Duren Manis

Duren Manis
Riri cemburu


__ADS_3

Hari Jumat pagi, Riri, Rio, dan Kaori sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Elo. Mereka sedang


sarapan bersama di rumah Alex. Mia sibuk mengecek perlengkapan yang akan dibawa anak-anak itu.


Mia : “Kalian gak ada yang mabuk udara kan?”


Ketiganya menggeleng sambil saling pandang.


Mia : “Tapi mama udah siapin obat anti mabuk ya di tas Riri. Ada juga obat untuk masuk angin. Disana jangan terlambat makan, apalagi kalau kalian keasyikan bermain. Minum dulu obat masuk anginnya baru makan ya.”


Alex tersenyum melihat ketiga anak di depan Mia hanya mengangguk-angguk seperti boneka mobil mendengar kata-kata Mia.


Mia : “Jangan sampai merepotkan disana ya. Jangan lupa juga...”


Riri : “Mah, kayaknya kak Elo udah dateng dech.”


Mia : “Oh, iya. Riri, cepat kedepan. Kalian berdua tetap duduk disini.”


Rio saling pandang dengan Kaori. Mia duduk di depan mereka dan bicara sangat serius.


Mia : “Dengar kalian berdua, terutama kamu, Rio. Ini untuk kedua kalinya kalian pergi berdua


dengan status berpacaran. Terakhir kali mama cukup syok mengetahui kalian berdua saja di dalam kamar motel. Mama harap kalian bisa menjaga diri satu sama lain. Ya, Rio?”


Rio : “Iya, mah. Janji gak nakal.”


Mia : “Kaori, sayang?”


Kaori : “Rio yang maksa, kak. Kaori gak berani kalau nakal.”


Mia : “Mama sudah tahu apa yang terjadi terakhir sama kalian ya. Kaori masih sakit?”


Wajah keduanya berubah keunguan saking merahnya. Kaori menunduk sambil menggeleng. Dia sudah


membaik setelah pakai salep dan minum obat. Tapi gimana Mia bisa tahu?


Mia : “Mama gak sengaja dengar kalian bicara tadi malam. Maaf, Kaori.”


Kaori : “Gak pa-pa, kak. Kamu sich!”


Kaori memukul lengan Rio,


Rio : “Addooww!! Mah, sekalian masukin obat lebam dech. Dari kemarin Rio dipukulin terus. Kalo


gak Riri, Kaori yang mukul.”


Mia : “Kalo kamu masih nakal, mama yang mukul ntar.”


Rio : “Tega banget sich...”


Mia dan Kaori terkikik melihat Rio merengek seperti anak kecil. Mereka menoleh melihat Elo


berjalan masuk bersama Riri.


Elo : “Selamat pagi, semua. Kalian sudah siap?”


Rio : “Uda dong, kak. Bawa baju dikit aja, kan?”


Elo : “Iya, Rio. Kita bisa pakai fasilitas disana termasuk baju juga. Ayo berangkat.”


Mereka semua  berpamitan pada Alex dan Mia. Alex dan Mia ikut keluar mengantar mereka dan


terpana melihat limosin parkir di depan rumah.


Mia : “Limosin? Wow... Boleh lihat dalamnya?”


Elo : “Silakan, mama Mia. Kakek yang ngirim, biar kita gak bawa mobil dari rumah. Padahal saya


sudah bilang kita bisa naik ojol ke bandara.”


Mia melihat-lihat isi limosin sampai Alex harus menariknya ke luar mobil. Mereka melambaikan


tangan dan limosin mulai bergerak menuju bandara.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sampai di bandara,


mereka langsung dibawa masuk ke tempat parkir pesawat. Jet pribadi kakek tampak


terparkir di salah satu jalur terbang yang ada disana.


Limosin berhenti di


dekat pintu masuk pesawat. Elo membantu Riri turun, ia menggandeng tangan Riri


masuk ke dalam pesawat.


Kaori : “Wow...


Beneran pesawat pribadi ya.”


Rio : “Kamu suka?”


Kaori : “Cuma


kagum.”


