Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Ngajak main


__ADS_3

DM2 – Ngajak main


“Aku mau buat adiknya si kembar.”saut Alex


tanpa dosa.


“Kamu mau nambah anak lagi? Gak malu udah


punya cucu?”tanya Romi bingung.


“Protes aja, kamu. Makanya tambah anak


sana. Sibuk terus.”


Romi mendengus, “Siapa yang gak ngasi aku


cuti, BOS?”tanya Romi kesal. “Bos?”


Romi mendengar suara desahan dari telpon di


telinganya. Serasa nonton film gituan. “Anjir! Woi! Bos!” Romi mematikan ponselnya


dengan kesal.


Ia melirik foto Jelita dan putra mereka


yang selalu terpasang di meja kerjanya. “Haih, gimana mau nambah anak, Jelita


aja tinggal di luar kota. Andai Rio sudah sehat, aku kan bisa nyusul kalian.”ucapnya


membelai foto anak dan istrinya.


Romi sudah mengajukan surat pengunduran


dirinya pada Alex. Ia sangat berat melakukan itu tapi mertuanya meminta Jelita


untuk pindah ke kota lain untuk mengurus bisnis keluarga mereka disana. Putra


mereka, Juan juga terpaksa pindah sekolah kesana.


Alex sudah menyetujui pengunduran diri Romi


ketika Rio tiba-tiba depresi dan tidak bisa membantu Alex di perusahaan. Alex


hanya bisa pasrah dan meminta Romi memanggil siapapun yang bisa membantunya untuk


sementara. Saat Alex tiba dikantornya lagi, ia melihat pengganti Romi sudah ada


di ruangan kerjanya.


Pengganti Romi berbalik dan Alex terkejut


melihat Romi tidak jadi pergi. Alex tersenyum padanya saat itu. Romi mengatakan


kalau ia belum bisa meninggalkan Alex sekarang dan minta dipekerjakan kembali.


Mereka berpelukan seperti pria dewasa pada umumnya.


Untuk memberikan Romi waktu bersama


keluarganya, Alex memberikan libur di hari Jumat atau Senin. Romi bisa mengatur


tidak ada meeting di hari ia libur. Jadi Alex hanya perlu mengawasi perusahaan


saja.


Romi menoleh saat seseorang mengetuk pintu


ruang kerjanya, “Ya? Kamu siapa?”tanyanya pada seorang wanita cantik yang


berdiri di depan pintu.


“Saya Melda, pak. Benar disini ruangan Pak


Romi? Saya diminta melapor kesini sama manager HRD.”kata Melda.


“Melda? Tunggu ya. Silakan duduk dulu.”


Melda duduk di kursi yang biasa diduduki


Rio. Romi menelpon manager HRD untuk minta penjelasan. Romi melirik Melda saat


ia bicara dengan manager HRD yang memberitahu kalau Melda lolos test untuk


menjadi sekretaris Alex. Romi memang meminta seorang sekretaris untuk membantu


Alex di saat dirinya cuti mengunjungi Jelita.


“Ya, aku paham. Terima kasih.”tutup Romi di


telpon. Ia menatap Melda yang sudah menatapnya. “Untuk sementara mejamu disini.


Tugasmu yang pertama adalah mengecek e-mail masuk. Pisahkan antara penawaran

__ADS_1


dengan e-mail lainnya. Lihat contohnya.”kata Romi sambil menunjukkan contoh


e-mail penawaran. Melda memperhatikan petunjuk Romi dengan baik. “Kamu ngerti


kan?”


“Iya, pak. Saya bisa kerja dimana?”tanya


Melda.


Romi mengeluarkan laptop sekretaris di


bawah mejanya. Ia menghidupkannya sebelum memberikannya pada Melda. Wangi


parfum Melda mengusik indra penciuman Romi, ia bergeser sedikit untuk menjaga


jarak dengan wanita itu.


“Kalau sudah selesai, kasi tau aku ya.”kata


Romi kembali fokus ke laptopnya.


“Baik, pak.”saut Melda.


Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan


masing-masing.


*****


Alex dan Mia melewatkan waktu sarapan


bahkan makan siang. Alex benar-benar menjawab tantangan Mia yang mau hamil


lagi.


Gadis yang turun dari lantai 2 untuk


membuat susu lagi untuk Kaori, menatap bingung melihat makanan masih utuh


diatas meja makan.


“Mb Minah, mama belum makan ya?”tanya


Gadis.


“Mb Mia sama pak Alex belum keluar kamar


dari pagi.”saut mb Minah.


