
Hari Jumat pagi, Riri, Rio, dan Kaori sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Elo. Mereka sedang
sarapan bersama di rumah Alex. Mia sibuk mengecek perlengkapan yang akan dibawa anak-anak itu.
Mia : “Kalian gak ada yang mabuk udara kan?”
Ketiganya menggeleng sambil saling pandang.
Mia : “Tapi mama udah siapin obat anti mabuk ya di tas Riri. Ada juga obat untuk masuk angin. Disana jangan terlambat makan, apalagi kalau kalian keasyikan bermain. Minum dulu obat masuk anginnya baru makan ya.”
Alex tersenyum melihat ketiga anak di depan Mia hanya mengangguk-angguk seperti boneka mobil mendengar kata-kata Mia.
Mia : “Jangan sampai merepotkan disana ya. Jangan lupa juga...”
Riri : “Mah, kayaknya kak Elo udah dateng dech.”
Mia : “Oh, iya. Riri, cepat kedepan. Kalian berdua tetap duduk disini.”
Rio saling pandang dengan Kaori. Mia duduk di depan mereka dan bicara sangat serius.
Mia : “Dengar kalian berdua, terutama kamu, Rio. Ini untuk kedua kalinya kalian pergi berdua
dengan status berpacaran. Terakhir kali mama cukup syok mengetahui kalian berdua saja di dalam kamar motel. Mama harap kalian bisa menjaga diri satu sama lain. Ya, Rio?”
Rio : “Iya, mah. Janji gak nakal.”
Mia : “Kaori, sayang?”
Kaori : “Rio yang maksa, kak. Kaori gak berani kalau nakal.”
Mia : “Mama sudah tahu apa yang terjadi terakhir sama kalian ya. Kaori masih sakit?”
Wajah keduanya berubah keunguan saking merahnya. Kaori menunduk sambil menggeleng. Dia sudah
membaik setelah pakai salep dan minum obat. Tapi gimana Mia bisa tahu?
Mia : “Mama gak sengaja dengar kalian bicara tadi malam. Maaf, Kaori.”
Kaori : “Gak pa-pa, kak. Kamu sich!”
Kaori memukul lengan Rio,
Rio : “Addooww!! Mah, sekalian masukin obat lebam dech. Dari kemarin Rio dipukulin terus. Kalo
gak Riri, Kaori yang mukul.”
Mia : “Kalo kamu masih nakal, mama yang mukul ntar.”
Rio : “Tega banget sich...”
Mia dan Kaori terkikik melihat Rio merengek seperti anak kecil. Mereka menoleh melihat Elo
berjalan masuk bersama Riri.
Elo : “Selamat pagi, semua. Kalian sudah siap?”
Rio : “Uda dong, kak. Bawa baju dikit aja, kan?”
Elo : “Iya, Rio. Kita bisa pakai fasilitas disana termasuk baju juga. Ayo berangkat.”
Mereka semua berpamitan pada Alex dan Mia. Alex dan Mia ikut keluar mengantar mereka dan
terpana melihat limosin parkir di depan rumah.
Mia : “Limosin? Wow... Boleh lihat dalamnya?”
Elo : “Silakan, mama Mia. Kakek yang ngirim, biar kita gak bawa mobil dari rumah. Padahal saya
sudah bilang kita bisa naik ojol ke bandara.”
Mia melihat-lihat isi limosin sampai Alex harus menariknya ke luar mobil. Mereka melambaikan
tangan dan limosin mulai bergerak menuju bandara.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sampai di bandara,
mereka langsung dibawa masuk ke tempat parkir pesawat. Jet pribadi kakek tampak
terparkir di salah satu jalur terbang yang ada disana.
Limosin berhenti di
dekat pintu masuk pesawat. Elo membantu Riri turun, ia menggandeng tangan Riri
masuk ke dalam pesawat.
Kaori : “Wow...
Beneran pesawat pribadi ya.”
Rio : “Kamu suka?”
Kaori : “Cuma
kagum.”
Rio : “Kalau aku
juga bisa beli gimana?”
