Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 6


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 6


Renata mengetuk-ngetuk pensil yang ada di tangannya. Sudah setengah jam ia melakukan itu. Dokumen di mejanya masih menumpuk tinggi tapi Renata bukan sedang mengerjakan itu. Tadi saat ia sedang mengerjakan dokumen yang belum selesai kemarin, Reynold yang menyamar memberinya tugas baru. Renata harus memecahkan teka-teki untuk mengambil sebuah barang di ruangan itu.


“Kalau sampai makan siang tidak ketemu, kamu harus mengulangi besok dan besoknya lagi sampai ketemu,” titah Reynold.


Kepala Renata sampai miring melihat peta di depannya. Untung saja otaknya belum ikut miring. Diliriknya Reynold yang masih anteng duduk di kursi kerjanya. Entah apa yang dilakukan Reynold di depan laptop tanpa pergerakan yang jelas. Renata memaksa otaknya berpikir lebih keras. Ia melihat sekeliling, memastikan sekali lagi kalau peta yang dipegangnya mengarah ke arah yang sama.


Sesuatu terlintas di pikirannya. Ada yang salah dengan ruangan itu. Ada barang yang berpindah dari tempatnya semula. Renata memukul meja dengan keras sampai menimbulkan suara yang cukup keras. Ia nyengir ke arah Reynold yang sudah menegakkan kepalanya.


“Ada apa, Renata?” tanya Reynold dengan cool-nya.


“Pak direktur, mohon maaf. Saya boleh memindahkan sesuatu?” tanya Renata sambil bangkit dari duduknya.


Reynold hanya mengangkat bahunya. Renata mendekati meja kecil di tengah ruangan yang sebelumnya terletak di sudut. Ia menggeser meja itu pelan-pelan lalu melihat sesuatu di salah satu kakinya. Benda itu direkatkan dengan selotif bening. Renata membungkuk, membuka selotip itu sampai lepas. Sebuah kotak berwarna merah yang besar. Renata mencoba menebak isi kotak itu, jelas tertulis di peta kalau ia boleh membuka apapun yang ia temukan.


Mata indahnya berbinar saat melihat isi kotak itu. Sebuah jam tangan yang sepertinya mahal sekali. Renata cepat-cepat menutup kotak itu lalu meletakkannya di meja direktur. Reynold menatapnya yang hanya berdiri diam di depan kotak itu.


“Ach, sudah ketemu. Lanjutkan pekerjaanmu,” titah Reynold.


Renata segera balik badan lalu kembali duduk di mejanya. Ia melipat peta di hadapannya lalu menyelipkannya ke dalam laci meja. Reynold tersenyum jahil dari tempat duduknya. Ia teringat kejadian kemarin saat Renata pasrah dihadapannya.


--Flashback—


Reynold menjauhkan dirinya setelah melihat Renata memejamkan matanya. Ia menyentil kening gadis itu lalu bangkit dari sofa. Renata yang merasakan pergerakan di dekatnya, membuka matanya perlahan. Melihat Reynold berjalan kembali ke kamarnya tanpa melakukan apa-apa, dirinya merasa sedikit kecewa. Mungkin tidak buruk juga kalau memenuhi keinginan pria yang sudah menjaganya selama ini.


Renata memukul kepalanya untuk menepis rasa hangat yang sempat mengaburkan logikanya. Coba-coba hanya akan berakhir tidak nyaman. Bagaimana kalau setelah ciuman itu, mereka jadi orang asing? Bagaimana rasanya berciuman dengan keponakan sendiri? Batinnya berkecamuk karena penasaran. Godaan yang diberikan Reynold bisa melumpuhkan akal sehatnya walau sesaat. Akhirnya Renata memesan sup sehat dan makanan yang ingin ia makan saat itu. Sebelum masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian.


Sedikit melamun, Renata tidak menyadari kalau ia memakai pakaian yang sedikit tipis setelah mandi. Entah apa yang ada di pikirannya saat keluar dari kamar. Ting, tong! Bel apartment mereka berbunyi, pengantar makanannya sudah datang. Renata mengambil dompetnya, ingin membayar makanan itu. Tapi tangannya ditarik Reynold yang juga keluar dari kamarnya.


“Aunty, kalo keluar pake baju tipis gini, nanti aku hukum ya,” ancam Reynold sambil mengecup belakang telinga Renata.


“Hii... kak!!” jerit Renata kaget.

