
DM2 – Ngajak main
“Aku mau buat adiknya si kembar.”saut Alex
tanpa dosa.
“Kamu mau nambah anak lagi? Gak malu udah
punya cucu?”tanya Romi bingung.
“Protes aja, kamu. Makanya tambah anak
sana. Sibuk terus.”
Romi mendengus, “Siapa yang gak ngasi aku
cuti, BOS?”tanya Romi kesal. “Bos?”
Romi mendengar suara desahan dari telpon di
telinganya. Serasa nonton film gituan. “Anjir! Woi! Bos!” Romi mematikan ponselnya
dengan kesal.
Ia melirik foto Jelita dan putra mereka
yang selalu terpasang di meja kerjanya. “Haih, gimana mau nambah anak, Jelita
aja tinggal di luar kota. Andai Rio sudah sehat, aku kan bisa nyusul kalian.”ucapnya
membelai foto anak dan istrinya.
Romi sudah mengajukan surat pengunduran
dirinya pada Alex. Ia sangat berat melakukan itu tapi mertuanya meminta Jelita
untuk pindah ke kota lain untuk mengurus bisnis keluarga mereka disana. Putra
mereka, Juan juga terpaksa pindah sekolah kesana.
Alex sudah menyetujui pengunduran diri Romi
ketika Rio tiba-tiba depresi dan tidak bisa membantu Alex di perusahaan. Alex
hanya bisa pasrah dan meminta Romi memanggil siapapun yang bisa membantunya untuk
sementara. Saat Alex tiba dikantornya lagi, ia melihat pengganti Romi sudah ada
di ruangan kerjanya.
Pengganti Romi berbalik dan Alex terkejut
melihat Romi tidak jadi pergi. Alex tersenyum padanya saat itu. Romi mengatakan
kalau ia belum bisa meninggalkan Alex sekarang dan minta dipekerjakan kembali.
Mereka berpelukan seperti pria dewasa pada umumnya.
Untuk memberikan Romi waktu bersama
keluarganya, Alex memberikan libur di hari Jumat atau Senin. Romi bisa mengatur
tidak ada meeting di hari ia libur. Jadi Alex hanya perlu mengawasi perusahaan
saja.
Romi menoleh saat seseorang mengetuk pintu
ruang kerjanya, “Ya? Kamu siapa?”tanyanya pada seorang wanita cantik yang
berdiri di depan pintu.
“Saya Melda, pak. Benar disini ruangan Pak
Romi? Saya diminta melapor kesini sama manager HRD.”kata Melda.
“Melda? Tunggu ya. Silakan duduk dulu.”
Melda duduk di kursi yang biasa diduduki
Rio. Romi menelpon manager HRD untuk minta penjelasan. Romi melirik Melda saat
ia bicara dengan manager HRD yang memberitahu kalau Melda lolos test untuk
menjadi sekretaris Alex. Romi memang meminta seorang sekretaris untuk membantu
Alex di saat dirinya cuti mengunjungi Jelita.
“Ya, aku paham. Terima kasih.”tutup Romi di
telpon. Ia menatap Melda yang sudah menatapnya. “Untuk sementara mejamu disini.
Tugasmu yang pertama adalah mengecek e-mail masuk. Pisahkan antara penawaran
__ADS_1
dengan e-mail lainnya. Lihat contohnya.”kata Romi sambil menunjukkan contoh
e-mail penawaran. Melda memperhatikan petunjuk Romi dengan baik. “Kamu ngerti
kan?”
“Iya, pak. Saya bisa kerja dimana?”tanya
Melda.
Romi mengeluarkan laptop sekretaris di
bawah mejanya. Ia menghidupkannya sebelum memberikannya pada Melda. Wangi
parfum Melda mengusik indra penciuman Romi, ia bergeser sedikit untuk menjaga
jarak dengan wanita itu.
“Kalau sudah selesai, kasi tau aku ya.”kata
Romi kembali fokus ke laptopnya.
“Baik, pak.”saut Melda.
Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan
masing-masing.
*****
Alex dan Mia melewatkan waktu sarapan
bahkan makan siang. Alex benar-benar menjawab tantangan Mia yang mau hamil
lagi.
Gadis yang turun dari lantai 2 untuk
membuat susu lagi untuk Kaori, menatap bingung melihat makanan masih utuh
diatas meja makan.
“Mb Minah, mama belum makan ya?”tanya
Gadis.
“Mb Mia sama pak Alex belum keluar kamar
dari pagi.”saut mb Minah.