Kaori : “Amin.”
Rio : “Kok amin?”
Kaori : “Semoga
kamu juga bisa beli yang seperti ini.”
Rio tersenyum
menatap Kaori, ia juga menggandeng tangan Kaori masuk ke dalam pesawat. Seorang
pramugari yang seksi langsung menyambut mereka dan mengarahkan tempat duduk
mereka.
Setelah
barang-barang mereka juga dinaikkan, pintu pesawat mulai ditutup. Pilot menyapa
Elo dengan ramah.
Elo : “Pilotnya
guru terbangku.”
Riri : “Kakak bisa
nerbangin pesawat?”
Elo : “Bisa dikit,
Ri. Wajib bisa soalnya kakek suka naik pesawat kecil dan semua cucu
laki-lakinya harus bisa menerbangkan pesawat.”
Pesawat mulai
bergerak, Riri meremas tangannya dengan kencang. Ia sedikit takut saat pesawat
mulai lepas landas. Elo yang melihat kegugupan Riri, segera menggenggam
tangannya.
Elo : “Jangan
takut, sayang.”
Riri : “Iya, kak.”
Elo : “Panggil mas
dong.”
Riri : “Aku malu,
kak.”
__ADS_1
Elo : “Disini gak
ada orang lain. Panggil mas.”
Riri : “Mas...”
Riri berbisik, saat itu pesawat hampir lepas landas.
Elo : “Kurang
keras, Ri. Aku gak denger.”
Riri : “Maas...”’
Elo : “Iya,
sayang...”
Riri : “Iihh...
gitu lagi.”
Elo : “Apa sich?
Kamu kan pacarku, wajar aku panggil sayang, kan.”
Tiba-tiba Riri
sadar kalau guncangan pesawat sudah menghilang sepenuhnya. Mereka sudah lepas
landas dengan sukses.
Riri : “Udah
terbang, kak.”
Elo : “Emang udah.”
Riri : “Makasih ya,
kak.”
Elo : “Anytime,
love.”
Elo sengaja
menggoda Riri agar ia tidak memikirkan pesawat yang sedang lepas landas.
Pramugari membawakan cemilan dan minuman ringan untuk mereka.
🌸🌸🌸🌸🌸
Setelah menempuh
perjalanan sekitar 1 jam, mereka sampai di negara S. Riri hampir tidak percaya
kalau mereka sudah sampai.
Elo : “Ini pesawat
jet, Ri. Bukan pesawat terbang komersial biasa. Ayo turun.”
Mereka berempat
turun dari pesawat dan dipersilakan masuk ke limosin yang sudah siap menunggu
di dekat mereka.
Seorang wanita
cantik dan seksi tampak menunggu mereka di samping pintu limosin.
Rebecca : “Selamat
datang tuan muda, nona Riri, tuan Rio, nona Kaori.”
Elo : “Ri, ini
Rebecca, orang kepercayaan kakek. Kakek dimana, Rebecca?”
besar masih ada urusan sebentar. Beliau akan menemui tuan muda di mansion, sore
ini.”
Elo : “Berarti kita
bisa jalan-jalan dulu ya.”
Rebecca : “Silakan,
tuan muda. Kita mulai tour-nya.”
Elo : “Asyik. Ayo
jalan.”
Riri tersenyum
melihat kelakuan Elo yang sangat bersemangat. Mereka mulai berkeliling ke
tempat-tempat yang iconik di negara itu. Rebecca sibuk menjadi fotografer
dadakan.
🌸🌸🌸🌸🌸
Riri sedang duduk
di bangku yang tersedia di dekat danau. Ia memperhatikan Rio dan Kaori yang
masih sibuk berfoto ria bersama Rebecca. Tiba-tiba seseorang memberikan es krim
pada Riri.
Riri : “Kakak...
makasih...”
Riri hampir
mengambil es krim dari tangan Elo, tapi Elo menarik tangannya.
Elo : “Eits,
panggil apa?”
Riri : “Kak Elo,
minta dong es krimnya.”
