
Lili
terdiam bingung harus menjawab apa pada Riri.
Elo :
“Tentu saja dia pencurinya. Pencuri hati Dion.”
Riri :
“Oh, iya. Aku sampai lupa, mas. Lili, apa jawabanmu?”
Lili :
“Saya belum memutuskannya. Malam ini akan saya jawab.”
Riri
menatap Lili tidak percaya. Pantas saja tadi Dion meminta mereka tetap di
kamar, malam nanti. Lili terlihat enggan membicarakan apapun tentang Dion. Dia
sudah memutuskan apa yang akan ia sampaikan pada Dion, hanya saja belum berani
bilang sekarang.
Lili
menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan hampir membantu Riri memakai
pakaian, tapi melihat Elo masih pakai bathrobe, Lili memilih keluar dari kamar
mereka dan menunggu di meja makan saja. Ia memberitahu pada pelayan untuk
membereskan kamar Elo setelah mereka pergi nanti.
Keduanya
turun dengan cepat, tentu saja terlihat mesra seperti biasanya. Kakek dan mama
Ratna sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
Riri :
“Selamat pagi, kakek, mama.” Kata Riri sambil mencium tangan kakek dan mama
mertuanya.
Elo juga
melakukan hal yang sama pada kakek dan mamanya.
Mama :
“Apa kalian capek? Tidurnya nyenyak?”
Wajah
Riri dan Elo merona mendengar nada suara yang menggoda dari mama Ratna.
Bagaimana mereka tidak digodain kalau selama dua hari berturut-turut setelah
pernikahan, selalu saja bangun siang.
Kakek :
“Sudah, Ratna. Jangan menggoda mereka. Atau buyutku akan lama jadinya.”
Lili
berdehem untuk menyamarkan suara tawanya, bahkan Pak Kim juga ikut berdehem.
Wajah pengantin baru itu semakin merona.
Setelah
selesai sarapan, Elo dan Riri berpamitan pada Ratna untuk pergi ke rumah Alex.
Ratna menitipkan banyak kado untuk semua orang disana terutama baby 3R. Kali
ini mereka berempat, Dion, Lili, Riri, dan Elo berangkat dalam mobil yang sama.
Dion
menyetir seperti biasa dan Lili mengawasi keadaan sekitar. Sebuah mobil
bodyguard juga mengikuti mereka tapi terlihat menjaga jarak. Sesekali Lili dan
Dion harus mendengar suara-suara aneh di belakang mereka. Keduanya tidak berani
menoleh dan mencoba konsentrasi pada jalanan saja.
Dion
melirik spion di tengah mobil dan matanya bertatapan dengan mata Elo yang
sengaja menunggunya melihat kesana. Elo memeletkan lidahnya sambil kembali
mencium Riri. Dion memasang gestur jari tengah dengan tangan kirinya ke arah
Elo yang dibalas dengan ketawa ngakak.
Dion
membalik spion di tengah mobil, tidak mau lagi bertatapan dengan Elo. Kan gak
lucu kalau ia menghentikan mobil di tengah jalan dan meraih Lili untuk
diciumnya. Sungguh, Dion ingin melakukannya sekarang. Tapi ia masih bersabar.
Mereka
__ADS_1
sampai juga di depan rumah Alex. Dion memukul kemudi dengan keras sambil
membuka bagasi mobil. Dua bodyguard dengan sigap membawa kado-kado yang
menumpuk ke dalam rumah Alex setelah Riri dan Elo masuk duluan kesana.
Tapi
saat Lili ingin mengikuti Riri turun, Dion menahan dirinya tetap di dalam
mobil. Setelah bagasi kosong, bodyguard itu menutup bagasi mobil dan kembali ke
mobilnya sendiri. Dion mengirim chat pada Elo kalau ia akan membawa Lili pergi
jalan-jalan dan Elo bisa menghubunginya kalau sudah mau pulang nanti.
Dion :
“Aku mau bicara. Sebentar saja.”
Lili :
“Nanti malam, akan kujawab lamaranmu.”
Dion :
“Iya, aku tahu.”
Lili
duduk diam ditempat duduknya. Dion membawa mereka ke sebuah taman dekat rumah
Alex dan memarkir mobil di dekat pepohonan rimbun.
Dion :
“Ayo, turun.”
