Duren Manis

Duren Manis
Keputusan Rara


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu, saatnya Rara melakukan test lagi. Kali ini ia melakukannya di rumah saja bersama Mia. Mia mencelupkan test pack ke dalam urine Rara dan melihat hasilnya.


Satu garis merah muncul di test pack itu menunjukkan Rara tidak hamil dan sepertinya memang penyakit asam lambung naik yang membuatnya sering muntah-muntah akhir-akhir ini.


Arnold : "Gimana hasilnya?"


Mia memilih keluar dari kamar Rara untuk memberi waktu bagi mereka berdua.


Rara : "Aku belum hamil, mas."


Arnold : "Oh, kita bisa coba lagi. Masih banyak waktu dan kesempatan."


Rara : "Apa kita coba aja, mas? Tanpa pengaman?"


Arnold : "Sayang, kamu yakin?"


Rara : "Aku..."


Arnold : "Kita masih muda, Ra. Kita masih punya banyak kesempatan untuk mencobanya. Tapi selesaikan dulu kuliahmu ya. Setelah itu kita bisa konsentrasi punya anak."


Rara : "Tapi apa kamu gak pa-pa nunggu lama?"


Arnold : "Asalkan sama kamu, seumur hidup juga aku gak masalah. Kalaupun kita belum dikasi, aku yakin masalahnya ada padaku, Ra."


Rara : "Belum tentu, mas. Kita berdua tetap harus cek berdua."


Arnold : "Untuk saat ini pikirkan kuliahmu dan aku ya. Kita nikmati pacaran dulu, berdua aja."


Rara : "Mungkin kau benar, mas."


Arnold : "Gimana kalau hari ini kita gak ke kantor? Kita ke apartment, kita bisa nonton film, makan malam romantis atau... bercinta sampai pagi."


Rara : "Kamu gila, mas. Dikantor banyak kerjaan gitu. Belum lagi Ilham gak ada. Kalau kita juga gak ada, gimana kantornya bisa jalan."


Arnold : "Jangan terlalu memikirkannya ya. Sebentar lagi magangmu selesai, dan kita akan punya sedikit waktu sama-sama. Kita jalani ini pelan-pelan sampai kamu, kita benar-benar siap punya anak. Okey, baby?"


Rara : "Okey, hubby. Ayo sarapan?"


Arnold : "Kiss me, baby..."


Arnold menarik tengkuk Rara dan ******* bibirnya sampai bengkak. Rara memukul lengan Arnold karena membuat bibirnya tambah seksi.


Mereka keluar dari kamar untuk sarapan, dan terlihat sangat mesra.


Alex : "Jadi gimana?"


Alex kepo meminta jawaban dari mereka berdua, Mia tidak mengatakan apa-apa waktu keluar dari kamar Rara.


Rara : "Masih belum, pah. Kami tetap menunda sampai Rara lulus kuliah."


Alex : "Bagus, kamu harus fokus biar semuanya bisa berjalan baik."


Mereka sarapan bersama, seperti biasa si kembar akan mendominasi Mia,


Mia : "Rio, ingat bawa seragam basketmu. Riri, sudah siap ujiannya kan? Semoga berhasil, sayang."

__ADS_1


Si kembar memeluk Mia sebelum berangkat sekolah. Sebentar lagi mereka lulus sekolah dan bersiap masuk kuliah.


Alex : "Ayo, cepat berangkat. Rio, lepasin mama Mia."


Rio : "Bentar, pah. Masih ada waktu."


Alex : "Rio... Lepasin mama... Sekarang..."


Lagi, Alex dan Rio tarik-tarikan Mia. Riri ikutan juga menarik Alex. Masalahnya ia khawatir dengan kandungan Mia.


Riri : "Papa, stop. Nanti adik bayinya pusing."


Alex langsung melepaskan lengan Mia yang langsung dipeluk Rio. Mia tersenyum senang dipeluk anak laki-laki tirinya itu. Alex mendengus sebal menatap Mia dan Rio.


Setelah si kembar Mario dan Marie berangkat sekolah, Mia bersiap-siap berangkat kantor bersama Alex. Rara dan Arnold juga sudah siap berangkat.


Mereka berpisah jalan dan berangkat ke kantor masing-masing.


-----


Rara dan Arnold sampai di kantor mereka ketika resepsionis memberi tahu kalau ada tamu untuk Arnold.


Arnold : "Siapa?"


Resepsionis : "Nona Agnes, pak."


