
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Riri tidak mendengar ketika Mia memanggilnya.
Rara : "Riri... Riri?? Hei...!!"
Riri : "Apa, kak?"
Rara : "Dipanggil mama tuch."
Mia : "Ri, ikut mama sini."
Riri : "Mau kemana mah?"
Mia : "Papa mau bicara bentar."
Riri : "Riri gak mau. Takut."
Mia : "Papamu gak marah, ada mama. Ayo, sini."
Riri menelan salivanya, ia bangkit perlahan dari sisi ranjang Rara.
Rara : "Semangat, tante Riri..."
Riri : "Gak jadi, dech mah."
Mia : "Ayo, bentar aja. Sama mama kok."
Riri memejamkan matanya menarik nafas pelan dan berjalan mengikuti mamanya. Di ruang keluarga, Rio dan Kaori sedang menjaga si kembar yang tertidur lelap beralas kasur kecil.
Kaori menatap Riri yang terlihat tegang,
Kaori : "Waduh, gitu amat mukanya Riri. Apa dilamar kayak gitu rasanya?"
Rio : "Gaklah."
Kaori : "Darimana kamu tahu? Emangnya kamu pernah nglamar cewek?"
Rio : "Pernah."
Kaori : "Hah! Kapan? Siapa ceweknya?"
Rio menahan senyumnya melihat wajah panik Kaori. Pacarnya itu terlihat kebingungan.
Rio : "Jangan berisik. Kenapa kamu mau tahu? Kamu kan gak peduli sama aku."
Kaori : "Aku kan pacar kamu. Tega banget..."
Kaori menatap Rio dengan bibir cemberut yang tampak menggemaskan. Rio menggenggam tangan Kaori, gadis itu sempat mengelak. Tapi Rio lebih kuat darinya.
Kaori mencoba menarik tangannya dari Rio. Ia kesal sekali pada Rio.
Rio : "Coba tebak siapa cewek itu?"
Kaori : "Gak mau... Kamu jahat!"
Rio menarik tangan Kaori hingga tubuh mereka bertabrakan.
Rio : "Kamu..."
Kaori : "Apa?"
Rio : "Cewek itu kamu... Kamu lupa? Aku sudah berkali-kali bilang akan menikah denganmu."
Kaori : "Masa?"
Kaori mengingat-ingat lagi apa yang pernah Rio katakan dulu. Ya, memang benar Rio pernah bilang begitu.
Wajah Kaori merona, ia ingin menegakkan tubuhnya lagi, tapi Rio tidak mau melepaskan tangannya.
Kaori : "Rio, pegel nich. Lepasin..."
__ADS_1
Rio : "Gak mau."
Rio memeluk Kaori sekarang, tangannya menyusup ke balik kaos Kaori meraba punggungnya.
Kaori : "Tanganmu! Jangan nakal."
Rio : "Aku gak nakal. Kamu belum luluran ya, kok ada daki?" Rio menggosok punggung Kaori lebih keras.
Kaori : "Sembarangan! Rio lepas, ada nenek."
Rio langsung melepas pelukannya membuat Kaori terkikik geli. Rio menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di belakangnya.
Rio : "Awas kamu ya!"
Kaori : "Weekk... Kamu gitu lagi, aku pulang nich."
Rio : "Jangan dong. Gak gitu lagi."
Kaori : "Janji?"
Rio : "Gak janji..."
Kaori mendelik kesal, menatap Rio yang balas menjulurkan lidahnya. Mereka terdiam saat melihat baby Reva menggeliat dan mulai menangis. Rio dengan sigap memeriksa bokong adiknya itu.
Rio : "Basah lagi. Ambilkan keranjang itu."
Kaori menyodorkan keranjang yanv berisi perlengkapan bayi ke dekat Rio. Baby Reva menangis semakin kencang saat popoknya diganti.
Mia yang mendengar tangisan bayinya, segera menghampiri mereka.
Mia : "Haus ya. Sini sama mama."
Rio menyelesaikan merapikan bedong baby Reva dan Mia mulai menyusui anaknya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Alex sempat deg-degan saat Elo mengatakan tentang keinginannya mempersunting Riri dan rencana Elo yang akan melanjutkan kuliah ke luar negeri.
Alex : "Jadi Riri maunya gimana?"