“Saya gak tau, mb. Mungkin mb mau coba
dengerin?”tanya mb Minah.
“Nguping maksud mb?”tanya Gadis.
Mb Minah mengangguk. Gadis beneran berjalan
sampai ke depan kamar mertuanya. Ia mendekatkan telinganya, tapi tidak
terdengar apa-apa. Saat Gadis hampir mengetuk pintu kamar, Alex sudah lebih
dulu membuka pintu itu.
“Papa!”pekik Gadis kaget. “Mana mama?”tanya
Gadis berusaha melihat ke dalam kamar.
“Mama lagi tidur. Papa laper nich. Makanan
udah siap?”tanya Alex memegangi perutnya.
“Udah di meja. Papa gak kerja?”
“Hehe.. papa cuti, mamamu ngajak main sich.”bacot
Alex gak malu sama mantunya.
Wajah Gadis langsung merona saat memahami
arti kata main yang diucapkan Alex. “Ih, papa nich. Mama gak diambilin makan?”
“Ntar papa yang bawain. Jangan ganggu
mamamu dulu ya. Ngerti kan?”
Gadis hanya geleng-geleng kepala, mereka
berjalan ke meja makan. Gadis mengambilkan makanan untuk Rio. Ia mendengar
tangisan Kaori, lalu bergegas ke lantai 2 membawa susu Kaori. Alex gantian
geleng-geleng kepala. “Kapan kamu istirahatnya kalo terus gini?”kata Alex ngomong
__ADS_1
sendiri.
Alex makan seorang diri sambil melihat
sekeliling rumahnya. Ia membayangkan kalau semua anak, menantu dan cucunya
berkumpul di rumah ini. Meja makannya bahkan gak muat. Alex menimbang sesuatu
berpikir untuk membangun sebuah rumah yang lebih besar tanpa setahu Mia. Ia
ingin semua anak dan cucunya mendapat kamar sendiri kalau mereka menginap
bersama-sama.
Alex menghitung berapa jumlah kamar yang
harus ia siapkan.
“Rara dan Arnold, Riri dan Elo, Rio dan
Gadis, Rava, Reva, Kaori, Reynold, Donatello, Aku dan Mia, mb Minah dan mb Roh.
10 kamar. Belum kalau beneran Mia hamil lagi. Kamar tamu juga. Kalau aku buat
15 kamar, berapa budgetnya ya?” Alex ngomong sendiri sambil terus makan.
Akhirnya ia memutuskan membangun rumah
dengan 12 kamar tidur. Harus ada kolam renang juga dan halaman yang luas untuk
barbeque. Alex senyum-senyum sendiri membayangkan rumah baru mereka akan jadi
seperti apa nantinya. Ia hanya perlu mencari tanah yang cocok dan juga menyewa
jasa arsitek untuk menggambar rumah impiannya.
“Mia, aku akan memberimu kejutan yang
sangat besar. Sebuah rumah untuk kita tinggali bersama anak-anak kita.”tutur
Alex.
Alex menyelesaikan makannya, ia membawa
piring berisi makanan masuk ke kamarnya. Mia sudah terbangun saat itu, ia juga
kelaparan.
“Mas, makan... Eh, udah dibawain.” Mia
menerima piring dari Alex, ia membiarkan selimutnya melorot memperlihatkan
asetnya. “Mas, tolong ambilin bajuku.”
“Buat apa pake baju. Kita masih lanjut, kan?”seringai
mesum Alex menaik-turunkan alisnya.
“Mas, pergi ngantor sana. Ntar telat loh.
Ntar gak bisa meeting. Ntar...”Mia terdiam melihat Alex sudah menempelkan
tangannya ke bagian tubuh Mia yang sensitif.
“Yank, kamu harus tanggung jawab sampai
selesai. Kamu yang mancing, kan. Sekarang makan, habis itu kita lanjut lagi.”kata
Alex.
“Hais, ini jelas modus. Gini amat ya jadi
istrimu, mas.”
“Aku akan lebih lembut, sayang. Nikmati
saja.”tutur Alex genit.
Mia memutar bola matanya, ia menghabiskan
makanan dengan cepat. Perutnya lapar sekali sampai terasa perih. Alex tersenyum
melihat piring kosong di tangan Mia. Ia membawa piring itu keluar dari kamar
mereka. Saat Alex masuk ke kamar lagi, ia langsung mengunci pintunya.
Alex bingung melihat buntelan besar terbuat
dari selimutnya ada di tengah ranjang. “Mia?”panggil Alex.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.