
Di malam yang sama, suasana kantin kampus sangat tenang dan damai. Beberapa orang duduk di meja kantin, mengerjakan sesuatu di laptop mereka.
Rio sedang duduk di meja kantin, mengerjakan tugasnya yang menumpuk tinggi.
Kaori tampak duduk disampingnya membantunya mengerjakan beberapa tugas.
Kaori : "Kau terlalu sibuk bekerja. Aku kan sudah bilang berhenti dulu."
Rio : "Iya aku dengar. Tapi tolong bantu kerjakan tugasku."
Kaori : "Kamu gak liat aku lagi ngapain?"
Rio : "Oh iya. Hehe..."
Satu persatu tumpukan tugas mulai berpindah ke sisi depan mereka tanda sudah selesai. Kaori merenggangkan tangannya yang pegal. Ia merasakan ikatan rambut ekor kudanya mengendur dan ingin memperbaikinya.
Malam itu Kaori memakai blus sabrina dengan lengan yang pendek. Ketika ia mengangkat kedua tangannya untuk mengikat ulang rambutnya, Rio bisa melihat dengan jelas ketiak putih mulus Kaori dan juga sedikit bagian samping dadanya.
Glup! Rio menelan salivanya. Sensasi geli mulai menggerayangi bawah perutnya. Ia mencoba berkonsentrasi dengan tugasnya, tapi pemandangan disampingnya lebih menggoda.
Kaori tidak menyadari perbuatannya membuat jakun Rio naik turun. Ia malah berlama-lama mengangkat tangannya.
Rio memperhatikan sekitarnya, mereka cukup jauh dari pusat keramaian di tengah kantin. Tidak ada seorangpun disekitar mereka. Jadi hanya Rio yang bisa melihat pemandangan yang disuguhkan Kaori.
Rio : "Kaori..."
Kaori : "Hmm...?"
Rio : "Boleh cium?"
Kaori : "Gila kamu. Ini dikampus. Siapa saja bisa memergoki kita."
Kaori menoleh ke samping, keningnya mengkerut melihat arah mata Rio yang sedang menatap ketiaknya.
Dengan cepat Kaori menurunkan tangannya. Ia sadar kalau sebagian dadanya mungkin sudah dilihat Rio.
Kaori : "Iih, kamu tuch. Matamu lihat kemana?!"
Rio : "Apa?"
Rio kaget ketika tangan Kaori memukul pahanya. Wajahnya memerah melamunkan hal jorok tentang Kaori tadi.
Kaori : "Kenapa mukamu merah? Kamu mikir apa sich? Pasti kamu nglamun jorok ya"
Rio : "Gak ada!!"
Kaori : "Ditanya baik-baik malah ngegas."
Rio : "Iya, maaf. Aku gak sengaja."
Kaori : "Cepat selesaikan tugasmu. Aku mau balik ke asrama."
Rio : "Yah, jangan dong. Temenin aku abis ini."
Kaori : "Mau ngapain?"
Rio : "Masi ada waktu, kita jalan-jalan bentar."
Kaori : "Iya, deh."
Asrama mereka terbuka sampai jam 11 malam. Sesuai dengan perpustakaan yang buka sampai jam 10.30 malam. Jadi mahasiswa yang masih mengerjakam tugas, bisa tenang kembali ke asrama.
Rio menyelesaikan semua tugasnya dengan cepat. Ia mengemasi tugasnya ke dalam tas dan mengajak Kaori meninggalkan tempat itu. Merek menuju parkiran mobil asrama.
Kaori : "Kita mau kemana, Rio?"
Rio : "Ke belakang bentar."
Rio mengemudikan mobilnya ke daerah belakang kampus. Wilayah itu masih satu areal dengan kampus dan menjadi tempat favorit pasangan mahasiswa yang sedang pacaran.
Rio menghentikan mobilnya di parkiran tempat melihat view kota di malam hari. Kerlipan lampu dibawah sana tampak indah.
Beberapa mobil tampak terparkir di areal parkir juga. Entah dimana dan lagi ngapain penghuninya.
Yang jelas ada CCTV di lokasi itu dan petugas keamanan yang sering patroli. Jadi tidak memungkinkan untuk mahasiswa berbuat hal-hal diluar batas kewajaran.
Rio keluar dari mobilnya ia berjalan ke bagian pintu penumpang dan membuka pintu untuk Kaori.
__ADS_1
Kaori : "Hihi..."
Rio : "Kenapa ketawa?"
Kaori : "Kamu kenapa sich? Aneh dech. Biasanya juga cuek."
Rio : "Kamu gak suka aku gini?"
Kaori : "Suka kok. Cuma aneh aja."
Rio menatap mata Kaori, merapikan poninya yang sedikit berantakan. Ia mulai menunduk membuat Kaori semakin bersandar di body mobil.
Kaori : "Rio, jangan nakal. Disini ada pengawas."
Rio : "Haih... Susah amat ya mau cium doang."
Kaori memukul lengan Rio,
Rio : "Addooww!! Sakit!"
Kaori : "Kamu nih! Sejak kita pacaran, minta cium trus. Bibirku sakit tau!"
