Duren Manis

Duren Manis
Dangdutan


__ADS_3

Dangdutan


"Lili..."panggil


Dion, Lili menatapnya penuh tanya.


“Kayaknya aku


belum mandi ya.”kata Dion sambil ngloyor ke kamarnya sendiri gak jadi mencium


Lili. Dion memejamkan matanya di dalam kamar dan memukul kepalanya sendiri. Ia


hampir melanggar batasannya untuk tidak menyentuh Lili sebelum gadis itu


benar-benar siap.


Sementara Lili


yang tidak jadi dicium Dion, nelangsa seorang diri. Ia merasa Dion tidak  menginginkannya lagi. Dengan kesal Lili


membereskan aneka snack yang berserakan di ruang tengah rumah itu. Ia melihat


ponsel Dion tergeletak di samping sofa.


Lili mengetuk


pintu kamar Dion, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Dengan perlahan, Lili


membuka pintu yang tidak terkunci. Ia melihat kamar Dion sangat berantakan


dengan banyak hoodie bertebaran dimana-mana.


Lili meletakkan


ponsel Dion diatas nakas. Ia mengambil satu persatu hoodie itu dan mengendusnya.


Untuk yang bau keringat, Lili meletakkannya di keranjang cucian, untuk yang


masih wangi, ia  melipatnya dengan rapi.


Ceklek! Pintu


kamar mandi terbuka, Dion keluar dari sana tanpa memakai apa pun. Lili menelan


salivanya melihat bentuk tubuh Dion yang lebih berotot dari sebelumnya yang


pernah ia lihat dulu. Air yang masih membasahi tubuhnya membuat tubuh Dion


terlihat seksi.


"Oh, ya


ampun. Malu banget tapi aku gak bisa gak ngliatnya. Sejak kapan badannya jadi


tambah berotot gitu."


Lili tidak tahu


kalau selama beberapa hari ini\, Dion terus menjadikan pria b******* yang telah


melukai Lili sebagai samsak tinjunya. Pria malang itu dipukul dan dirawat


kembali, terus dipukul lagi. Lili menikmati apa yang ia lihat pada tubuh Dion


sambil mengintip dari balik tumpukan hoodie Dion.


Terdengar suara


musik yang cukup keras dari dalam kamar mandi. Dion berhenti berjalan, ia mulai


berjoget dengan erotis sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama musik


dangdut. Lili menggigil menahan tawanya dibalik tumpukan hoodie Dion.


"Kok bisa


ada dangdutan disini. Sejak kapan Dion suka denger lagu dangdut. Idih, pake


joget segala. Hahaha... Lucu banget sich."


Dion masih


belum sadar kalau kamarnya sudah lebih rapi dari sebelumnya. Ia menghayati lagu


sambil lipsinc dengan mic dari sisir. Lili semakin menggigil sambil membekap


mulutnya. Air matanya sampai mengalir keluar tidak bisa menahan tawanya lagi.


“Hahaha...


hihihi... hahahahahaha...”Lili tertawa geli membuat Dion menoleh padanya.


“Lili! Ngapain

__ADS_1


kamu disini?”


Bukannya ngambil


handuk, Dion malah ikutan tertawa geli melihat Lili tertawa.


“Kamu ngapain


sich? Cepetan pake celanamu.”pinta Lili masih ketawa-ketiwi. “HP kamu


ketinggalan diluar tadi. Hihi. Aku bawain kesini, taunya lihat kamarmu


berantakan banget. Ini kenapa baju kotor masih numpuk disini?”


“Aku blum


sempat nyuci. Sibuk.”jawab Dion sambil membuka lemarinya. Ia memakai boxernya


dengan cepat sebelum Lili kabur.


“Harusnya kamu


kasi aku, Dion.”


“Ntar


ngerepotin kamu. Aku masih punya banyak banget hoodie kok.”


“Kita udah mau


nikah, Dion. Ngrepotin apa. Itukan sudah tugasku.”


Dion mendekati


Lili, berdiri di belakangnya.  Lili menarik nafasnya agar lebih tenang.


”Lili, pria di belakangmu itu Dion. Pria yangsangat


mencintaimu. Seharusnya kamu hargai dia.”


