Duren Manis

Duren Manis
Ulah Elena (2)


__ADS_3

Setelah puas


berciuman dengan Riri, Elo menggandeng tangan Riri masuk lagi ke dalam mansion.


Rio dan Kaori sudah siap bersama Rebecca. Mereka akan pergi piknik di taman


kota sambil menikmati pemandangan di pinggir danau.


Elo : “Rebecca,


buku yang kuminta sudah siap?”


Rebecca : “Sudah,


tuan.”


Rio : “Apa kita


juga harus membaca buku?”


Rebecca : “Saya


sudah siapkan permainan untuk kita bertiga, Rio.”


Rio : “Ini baru


asyik.”


Elo : “Ayo kita


berangkat.”


Mereka segera masuk


ke dalam dua mobil yang berbeda. Elo tidak mau menarik perhatian dengan membawa


limosin. Elo mengendarai mobilnya bersama Riri, sementara Rebecca membawa Rio


dan Kaori.


Mereka berlima


sampai di taman yang dimaksud Rebecca. Semilir angin menerpa wajah Riri saat ia


turun dari mobil. Beberapa orang tampak berkumpul di beberapa tempat untuk


berpiknik di hari yang cerah ini.


Rebecca : “Kita


bisa duduk di sana.Saya sudah siapkan tempat yang bagus. Ayo.”


Mereka membawa


bekal yang sudah disiapkan Rebecca dan juga beberapa buku. Rio menurunkan kotak


permainan mereka juga.


Setelah menggelar


tikar besar di tempat yang ditunjuk Rebecca, mereka mulai bermain. Tak lama,


Elo mengajak Riri membaca buku yang baru saja ia beli. Mereka duduk berdua


saling bersandar satu sama lain.


Sesekali Rebecca


membagikan bekal makanan yang tampak lezat. Rio dan Kaori asyik bermain seperti


anak kecil dan Rebecca tampak seperti pengasuh bagi keduanya.


Melihat keceriaan


mereka bertiga, Elo berbisik pada Riri,


Elo : “Ri, kita ke


tempat lain yuk?”


Riri : “Kemana?”


Elo : “Sekitar 10


menit dari sini ada pasar khusus barang-barang antik. Mungkin ada yang kau suka


disana. Aku ingin memberimu sesuatu untuk kenang-kenangan pertama kali kita


kesini.”


Riri : “Ayo, mas.


Tapi mereka...?”


Riri menatap ketiga


orang yang sedang bermain di depannya.


Elo : “Kita gak


lama kok. Ayo, Ri.”


Riri dan Elo berjalan


menuju mobil Elo dan mereka menuju pasar yang jaraknya 20 menit dari taman


tadi.


*****


Suasana pasar cukup


ramai dengan pedagang barang antik yang tidak berhenti menjajakan barang


dagangan mereka. Pengunjung pasar juga cukup ramai berdatangan dari segala


penjuru.

__ADS_1


Elo berjalan sambil


menggenggam tangan Riri, ia tidak ingin Riri terpisah dengannya. Mereka mulai


melihat-lihat barang dagangan yang digelar pedagang di lapak-lapak dadakan


mereka.


Meskipun rata-rata


barang yang mereka jual sama, tidak terjadi kecurangan antar pedagang. Mereka


tetap berjualan dengan gembira dan menarik pelanggan mereka sendiri.


Riri memperhatikan


pembatas buku yang terbuat dari daun yang dikeringkan. Bentuk dan warnanya


sangat unik. Ia ingat pernah melihatnya di internet dan tidak menyangka kalau


bisa melihatnya langsung.


Elo : “Kamu suka?”


Riri : “Iya, mas.


Ini lucu banget.”


Elo bertanya pada


penjualnya dan langsung menyebutkan harganya. Elo sedikit menawar tapi penjual


itu bilang harganya sudah pas. Riri melihat Elo mengeluarkan dompetnya yang


mengeluarkan selembar mata uang asing.


Penjual yang


melihat Elo sangat mesra dengan Riri, menyodorkan sebuah pembatas buku lagi


untuk Riri. Mereka mengucapkan terima kasih dan berlalu dari sana.


*****


Ketika akan kembali


ke mobil karena hari beranjak sore, rombongan turis tiba-tiba menerjang mereka


berdua. Elo terpisah dari Riri yang terdorong ke pinggir toko kue. Ia mencoba


melihat kemana Elo pergi tapi terhalang beberapa turis. Diantara mereka ada


yang menghadang langkah Riri dan membawanya pergi.


