"


Elo : "Tadi tante Dewi nyiram saya, kak. Dia kesal saya katain gak waras. Taunya kena Riri juga. Maaf ya, kak."


Elo tersenyum malu, ia senang cintanya dibalas Riri. Riri kembali ke ruang tamu, tampak fresh dengan dress simple warna pink.


Elo terpana melihatnya, Mia tersenyum melihat Elo melongo.


Mia : "Ehem! Uda siap, Ri?"


Riri : "Uda, mah. Riri pergi dulu ya. Bentar, Riri bawa cangkirnya ke dapur dulu."


Riri membawa kembali nampan yang ia pakai membawa teh tadi.


Mia : "Tolong jaga Riri ya. Jangan sampai nangis lagi kayak gitu. Kalau sampai papanya tahu, saya gak bisa membayangkan gimana jadinya."


Elo : "Saya pasti jagain Riri, kak. Nanti kalau ada tante Dewi disana dan suasana gak mendukung, saya akan langsung antar Riri pulang."


Riri : "Ayo, berangkat kak."


Elo : "Saya permisi dulu, ya kak."


Mia : "Iya, kalian hati-hati di jalan ya."


Mia melambaikan tangannya pada Riri yang melambaikan tangan dari dalam mobil Elo. Ia mengelus perutnya yang semakin besar.


🌸🌸🌸🌸🌸


Selama perjalanan, Elo terus mencuri pandang menatap Riri. Riri yang duduk manis di samping Elo jadi salah tingkah.


Riri : "Kenapa sich, kak? Aku keliatan aneh ya."

__ADS_1


Elo : "Nggak, Ri. Kamu cantik banget. Kita jalan-jalan yuk. Aku mau berdua aja sama kamu."


Riri : "Ntar ditungguin Pak Michael loh. Nanti kakak dimarahin."


Elo : "Habis ketemu kakek ya. Aku tahu tempat yang bagus."


Riri : "Iya, kak."


Akhirnya mereka sampai di rumah kakek Elo. Elo melirik mobil tante Dewi ada di parkiran mobil.


Elo : "Ada tante Dewi. Ayo, aku mau lihat dia mau bicara apalagi."


Elo menggandeng tangan Riri memasuki rumah kakek. Menunjukkan pada semua orang mengenai status mereka.


Kakek Elo tampak duduk di ruang tamu, sedang bicara dengan tante Dewi.


Elo : "Kakek..."


Kakek : "Elo, Riri. Duduk dulu."


Mereka berdua duduk di sofa depan tante Dewi. Elo tersenyum menatap Riri, masih memegang tangannya.


Kakek : "Kakek minta Riri kesini karena kejadian tadi pagi. Mungkin Riri belum kenal tante Dewi, ini anak sulung kakek."


Riri : "Saya tahu, Pak Michael."


Kakek : "Kakek sudah dengan cerita dari Dewi. Dan sekarang ingin dengar dari Riri dan Elo. Kalian tahu kan, kalau Dewi lebih dewasa dari kalian. Dan sepertinya ada yang bersikap tidak sopan."


Elo : "Elo rasa kakek sudah tahu siapa yang kakek bicarakan itu."


Tante Dewi : "Gak sopan. Papa lihat sendiri kan. Itu pasti pengaruh gadis liar ini."


Riri sakit hati dibilang liar. Apa sich salahnya pada tante Dewi? Apa karena dia kurang kaya?


Kakek mengangkat tangannya menyuruh tante Dewi diam. Riri menunduk menahan kekesalannya yang belum reda.


Kakek : "Riri, kakek tidak menyalahkan siapa-siapa disini. Dan Dewi, papa harap kamu tahu batasanmu."


Tante Dewi : "Tapi pah, masa Elo pacaran dengan gadis gak jelas ini."


Elo : "Tante! Cukup! Jangan ngatur-ngatur hidup Elo. Urus urusan tante sendiri."


Tante Dewi : "Apa maksud kamu?!"


Elo: "Daripada tante ngurusin Elo, lebih baik tante urus anak tante sendiri."


Kakek : "Elo!"


Elo diam mendengar bentakan kakeknya. Ia mendengar isak tangis dari Riri yang duduk di sampingnya.


Elo : "Kakek, Elo pamit. Riri sudah cukup mendengar penghinaan yang tidak sama sekali pantas ia dapatkan. Permisi."


Elo menarik tangan Riri berjalan keluar rumah kakek tanpa menoleh lagi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2