Rio : “Kalau aku


juga bisa beli gimana?”


Kaori : “Amin.”


Rio : “Kok amin?”


Kaori : “Semoga


kamu juga bisa beli yang seperti ini.”


Rio tersenyum


menatap Kaori, ia juga menggandeng tangan Kaori masuk ke dalam pesawat. Seorang


pramugari yang seksi langsung menyambut mereka dan mengarahkan tempat duduk


mereka.


Setelah


barang-barang mereka juga dinaikkan, pintu pesawat mulai ditutup. Pilot menyapa


Elo dengan ramah.


Elo : “Pilotnya


guru terbangku.”


Riri : “Kakak bisa


nerbangin pesawat?”


Elo : “Bisa dikit,


Ri. Wajib bisa soalnya kakek suka naik pesawat kecil dan semua cucu


laki-lakinya harus bisa menerbangkan pesawat.”


Pesawat mulai


bergerak, Riri meremas tangannya dengan kencang. Ia sedikit takut saat pesawat


mulai lepas landas. Elo yang melihat kegugupan Riri, segera menggenggam


tangannya.


Elo : “Jangan


takut, sayang.”


Riri : “Iya, kak.”


Elo : “Panggil mas


dong.”


Riri : “Aku malu,


kak.”

__ADS_1


Elo : “Disini gak


ada orang lain. Panggil mas.”


Riri : “Mas...”


Riri berbisik, saat itu pesawat hampir lepas landas.


Elo : “Kurang


keras, Ri. Aku gak denger.”


Riri : “Maas...”’


Elo : “Iya,


sayang...”


Riri : “Iihh...


gitu lagi.”


Elo : “Apa sich?


Kamu kan pacarku, wajar aku panggil sayang, kan.”


Tiba-tiba Riri


sadar kalau guncangan pesawat sudah menghilang sepenuhnya. Mereka sudah lepas


landas dengan sukses.


Riri : “Udah


terbang, kak.”


Elo : “Emang udah.”


Riri : “Makasih ya,


kak.”


Elo : “Anytime,


love.”


Elo sengaja


menggoda Riri agar ia tidak memikirkan pesawat yang sedang lepas landas.


Pramugari membawakan cemilan dan minuman ringan untuk mereka.


🌸🌸🌸🌸🌸


Setelah menempuh


perjalanan sekitar 1 jam, mereka sampai di negara S. Riri hampir tidak percaya


kalau mereka sudah sampai.


Elo : “Ini pesawat


jet, Ri. Bukan pesawat terbang komersial biasa. Ayo turun.”


Mereka berempat


turun dari pesawat dan dipersilakan masuk ke limosin yang sudah siap menunggu


di dekat mereka.


Seorang wanita


cantik dan seksi tampak menunggu mereka di samping pintu limosin.


Rebecca : “Selamat


datang tuan muda, nona Riri, tuan Rio, nona Kaori.”


Elo : “Ri, ini


Rebecca, orang kepercayaan kakek. Kakek dimana, Rebecca?”


besar masih ada urusan sebentar. Beliau akan menemui tuan muda di mansion, sore


ini.”


Elo : “Berarti kita


bisa jalan-jalan dulu ya.”


Rebecca : “Silakan,


tuan muda. Kita mulai tour-nya.”


Elo : “Asyik. Ayo


jalan.”


Riri tersenyum


melihat kelakuan Elo yang sangat bersemangat. Mereka mulai berkeliling ke


tempat-tempat yang iconik di negara itu. Rebecca sibuk menjadi fotografer


dadakan.


🌸🌸🌸🌸🌸


Riri sedang duduk


di bangku yang tersedia di dekat danau. Ia memperhatikan Rio dan Kaori yang


masih sibuk berfoto ria bersama Rebecca. Tiba-tiba seseorang memberikan es krim


pada Riri.


Riri : “Kakak...


makasih...”


Riri hampir


mengambil es krim dari tangan Elo, tapi Elo menarik tangannya.


Elo : “Eits,


panggil apa?”


Riri : “Kak Elo,


minta dong es krimnya.”