Mereka
turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir taman. Jalan
itu sepertinya menuju kolam ditengah taman. Dion berjalan di dekat pepohonan,
ia sengaja kesana agar mereka tidak berpapasan dengan orang-orang yang berada
di taman itu.
Lili
berjalan sambil menggerakkan lengannya, ia melakukan streching ringan. Udara
yang sejuk dan semilir angin membuat Lili merasa nyaman. Dion menghentikan
langkahnya di sebuah bangku taman yang tersedia agak tersembunyi. Lili duduk di
sampingnya.
Lili :
Dion :
“Apa kau tertekan? Menjawab lamaranku?”
Lili :
“Sedikit.”
Dion
menggenggam tangan Lili di sebelahnya, ia memainkan jemari Lili dengan kedua
tangannya.
Dion :
“Kalau gitu, aku tarik lagi lamaranku.”
Lili :
“Kau ini gak punya tanggung jawab ya. Suka seenaknya.”
Lili
menarik tangannya yang dipegang Dion. Ia duduk sedikit menjauh dan menatap jauh
ke samping. Dion menghadapkan tubuhnya pada Lili.
Dion :
“Trus aku harus apa? Kamu gak siap aku lamar, masa aku maksa. Yang ada ntar
malem aku ditolak. Sakitnya tuch disini.”
Lili mau
gak mau tertawa juga mendengar nada bicara Dion. Pria di sampingnya ini selalu
bisa membuatnya tertawa.
Lili :
“Kamu tuch udah nyium aku, gak mau tanggung jawab.”
Dion :
“Makanya aku lamar. Salah lagi ya. Atau kamu mau kita gituan tanpa nikah?”
Lili
melayangkan pukulan ke bahu Dion dan lagi-lagi ia mengibaskan tangannya,
__ADS_1
kesakitan sendiri.
Lili :
“Aku dah bilang kamu bisa cari wanita lain kalau mau itu. Jangan nunggu aku.”
Dion :
“Aku maunya sama kamu. Trus gimana?”
Lili
diam lagi, ia belum memikirkan pernikahan. Usianya masih 21 tahun dan menikah
bukan prioritasnya. Tapi sepertinya pria di sebelahnya ini sudah kebelet kawin.
Lili :
“Tau akan gini, aku gak akan bilang aku cinta sama kamu.”
Dion :
“Aku juga mencintaimu.”
Lili
shock mendengar pengakuan Dion. Ia tidak menyangka kalau Dion akan
mengatakannya sejelas itu tentang perasaannya.
Dion :
“Aku akan tunggu sampai kamu siap menikah denganku. Untuk saat ini, kita
tunangan dulu ya.”
Dion
menyodorkan sebuah kotak pada Lili. Lili menoleh menatap Dion yang membuka
kotak itu. Sebuah cincin emas dengan batu permata menghias cincin itu.
Dion : “Kalau
nanti malam kamu pakai cincin ini, kita resmi tunangan.”
Lili :
“Kalau nggak?”
Dion :
“Sakitnya tuch disini... didalam hatiku... sakitnya tuch disini...”
Lili
spontan tertawa lagi melihat Dion menepuk-nepuk dadanya sambil bersenandung.
Lili bersandar pada tubuh Dion sambil memegangi perutnya yang sakit. Dion
merangkul bahu Lili dan ikut tertawa juga pada akhirnya.
Dion :
“Kalau kita libur, kita kerumahmu ya. Aku mau bicara langsung sama ibumu. Tapi
ntar ibumu takut ya lihat aku.”
Lili :
“Memangnya kamu hantu. Coba saja kamu ketemu ibu dulu.”
Dion :
“Jadi lamaranku diterima nich?”
Lili :
“Masih aja mancing, aku gak mau jawab.”
Lili
mencubiti lengan Dion yang mendekapnya semakin erat. Keduanya asyik mengobrol
sampai tak terasa hari semakin siang dan matahari bersinar terik.
Dion :
“Cari makan yuk. Tuan muda belum nelpon nich.”
Lili :
“Makan dimana? Atau kita cari drivetrue?”
Ponsel
Dion berdering, Elo calling. Elo meminta Dion ke rumah Alex karena makan siang
sudah hampir siap. Mereka diundang makan oleh Mia. Dion mengatakan akan segera
sampai disana.
*****
Kira-kira gimana reaksi Alex family melihat sosok
Dion ya?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1