
Extra part 20
Melda melambaikan tangannya berharap X melihatnya, tapi X sepertinya masih sibuk dengan remaja itu. Keduanya tampak bercakap-cakap dengan akrab dan Melda melihat kalau remaja yang bersama X, mirip dengan pria itu.
“Alvin, siapa anak laki-laki itu?” tanya Melda kepo.
“Aku juga baru lihat, kakak ipar. Kita tunggu saja disini,” kata Alvin sambil memperhatikan ekspresi Melda yang berubah sendu.
Nyatanya X bahkan tidak mendekati dirinya, pria itu fokus mendekati mobil satunya dan masuk kesana bersama remaja yang diajaknya. Melda menatap kecewa pada suaminya, ia menatap Alvin lalu tersenyum masam.
“Kakak ipar, mungkin kak X perlu mengantar tamunya dulu,” kata Alvin berusaha menghibur Melda.
“Vin, antarkan aku ke kantor lagi ya. Aku mau lembur,” ucap Melda dengan nada kecewa, lalu masuk ke dalam mobil lagi.
Alvin menatap mobil kedua yang sudah mulai bergerak menjauh dari mobil yang membawa Melda. Dalam hatinya bertanya-tanya juga, ada apa dengan X sampai mengabaikan Melda seperti itu.
Ketika mobil yang membawa Melda sampai di kantor Alex, ponsel Melda berdering. X calling. Melda mengabaikan telpon itu, ia mengatakan pada Alvin kalau X bertanya tentang Melda, bilang saja Melda sudah
tidur. Alvin membukakan pintu untuk Melda lalu mengangguk patuh. Ia melihat Melda masuk ke lobby kantor Alex dan menghilang di dalam sana.
Giliran Alvin yang mendapat telpon dari X, sudah pasti menanyakan keberadaan Melda. Alvin bercerita dari awal sampai akhir dengan jujur pada X. Pria itu hanya diam sebelum menyahut ok dan menutup telponnya. Alvin menatap ponselnya sambil garuk-garuk kepala.
“Sebenarnya apa yang terjadi sich?” tanya Alvin bingung sendiri.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Melda tiba di rumahnya dan X. Ia mengucapkan terima kasih pada Alvin yang langsung pergi dari rumah itu setelah memastikan Melda aman masuk ke rumah.
Didalam rumah, Melda melihat sepatu baru yang lebih kecil ukurannya daripada sepatu X. Tamu penting itu pasti ada di dalam rumahnya. Melda menarik nafas panjang, lampu ruang tamu sudah dimatikan, begitu
juga dengan lampu dapur dan ruang TV. Mungkin mereka sudah tidur, pikir Melda.
Dengan langkah gontai, sedikit berjingkat, Melda naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ia membuka pintu perlahan dan melihat kamar itu kosong.
__ADS_1
“Hufh...,” hela Melda, semakin merasa kecewa.
Melda melepas pakaiannya, ia ingin berendam di air hangat. Mungkin sekalian menenggelamkan dirinya. Setelah menghidupkan air di bathup, Melda menatap bayangan tubuhnya di depan cermin wastafel. Ia mengeluh perutnya yang masih rata.
“Nak, kenapa kamu harus pergi sich? Mungkin papamu tidak akan mengabaikan mama seperti ini,” lirih Melda.
Melda dan X bahagia sekali setelah pernikahan mereka, Melda langsung dinyatakan hamil. Dokter mengatakan kondisi bayinya normal dan kandungannya juga sehat.
Melda yang merasa tidak ada masalah, tetap beraktifitas seperti biasanya sampai suatu hari ketika mereka sedang jalan-jalan di mall. X meninggalkan Melda di kursi untuk membeli minuman dan ketika ia kembali, Melda sudah terduduk di lantai dengan darah merembes di kakinya.
X dan Melda harus menanggung kesedihan kehilangan anak pertama mereka yang berjenis kelamin laki-laki saat itu juga. Bersamaan dengan kehilangan itu, X mulai sibuk lagi dengan pekerjaannya. Padahal ia ingin
mendampingi Melda melewati kesedihan mereka bersama-sama, tapi ayah Bianca lebih membutuhkan dirinya di negara B.
X dan Melda pun mulai menjalani hubungan jarak jauh. Mereka bertemu dua bulan sekali pada awalnya dan kembali berusaha mendapatkan seorang anak lagi. Tapi setelah bertahun-tahun, intensitas pertemuan mereka menjadi semakin berkurang . Bahkan mungkin perasaan cinta diantara keduanya mulai terkikis.