“Saya gak tau, mb. Mungkin mb mau coba


dengerin?”tanya mb Minah.


“Nguping maksud mb?”tanya Gadis.


Mb Minah mengangguk. Gadis beneran berjalan


sampai ke depan kamar mertuanya. Ia mendekatkan telinganya, tapi tidak


terdengar apa-apa. Saat Gadis hampir mengetuk pintu kamar, Alex sudah lebih


dulu membuka pintu itu.


“Papa!”pekik Gadis kaget. “Mana mama?”tanya


Gadis berusaha melihat ke dalam kamar.


“Mama lagi tidur. Papa laper nich. Makanan


udah siap?”tanya Alex memegangi perutnya.


“Udah di meja. Papa gak kerja?”


“Hehe.. papa cuti, mamamu ngajak main sich.”bacot


Alex gak malu sama mantunya.


Wajah Gadis langsung merona saat memahami


arti kata main yang diucapkan Alex. “Ih, papa nich. Mama gak diambilin makan?”


“Ntar papa yang bawain. Jangan ganggu


mamamu dulu ya. Ngerti kan?”


Gadis hanya geleng-geleng kepala, mereka


berjalan ke meja makan. Gadis mengambilkan makanan untuk Rio. Ia mendengar


tangisan Kaori, lalu bergegas ke lantai 2 membawa susu Kaori. Alex gantian


geleng-geleng kepala. “Kapan kamu istirahatnya kalo terus gini?”kata Alex ngomong

__ADS_1


sendiri.


Alex makan seorang diri sambil melihat


sekeliling rumahnya. Ia membayangkan kalau semua anak, menantu dan cucunya


berkumpul di rumah ini. Meja makannya bahkan gak muat. Alex menimbang sesuatu


berpikir untuk membangun sebuah rumah yang lebih besar tanpa setahu Mia. Ia


ingin semua anak dan cucunya mendapat kamar sendiri kalau mereka menginap


bersama-sama.


Alex menghitung berapa jumlah kamar yang


harus ia siapkan.


“Rara dan Arnold, Riri dan Elo, Rio dan


Gadis, Rava, Reva, Kaori, Reynold, Donatello, Aku dan Mia, mb Minah dan mb Roh.


10 kamar. Belum kalau beneran Mia hamil lagi. Kamar tamu juga. Kalau aku buat


15 kamar, berapa budgetnya ya?” Alex ngomong sendiri sambil terus makan.


Akhirnya ia memutuskan membangun rumah


dengan 12 kamar tidur. Harus ada kolam renang juga dan halaman yang luas untuk


barbeque. Alex senyum-senyum sendiri membayangkan rumah baru mereka akan jadi


seperti apa nantinya. Ia hanya perlu mencari tanah yang cocok dan juga menyewa


jasa arsitek untuk menggambar rumah impiannya.


“Mia, aku akan memberimu kejutan yang


sangat besar. Sebuah rumah untuk kita tinggali bersama anak-anak kita.”tutur


Alex.


Alex menyelesaikan makannya, ia membawa


piring berisi makanan masuk ke kamarnya. Mia sudah terbangun saat itu, ia juga


kelaparan.


“Mas, makan... Eh, udah dibawain.” Mia


menerima piring dari Alex, ia membiarkan selimutnya melorot memperlihatkan


asetnya. “Mas, tolong ambilin bajuku.”


“Buat apa pake baju. Kita masih lanjut, kan?”seringai


mesum Alex menaik-turunkan alisnya.


“Mas, pergi ngantor sana. Ntar telat loh.


Ntar gak bisa meeting. Ntar...”Mia terdiam melihat Alex sudah menempelkan


tangannya ke bagian tubuh Mia yang sensitif.


“Yank, kamu harus tanggung jawab sampai


selesai. Kamu yang mancing, kan. Sekarang makan, habis itu kita lanjut lagi.”kata


Alex.


“Hais, ini jelas modus. Gini amat ya jadi


istrimu, mas.”


“Aku akan lebih lembut, sayang. Nikmati


saja.”tutur Alex genit.


Mia memutar bola matanya, ia menghabiskan


makanan dengan cepat. Perutnya lapar sekali sampai terasa perih. Alex tersenyum


melihat piring kosong di tangan Mia. Ia membawa piring itu keluar dari kamar


mereka. Saat Alex masuk ke kamar lagi, ia langsung mengunci pintunya.


Alex bingung melihat buntelan besar terbuat


dari selimutnya ada di tengah ranjang. “Mia?”panggil Alex.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2