
Dua hari sebelum
hari pernikahan Riri, dirumah Riri sedang ramai karena acara siraman untuk Riri
sedang berlangsung. Alex, Mia, dan nenek bergiliran menyiramkan air yang sudah
dicampur dengan bunga aneka warna pada tubuh Riri. Acara semakin haru saat Riri
digendong Alex dan Rio masuk ke dalam rumah untuk ganti baju.
Rara yang menonton
acara dari dalam rumah, tersenyum melihat Riri yang basah kuyup berjalan ke
kamar ganti. Rara mengelus perutnya yang mulai terasa nyeri akhir-akhir ini. Di
sampingnya si kembar tampak anteng tertidur, tidak peduli dengan keributan
diluar sana. Mb Roh setia menemani bayi kembar itu.
Rara tiba-tiba
merintih saat pinggangnya terasa sakit, mb Roh menoleh menatapnya.
Mb Roh : “Mb Rara
kenapa?”
Rara : “Nggak pa-pa,
mb. Pinggang saya tiba-tiba sakit.”
Mb Roh : “Mau
baring, mb? Saya bantu ke kamar.”
Rara : “Udah hilang
sakitnya.”
Mb Roh : “Apa mb
Rara mau lahiran?”
Rara : “Perkiraan
lahirnya masih sebulan lagi, mb. Aduduh...Sss...”
Rara merintih lagi,
kali ini mb Roh celingukan melihat sekeliling. Ia ingin memanggil seseorang
tapi tidak bisa meninggalkan baby twin yang mulai terbangun. Ronald yang
kebetulan masuk ke dalam rumah karena ingin ke toilet, melihat wajah Rara yang
pucat.
Ronald : “Kamu
kenapa, Ra?”
Mb Roh :
“Sepertinya mau melahirkan, tuan. Dari tadi kesakitan terus.”
Ronald tanpa pikir
panjang lagi segera keluar mencari Arnold. Arnold sedang duduk diluar bersama
Jodi dan Katty, mereka menoleh saat Ronald memanggil Arnold,
Ronald : “Arnold!
Sini! Rara...”
Arnold segera
berdiri dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Katty memegang tangan Jodi,
Katty : “Sayang,
cepat lihat ke dalam. Aku tunggu disini.”
Jodi : “Tapi
kamu...”
Katty : “Gak pa-pa.
Aku tunggu disini.”
__ADS_1
Jodi enggan
sebenarnya meninggalkan Katty yang sedang hamil muda sendirian, tapi ia harus
melihat Rara juga. Saat Jodi sampai di dalam rumah, Arnold sedang berusaha
menggendong Rara. Jodi segera memposisikan dirinya di samping Arnold.
Jodi : “Aku bantu.
Kita sama-sama angkat.”
Arnold mengangguk.
Mereka berdua mengangkat Rara yang terus merintih kesakitan,
Rara : “Sakit...”
Arnold : “Sabar,
sayang...”
Ronald keluar lebih
dulu untuk menyiapkan mobil. Kehebohan terjadi di tengah acara karena semua
orang melihat Rara yang kesakitan dibopong keluar oleh Arnold dan Jodi.
Mia : “Apa yang
terjadi?”
Jodi : “Sepertinya
Rara mau melahirkan. Tolong ambilkan perlengkapan untuk melahirkan.”
Arnold duduk di
dalam mobil, sementara Jodi meletakkan Rara di samping suaminya. Mia berlari
masuk ke dalam menyiapkan keperluan Rara yang bahkan belum ia siapkan.
Jodi : “Aku nyusul
sama Katty.”
Arnold : “Iya.”
Alex : “Ronald...”
duluan ke rumah sakit sama Arnold. Kamu selesaikan dulu acara disini. Nanti
susul kami.”
Alex melepas tangannya
dari mobil yang membawa Rara ke rumah sakit. Mia segera keluar membawa tas yang
berisi keperluan Rara dan Arnold. Jodi mengambil tas itu.
Jodi : “Om Alex,
saya ke rumah sakit duluan sama Katty ya.”
Alex : “Iya. Sana.
Hati-hati dijalan.”
Jodi menuntun Katty
masuk ke mobilnya dan menyusul Arnold dan Rara ke rumah sakit. Mia memegang
tangan Alex,
Mia : “Mas, ini
belum waktunya. Kita harus cepat ke rumah sakit. Rara, mas...”
Alex : “Tenang,
sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu di rumah saja sama si kembar ya.
Biar mas yang susul kesana sama Rio. Kasian Riri sendirian juga.”
Mia : “Iya, mas.
Ada Kaori juga kok. Kabarin terus kondisi Rara ya.”
Alex : “Iya.
Acaranya sudah selesai kan?”
__ADS_1
Mia : “Iya, tinggal
makan saja. Mas minta tamu undangan makan dulu, habis itu tinggal dah.”
Alex meminta maaf
atas kehebohan yang terjadi dan meminta tamu undangan untuk menikmati hidangan
yang sudah disiapkan.
Alex : “Rio, kamu
ikut papa?”
Rio : “Rio jaga
rumah ya, pah. Nanti gantian kalo papa capek, Rio kesana sama Kaori.”
Mia : “Kalo gitu
mama ikut bentar ya. Rio bantu jaga baby twin ya.”
Rio : “Iya, mah.
Tenang aja.”
Alex dan Mia
menyusul ke rumah sakit juga.
*****
Ronald menghentikan
mobilnya di depan UGD, ia turun dan memanggil perawat yang langsung berlari
mendekat membawa bed rumah sakit. Rara digendong keluar dari mobil, masih
merintih kesakitan.
Dokter yang
menangani Rara segera memeriksa kondisi Rara yang dibawa masuk ke salah satu
bilik di UGD. Jeritan Rara terdengar saat ketubannya pecah, ia langsung tidak
sadarkan diri. Arnold menahan nafasnya melihat keadaan Rara yang tergolek lemas
di depannya.
Arnold :
“Dokter...”
Dokter :
“Keadaannya tidak baik, Arnold. Kita harus lakukan operasi sekarang.”
Arnold tidak bisa
berpikir dengan jernih. Ia ketakutan melihat Rara yang tidak bergerak. Dokter
mengguncang bahu Arnold, menyadarkannya.
Dokter : “Arnold!
Rara harus dioperasi sekarang!”
Arnold : “Lakukan,
dokter. Selamatkan Rara.”
Arnold bahkan tidak
memikirkan bagaimana anaknya di dalam perut Rara. Ia hanya ingin Rara saja.
Dirinya bukan apa-apa kalau Rara tidak ada. Arnold tidak akan bisa hidup tanpa
Rara.
Ronald melihat
cinta Arnold begitu besarnya pada menantunya, memejamkan matanya mulai berdoa
untuk keselamatan cucu dan menantunya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Gimana ya kondisi
Rara dan bayinya?
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).