Arnold : "Mau apa lagi sich?"


Arnold menarik tangan Rara masuk ke dalam lift. Ia menggenggam tangan Rara erat-erat. Rara mengelus pipi Arnold untuk menenangkannya.


Agnes : "Kak Arnold!!"


Agnes hampir memeluk Arnold yang bisa menghindar dengan cepat. Arnold menuntun Rara untuk duduk di sofa,


Arnold : "Kamu mau apa lagi, Agnes? Aku sudah peringatkan kamu ya."


Agnes : "Kak, jangan gitu dong. Kakak coba lihat aku dech, aku lebih cantik lebih seksi daripada dia."


Arnold : "Mulai lagi, pergi sana. Kamu ganggu disini."


Agnes berdiri di depan Arnold, ia mulai melepas tali pakaian di pinggangnya dan menurunkan dress yang dipakainya.


Arnold menatap dingin wajah Agnes setelah ia hampir melepas pakaiannya, Rara berjalan cepat mendekati Agnes dan menamparnya.


Agnes : "Kauu...!!"


Rara : "Beraninya kamu menggoda suamiku. Pergi!!"


Agnes tetap tidak mau pergi, malahan berjalan mendekati Arnold yang masih berdiri diam. Agnes menempelkan tubuhnya pada lengan Arnold, bergerak erotis menggoda kakak sepupunya itu.


Pandangan Arnold tetap dingin, tiba-tiba ia mendorong Agnes ke samping dan berjalan lurus mendekati meja kerjanya. Rara sudah duduk diatas meja kerja Arnold, menurunkan blusnya hingga dadanya terekspos.


Arnold langsung mencium Rara tanpa peduli ada Agnes disana. Rara melenguh menikmati ciuman Arnold yang pindah ke bagian depan tubuhnya.


Agnes semakin kesal melihat Arnold malah bermesraan dengan Rara di depannya. Pakaian mereka bahkan hampir terbuka semua.

__ADS_1


Agnes : "Kakak!! Awas kalian...!!"


Agnes menutup pakaiannya dan berjalan cepat keluar dari ruang kerja sambil membanting pintu dengan keras. Rara mengintip Agnes yang sudah keluar dari sana. Ia bernafas lega,


Rara : "Mas, dia uda pergi..."


Rara mencoba mendorong tubuh Arnold yang masih mengukungnya diatas meja kerja. Arnold yang sudah lupa diri, tidak mau melepaskan Rara.


Rara : "Maaasss...!!"


Rara tidak bisa berbuat banyak saat Arnold menyatukan tubuh mereka. Dokumen di atas meja sampai jatuh berantakan di lantai.


Setelah pelepasannya mereka berdua, kali ini Arnold ingat memakai pengaman, Rara mendorong tubuh Arnold. Arnold tersenyum lebar menatap Rara yang tampak berantakan.


Rara : "Mas, gak bisa tahan diri dikit ya."


Arnold : "Sapa suruh kamu godain aku. Uda tahu aku gak bisa tahan sama kamu."


Rara : "Emang mas gak nafsu liat Agnes tadi?"


Arnold : "Ra, kamu tahu sendiri gimana kondisiku. Aku gak bisa ereksi kalau gak kamu yang rangsang. Puas banget... Mandi bareng yuk."


Rara : "Gak mau... Tambah lagi ntar. Aku duluan."


Rara ngibrit ke kamar mandi ruang kerja Arnold. Ia membersihkan diri dengan cepat karena harus membereskan ruang kerja Arnold yang berantakan.


Arnold gantian masuk ke kamar mandi setelah Rara keluar. Masi sempat menggodanya agar ikut masuk juga. Rara menggeleng, dan mulai membereskan meja kerja Arnold.


Ia mendengar dering telpon dari ruangan Ilham, dan mulai sibuk mengangkat telpon masuk. Setelah Arnold membersihkan dirinya, ia duduk kembali ke kursi kerjanya.


Rara menutup telpon, mencatat sesuatu di note yang ada diatas meja.


Arnold : "Sayang, sini."


Rara : "Kenapa, mas?"


Arnold : "Aku capek... Cium aku..."


Rara : "Cium sekali aja ya. Kerjaanku banyak, mas."


Arnold : "Iya."


Baru saja mereka mendekat hampir ciuman, suara telpon menyela mereka. Arnold mendengus kesal, membiarkan Rara menjawab telpon. Ia hanya bisa melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2