Melda menutup kran air, lalu masuk ke dalam bathup. Air yang sedikit panas, mengejutkan kulit putihnya hingga sedikit memerah, tapi Melda tidak peduli. Pikirannya kembali berputar pada kejadian di bandara. Orang yang paling ia rindukan bahkan tidak menoleh padanya, padahal Melda sudah sibuk melambaikan tangannya.
“X, kalau kamu sudah tidak mau melihatku lagi, lebih baik kita berpisah saja. Mungkin sudah takdir kita tidak pernah bahagia bersama-sama,” gumam Melda dengan air mata terus berlinang.
Dulu dia seperti ini saat menjalin hubungan dengan X, sekarangpun dia seperti ini. Mencintai X itu sangat menderita, meskipun X sangat memanjakannya di awal saja.
“Manis diawal, pahit di akhir...,” gumam Melda lagi tapi suara X memotongnya.
“Apanya yang pahit?” tanya X yang sudah berdiri di samping bathup. Pria itu hanya memakai handuk menutupi bawah pinggangnya.
“Oh, kamu udah pulang,” sapa Melda malas sambil cepat-cepat mengusap air matanya.
“Kok dingin amat sambutannya? Kita udah tiga bulan nggak ketemu, sayang,” kata X sambil melangkah masuk ke bathup.
Melda hanya bergeser ke depan, tanpa menjawab X. Ia sudah terlalu lelah, kebanyakan pikiran, kelamaan kerja, pokoknya cuma pengen bersantai dan istirahat tanpa bicara. X memeluk Melda dari belakang,
menempatkan tangannya di area favoritnya.
__ADS_1
“X, jangan. Aku lelah...,” kata Melda enggan.
“Biasanya kamu agresif kalau aku pulang, sayang. Tumben hari ini nggak. Kenapa?” tanya X sambil mengecup tengkuk Melda.
Melda diam, tidak mau menjawab X. Tangan X semakin menjelajahi tubuh Melda, mengecek ada atau tidaknya perubahan dari tubuh istrinya itu. Tapi yang sudah mulai berubah adalah hati Melda.
X adalah kepala keamanan untuk keluarga Bianca terutama bertugas khusus melindungi ayah Bianca yang memiliki bisnis gelap tapi sangat dermawan dan juga baik pada orang-orang yang kekurangan. Ia terbiasa
menyeleksi dan mempelajari gerak-gerik seseorang dengan cepat bahkan mengetahui kebiasaannya dengan cepat.
Jadi kalau Melda bahkan tidak ingin mengatakan apa-apa, X sudah tahu apa yang ada dipikiran istrinya itu. X mempererat pelukannya sampai Melda bisa merasakan apa yang terjadi di belakang sana. Bohong kalau Melda tidak menginginkan sentuhan X setelah sekian lama. Tapi ia benar-benar tidak ingin melakukan apa-apa sekarang.
“Kalau kamu lelah, biar aku yang lakukan, sayang,” bisik X lalu mencium bibir Melda.
X menarik tubuh Melda agar berdiri lalu menggendongnya sampai ke meja wastafel. X perlahan menyatukan tubuh mereka tanpa bisa ditolak Melda. Desahan dan rintihan memenuhi kamar mandi itu. Sesekali jeritan kecil keluar dari mulut Melda yang tidak kuasa menahan rasa nikmat yang menjalar di tubuhnya.
X tidak pernah mengecewakannya kalau urusan yang satu ini. Tidak seperti tuduhan Rio yang bilang kalau X kurang kuat. Atau mungkin ada yang salah dengan dirinya. Melda mulai berpikir kalau dirinya bermasalah sehingga tidak bisa hamil lagi. Semakin memikirkannya, semakin rumit raut wajah Melda.
“Kamu mikirin apa sich, sayang? Kebelet? Keluarin aja. Nanggung nich,” kata X ketika permainan mereka hampir berakhir.
Melda menggeleng, ia merangkul leher X lalu ikut bergerak bersama suaminya itu sampai tubuh keduanya menegang bersama-sama. X bersandar di meja wastafel, sementara Melda langsung membersihkan tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi.
Saat X keluar dari kamar, ia melihat Melda sudah berbaring di bawah selimutnya, siap untuk tidur. Tadi Alvin mengatakan kalau Melda bahkan tidak makan malam. X melirik kotak pizza di atas meja sofa. Sepertinya
Melda tidak menyentuh makanan itu sama sekali.
“Yank, kamu udah makan?” tanya X.
“Udah,” sahut Melda yang dibarengi dengan suara perutnya. Aroma wangi pizza dan makanan lainnya diatas meja, mulai memenuhi kamar itu.
“Yank, bangun dong. Temenin aku makan,” pinta X.
“Sebenarnya kamu mau apa sich? Aku ngantuk! Mau tidur! Berhenti ganggu aku!” bentak Melda dengan mata memerah menahan tangis.
__ADS_1