Lili berbalik


dengan cepat dan langsung mencium Dion. Dion yang sangat terkejut menerima


serangan Lili, tersenyum senang. Mereka berciuman dengan tubuh menempel sangat


dekat. "Aku mencintaimu, Lili."


"Aku juga,


perhatianmu selama ini. Aku sangat bahagia kau mau menerima perempuan tidak


sempurna ini. Aku berjanji akan jadi istri yang baik dan akan membahagiakanmu,


Dion."


"Aku yang


seharusnya terima kasih sama kamu. Sejak awal mau menerima kekuranganku tanpa jijik


sedikit pun. Kamu membuka hatiku dengan kelembutanmu, cintamu, dan semua yang


ada dalam dirimu. Aku berjanji akan membuatmu menjadi istriku yang paling


bahagia selamanya, Lili."


Keduanya


kembali berciuman, Dion bergerak membawa Lili duduk di atas ranjangnya. Ia


mengapit tubuh Lili dengan kedua kakinya dan mencium gadis yang sangat ia


cintai itu lagi dan lagi. "Dion..."Lili memanggil Dion menikmati


setiap sentuhan Dion di tubuhnya.


Suasana rumah


yang sepi karena ibu Lili sedang keluar berbelanja bersama sopir Elo. Elo dan


Lili sedang ada di kampus juga. Dion hampir kebablasan menyentuh Lili.


"Ach, maaf." Dion menarik selimut menutupi tubuh Lili.


"Dion,


kenapa berhenti?"tanya Lili dengan wajah memerah menahan malunya. Dion


mengelus kepala Lili sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Aku akan


melakukannya di malam pernikahan kita. Dan aku harap kamu gak menolakku,

__ADS_1


Lili."bisik Dion sambil mencium pipi Lili. "Atau kamu mau


sekarang?"


Lili mendorong


Dion yang mulai menciuminya lagi. "Aku mau masak dulu. Ambilin bajuku


dong."


Dion


mengambilkan pakaian Lili, ia membantu memakaikannya lagi ke tubuh Lili. Mereka


berdua merapikan penampilan mereka sebelum keluar dari kamar. Lili tercekat


melihat ibunya sudah kembali. Elo dan Riri juga ada di dapur, sedang membantu


memasak makan malam untuk mereka.


“Lili, kamu


dari mana? Ibu cari ke kamar gak ada.”


Lili jadi salah


tingkah mendengar pertanyaan ibunya, “Lili habis beresin kamar Dion, bu. ”


Elo jelas


curiga melihat Dion senyam-senyum ketika mendekati mereka, “Kenapa kamu


cengengesan gitu? Kalian habis ngapain?”


“Gak ada


ngapain, kepo banget sich. Bu, makanannya udah siap belum? Laper nich.”


Riri melihat


leher Lili merah-merah, ia mengambil bawang putih di tempat bumbu dan


memberikannya pada Lili. “Ini buat apa, nona?”


“Pake di


lehermu, cepat. Atau besok gak bisa hilang bekasnya.”


Semua orang


menoleh melihat leher Lili yang memerah karena ciuman Dion. Elo memukul lengan


Dion yang nyengir lagi, “Biarin aja, Ri. Besok juga ilang sendiri.”


“Eh, gak bisa.


Besok acara pernikahan kalian. Gaunnya kan agak pendek lehernya. Bisa kelihatan


dong.”Riri mengoleskan bawah putih itu ke leher Lili.


“Besok?


Bukannya masih tiga hari lagi.”tanya Lili dengan wajah merahnya.


“Pengacaraku


sudah mengatur semuanya dan dokumen kalian selesai lebih cepat. Besok kalian


bisa menikah.”jelas Elo.


“Oh, tapi


gaunnya bagaimana?”Lili ingat kalau beberapa keperluan pernikahan mereka belum


selesai.


“Semuanya sudah


siap di kamarmu, Lili. Kita juga harus menghias kamar pengantin kalian ya.”kata


Riri sambil menata piring di meja.


Lili dan Dion


saling melirik dan tersenyum malu. “Aku bersihkan dulu kamar Dion ya.”kata


Lili.


“Loh, bukannya


tadi udah dibersihin?”tanya Riri.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2