
Dangdutan
"Lili..."panggil
Dion, Lili menatapnya penuh tanya.
“Kayaknya aku
belum mandi ya.”kata Dion sambil ngloyor ke kamarnya sendiri gak jadi mencium
Lili. Dion memejamkan matanya di dalam kamar dan memukul kepalanya sendiri. Ia
hampir melanggar batasannya untuk tidak menyentuh Lili sebelum gadis itu
benar-benar siap.
Sementara Lili
yang tidak jadi dicium Dion, nelangsa seorang diri. Ia merasa Dion tidak menginginkannya lagi. Dengan kesal Lili
membereskan aneka snack yang berserakan di ruang tengah rumah itu. Ia melihat
ponsel Dion tergeletak di samping sofa.
Lili mengetuk
pintu kamar Dion, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Dengan perlahan, Lili
membuka pintu yang tidak terkunci. Ia melihat kamar Dion sangat berantakan
dengan banyak hoodie bertebaran dimana-mana.
Lili meletakkan
ponsel Dion diatas nakas. Ia mengambil satu persatu hoodie itu dan mengendusnya.
Untuk yang bau keringat, Lili meletakkannya di keranjang cucian, untuk yang
masih wangi, ia melipatnya dengan rapi.
Ceklek! Pintu
kamar mandi terbuka, Dion keluar dari sana tanpa memakai apa pun. Lili menelan
salivanya melihat bentuk tubuh Dion yang lebih berotot dari sebelumnya yang
pernah ia lihat dulu. Air yang masih membasahi tubuhnya membuat tubuh Dion
terlihat seksi.
"Oh, ya
ampun. Malu banget tapi aku gak bisa gak ngliatnya. Sejak kapan badannya jadi
tambah berotot gitu."
Lili tidak tahu
kalau selama beberapa hari ini\, Dion terus menjadikan pria b******* yang telah
melukai Lili sebagai samsak tinjunya. Pria malang itu dipukul dan dirawat
kembali, terus dipukul lagi. Lili menikmati apa yang ia lihat pada tubuh Dion
sambil mengintip dari balik tumpukan hoodie Dion.
Terdengar suara
musik yang cukup keras dari dalam kamar mandi. Dion berhenti berjalan, ia mulai
berjoget dengan erotis sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama musik
dangdut. Lili menggigil menahan tawanya dibalik tumpukan hoodie Dion.
"Kok bisa
ada dangdutan disini. Sejak kapan Dion suka denger lagu dangdut. Idih, pake
joget segala. Hahaha... Lucu banget sich."
Dion masih
belum sadar kalau kamarnya sudah lebih rapi dari sebelumnya. Ia menghayati lagu
sambil lipsinc dengan mic dari sisir. Lili semakin menggigil sambil membekap
mulutnya. Air matanya sampai mengalir keluar tidak bisa menahan tawanya lagi.
“Hahaha...
hihihi... hahahahahaha...”Lili tertawa geli membuat Dion menoleh padanya.
“Lili! Ngapain
__ADS_1
kamu disini?”
Bukannya ngambil
handuk, Dion malah ikutan tertawa geli melihat Lili tertawa.
“Kamu ngapain
sich? Cepetan pake celanamu.”pinta Lili masih ketawa-ketiwi. “HP kamu
ketinggalan diluar tadi. Hihi. Aku bawain kesini, taunya lihat kamarmu
berantakan banget. Ini kenapa baju kotor masih numpuk disini?”
“Aku blum
sempat nyuci. Sibuk.”jawab Dion sambil membuka lemarinya. Ia memakai boxernya
dengan cepat sebelum Lili kabur.
“Harusnya kamu
kasi aku, Dion.”
“Ntar
ngerepotin kamu. Aku masih punya banyak banget hoodie kok.”
“Kita udah mau
nikah, Dion. Ngrepotin apa. Itukan sudah tugasku.”
Dion mendekati
Lili, berdiri di belakangnya. Lili menarik nafasnya agar lebih tenang.
”Lili, pria di belakangmu itu Dion. Pria yangsangat
mencintaimu. Seharusnya kamu hargai dia.”
