
Setelah puas
berciuman dengan Riri, Elo menggandeng tangan Riri masuk lagi ke dalam mansion.
Rio dan Kaori sudah siap bersama Rebecca. Mereka akan pergi piknik di taman
kota sambil menikmati pemandangan di pinggir danau.
Elo : “Rebecca,
buku yang kuminta sudah siap?”
Rebecca : “Sudah,
tuan.”
Rio : “Apa kita
juga harus membaca buku?”
Rebecca : “Saya
sudah siapkan permainan untuk kita bertiga, Rio.”
Rio : “Ini baru
asyik.”
Elo : “Ayo kita
berangkat.”
Mereka segera masuk
ke dalam dua mobil yang berbeda. Elo tidak mau menarik perhatian dengan membawa
limosin. Elo mengendarai mobilnya bersama Riri, sementara Rebecca membawa Rio
dan Kaori.
Mereka berlima
sampai di taman yang dimaksud Rebecca. Semilir angin menerpa wajah Riri saat ia
turun dari mobil. Beberapa orang tampak berkumpul di beberapa tempat untuk
berpiknik di hari yang cerah ini.
Rebecca : “Kita
bisa duduk di sana.Saya sudah siapkan tempat yang bagus. Ayo.”
Mereka membawa
bekal yang sudah disiapkan Rebecca dan juga beberapa buku. Rio menurunkan kotak
permainan mereka juga.
Setelah menggelar
tikar besar di tempat yang ditunjuk Rebecca, mereka mulai bermain. Tak lama,
Elo mengajak Riri membaca buku yang baru saja ia beli. Mereka duduk berdua
saling bersandar satu sama lain.
Sesekali Rebecca
membagikan bekal makanan yang tampak lezat. Rio dan Kaori asyik bermain seperti
anak kecil dan Rebecca tampak seperti pengasuh bagi keduanya.
Melihat keceriaan
mereka bertiga, Elo berbisik pada Riri,
Elo : “Ri, kita ke
tempat lain yuk?”
Riri : “Kemana?”
Elo : “Sekitar 10
menit dari sini ada pasar khusus barang-barang antik. Mungkin ada yang kau suka
disana. Aku ingin memberimu sesuatu untuk kenang-kenangan pertama kali kita
kesini.”
Riri : “Ayo, mas.
Tapi mereka...?”
Riri menatap ketiga
orang yang sedang bermain di depannya.
Elo : “Kita gak
lama kok. Ayo, Ri.”
Riri dan Elo berjalan
menuju mobil Elo dan mereka menuju pasar yang jaraknya 20 menit dari taman
tadi.
*****
Suasana pasar cukup
ramai dengan pedagang barang antik yang tidak berhenti menjajakan barang
dagangan mereka. Pengunjung pasar juga cukup ramai berdatangan dari segala
penjuru.
__ADS_1
Elo berjalan sambil
menggenggam tangan Riri, ia tidak ingin Riri terpisah dengannya. Mereka mulai
melihat-lihat barang dagangan yang digelar pedagang di lapak-lapak dadakan
mereka.
Meskipun rata-rata
barang yang mereka jual sama, tidak terjadi kecurangan antar pedagang. Mereka
tetap berjualan dengan gembira dan menarik pelanggan mereka sendiri.
Riri memperhatikan
pembatas buku yang terbuat dari daun yang dikeringkan. Bentuk dan warnanya
sangat unik. Ia ingat pernah melihatnya di internet dan tidak menyangka kalau
bisa melihatnya langsung.
Elo : “Kamu suka?”
Riri : “Iya, mas.
Ini lucu banget.”
Elo bertanya pada
penjualnya dan langsung menyebutkan harganya. Elo sedikit menawar tapi penjual
itu bilang harganya sudah pas. Riri melihat Elo mengeluarkan dompetnya yang
mengeluarkan selembar mata uang asing.
Penjual yang
melihat Elo sangat mesra dengan Riri, menyodorkan sebuah pembatas buku lagi
untuk Riri. Mereka mengucapkan terima kasih dan berlalu dari sana.
*****
Ketika akan kembali
ke mobil karena hari beranjak sore, rombongan turis tiba-tiba menerjang mereka
berdua. Elo terpisah dari Riri yang terdorong ke pinggir toko kue. Ia mencoba
melihat kemana Elo pergi tapi terhalang beberapa turis. Diantara mereka ada
yang menghadang langkah Riri dan membawanya pergi.
