
DM2 - Ngambek 5 menit
“Masalah apa, mah? Kami gak bertengkar,
tiba-tiba Gadis bilang mau tinggal disini sehari. Ini sudah dua hari, mah. Rio
mau Gadis pulang.”
“Mama gak berhak ngasi tau kamu, tapi
sepertinya Gadis juga gak akan ngasi tau. Ada orang yang mengirimkan pesan
singkat terus menerus ke HP Gadis. Isinya mama baca benar-benar kasar dan
jahat. Orang itu mengatai Gadis sebagai wanita mandul.”jelas Aira.
“Tapi kan Gadis gak mandul. Gadis pernah
hamil.”protes Rio.
“Iya, mama tau. Tapi kalau kamu terima
pesan singkat sampe 20 sehari bahkan ada yang sampai 30 pesan sehari, pasti
stress kan.”
Rio menyesalkan kenapa Gadis gak mau cerita
padanya tentang pesan singkat itu. Setidaknya mereka bisa mencari tahu
bersama-sama. Aira mengatakan kalau ia sudah berusaha menelpon orang yang
mengirimkan pesan itu tapi selalu di reject. Bahkan nomornya langsung berganti
dengan cepat.
“Tapi anehnya, sejak Gadis sampai disini,
pesan singkatnya berhenti, Rio. Apa mungkin Gadis diikuti?”
Rio tampak berpikir sebentar, “Sebaiknya
Gadis ganti nomor baru. Aku mau ketemu dia, mah.”
Aira mengatakan kalau Gadis sedang berada
di kamarnya. Sejak kembali, Gadis lebih banyak tidur. Rio beranjak ke kamar
Gadis, ia membuka pintu perlahan dan melihat Gadis memang sedang tidur di atas
ranjangnya.
Darah Rio berdesir melihat piyama seksi
yang dipakai Gadis, tersingkap sampai pangkal pahanya. Ia ingin menyentuh
Gadis, tapi melihat penampilannya di cermin, Rio memutuskan mandi dulu. Suara
air di kamar mandi, membangunkan Gadis dari tidurnya.
Keningnya mengkerut bingung, siapa yang
sedang mandi. Atau dia yang lupa mematikan kran air tadi. Suara air berhenti.
Ceklek! Rio keluar dari sana hanya memakai handuk sambil membawa pakaiannya.
“Rio?! Ngapain kamu disini?”
“Kenapa? Aku suamimu, memangnya aku sudah
kehilangan hakku bisa masuk ke kamarmu? Lagian aku pernah bilang kan, kamu cuma
boleh ngambek 5 menit.”
Rio menatap Gadis dengan intens, ia berjalan
mendekat sambil menjilat bibirnya. “Yank, uda lewat sehari ini. Harusnya
jatahku double.”kata Rio menaik-turunkan alisnya.
Gadis menahan tubuh Rio, ia tidak mau
mamanya mendengar suara pertempuran mereka disini. Lagipula Gadis masih
ngambek, ia ingin Rio membujuknya.
“Kalo gitu ayo pulang. Kita lanjutkan di
kamar kita, yank.”
__ADS_1
Gadis marah pada Rio yang hanya memikirkan
ke arah sana saja. Ia sedang marah saat ini, tapi belum memberikan alasannya
pada Rio. Setidaknya Rio membujuknya agar mengatakan alasan kekesalannya.
“Aku sudah tau. Mama yang cerita kamu
terima teror pesan singkat. Kamu kan bisa ganti nomor biar gak diganggu lagi.”
“Aku gak mau ganti nomorku. Nomor ini sudah
kupakai sejak SMP. Teman-temanku hanya tau nomor ini saja.”
Rio menanyakan mau Gadis apa dan Gadis
mengatakan mereka harus mencari tahu siapa pengirim pesan itu yang sangat ingin
hamil anak Rio. Atau mencari seseorang yang bisa membantu mereka mendapatkan
seorang anak. Kening Rio mengkerut, ia memakai pakaiannya lagi tanpa bicara.
Tidak mau menanggapi perkataan Gadis tentang anak lagi.
“Kita kembali dulu, dech. Siapa tau sudah
berakhir.”ajak Rio.
“Aku nggak mau kembali sampai kau setuju
dengan syaratku. Kau harus menikah lagi dan punya anakmu sendiri!”