__ADS_1


Reynold tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia keluar dari apartment dan membukakan pintu lift untuk pengantar makanan itu. Mereka melakukan transaksi di depan lift dan tas makanan segera berpindah ke tangan Reynold.


Saat masuk ke dalam apartmentnya lagi, Reynold melihat Renata sedang berdiri mengambil mangkok di lemari atas dapur. Tangannya terjulur keatas sangat tinggi sampai pakaiannya juga ikut tersingkap. Mata Reynold terbelalak, ia sudah sering melihat tubuh Renata lewat layar monitor. Tapi belum pernah melihat secara langsung dan sedekat itu. Renata tidak menyadari kalau ada serigala kelaparan di belakangnya.


Grep! Reynold nekat memeluk Renata, tangannya mendarat di ujung bawah pakaian gadis itu lalu menariknya turun. Ketika Renata menoleh kaget, ia tidak sengaja menarik mangkok hingga hampir jatuh. Untung saja Reynold sigap menahan mangkok itu. Gerakan mereka yang tiba-tiba, tidak sengaja menyatukan bibir mereka lagi. Mata Renata melotot kaget, berbeda dengan Reynold yang langsung melahap bibir mungil nan menggoda itu.


Renata memberontak, tapi gerakannya terhenti saat melihat mangkok di atas kepalanya. Ia takut kalau salah bergerak, mangkok itu akan menimpa dirinya dan Reynold. Tangan Reynold berhasil mendorong mangkok itu masuk kembali ke dalam rak, lalu meneruskan mengeksplor bibir Renata. Bibir lembut yang masih belum tersentuh, sama seperti tubuh gadis itu. Perlahan tenggelam dalam kenikmatan ciuman pertama yang tidak bisa ditolak siapapun.


--Flashback off--


“Renata, kamu nggak makan siang?” tanya Reynold setelah menyadari jam makan siang hampir berakhir.


Renata melirik jam di ponselnya, gadis itu memang tidak punya jam tangan. Sudah beberapa kali Reynold memintanya membeli jam tangan agar terlihat lebih elegan, tapi Renata selalu merusak jam tangannya.


“Pak direktur nggak makan?” tanya Renata balik.


“Kamu mau makan dimana?” tanya Reynold lagi.


Keduanya tersenyum satu sama lain dengan sangat profesional. Renata ingin makan di kantin karyawan seperti kemarin. Ia datang di saat yang tepat ketika kantin sedang sepi. Padahal Reynold memang mengatur jam makan siang karyawan, agar Renata bisa makan siang dengan nyaman. Gadis itu berlalu dari kantor direktur setelah Reynold mengatakan kalau ia akan makan siang di luar. Alfian yang kebetulan juga keluar dari ruangannya, mengikuti Renata menuju lift.


“Pak Alfian belum makan juga?” tanya Renata. Kemarin Alfian juga terlambat makan siang dan akhirnya mereka makan bersama di kantin karyawan.


“Aku biasa makan siang jam segini. Kantin juga sepi. Lagian bisa ketemu....” Alfian menghentikan kata-katanya tepat waktu membuat Renata jadi penasaran.


Mereka masuk ke dalam lift bergantian. Pintu lift tertutup dan segera membawa mereka ke lantai bawah. Sampai di kantin karyawan, Renata baru sadar siapa sesungguhnya yang dicari Alfian. Merry tampak duduk di salah satu meja yang kosong, sedang makan siang sendirian. Wanita tambun itu menoleh melihat Renata dan Alfian. Dirinya sibuk melambaikan tangannya memanggil keduanya.


“Renata, sini!” panggil Merry.


“Saya ambil makanan dulu ya, bu,” kata Renata, sementara Alfian sudah duduk duluan di depan Merry.


Renata tersenyum simpul melihat Merry sibuk mengoceh di depan Alfian sementara pria itu mencomot makanan di piring Merry. Yang lucu adalah ekspresi wajah Alfian yang lempeng tanpa ekspresi. Pelayan kantin mengantarkan makanan pesanan Alfian tepat ketika Renata berjalan mendekati meja keduanya.


“Pak Alfian dan Ibu Merry ada hubungan ya?” celetuk Renata setelah ia duduk disana.

__ADS_1


Uhuk! Uhuk! Uhuk! Alfian terbatuk-batuk, keselek daging ayam goreng yang salah masuk ke tenggorokannya. Sedangkan Merry hanya bersikap biasa-biasa saja.