Elo berteriak mencari
Riri yang sudah menghilang di tengah kerumunan orang. Ia mengabaikan tatapan
semua orang yang menatapnya dengan pandangan aneh dan kasihan. Elo tidak
menyadari ponselnya terus berdering, menerima beberapa pesan chat dari orang
Saat ia
menyadarinya hari sudah gelap, ia melihat beberapa foto Riri yang tertidur di
dalam sebuah mobil. Elo menelpon orang yang mengirim foto itu,
Elena : “Halo,
sepupu sayang.”
Elo : “Elena?
Dimana Riri??!!”
Elena : “Tenang,
sepupu. Semakin kau tenang semakin cepat kau temukan Riri. Aku benci nama itu.”
Elo : “Dimana kau?
Apa maumu?”
Elena : “Ayo kita
dinner. Berdua saja.”
Elo : “Dimana?”
Elena : “Mansion,
tempat kita dulu sering dinner. Ups, maksudku tempat kau menyiapkan dinner
untuk kita. Aku sudah siapkan kejutan untukmu. Jangan telat, sayang.”
Elo berlari menuju
tempat parkir dengan cepat, ia mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju mansion.
*****
Sampai di mansion,
Elo berlari ke taman belakang tempat dulu ia sering membuat dinner romantis
untuk Elena tapi Elena tidak pernah datang dengan berbagai alasan. Suasana taman
belakang cukup romantis dengan meja dan lilin.
Elena tampak sudah
duduk di kursi yang ada, berpakaian sedikit terbuka memperlihatkan asetnya.
Elo : “Dimana,
Riri?”
__ADS_1
Elena : “Bisa gak,
gak nyebut dia dulu. Fokus sama aku, sepupuku sayang.”
Elo : “Dia
baik-baik aja kan?”
Elena : “Tanya lagi
tentang dia, kamu gak akan ketemu dia lagi. Paham? Sekarang cepat makan.”
Setelah selesai
makan malam, Elo mendekati Elena yang sudah menunggunya di meja bar. Elena
sedang menikmati segelas wine, ia duduk dengan pose yang cukup menggoda.
Elo : “Cepat bilang
apa maumu?”
Elena : “Sabar
sepupu sayang. Kita minum dulu. Kamu mau cepat ketemu Riri kan?”
Elo : “Berapa
banyak yang harus kuminum?”
Elena : “Hanya satu
gelas, dan kau bisa bertemu Riri. Dia ada di salah satu kamar di mansion ini.
Kamar yang sangat kau sukai.”
Elena mendekat pada
Elo dan mengecup pipinya. Elo hampir berdiri dan melangkah menuju kamarnya,
Elena : “Kau belum
minum, sepupu. Kalau kau tidak minum, kau tidak akan menemukan Riri disana.
It’s the deal. Minumlah.”
Tangan Elo mengepal
dengan keras, ia mengambil gelas yang disodorkan Elena dan meneguk isinya
dengan cepat. Rasa panas membakar tenggorokan Elo setelah cairan berwarna merah
itu masuk ke tenggorokannya. Ia menjatuhkan gelas yang dipegangnya dan berlari
menuju kamarnya di lantai dua.
Brak! Pintu kamar
terbuka dengan keras.
Elo : “Riri!”
Elo mencari ke
setiap sudut kamar, tapi tidak menemukan Riri. Ia berlari ke kamar Riri tapi
tetap tidak menemukan gadis itu.
Elo : “Berpikir,
Elo. Apa yang tadi Elena bilang? Kamar yang sangat kusukai.”
Seperti ingat
sesuatu, Elo berlari cepat menuruni tangga, langkahnya mulai tidak fokus. Entah
obat apa yang dimasukkan Elena ke dalam minumannya tadi. Ia mulai pusing, dengan
langkah tertatih, Elo berjalan mendekati kamarnya yang dulu. Kamar yang selalu
ia tempati saat berkunjung ke mansion kakeknya itu. Kamar itu penuh buku dan
juga banyak permainan.
Elo merasakan kepalanya
semakin pusing, pandangannya mulai kabur, samar dilihatnya sosok perempuan
mendekatinya.
Elo : “Siapa?”
Sosok itu mulai
mendorong Elo keatas ranjang dan mulai melucuti pakaiannya. Tepat saat itu
Elena masuk ke dalam kamar tampak senang dengan apa yang ia lihat diatas
ranjang.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲~~~~