Rio : "Habisnya bibirmu enak."
Kaori : "Kamu kira bibirku makanan?"
Rio : "Iya dan aku laper."
Kaori mendorong wajah Rio yang mendekat lagi. Ia berpindah ke depan mobil, duduk di pinggiran tebing.
Rio menyusul ikut duduk di sampingnya.
Rio : "Kaori..."
Kaori : "Hmm?"
Rio : "Kamu marah ya?"
Kaori : "Nggak."
Rio : "Aku minta maaf."
Mereka diam lagi, sibuk menatap jauh ke bawah sana.
Rio : "Aku boleh nanya?"
Kaori : "Nanya apa?"
Rio : "Waktu pertama aku cium kamu, kenapa kamu gak marah?"
Kaori : "Aku marah kan? Ngambek gitu."
Rio : "Maksudku waktu aku nyiumnya. Bukan sesudahnya."
Kaori : "Itu... Aku...
Rio : "Kamu juga suka aku cium kan?"
Kaori : "Nggak! Apa sich? Rese banget!"
Kaori memandang ke tempat lain, ia tidak sengaja memergoki ada pasangan yang sedang berciuman di sebelah mereka, berselat dua mobil saja.
Kaori memejamkan matanya sambil berbalik menghadap Rio.
Rio : "Kenapa?"
Kaori : "Ada yang lagi ciuman itu di belakang."
Rio mendongakkan kepalanya melihat melalui kepala Kaori. Memang ada yang lagi ciuman didepan mobilnya.
Mata Rio mengamati CCTV di sudut parkiran. Mungkin mereka berani melakukannya karena terhalang mobil.
Rio ganti menatap Kaori yang masih memejamkan matanya.
Ia menunduk dan mengecup bibir gadis itu. Kaori spontan menjauhkan wajahnya dari Rio.
Kaori : "Kamu tuch!"
__ADS_1
Rio : Apa sich?"
Kaori : "Ada CCTV disini."
Rio : "Gak akan keliatan."
Kaori : "Gak keliatan gimana? Itu nyorot kesini."
Rio : "Uda kehalang mobil. Boleh lanjut?"
Kaori gak bisa menghindar karena Rio sudah memeluknya erat. Kaori memejamkan matanya menerima ciuman Rio.
Sementara ponsel Rio terus bergetar di dalam mobil. Ada panggilan masuk dari Riri yang kebingungan mencarinya.
Riri ingin v-call dengan Mia tapi Mia mengangkat telpon darinya. Riri berpikir mungkin Rio sedang online dengan Mia.
Puas mencium Kaori, Rio mengajak gadis itu pulang ke asrama. Ia menyempatkan mencium tangan Kaori sebelum mulai menjalankan mobilnya.
Ponselnya kembali berdengung, Kaori mencari asal suara itu dan melihat panggilan masuk dari Riri.
Kaori : "Halo, Ri?"
Riri : "Kaori, apa Rio tadi online sama mama?"
Kaori : "Gak ada, Ri. Dari tadi Rio gak online sama sapa-sapa. Kenapa?"
Riri : "Aku mau v-call mama kok gak diangkat ya. Aku jadi cemas nich."
Kaori : "Coba aku v-call dari sini ya. Matiin dulu."
Kaori menekan tombol merah dan mencari wa Mia. Ia menekan sambungan v-call dan menunggu. Tidak ada yang mengangkatnya.
Kaori mencari wa Alex dan menekan sambungan v-call lagi. Kali ini Alex me-reject v-call itu.
Kaori membaca chat masuk dari Alex.
Alex : "Mama sudah melahirkan, nanti call lagi ya."
Kaori : "Rio, mamamu sudah melahirkan!"
Rio : "Apa?! Dimana?"
Kaori : "Papamu bilang nanti call lagi. Aku jawab apa?"
Rio : "Tanya di rumah sakit mana. Trus kasi tahu Riri, suruh siap-siap. Aku mau kesana sekarang."
Kaori mengetik chat dengan cepat ke Alex dan ke Riri. Alex membalas chat itu dengan chat singkat rumah sakit tempat Mia melahirkan. Sementara Riri menjawab ok.
Mereka segera sampai di parkiran asrama dan Riri sudah menunggu disana.
Kaori : "Berikan tugasmu, aku yang ngumpul. Besok kalian kuliah?"
Riri : "Ya, kami balik pagi. TapiΒ kalau gak sempat, aku chat ya."
Rio : "Makasi, sayang."
Rio menyerahkan tugasnya dan mengerdipkan matanya menggoda Kaori.
Kaori : "Iih, gak malu... Sampaikan salamku buat mamamu ya. Selamat sudah melahirkan. Kirimin aku foto baby-nya."
Riri : "Ok."
Si kembar berangkat menuju rumah sakit tempat Mia melahirkan.
Riri : "Untung saja ada Kaori. Kamu gak repot buat tugas sama ngumpulnya."
Rio : "Hehe... Pacarnya siapa dulu. Rio..."
Riri cuma tersenyum melihat tingkat Rio. Ia menggenggam tangannya dengan erat. Sejak tidak bisa menghubungi Mia, perasaannya sedikit tidak enak.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²