Elo : “Gak jadi
dech.”
Elo hampir beranjak
dari sisi Riri, tapi Riri menarik lengannya hingga wajah mereka hampir
bersentuhan.
Riri : “Sayang...
bagi es krimnya...”
Wajah Elo memerah
mendengar kata-kata Riri, apalagi ia mengatakannya dengan wajah memerah yang
terlihat sangat cantik di mata Elo.
Elo : “Yank, boleh
cium?”
Riri : “Gak enak
ada Rio.”
__ADS_1
Riri kembali
menegakkan tubuhnya dan mulai menjilat es krim yang sudah pindah ke tangannya.
Elo menatap tangannya yang kosong, ia tersenyum dan duduk di samping Riri.
Elo : “Bagi dong.”
Riri : “Kakak cuma
beli satu?” Riri memberikan es krimnya pada Elo.
Elo : “Beli empat,
tapi tiga diambil mereka tuch.”
Riri menoleh
melihat Rio, Kaori dan Rebecca asyik makan es krim yang sama dengan dirinya. Riri
menatap Rebecca, wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Ia melihat Elo yang
juga sedang menatap mereka bertiga. Mungkin cuma menatap Rebecca.
Riri melihat ke
bawah tubuhnya, ia tidak melihat perkembangan yang signifikan pada tubuh bagian
depannya. Tidak seperti Rebecca yang berkembang dengan baik. Kali ini Rebecca
berbalik memperlihatkan bagian belakang tubuhnya. Riri menghela nafas panjang, ia
menahan dagunya dengan tangan.
Elo : “Kenapa
menghela nafas gitu? Kamu capek?”
Riri : “Rebecca
cantik ya. Seumuran sama kakak ya?”
Elo : “Ya,
sepertinya aku lupa.”
Riri : “Umur segitu
badannya bagus banget. Padat berisi, seksi banget lagi. Kulitnya mulus juga.” Elo
mengkerutkan keningnya, ia merasa Riri agak aneh.
Elo : “Ya, dia memang
cantik dan seksi. Banyak pria pasti tergoda sama dia.”
Riri : “Kakak suka
sama dia?” Riri mengalihkan pandangan ke tempat lain, ia gak sengaja melihat
pasangan sedang berciuman di belakang salah satu pohon yang ada disana.
Wajah Riri memerah
memergoki hal yang lumrah terjadi di negara S itu. Ia kembali menatap Elo yang
sudah menatapnya.
Elo : “Kamu
cemburu?”
Riri : “Apa?
Nggak...”
Wajah cemberut Riri
menjelaskan semuanya pada Elo. Riri cemburu padanya sama seperti saat ia
mengatakan tentang Elena.
Elo : “Yakin? Aku
suka...”
Riri : “Kakak suka
sama Rebecca?!” Riri semakin cemberut, ia bahkan hampir menangis.
Elo : “Aku suka liat
kamu cemburu. Artinya kamu sayang sama aku.”
Riri : “Kakak
kepedean.”
Elo : “Bener kan...
Cium dong...”
Riri : “Ada Rio,
kak.”
Elo : “Mana?
Anaknya pergi gak tau kemana?”
Riri menoleh ke
depan dan tidak menemukan kembarannya di tempat tadi ia melihatnya. Ia menatap
Elo yang sudah mendekatinya, matanya mulai terpejam ketika bibir Elo menyentuh
bibirnya perlahan.
Elo tidak seperti
Rio yang tangannya gerilya ke tubuh Kaori. Elo hanya memegang tengkuk dan
tangan Riri saat mereka berciuman. Menyatukan jemari mereka untuk mengatakan
pada Riri seberapa besar Elo menginginkan dirinya.
Rebecca mengambil
beberapa foto mesra Elo yang sedang mencium Riri. Ia memberi tanda pada Rio
dengan tanda jempol,
Rio : “Hayoo...
ngapain?”
Riri langsung
mendorong Elo dan berpaling ketika kembarannya tiba-tiba muncul di belakangnya
bersama Kaori.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