
Riri terus menangis sampai ia tertidur capek menangis. Elo merasakan pelukan Riri mengendur dan tangannya terkulai disamping tubuh Elo.
Elo : "Ri?"
Elo menyentuh kening Riri, untung saja dia tidak demam. Elo merasakan bajunya dan baju Riri basah.
Perlahan Elo menidurkan Riri diatas ranjangnya. Tangan Riri tidak mau melepaskan tangannya ketika Elo bangkit dari sisinya.
Elo mengusap wajah Riri, make up yang tadi menghiasi wajah Riri sudah meleber kemana-mana. Ia mengambil tisu basah di dalam laci nakas dan mulai menghapus sisa make up di wajah Riri.
Setelah memastikan wajah Riri bersih, Elo mulai menatap dress yang dipakai Riri tampak basah dan menampakkan lekuk tubuhnya.
Elo menarik nafasnya, mencoba mengusir pikiran kotor dari kepalanya. Dengan cepat Elo melepaskan tangan Riri, dan menelpon ke bawah.
Elo : "Pak Kim, tolong minta pelayan wanita kesini."
Pak Kim : "Baik, tuan muda."
Tak lama, pintu kamar Elo diketuk Pak Kim,
Elo : "Masuk, pak."
Pak Kim masuk bersama dua pelayan wanita.
Elo : "Tolong ganti bajunya dengan baju ini."
Elo memberikan kaosnya pada pelayan wanita yang langsung mengangguk. Elo mengajak Pak Kim menunggu di luar kamar.
Beberapa menit kemudian, kedua pelayan tadi keluar membawa dress Riri yang basah. Keduanya hampir berlalu dari hadapan Elo ketika Pak Kim menghentikan mereka.
Pak Kim : "Tunggu! Perlihatkan tangan kalian."
Salah satu pelayan tampak pucat ketika berbalik memperlihatkan tangannya.
Pak Kim menarik tangan pelayan itu dan tak! Sebuah kamera kecil tampak jatuh diantara kaki Elo.
Elo : "Apa ini?!" Elo memungutnya.
Pelayan : "Itu... Bukan apa-apa, tuan."
Pak Kim : "Apa kau tahu peraturannya? Selama jam kerja, dilarang membawa alat elektronik apapun."
Elo : "Ini kamera, kau kira aku bodoh! Pak Kim, tahan mereka. Saya harus melihat isi kamera ini dulu."
Elo mengambil laptopnya dan kabel data. Ia menyolokkan kamera itu pada kabel dan wajahnya langsung merah padam melihat apa yang belum seharusnya ia lihat.
Dalam kamera itu berisi foto-foto Riri yang hampir telanjang. Elo bisa melihat dengan jelas bagian atas tubuh Riri tanpa tertutup apapun.
Elo menutup laptopnya dengan cepat. Ia ingin melaporkan hal ini pada polisi, tapi ia tidak mau foto-foto itu menjadi aib bagi Riri. Ia kembali keluar dari kamar, dan berbisik pada Pak Kim.
Pak Kim : "Kalian, ikut saya."
Mereka menghilang ke lantai bawah sementara Elo kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Di ruang bawah tanah, pelayan yang tadi membawa kamera tampak sedang disidang oleh Pak Kim. Ruangan itu penuh dengan pelayan lain yang sedang tidak bertugas.
Dengan sadis Pak Kim memerintahkan bodyguard yang berbadan besar untuk menginjak jemari pelayan itu.
Pelayan : "Ampun, pak Kim. Ampun. Sakit!!"
Pak Kim : "Siapa yang menyuruhmu?!"
Pelayan : "..."
Pak Kim : "Masih diam... Lanjutkan..."
Kali ini bodyguard menginjak jemari kaki pelayan itu. Jeritan panjang memenuhi ruangan bawah tanah itu.
Selama temannya disiksa, seluruh pelayan wajib melihatnya. Pak Kim selalu mendidik pelayan dirumah kakek Elo dengan disiplin tinggi. Mereka tidak diberikan kesempatan melanggar peraturan sekalipun.
__ADS_1
Pak Kim : "Kalian sudah tahu dengan jelas peraturan rumah ini. No kamera, no handphone selama jam kerja. Apalagi sampai mengambil foto tanpa ijin."
Pelayan : "Ampun, pak...!! Ny. Dewi, Ny. Dewi yang menyuruh saya."
Pak Kim : "Apa yang Ny. Dewi janjikan?"
Pelayan : "Uang... Uang untuk pengobatan ibu saya... Ampun..."
Pak Kim : "Pengobatan ibumu sudah dimulai sepekan lalu. Apa kamu gak tahu?"
Pelayan : "Apa?? Tapi... Bagaimana?"
Pak Kim : "Kalian harus tahu dengan baik, semua yang terjadi dengan keluarga kalian, kami tahu semuanya. Hal ini salah satu bentuk kepedulian Tuan Besar terhadap karyawannya. Dengan harapan kalian akan bekerja dengan baik."
Pelayan : "Pak Kim, ampun... Saya tidak akan melakukan kesalahan lagi."
Pak Kim : "Dan kalian tahu dengan baik apa akibatnya kalau kalian melakukan kesalahan."