Riri : "Riri... mau terima lamaran kak Elo, pah. Tapi gak nikah secepatnya kok. Riri masih mau kuliah dulu."
Elo : "Saya juga masih ada kesibukan disini, om. Tapi om, kakek inginnya kami bertunangan dulu."
Alex : "Bertunangan ya... Apa kalian sudah yakin satu sama lain?"
Keduanya kembali malu-malu, saling lirik dan tersenyum.
Riri : "Riri mau, pah."
Elo : "Saya juga, om."
Alex menepuk keningnya. Satu lagi anaknya sudah siap untuk menikah. Ia jadi khawatir apa Rio juga akan segera menyusul Riri.
Apalagi Riri harus ikut Elo ke luar negeri setelah mereka menikah. Alex menghitung tahun-tahun Riri masih tinggal bersama mereka disini.
Alex : "Jadi kalian akan menikah tiga tahun lagi?"
Riri : "Dua tahun lagi, pah."
Alex : "Kok bisa?"
Riri : "Riri dan Rio sudah daftar percepatan kuliah. Jadi bisa lulus dalam tiga tahun."
Alex : "Oh, my... Apa salahku sampai anak-anakku ngebet banget nikah?"
Riri : "Riri gak ngebet... Mas Elo tuch..."
Elo tersenyum lebar, jantungnya dag dig dug lagi mendengar Riri memanggilnya mas. Riri yang melihat senyuman Elo jadi meronaΒ sendiri.
__ADS_1
Alex : "Kapan kalian akan bertunangan?"
Elo : "Kalau boleh, saat libur semester depan, om. Kakek sudah setuju. Kalau om juga setuju, kakek akan mengatur pertemuan untuk membahas acara ini."
Alex menghela nafas, ia menatap putri keduanya yang terlihat cantik dengan pakaian pemberian kakek Elo.
Alex : "Bisakan kalau tunangannya ditunda sampai Riri berumur 20 tahun?"
Alex merasakan firasat tidak baik jika mereka bertunangan secepat ini.
Elo : "Tapi kami boleh pacaran kan, om?"
Alex : "Kalian sudah..."
Alex menutup wajahnya dengan tangan,
Alex : "Ya, pacaran yang sehat ya. Tolong, jangan buat papa jantungan. Papa sudah cukup shock melihat gaya pacaran Rio."
Riri : "Riri ngerti batasan, pah. Mama sudah sering memperingatkan Riri untuk jaga diri."
Elo : "Saya gak nakal, om. Gak berani."
Alex : "Janji?"
Elo : "Janji, om. Sampai sah..."
Riri tersenyum menatap Elo yang terlihat lega. Hubungan mereka sekarang sudah diketahui kedua keluarga yang memberikan restu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Rara yang ditinggal sendirian, memilih memeriksa dokumen diatas meja. Ia merasa lapar lagi dan perlahan turun dari atas ranjang. Rara berjalan perlahan keluar dari kamarnya.
Rio : "Kak, kok keluar?"
Rara menoleh ketika Rio memanggilnya. Kaori, Rio, dan Mia sedang duduk di ruang keluarga.
Mia : "Lapar lagi ya?"
Rara tersenyum dan mengangguk. Rio berdiri dan berjalan mendekati Rara.
Rio : "Kakak mau makan apa?"
Rara : "Kupasin buah aja, Rio. Ada jeruk sama pisang kayaknya. Coba liat di kulkas."
Rio mengupaskan buah yang ia temukan di kulkas dan mulai menyuapi Rara yang duduk di ruang keluarga. Perlahan Rara bergerak mendekati Rio dan bersandar pada tubuh adiknya itu.
Rio merangkul Rara sambil tetap menyuapinya buah. Sesekali Rara mengelus perutnya yang buncit. Kaori tersenyum melihat kakak dan adik itu saling menyayangi satu sama lain.
Rara sangat membutuhkan pelukan saat ini. Saking nyamannya di pelukan Rio, Rara sampai tertidur.
Rio kebingungan ketika Rara berhenti menggigit buah yang ia sodorkan.
Kaori : "Sstt... Kak Rara uda tidur."
Rio ganti memakan buah di hadapannya. Ia berpindah posisi setengah berbaring agar Rara bisa tidur dengan nyaman.
Sementara Kaori membantu Mia yang sedang menyusui bayi kembarnya.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1