Duren Manis

Duren Manis
Tunangan atau pernikahan?


__ADS_3

Lili


terdiam bingung harus menjawab apa pada Riri.


Elo :


“Tentu saja dia pencurinya. Pencuri hati Dion.”


Riri :


“Oh, iya. Aku sampai lupa, mas. Lili, apa jawabanmu?”


Lili :


“Saya belum memutuskannya. Malam ini akan saya jawab.”


Riri


menatap Lili tidak percaya. Pantas saja tadi Dion meminta mereka tetap di


kamar, malam nanti. Lili terlihat enggan membicarakan apapun tentang Dion. Dia


sudah memutuskan apa yang akan ia sampaikan pada Dion, hanya saja belum berani


bilang sekarang.


Lili


menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan hampir membantu Riri memakai


pakaian, tapi melihat Elo masih pakai bathrobe, Lili memilih keluar dari kamar


mereka dan menunggu di meja makan saja. Ia memberitahu pada pelayan untuk


membereskan kamar Elo setelah mereka pergi nanti.


Keduanya


turun dengan cepat, tentu saja terlihat mesra seperti biasanya. Kakek dan mama


Ratna sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.


Riri :


“Selamat pagi, kakek, mama.” Kata Riri sambil mencium tangan kakek dan mama


mertuanya.


Elo juga


melakukan hal yang sama pada kakek dan mamanya.


Mama :


“Apa kalian capek? Tidurnya nyenyak?”


Wajah


Riri dan Elo merona mendengar nada suara yang menggoda dari mama Ratna.


Bagaimana mereka tidak digodain kalau selama dua hari berturut-turut setelah


pernikahan, selalu saja bangun siang.


Kakek :


“Sudah, Ratna. Jangan menggoda mereka. Atau buyutku akan lama jadinya.”


Lili


berdehem untuk menyamarkan suara tawanya, bahkan Pak Kim juga ikut berdehem.


Wajah pengantin baru itu semakin merona.


Setelah


selesai sarapan, Elo dan Riri berpamitan pada Ratna untuk pergi ke rumah Alex.


Ratna menitipkan banyak kado untuk semua orang disana terutama baby 3R. Kali


ini mereka berempat, Dion, Lili, Riri, dan Elo berangkat dalam mobil yang sama.


Dion


menyetir seperti biasa dan Lili mengawasi keadaan sekitar. Sebuah mobil


bodyguard juga mengikuti mereka tapi terlihat menjaga jarak. Sesekali Lili dan


Dion harus mendengar suara-suara aneh di belakang mereka. Keduanya tidak berani


menoleh dan mencoba konsentrasi pada jalanan saja.


Dion


melirik spion di tengah mobil dan matanya bertatapan dengan mata Elo yang


sengaja menunggunya melihat kesana. Elo memeletkan lidahnya sambil kembali


mencium Riri. Dion memasang gestur jari tengah dengan tangan kirinya ke arah


Elo yang dibalas dengan ketawa ngakak.


Dion


membalik spion di tengah mobil, tidak mau lagi bertatapan dengan Elo. Kan gak


lucu kalau ia menghentikan mobil di tengah jalan dan meraih Lili untuk


diciumnya. Sungguh, Dion ingin melakukannya sekarang. Tapi ia masih bersabar.


Mereka

__ADS_1


sampai juga di depan rumah Alex. Dion memukul kemudi dengan keras sambil


membuka bagasi mobil. Dua bodyguard dengan sigap membawa kado-kado yang


menumpuk ke dalam rumah Alex setelah Riri dan Elo masuk duluan kesana.


Tapi


saat Lili ingin mengikuti Riri turun, Dion menahan dirinya tetap di dalam


mobil. Setelah bagasi kosong, bodyguard itu menutup bagasi mobil dan kembali ke


mobilnya sendiri. Dion mengirim chat pada Elo kalau ia akan membawa Lili pergi


jalan-jalan dan Elo bisa menghubunginya kalau sudah mau pulang nanti.


Dion :


“Aku mau bicara. Sebentar saja.”


Lili :


“Nanti malam, akan kujawab lamaranmu.”


Dion :


“Iya, aku tahu.”


Lili


duduk diam ditempat duduknya. Dion membawa mereka ke sebuah taman dekat rumah


Alex dan memarkir mobil di dekat pepohonan rimbun.


Dion :


“Ayo, turun.”