Pelayan : "Jangan usir saya, Pak Kim. Maafkan saya!!"
Pak Kim : "Usir dia dan jangan biarkan dia kembali lagi."
Pak Kim menatap dingin pelayan yang diseret keluar oleh bodyguard.
Ia menelpon Elo yang masih menatap Riri yang tertidur di dalam kamar.
Elo : "Halo, Pak Kim? Bagaimana?"
Pak Kim : "Pelayan itu bilang Ny. Dewi, tuan."
Elo : "Lagi-lagi... Terima kasih, Pak Kim. Tolong siapkan dress lain untuk Riri."
Pak Kim : "Baik, tuan muda."
Elo meletakkan ponselnya kembali ke meja. Ia mengetuk-ngetuk kamera kecil di tangannya. Foto-foto Riri sudah ia hapus semuanya, bahkan sampai mereset ulang kamera itu.
Elo tersenyum, dalam kamera itu ia menemukan foto-foto lucu milik tante Dewi. Ternyata tante jahat itu punya kelemahan juga.
Riri : "Kak... bajuku..."
Elo : "Bajumu basah, Ri. Kamu ingat?"
Riri : "Trus yang ganti bajuku... Siapa kak?"
Riri bisa melihat wajah Elo memerah sampai ke telinganya. Ia merapatkan selimut dan menggenggam selimut itu erat-erat saat Elo berjalan mendekatinya.
Elo : "Tadi pelayan wanita yang ganti bajumu. Pak Kim dan aku nunggu diluar."
Riri bernafas lega, ia terlihat lebih tenang. Tapi tidak dengan Elo yang gelisah dengan wajah merah.
Sungguh ia tidak ingin berpikiran kotor, tapi melihat Riri memakai kaosnya dan berbaring diatas ranjangnya membuat hasratnya perlahan meningkat.
Belum lagi wajah bangun tidur Riri yang terlihat semakin cantik di mata Elo.
Riri : "Kakak, kenapa ngliatin aku gitu?"
Elo : "Panggil namaku..." Kata Elo dengan suara serak.
Riri : "Apa?!"
Elo : "Ri, panggil namaku..."
Riri melihat cara Elo menatapnya dan mulai ketakutan. Ia mengerubungi dirinya dengan selimut.
Riri : "Kak! Jangan dekat-dekat!"
Elo : "Ri, sekali aja..."
Riri merasakan selimut yang ia pegang ditarik paksa. Nafasnya mulai memburu karena takut. Elo masih menunggunya.
Riri : "Cu... cuma manggil nama kan?"
__ADS_1
Melihat Elo mengangguk,
Riri : "Elo..." Riri berbisik sangat kecil hingga Elo memintanya sekali lagi."
Elo : "Lebih keras, Ri..."
Riri : "...Angelo...!" Kata Riri lebih keras.
Elo : "Panggil Elo!"
Riri : "Elo...!"
Bruk! Riri melihat Elo menjatuhkan dirinya diatas ranjang di depan Riri. Ia menutup matanya dengan lengan dan tersenyum.
Tok, tok, tok... Riri menoleh ke pintu kamar Elo.
Elo : "Ach, itu Pak Kim. Sebentar ya."
Riri memilih menenggelamkan dirinya dibawah selimut. Ia malu sekali berada di kamar laki-laki single dengan pakaian tidak lengkap.
Elo membuka pintu dan Pak Kim memberikan kantong belanja padanya.
Elo : "Tante Dewi mana, Pak Kim?"
Pak Kim : "Jadi setelah menyiram nona Riri, dia pergi keluar rumah dan belum kembali sampai sekarang."
Elo berbisik pada Pak Kim yang mengangguk dan segera pergi dari sana.
Elo menutup pintu lagi dan menguncinya. Ia mendekati ranjang tempat Riri menutupi dirinya dengan selimut.
Elo : "Ri, pakai baju dulu."
Riri menyingkap selimut dan melihat Elo berdiri di sampingnya membawa kantong kertas. Riri menerima kantong itu, dan menatap Elo.
Riri : "Kakak bisa keluar dulu."
Elo : "Gak mau! Aku tetap disini!"
Elo jadi parno setelah kejadian tadi, ia takut terjadi sesuatu pada Riri. Riri terkejut mendengar bentakan Elo.
Riri : "Tapi gimana aku pakai bajunya?"
Elo : "Ke kamar mandi aja."
Riri ingin turun dari ranjang, tapi Elo masih menatapnya dengan intens.
Riri : "Kakak balik badan dulu dech."
Elo : "Kenapa? Kamu kan uda pakai kaos."
Riri : "Malu, kak. Balik badan, cepat."
Riri mendorong-dorong tubuh Elo agar berbalik. Elo melakukan apa yang disuruh Riri.
Riri : "Jalan ke pojokan. Cepetan, kak!"
Elo berjalan sampai ke pojok kamarnya dan berdiri disana. Setelah meyakinkan kalau Elo sudah tidak bisa melihatnya, dengan cepat Riri berjalan masuk ke kamar mandi.
Elo memukul pelan dinding di depannya. Kalau saja Riri tahu kalau dia sudah melihat tubuh polosnya apa yang akan Riri lakukan?
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1