Duren Manis

Duren Manis
Lewatin aja


__ADS_3

Elo datang lagi ke rumah Rara dan kali ini para suami stand by di rumah. Selain untuk menjaga Mia dan Rara dari pesona Elo, mereka juga memberi support agar Rara bisa tenang dengan ujian skripsinya besok.


Selain untuk belajar, Elo juga mengemban misi rahasia. Ia membawa bolu pandan dan bolu coklat untuk memuluskan keinginannya mendekati Riri.


Kedatangan Elo kebetulan disambut Riri yang sedang membaca di ruang keluarga. Mereka saling tersenyum satu sama lain, malu-malu kucing.


Riri : "Eh, kak Elo. Masuk, kak."


Elo : "Hai, Ri. Makasi. Ini buat kamu."


Elo memberikan dua kotak bolu ke tangan Riri dan mengikutinya ke ruang keluarga.


Riri : "Makasi ya kak. Maaf ngerepotin kakak. Silakan duduk dulu. "


Elo melihat buku yang dibaca Riri sama dengan buku yang baru ia mulai baca juga.


Elo : "Kamu baca buku ini?"


Riri : "Iya, kak. Seru juga."


Elo : "Oh ya? Aku baru mulai baca."


Riri : "Seru, kak. Nanti tokoh utamanya mulai... bla, bla, bla..."


Bagus sekali, Riri spoiler tanpa sadar di depan Elo yang cuma senyum-senyum melihatnya cerita dengan semangat. Saat ia menyadari semuanya, Riri sudah menceritakan hampir semua isi buku itu pada Elo.


Riri : "Eh, maaf kak. Aku gak sengaja spoiler ya. Maaf banget."


Elo : "Aku sedih nich."


Riri : "Maaf, kak. Aku buatin minum ya. Jangan sedih, kak."


Elo : "Aku akan berhenti sedih kalau kamu temenin aku disini."


Wajah Riri merona mendengar kata-kata Elo. Elo senang sekali karena misinya berhasil.


Rara dan Mia keluar dari kamar masing-masing. Mereka langsung bergabung dengan Elo di ruang keluarga. Tak lama terdengar tanya jawab diantara Mia, Elo, Rara dan Riri.


Pertanyaan ringan Riri terus di jawab Elo sambil menatapnya. Mia menyikut lengan Rara, menunjuk kelakuan Elo,


Mia : "Beneran suka ya."


Rara : "Kayaknya..."


Riri : "Mama sama mb Rara kok bisik-bisik? Hayo ngomong apa?"


Riri bicara sambil memicingkan matanya menatap keduanya. Rara dan Mia kompak menjawab kalo mereka sudah mulai lapar.


Mia : "Kita break dulu ya. Ada yang mau kopi?"


Alex : "Aku mau."


Alex muncul dari ruang kerja dan duduk di ruang keluarga. Elo tersenyum menyapa Alex,


Elo : "Siang, om."


Alex : "Siang. Uda selesai belajarnya?"


Elo : "Dikit lagi, om. Dua bab lagi."


Alex : "Kamu ikut makan disini ya. Tapi maklum masakan rumahan."


Elo : "Saya gak enak ngrepotin, om. Saya makan di luar saja."

__ADS_1


Riri : "Kak, makan disini aja. Kakak coba masakan aku, tadi aku masak sup ayam."


Elo : "Oh ya, iya aku makan disini. Makasi, Ri."


Keduanya saling pandang malu-malu lagi, membuat kening Alex mengkerut menatap keduanya.


Alex : "Loh, Rio mana, Ri?"


Riri : "Lagi ng-gym di ruang olahraga. Masa papa gak denger suaranya."


Alex : "Gak tuh, kan ruang gym dipasangin kedap suara."


Alex bangkit dari duduknya, ia mendekati ruang gym dan membuka pintu. Telinganya sedikit berdenging mendengar musik yang menyentak dari dalam ruangan itu.


Tampak Rio sedang melakukan latihan dasar untuk membentuk otot perutnya.


Alex : "Rio, makan dulu!!"


Alex harus berteriak untuk mengalihkan perhatian Rio,


Rio : "Lima menit kelar, pah."


Alex kembali ke ruang keluarga, Elo masih bicara dengan Riri. Keduanya terlihat sangat akrab dan dekat.


Kening Alex mengkerut melihat keduanya, baru aja dia mau memisahkan keduanya, Mia muncul dari dapur,


Mia : "Makanan sudah siap, ayo kita makan dulu. Elo, ayo gabung sama kita."


Mereka menghabiskan siang itu dengan makan bersama saling mengakrabkan diri. Arnold sudah tidak terlalu cemburu karena Rara memberitahu kemungkinan kalau Elo menyukai Riri.