“Hubungan rekan kerja, Ren. Kamu makan dulu dong. Ini sudah hampir lewat jam makan siang. Gimana kerjaanmu?” tanya Merry kepo. Renata melirik Alfian yang masih sibuk menghilangkan batuknya. Merry bahkan tidak peduli ketika Alfian mengambil gelas minumannya lalu menghabiskan isinya. “Jangan pedulikan dia. Kelakuannya setiap hari hanya menghabiskan makanan dan minumanku. Mungkin dia lelah melihatku gendut begini,” canda Merry sambil menertawakan dirinya sendiri.


“Kamu nggak gendut,” sahut Alfian.


Merry menyuruh Alfian diam, padahal pria itu baru mengatakan beberapa kata saja. Dirinya kembali banyak tanya pada Renata yang terpaksa menjawab pertanyaan dengan mulut penuh makanan. Belum selesai makan, Alfian mendapat telpon dari resepsionis. Ada tamu untuk Steven yang belum sampai ke kantor. Pria itu cepat-cepat kembali ke ruang direktur tanpa mempedulikan makanannya lagi.


Kesempatan hanya berdua dengan Merry, membuat Renata meminta kejelasan. Sekali lagi ia bertanya tentang hubungan Merry dengan Alfian. Merry tersenyum geli sebelum mulai bercerita.


“Pertama kali kami ketemu itu, aku baru diterima kerja disini. Thanks to pak direktur yang tidak memandang visualku. Disaat orang lain menatapku seperti menatap drum besar yang menggelinding di jalan, Alfian hanya fokus menatap mataku. Kamu pernah nggak ngeliat orang yang hanya fokus menatap matamu tanpa ngelihat fisikmu kayak gimana. Alfian melakukan itu sampai sekarang. Aku sering dengar orang bilang aku gandut, oversize, bahkan membandingkan dengan suatu barang yang besar. Tapi Alfian nggak pernah mengatakan hal-hal yang seperti itu. Buat aku, bentuk badanku seperti ini bukan halangan untuk mencapai cita-citaku. Yang penting adalah kemampuan dan kemauanku untuk bisa sampai di tahap ini,” jelas Merry serius.


Renata mengangguk-angguk, ia juga tidak memandang orang lain dari fisiknya. Tapi kalau Alfian sampai segitunya terhadap Merry, berarti ada sesuatu yang menarik bagi Alfian. Apa mungkin Alfian menyukai Merry?


“Jadi, ibu dan pak Alfian berteman baik?” tanya Renata lagi.


“Ya, bisa dibilang begitu,” sahut Merry.


“Maaf ya, bu. Apa ibu sudah menikah? Umurnya berapa?” tanya Renata lagi. “Saya nggak ada maksud apa-apa, bu. Cuma mau tahu saja,” kata Renata merasa tidak enak karena keceplosan bicara.


Merry menyebutkan status dan usianya. Single, tinggal sendiri, dan berumur duapuluh delapantahun. “Dua tahun lagi udah kepala tiga. Belum punya pasangan. Tapi aku nggak kebeban sama itu. Aku sudah punya rencana mau kemana setelah tua nanti. Gila ya. Kita baru kenal, tapi rasanya aku bisa ngomong apa aja sama kamu,” kata Merry sambil menyeruput minuman Alfian.


“Ibu nggak ngerasa kalau Pak Alfian suka sama ibu?” tanya Renata lagi.


Uhuk! Uhuk! Uhuk! Giliran Merry yang keselek. Ia menggeleng kuat sambil mengambil tisu di sudut meja. “Nggak mungkin lah. Dia nggak pernah bilang,” sahut Merry diantara batuknya.


“Yang saya lihat kayak gitu sich. Apalagi denger cerita ibu barusan,” kata Renata lagi.


Merry mengelak lagi, hubungan mereka berdua tidak seperti yang dipikirkan Renata. Meskipun beberapa kali Alfian mengajak Merry bertemu di luar kantor, mereka hanya makan sambil ngobrol. Tapi Alfian tidak pernah mengatakan hal-hal romantis atau menyatakan perasaannya. Karena itu Merry hanya menganggapnya sebatas teman baik saja.


“Kalau pak Alfian bilang suka sama ibu, gimana?” tanya Renata lagi.


Seulas senyuman singgah di bibir Merry, tubuhnya berguncang perlahan karena terkekeh geli. Sesuatu yang tidak berani ia bayangkan sebelumnya akan jadi kenyataan. Merry menggeleng, tidak mau menjawab Renata. Dirinya takut kecewa kalau harapan tidak jadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2