Elo berteriak mencari


Riri yang sudah menghilang di tengah kerumunan orang. Ia mengabaikan tatapan


semua orang yang menatapnya dengan pandangan aneh dan kasihan. Elo tidak


menyadari ponselnya terus berdering, menerima beberapa pesan chat dari orang


Saat ia


menyadarinya hari sudah gelap, ia melihat beberapa foto Riri yang tertidur di


dalam sebuah mobil. Elo menelpon orang yang mengirim foto itu,


Elena : “Halo,


sepupu sayang.”


Elo : “Elena?


Dimana Riri??!!”


Elena : “Tenang,


sepupu. Semakin kau tenang semakin cepat kau temukan Riri. Aku benci nama itu.”


Elo : “Dimana kau?


Apa maumu?”


Elena : “Ayo kita


dinner. Berdua saja.”


Elo : “Dimana?”


Elena : “Mansion,


tempat kita dulu sering dinner. Ups, maksudku tempat kau menyiapkan dinner


untuk kita. Aku sudah siapkan kejutan untukmu. Jangan telat, sayang.”


Elo berlari menuju


tempat parkir dengan cepat, ia mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju mansion.


*****


Sampai di mansion,


Elo berlari ke taman belakang tempat dulu ia sering membuat dinner romantis


untuk Elena tapi Elena tidak pernah datang dengan berbagai alasan. Suasana taman


belakang cukup romantis dengan meja dan lilin.


Elena tampak sudah


duduk di kursi yang ada, berpakaian sedikit terbuka memperlihatkan asetnya.


Elo : “Dimana,


Riri?”

__ADS_1


Elena : “Bisa gak,


gak nyebut dia dulu. Fokus sama aku, sepupuku sayang.”


Elo : “Dia


baik-baik aja kan?”


Elena : “Tanya lagi


tentang dia, kamu gak akan ketemu dia lagi. Paham? Sekarang cepat makan.”


Setelah selesai


makan malam, Elo mendekati Elena yang sudah menunggunya di meja bar. Elena


sedang menikmati segelas wine, ia duduk dengan pose yang cukup menggoda.


Elo : “Cepat bilang


apa maumu?”


Elena : “Sabar


sepupu sayang. Kita minum dulu. Kamu mau cepat ketemu Riri kan?”


Elo : “Berapa


banyak yang harus kuminum?”


Elena : “Hanya satu


gelas, dan kau bisa bertemu Riri. Dia ada di salah satu kamar di mansion ini.


Kamar yang sangat kau sukai.”


Elena mendekat pada


Elo dan mengecup pipinya. Elo hampir berdiri dan melangkah menuju kamarnya,


Elena : “Kau belum


minum, sepupu. Kalau kau tidak minum, kau tidak akan menemukan Riri disana.


It’s the deal. Minumlah.”


Tangan Elo mengepal


dengan keras, ia mengambil gelas yang disodorkan Elena dan meneguk isinya


dengan cepat. Rasa panas membakar tenggorokan Elo setelah cairan berwarna merah


itu masuk ke tenggorokannya. Ia menjatuhkan gelas yang dipegangnya dan berlari


menuju kamarnya di lantai dua.


Brak! Pintu kamar


terbuka dengan keras.


Elo : “Riri!”


Elo mencari ke


setiap sudut kamar, tapi tidak menemukan Riri. Ia berlari ke kamar Riri tapi


tetap tidak menemukan gadis itu.


Elo : “Berpikir,


Elo. Apa yang tadi Elena bilang? Kamar yang sangat kusukai.”


Seperti ingat


sesuatu, Elo berlari cepat menuruni tangga, langkahnya mulai tidak fokus. Entah


obat apa yang dimasukkan Elena ke dalam minumannya tadi. Ia mulai pusing, dengan


langkah tertatih, Elo berjalan mendekati kamarnya yang dulu. Kamar yang selalu


ia tempati saat berkunjung ke mansion kakeknya itu. Kamar itu penuh buku dan


juga banyak permainan.


Elo merasakan kepalanya


semakin pusing, pandangannya mulai kabur, samar dilihatnya sosok perempuan


mendekatinya.


Elo : “Siapa?”


Sosok itu mulai


mendorong Elo keatas ranjang dan mulai melucuti pakaiannya. Tepat saat itu


Elena masuk ke dalam kamar tampak senang dengan apa yang ia lihat diatas


ranjang.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲~~~~


__ADS_2