Lili berbalik
dengan cepat dan langsung mencium Dion. Dion yang sangat terkejut menerima
serangan Lili, tersenyum senang. Mereka berciuman dengan tubuh menempel sangat
dekat. "Aku mencintaimu, Lili."
"Aku juga,
perhatianmu selama ini. Aku sangat bahagia kau mau menerima perempuan tidak
sempurna ini. Aku berjanji akan jadi istri yang baik dan akan membahagiakanmu,
Dion."
"Aku yang
seharusnya terima kasih sama kamu. Sejak awal mau menerima kekuranganku tanpa jijik
sedikit pun. Kamu membuka hatiku dengan kelembutanmu, cintamu, dan semua yang
ada dalam dirimu. Aku berjanji akan membuatmu menjadi istriku yang paling
bahagia selamanya, Lili."
Keduanya
kembali berciuman, Dion bergerak membawa Lili duduk di atas ranjangnya. Ia
mengapit tubuh Lili dengan kedua kakinya dan mencium gadis yang sangat ia
cintai itu lagi dan lagi. "Dion..."Lili memanggil Dion menikmati
setiap sentuhan Dion di tubuhnya.
Suasana rumah
yang sepi karena ibu Lili sedang keluar berbelanja bersama sopir Elo. Elo dan
Lili sedang ada di kampus juga. Dion hampir kebablasan menyentuh Lili.
"Ach, maaf." Dion menarik selimut menutupi tubuh Lili.
"Dion,
kenapa berhenti?"tanya Lili dengan wajah memerah menahan malunya. Dion
mengelus kepala Lili sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Aku akan
melakukannya di malam pernikahan kita. Dan aku harap kamu gak menolakku,
__ADS_1
Lili."bisik Dion sambil mencium pipi Lili. "Atau kamu mau
sekarang?"
Lili mendorong
Dion yang mulai menciuminya lagi. "Aku mau masak dulu. Ambilin bajuku
dong."
Dion
mengambilkan pakaian Lili, ia membantu memakaikannya lagi ke tubuh Lili. Mereka
berdua merapikan penampilan mereka sebelum keluar dari kamar. Lili tercekat
melihat ibunya sudah kembali. Elo dan Riri juga ada di dapur, sedang membantu
memasak makan malam untuk mereka.
“Lili, kamu
dari mana? Ibu cari ke kamar gak ada.”
Lili jadi salah
tingkah mendengar pertanyaan ibunya, “Lili habis beresin kamar Dion, bu. ”
Elo jelas
curiga melihat Dion senyam-senyum ketika mendekati mereka, “Kenapa kamu
cengengesan gitu? Kalian habis ngapain?”
“Gak ada
ngapain, kepo banget sich. Bu, makanannya udah siap belum? Laper nich.”
Riri melihat
leher Lili merah-merah, ia mengambil bawang putih di tempat bumbu dan
memberikannya pada Lili. “Ini buat apa, nona?”
“Pake di
lehermu, cepat. Atau besok gak bisa hilang bekasnya.”
Semua orang
menoleh melihat leher Lili yang memerah karena ciuman Dion. Elo memukul lengan
Dion yang nyengir lagi, “Biarin aja, Ri. Besok juga ilang sendiri.”
“Eh, gak bisa.
Besok acara pernikahan kalian. Gaunnya kan agak pendek lehernya. Bisa kelihatan
dong.”Riri mengoleskan bawah putih itu ke leher Lili.
“Besok?
Bukannya masih tiga hari lagi.”tanya Lili dengan wajah merahnya.
“Pengacaraku
sudah mengatur semuanya dan dokumen kalian selesai lebih cepat. Besok kalian
bisa menikah.”jelas Elo.
“Oh, tapi
gaunnya bagaimana?”Lili ingat kalau beberapa keperluan pernikahan mereka belum
selesai.
“Semuanya sudah
siap di kamarmu, Lili. Kita juga harus menghias kamar pengantin kalian ya.”kata
Riri sambil menata piring di meja.
Lili dan Dion
saling melirik dan tersenyum malu. “Aku bersihkan dulu kamar Dion ya.”kata
Lili.
“Loh, bukannya
tadi udah dibersihin?”tanya Riri.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.