Duren Manis

Duren Manis
Saat genting


__ADS_3

Dua hari sebelum


hari pernikahan Riri, dirumah Riri sedang ramai karena acara siraman untuk Riri


sedang berlangsung. Alex, Mia, dan nenek bergiliran menyiramkan air yang sudah


dicampur dengan bunga aneka warna pada tubuh Riri. Acara semakin haru saat Riri


digendong Alex dan Rio masuk ke dalam rumah untuk ganti baju.


Rara yang menonton


acara dari dalam rumah, tersenyum melihat Riri yang basah kuyup berjalan ke


kamar ganti. Rara mengelus perutnya yang mulai terasa nyeri akhir-akhir ini. Di


sampingnya si kembar tampak anteng tertidur, tidak peduli dengan keributan


diluar sana. Mb Roh setia menemani bayi kembar itu.


Rara tiba-tiba


merintih saat pinggangnya terasa sakit, mb Roh menoleh menatapnya.


Mb Roh : “Mb Rara


kenapa?”


Rara : “Nggak pa-pa,


mb. Pinggang saya tiba-tiba sakit.”


Mb Roh : “Mau


baring, mb? Saya bantu ke kamar.”


Rara : “Udah hilang


sakitnya.”


Mb Roh : “Apa mb


Rara mau lahiran?”


Rara : “Perkiraan


lahirnya masih sebulan lagi, mb. Aduduh...Sss...”


Rara merintih lagi,


kali ini mb Roh celingukan melihat sekeliling. Ia ingin memanggil seseorang


tapi tidak bisa meninggalkan baby twin yang mulai terbangun. Ronald yang


kebetulan masuk ke dalam rumah karena ingin ke toilet, melihat wajah Rara yang


pucat.


Ronald : “Kamu


kenapa, Ra?”


Mb Roh :


“Sepertinya mau melahirkan, tuan. Dari tadi kesakitan terus.”


Ronald tanpa pikir


panjang lagi segera keluar mencari Arnold. Arnold sedang duduk diluar bersama


Jodi dan Katty, mereka menoleh saat Ronald memanggil Arnold,


Ronald : “Arnold!


Sini! Rara...”


Arnold segera


berdiri dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Katty memegang tangan Jodi,


Katty : “Sayang,


cepat lihat ke dalam. Aku tunggu disini.”


Jodi : “Tapi


kamu...”


Katty : “Gak pa-pa.


Aku tunggu disini.”

__ADS_1


Jodi enggan


sebenarnya meninggalkan Katty yang sedang hamil muda sendirian, tapi ia harus


melihat Rara juga. Saat Jodi sampai di dalam rumah, Arnold sedang berusaha


menggendong Rara. Jodi segera memposisikan dirinya di samping Arnold.


Jodi : “Aku bantu.


Kita sama-sama angkat.”


Arnold mengangguk.


Mereka berdua mengangkat Rara yang terus merintih kesakitan,


Rara : “Sakit...”


Arnold : “Sabar,


sayang...”


Ronald keluar lebih


dulu untuk menyiapkan mobil. Kehebohan terjadi di tengah acara karena semua


orang melihat Rara yang kesakitan dibopong keluar oleh Arnold dan Jodi.


Mia : “Apa yang


terjadi?”


Jodi : “Sepertinya


Rara mau melahirkan. Tolong ambilkan perlengkapan untuk melahirkan.”


Arnold duduk di


dalam mobil, sementara Jodi meletakkan Rara di samping suaminya. Mia berlari


masuk ke dalam menyiapkan keperluan Rara yang bahkan belum ia siapkan.


Jodi : “Aku nyusul


sama Katty.”


Arnold : “Iya.”


Alex : “Ronald...”


duluan ke rumah sakit sama Arnold. Kamu selesaikan dulu acara disini. Nanti


susul kami.”


Alex melepas tangannya


dari mobil yang membawa Rara ke rumah sakit. Mia segera keluar membawa tas yang


berisi keperluan Rara dan Arnold. Jodi mengambil tas itu.


Jodi : “Om Alex,


saya ke rumah sakit duluan sama Katty ya.”


Alex : “Iya. Sana.


Hati-hati dijalan.”


Jodi menuntun Katty


masuk ke mobilnya dan menyusul Arnold dan Rara ke rumah sakit. Mia memegang


tangan Alex,


Mia : “Mas, ini


belum waktunya. Kita harus cepat ke rumah sakit. Rara, mas...”


Alex : “Tenang,


sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu di rumah saja sama si kembar ya.


Biar mas yang susul kesana sama Rio. Kasian Riri sendirian juga.”


Mia : “Iya, mas.


Ada Kaori juga kok. Kabarin terus kondisi Rara ya.”


Alex : “Iya.


Acaranya sudah selesai kan?”

__ADS_1


Mia : “Iya, tinggal


makan saja. Mas minta tamu undangan makan dulu, habis itu tinggal dah.”


Alex meminta maaf


atas kehebohan yang terjadi dan meminta tamu undangan untuk menikmati hidangan


yang sudah disiapkan.


Alex : “Rio, kamu


ikut papa?”


Rio : “Rio jaga


rumah ya, pah. Nanti gantian kalo papa capek, Rio kesana sama Kaori.”


Mia : “Kalo gitu


mama ikut bentar ya. Rio bantu jaga baby twin ya.”


Rio : “Iya, mah.


Tenang aja.”


Alex dan Mia


menyusul ke rumah sakit juga.


*****


Ronald menghentikan


mobilnya di depan UGD, ia turun dan memanggil perawat yang langsung berlari


mendekat membawa bed rumah sakit. Rara digendong keluar dari mobil, masih


merintih kesakitan.


Dokter yang


menangani Rara segera memeriksa kondisi Rara yang dibawa masuk ke salah satu


bilik di UGD. Jeritan Rara terdengar saat ketubannya pecah, ia langsung tidak


sadarkan diri. Arnold menahan nafasnya melihat keadaan Rara yang tergolek lemas


di depannya.


Arnold :


“Dokter...”


Dokter :


“Keadaannya tidak baik, Arnold. Kita harus lakukan operasi sekarang.”


Arnold tidak bisa


berpikir dengan jernih. Ia ketakutan melihat Rara yang tidak bergerak. Dokter


mengguncang bahu Arnold, menyadarkannya.


Dokter : “Arnold!


Rara harus dioperasi sekarang!”


Arnold : “Lakukan,


dokter. Selamatkan Rara.”


Arnold bahkan tidak


memikirkan bagaimana anaknya di dalam perut Rara. Ia hanya ingin Rara saja.


Dirinya bukan apa-apa kalau Rara tidak ada. Arnold tidak akan bisa hidup tanpa


Rara.


Ronald melihat


cinta Arnold begitu besarnya pada menantunya, memejamkan matanya mulai berdoa


untuk keselamatan cucu dan menantunya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Gimana ya kondisi


Rara dan bayinya?

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2