Duarr!!! Kata-kata Gadis bagaikan petir di
siang bolong mengejutkan Rio. Pria itu terhuyung hampir jatuh dari berdirinya. Ia
mengepalkan tangannya, “Apa kau sudah gila?”Rio ngos-ngosan menahan emosinya
yang hampir meledak. “Kalau itu maumu, aku akan turuti, tapi hanya dengan wanita
yang bisa hamil. Dan kau yang harus mengurusnya, ibu dan anak itu nanti. Aku
gak akan ikut campur lagi! Terserah!” bentak Rio emosi. “Kemasi
barang-barangmu, kita kembali sekarang juga. Aku tunggu di luar!”
dengan keras hingga Aira terlonjak dari duduknya di ruang tamu. Rio berjalan
kembali ke ruang tamu tempat Aira masih menunggu mereka.
“Rio...”Aira terpana melihat Rio sudah
berlinang air mata berhenti di depannya. Ia mendengar kata-kata Gadis dan Rio
dari dalam kamar Gadis.
Rio bersimpuh di depan Aira, memeluk kaki
mertuanya itu, “Mah... kenapa... Gadis mau... menyerahkan aku... pada wanita
lain... Aku bukan mesin... pembuat anak, mah. Aku... hatiku sakit, mah.”
Aira merasakan kakinya basah, ia tahu Rio
sedang menangis di kakinya. Aira hanya bisa meminta Rio bersabar dengan sikap
keras kepala Gadis. Tapi bagaimana bisa putrinya itu meminta Rio menikah lagi?
Rio dan Gadis sama-sama menangisi takdir
yang mempermainkan hidup mereka sejak awal. Pada awalnya mereka bisa mengatasinya
bersama, tapi kesabaran Gadis sudah sampai batasnya. Ia terlalu mencintai Rio,
sampai mengijinkan Rio untuk menikah lagi demi kebahagiaannya. Gadis tidak tahu
apa keputusannya ini akan menjadi bumerang atau tidak bagi dirinya.
Gadis membawa kopernya keluar kamarnya. Ia
melihat Rio termangu duduk di lantai ruang tamunya. “Rio, kenapa kamu duduk di
bawah. Ayo, kita pulang.”ajak Gadis.
Rio tidak merespon kata-kata Gadis, ia
tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Rio...”panggil Gadis mengguncang bahu Rio.
__ADS_1
Rio tersentak menatap Gadis yang berjongkok di depannya. “Rio, ayo kita
pulang.”
Rio hanya mengangguk, ia mengelap sisa-sisa
air mata di wajahnya. Ibu mertuanya juga entah dimana, keduanya keluar dari
rumah Gadis, lalu pergi dengan mobil Rio.
Sepanjang perjalanan, Rio hanya diam
menyetir mobilnya. Sesekali Gadis melirik wajah Rio yang tanpa ekspresi. Gadis
ingin mengatakan sesuatu, tapi urung melihat kondisi Rio sepertinya sedang
tidak ingin bicara. Mereka hampir sampai di rumah Alex, Rio menghentikan
mobilnya di pinggir jalan.
Gadis menoleh pada Rio yang sudah
menundukkan kepalanya di kemudi, “Gadis, kamu serius ingin aku menikah lagi?
Kenapa?”
“Rio, kamu masih bisa punya anak kandungmu
sendiri. Kamu sehat.”
“Apa kamu gak sakit hati?”
“Semua wanita tidak akan terima suaminya
menikah lagi, Rio.”
Rio mengangkat kepalanya, ia menoleh
menatap Gadis yang sudah berlinang air mata. “Aku melakukan ini agak kamu bisa
memiliki anakmu sendiri seperti saudara-saudaramu yang lain. Aku tidak akan
minta pisah. Ayo kita hadapi ini bersama ya.”
“Sebesar itu cintamu padaku, Gadis.”
“Aku rela meski nyawa ini harus kuserahkan
juga.”
Rio membungkam mulut Gadis dengan mulutnya,
ia *******, menyesap, mengulum bibir Gadis sampai keduanya sesak nafas. Dada
Gadis naik turun seiring hasratnya yang mulai membara. Keduanya saling menatap
penuh cinta. Masih dengan nafas tersengal, Rio menjalankan mobilnya menuju
apartment Alex.
Setelah memarkir mobil di tempat yang sudah
disediakan, Rio menarik tangan Gadis, masuk ke dalam lift yang langsung
terbuka. Rio tidak bisa menahan hasratnya, ia kembali mencium bibir istrinya
itu.
Pintu lift terbuka dengan cepat di lantai
tempat kamar Alex. Rio membuka pintu apartment itu, lalu mendorong tubuh Gadis
masuk. Gadis berjalan mundur, meraba lehernya, membuka kaosnya sampai menutupi
hidung keatas. Gadis sengaja menggigit bibir bawahnya, menggoda Rio.
Rio juga sama terburu-burunya membuka
pakaiannya, keduanya kembali menyatu atas nama cinta. Saling membantu
melepaskan ketegangan dalam tubuh masing-masing sampai keduanya lemas tak
berdaya.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1