Mereka


turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir taman. Jalan


itu sepertinya menuju kolam ditengah taman. Dion berjalan di dekat pepohonan,


ia sengaja kesana agar mereka tidak berpapasan dengan orang-orang yang berada


di taman itu.


Lili


berjalan sambil menggerakkan lengannya, ia melakukan streching ringan. Udara


yang sejuk dan semilir angin membuat Lili merasa nyaman. Dion menghentikan


langkahnya di sebuah bangku taman yang tersedia agak tersembunyi. Lili duduk di


sampingnya.


Lili :


Dion :


“Apa kau tertekan? Menjawab lamaranku?”


Lili :


“Sedikit.”


Dion


menggenggam tangan Lili di sebelahnya, ia memainkan jemari Lili dengan kedua


tangannya.


Dion :


“Kalau gitu, aku tarik lagi lamaranku.”


Lili :


“Kau ini gak punya tanggung jawab ya. Suka seenaknya.”


Lili


menarik tangannya yang dipegang Dion. Ia duduk sedikit menjauh dan menatap jauh


ke samping. Dion menghadapkan tubuhnya pada Lili.


Dion :


“Trus aku harus apa? Kamu gak siap aku lamar, masa aku maksa. Yang ada ntar


malem aku ditolak. Sakitnya tuch disini.”


Lili mau


gak mau tertawa juga mendengar nada bicara Dion. Pria di sampingnya ini selalu


bisa membuatnya tertawa.


Lili :


“Kamu tuch udah nyium aku, gak mau tanggung jawab.”


Dion :


“Makanya aku lamar. Salah lagi ya. Atau kamu mau kita gituan tanpa nikah?”


Lili


melayangkan pukulan ke bahu Dion dan lagi-lagi ia mengibaskan tangannya,

__ADS_1


kesakitan sendiri.


Lili :


“Aku dah bilang kamu bisa cari wanita lain kalau mau itu. Jangan nunggu aku.”


Dion :


“Aku maunya sama kamu. Trus gimana?”


Lili


diam lagi, ia belum memikirkan pernikahan. Usianya masih 21 tahun dan menikah


bukan prioritasnya. Tapi sepertinya pria di sebelahnya ini sudah kebelet kawin.


Lili :


“Tau akan gini, aku gak akan bilang aku cinta sama kamu.”


Dion :


“Aku juga mencintaimu.”


Lili


shock mendengar pengakuan Dion. Ia tidak menyangka kalau Dion akan


mengatakannya sejelas itu tentang perasaannya.


Dion :


“Aku akan tunggu sampai kamu siap menikah denganku. Untuk saat ini, kita


tunangan dulu ya.”


Dion


menyodorkan sebuah kotak pada Lili. Lili menoleh menatap Dion yang membuka


kotak itu. Sebuah cincin emas dengan batu permata menghias cincin itu.


Dion : “Kalau


nanti malam kamu pakai cincin ini, kita resmi tunangan.”


Lili :


“Kalau nggak?”


Dion :


“Sakitnya tuch disini... didalam hatiku... sakitnya tuch disini...”


Lili


spontan tertawa lagi melihat Dion menepuk-nepuk dadanya sambil bersenandung.


Lili bersandar pada tubuh Dion sambil memegangi perutnya yang sakit. Dion


merangkul bahu Lili dan ikut tertawa juga pada akhirnya.


Dion :


“Kalau kita libur, kita kerumahmu ya. Aku mau bicara langsung sama ibumu. Tapi


ntar ibumu takut ya lihat aku.”


Lili :


“Memangnya kamu hantu. Coba saja kamu ketemu ibu dulu.”


Dion :


“Jadi lamaranku diterima nich?”


Lili :


“Masih aja mancing, aku gak mau jawab.”


Lili


mencubiti lengan Dion yang mendekapnya semakin erat. Keduanya asyik mengobrol


sampai tak terasa hari semakin siang dan matahari bersinar terik.


Dion :


“Cari makan yuk. Tuan muda belum nelpon nich.”


Lili :


“Makan dimana? Atau kita cari drivetrue?”


Ponsel


Dion berdering, Elo calling. Elo meminta Dion ke rumah Alex karena makan siang


sudah hampir siap. Mereka diundang makan oleh Mia. Dion mengatakan akan segera


sampai disana.


*****


Kira-kira gimana reaksi Alex family melihat sosok


Dion ya?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2