
Arnold beneran mengajak Rara bulan madu ke luar kota setelah Rara menyelesaikan urusan administrasi kuliahnya dan mendaftar untuk wisudanya.
Mereka menginap diprivate villa yang masih satu kota dengan rumah kelurga Arnold. Rara mengagumi interior di villa itu, ia senang bisa bersantai sejenak setelah ujian yang membuatnya pusing.
Arnold : "Sayang, mau makan apa?"
Mereka tiba dan check in di jam makan siang, Arnold sedang memilih menu yang terpasang di samping telpon.
Rara : "Aku mau makan kamu, mas."
Arnold menoleh dan tersenyum menatap Rara yang sedang menggodanya. Ia meraih pinggang Rara dan memeluknya erat.
Menghirup aroma tubuh Rara selalu membuat Arnold bergairah. Arnold menempelkan hidungnya dalam-dalam ke cerukan leher Rara.
Rara : "Maass... Aku bau acem nich. Mau mandi dulu."
Arnold : "Wangi kok. Aku selalu menyukai aroma tubuhmu, Ra."
Arnold semakin menggesekkan hidungnya ke leher Rara, membuat istrinya itu belingsatan kegelian.
Rara : "Mas, geli... Hihihi... Aduh..."
Arnold tidak bisa menahan dirinya lagi, tubuh Rara seperti candu yang membuatnya ketagihan. Sejak mereka pertama kali bertemu dan sampai saat ini, Arnold tidak bisa melepaskan Rara.
Rara terduduk di pinggir ranjang, Arnold terus menyender padanya hingga mereka jatuh diatas ranjang. Kehangatan yang dirasakan Rara perlahan meningkat menjadi panas yang menggelora, membakar keduanya.
-----
Rara menarik selimut menutupi sampai ke lehernya. Arnold tersenyum puas menatapnya yang juga tersenyum.
Rara : "Mas, gak pa-pa kan?"
Arnold : "Uda mendingan."
Rara bertanya begitu pasalnya tadi Arnold sempat memegangi pinggangnya yang tiba-tiba sakit. Arnold terlalu bersemangat sampai lupa kalau dia pernah dioperasi.
Rara : "Besok kita ke dokter ya. Aku gak mau kamu kenapa-napa."
Arnold : "Iya, sayang. Kamu lapar? Kita pesen makanan ya."
Rara : "Pakai baju dulu sana. Malu dilihat pelayan."
Arnold : "Pake bathrobe aja. Gerah."
Rara : "Mandi dong kalo gerah."
Arnold : "Aku masih mau lanjut..."
Rara menimpuk wajah Arnold dengan bantal yang ia peluk tadi. Ini masih siang bolong dan Arnold sudah mulai melahapnya.
Rara : "Mesum."
Arnold : "Biarin sama istri sendiri."
Arnold mencium gemas Rara yang mulai cemberut. Ia senang sekali melihat istrinya mulai manyun karena godaannya.
Ia bangkit dari ranjang, mengambil bathrobe di kamar mandi dan memesan makan siang untuk mereka.
__ADS_1
Rara yang juga mengambil bathrobe, mengintip keluar lewat jendela villa. Kolam renang di luar sana tampak menggodanya untuk berenang.
Arnold melihat Rara sibuk membuka kopernya dan menarik satu stel bikini dari dalam sana. Cuek saja Rara melepas bathrobe dan memakai bikini two piece berwarna hijau itu.
Arnold : "Mau renang?"
Rara : "Iya."
Arnold : "Tunggu, tempatnya aman gak?"
Yang dimaksud aman bagi Arnold saat Rara pakai bikini adalah hanya dia yang boleh melihatnya. Arnold berjalan keluar lewat pintu di samping ranjang dan melihat sekeliling.
Villa itu benar-benar private, jadi tidak ada celah yanv memungkinkan mengintip dari mana pun. Pintu keluar juga cuma satu.
Arnold : "Ok, aman."
Rara tersenyum lebar, ia membawa bathrobe keluar ke pinggir kolam renang dan streching sebelum mulai berenang.
Arnold masih menunggu pesanan makanan mereka datang. Rara mulai berenang bolak balik beberapa kali sampai ia kelelahan dan memilih bersandar di pinggir kolam.