Elo : “Gak jadi


dech.”


Elo hampir beranjak


dari sisi Riri, tapi Riri menarik lengannya hingga wajah mereka hampir


bersentuhan.


Riri : “Sayang...


bagi es krimnya...”


Wajah Elo memerah


mendengar kata-kata Riri, apalagi ia mengatakannya dengan wajah memerah yang


terlihat sangat cantik di mata Elo.


Elo : “Yank, boleh


cium?”


Riri : “Gak enak


ada Rio.”

__ADS_1


Riri kembali


menegakkan tubuhnya dan mulai menjilat es krim yang sudah pindah ke tangannya.


Elo menatap tangannya yang kosong, ia tersenyum dan duduk di samping Riri.


Elo : “Bagi dong.”


Riri : “Kakak cuma


beli satu?” Riri memberikan es krimnya pada Elo.


Elo : “Beli empat,


tapi tiga diambil mereka tuch.”


Riri menoleh


melihat Rio, Kaori dan Rebecca asyik makan es krim yang sama dengan dirinya. Riri


menatap Rebecca, wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Ia melihat Elo yang


juga sedang menatap mereka bertiga. Mungkin cuma menatap Rebecca.


Riri melihat ke


bawah tubuhnya, ia tidak melihat perkembangan yang signifikan pada tubuh bagian


depannya. Tidak seperti Rebecca yang berkembang dengan baik. Kali ini Rebecca


berbalik memperlihatkan bagian belakang tubuhnya. Riri menghela nafas panjang, ia


menahan dagunya dengan tangan.


Elo : “Kenapa


menghela nafas gitu? Kamu capek?”


Riri : “Rebecca


cantik ya. Seumuran sama kakak ya?”


Elo : “Ya,


sepertinya aku lupa.”


Riri : “Umur segitu


badannya bagus banget. Padat berisi, seksi banget lagi. Kulitnya mulus juga.” Elo


mengkerutkan keningnya, ia merasa Riri agak aneh.


Elo : “Ya, dia memang


cantik dan seksi. Banyak pria pasti tergoda sama dia.”


Riri : “Kakak suka


sama dia?” Riri mengalihkan pandangan ke tempat lain, ia gak sengaja melihat


pasangan sedang berciuman di belakang salah satu pohon yang ada disana.


Wajah Riri memerah


memergoki hal yang lumrah terjadi di negara S itu. Ia kembali menatap Elo yang


sudah menatapnya.


Elo : “Kamu


cemburu?”


Riri : “Apa?


Nggak...”


Wajah cemberut Riri


menjelaskan semuanya pada Elo. Riri cemburu padanya sama seperti saat ia


mengatakan tentang Elena.


Elo : “Yakin? Aku


suka...”


Riri : “Kakak suka


sama Rebecca?!” Riri semakin cemberut, ia bahkan hampir menangis.


Elo : “Aku suka liat


kamu cemburu. Artinya kamu sayang sama aku.”


Riri : “Kakak


kepedean.”


Elo : “Bener kan...


Cium dong...”


Riri : “Ada Rio,


kak.”


Elo : “Mana?


Anaknya pergi gak tau kemana?”


Riri menoleh ke


depan dan tidak menemukan kembarannya di tempat tadi ia melihatnya. Ia menatap


Elo yang sudah mendekatinya, matanya mulai terpejam ketika bibir Elo menyentuh


bibirnya perlahan.


Elo tidak seperti


Rio yang tangannya gerilya ke tubuh Kaori. Elo hanya memegang tengkuk dan


tangan Riri saat mereka berciuman. Menyatukan jemari mereka untuk mengatakan


pada Riri seberapa besar Elo menginginkan dirinya.


Rebecca mengambil


beberapa foto mesra Elo yang sedang mencium Riri. Ia memberi tanda pada Rio


dengan tanda jempol,


Rio : “Hayoo...


ngapain?”


Riri langsung


mendorong Elo dan berpaling ketika kembarannya tiba-tiba muncul di belakangnya


bersama Kaori.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2