------


Keesokan paginya, Rara masih sedikit gugup. Apalagi tidak ada yang bisa mengantarnya ke kampus pagi itu. Termasuk Elo juga bilangnya akan datang terlambat.


Selama 1,5 jam di dalam ruang ujian, Rara harus menjawab setiap pertanyaan yang mulai dilontarkan setelah ia selesai presentasi.


Entah kebetulan atau memang seperti itu pertanyaannya, rata-rata pertanyaan yang ditanyakan hampir mirip dengan diskusi Elo dan Rara sebelumnya.


Rara bisa menjawab hampir semua pertanyaan dengan baik. Ia sudah lebih tenang di 30 menit terakhir sebelum ujian berakhir.


Ketika akhirnya semua dosen penguji sudah keluar dari ruangan itu, Rara duduk disana. Masih ada beberapa mahasiswa menunggu ujian berikutnya juga ikut duduk disana.


Setelah ini Rara harus ke ruang jurusan untuk mendengarkan pengumuman kelulusan. Rara masih membereskan kertas-kertas skripsinya yang terdapat beberapa coretan revisi.


Ia harus merevisi sedikit sebelum menjilid skripsinya. Ketika ia ingin keluar ruangan, satu persatu dari si kembar, Mia, Alex, Elo dan Arnold masuk ke dalam sana.


Rara : "Kalian semua datang? Mama, papa?"


Rara tersenyum cerah,


Mia : "Iya dong. Masa kamu ujian, kita gak support. Ayo ke ruang jurusan. Tadi kamu hebat loh."


Rara : "Emangnya mama lihat?"


Elo : "Kita semua nonton dari luar tadi."


Mia : "Takutnya kamu tambah grogi kalo kita masuk. Makanya ngintip di pojokan."


Rara : "Iya loh, grogi banget tadi. Tapi untungnya pertanyaannya mirip sama diskusi kita, kak Elo."


Elo : "Pertanyaanku juga tadi sama. Jadi lancar jawabnya."


Arnold yang belum didekati Rara, mulai cemberut. Ia berjalan paling belakang diantara rombongan mereka.

__ADS_1


Rara : "Loh, mas Arnold mana?"


Kecuekan mereka pada Arnold membuatnya dikerumuni mahasiswi yang kagum dengan ketampanannya. Rara jadi kesal melihat kejadian itu. Padahal Arnold biasa aja, pasang tampang jutek dan dingin.


Arnold sama sekali tidak menanggapi pertanyaan dari para mahasiswi ganjen yang dengan berani memegang lengannya. Rara berjalan mendekati Arnold dengan senyum menggoda.


Rara : "Sayang, kamu kok jauh-jauh sich... Sini..."


Arnold tersenyum tipis mendengar Rara memanggilnya sayang. Ia masih berdiri diam di tempat, saat Rara mendekat dan merangkul lehernya.


Arnold : "Baru sadar aku disini?" Tangan Arnold memeluk pinggang Rara,


Rara : "Mas, jangan nakal disini..."


Arnold : "Ke mobil yuk..."


Rara : "Ntar ya, mas." Kemesraan mereka membuat  semua yang melihat mereka jadi kepanasan.


Arnold mencium kening Rara dan membawanya mendekati keluarga mereka.


Alex : "Arnold terkenal juga ya."


Mia : "Mas juga dilirik tuch. Sapa suruh ganteng."


Alex : "Oh, aku ganteng ya. Gak sadar."


Mereka berjalan bersama menuju ruang jurusan. Mahasiswa lain yang sudah selesai ujian, ikut bergabung bersama mereka menunggu pengumuman kelulusan.


Setelah ketua jurusan datang, mereka berbaris di depan ruangan dan ketua jurusan memberi tahu kalau mereka semua lulus. Untuk nilai bisa mereka lihat melalui tabel nilai masing-masing.


Rara bersorak bersama mahasiswa lain, ia berlari memeluk Mia dan Alex yang duduk berdampingan.


Mia : "Selamat ya, Ra."


Alex : "Selamat ya, Ra."


Rara beralih menatap Arnold. Ia berlari memeluk suaminya itu dan mencium pipinya dengan gemas.


Arnold : "Uda lulus kan? Ingat sama janjimu?"


Rara : "Yang mana?"


Arnold menyentuh perut Rara dan mengusapnya lembut.


Rara : "Sedapetnya ya. Jangan buru-buru."


Arnold : "Kita honeymoon yuk."


Rara : "Mauu...!!!"


Keduanya masih asyik pelukan membuat Elo dan Riri saling pandang dan tersenyum malu.


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2