Suasana yang tenang dan udara yang tidak terlalu panas, membuat Rara memejamkan matanya. Semilir angin berhembus, memberi perasaan tenang pada Rara.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, Arnold membalik tubuh Rara menghadap padanya,
Arnold : "Makanannya uda datang. Kamu mau tidur disini?"
Rara : "Nyaman banget disini, mas."
Rara merangkul leher Arnold, mereka saling pandang dan perlahan mendekat. Sebuah ciuman manis yang panjang dan dalam mereka lakukan di dalam kolam renang itu.
Nafas Rara terdengar berat dan cepat. Mereka menghangatkan air kolam yang dingin dan menyegarkan.
Arnold : "Sabar apanya? Makanya jangan menggodaku."
Rara : "Kapan aku godain?"
Arnold : "Semua yang kamu lakukan menggodaku, Ra. Dirimu selalu membuatku tidak tahan. Aku gak bisa menahan diriku di dekatmu."
Rara : "Mas, kamu sweet banget sich."
Arnold : "Sejak kita pertama bertemu, aku sudah merasakan ini. Aku gak bisa jauh dari kamu, sayangku. Tolong tetaplah jadi milikku."
Rara : "Aku akan selalu bersamamu, mas. Aku mencintaimu."
Arnold : "Aku lebih mencintaimu, Ra."
Arnold mencium belakang telinga Rara. Ia menggigit daun telinganya, sambil terus membisikkan kata-kata manis.
Rara : "Maas... Geli..."
Arnold : "Hmm..."
Rara : "Mas, udahan yuk. Dingin."
Arnold : "Nanggung bentar lagi."
Rara cuma bisa mengikuti keinginan Arnold. Mereka menghabiskan lima belas menit berikutnya menumpahkan rasa yang berkecamuk di dada.
__ADS_1
Setelah menuntaskan urusan mereka didalam kolam renang, keduanya makan siang bersama sambil menikmati semilir angin siang di pinggir kolam renang.
Arnold menyuapi nasi goreng miliknya ke Rara. Dan Rara menyuapkan mie gorengnya ke Arnold. Sedang asyik suap-suapan, pintu villa mereka diketuk seseorang.
Rara : "Mas pesen apa lagi?"
Arnold : "Gak ada. Coba aku lihat dulu."
Rara : "Iya, mas."
Arnold : "Pakai bathrobe-mu yang benar."
Rara tersenyum, ia belum mengikat tali bathrobe tadi. Perutnya sudah keburu lapar dan makanan yang terhidang di meja mengundang liurnya.
Arnold merapatkan bathrobe-nya menutupi tubuhnya. Ia hanya memakainya asal saja tadi. Sampai di depan pintu, ia tidak langsung membuka pintu tapi berdiri diam mendengarkan.
Seseorang sedang bicara sambil berbisik di depan pintu. Merasa curiga, Arnold malah berbalik. Ia menelpon manajer private villa yang juga temannya waktu SMA dulu.
Arnold : "Bro, coba lihat depan kamarku ada orang mencurigakan. Aku gak pesan apa-apa dan gak ada janji tapi ada yang mengetuk pintu kamarku."
Manager Yudi : "Ok, bro. Wait aku lihat di CCTV. Perlu kukirim security?"
Arnold : "Iya, kirim aja. Tanya mereka mau apa ya."
Manager Yudi : "Ada dua orang di depan. Satunya pria, sepertinya salah satu pegawaiku. Satunya lagi mungkin cewek tapi pakai topi dan terlihat mencurigakan."
Arnold : "Panggil security suruh cek ya. Aku akan buka pintunya sebentar lagi."
Manajer Yudi : "Ok."
Arnold menutup telponnya, Rara yang penasaran, menyusulnya ke dekat pintu.
Rara : "Kenapa, mas? Kok gak dibuka pintunya?"
Arnold : "Terlalu mencurigakan. Aku gak mau honeymoon kita diganggu dan aku sudah bilang dengan jelas sama manajernya."
Rara : "Trus siapa yang ada di depan pintu?"
Arnold : "Mungkin orang yang tidak kita inginkan."
Rara : "Jangan dibuka pintunya, mas. Aku takut."
Arnold : "Security akan datang, kamu tenang aja ya."
Arnold akhirnya membuka pintu setelah sekian kali ketukan dan security terdengar datang menanyai mereka.
Mereka sangat terkejut mendapati orang yang memakai topi dan tampak berdebat dengan security sebelum menoleh ke arah mereka.
----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------