
Menerima kenyataan
Alex : “Karena papa merasakan getaran yang sama
saat melihat mama Mia. Di jantung dan hati papa masih ada mama Selvi, papa
menolak semua wanita cantik yang datang mengejar papa. Menarik perhatian papa,
bahkan memaksa ingin papa nikahi. Tapi jantung papa hanya berdebar kencang pada
mama Mia saja.”
Rio : “Rio baru tahu. Rio sempat berpikir papa
sudah lupa sama mama Selvi. Tapi Rio bersyukur papa nikah sama mama Mia.
Meskipun bukan ibu kandung Rio tapi mama Mia menganggap kami seperti anaknya
sendiri. Tapi Rio mungkin gak sekuat papa. Rio masih perlu waktu.”
Alex : “Papa gak akan nglarang atau menghalangi
kamu mengenang Kaori. Tapi kamu harus ingat, kalau Kaori sudah tenang diatas
sana. Secara fisik mungkin dia tidak bersama kita, tapi selamanya dia akan ada
di hati kamu, Rio. Kamu bisa bayangkan apa yang dia rasakan kalau kamu terus
bersedih?”
Rio kembali menangis sampai kehilangan
kata-katanya. Alex memeluk putranya itu dan mereka menangis keras bersama-sama.
Setelah mereka tenang kembali, Rio mulai bicara lagi.
Rio : “Papa benar. Kaori berhak tenang disana. Rio
akan berusaha menjalani kehidupan Rio lebih baik lagi, pah. Biar papa gak
kecewa, Kaori juga gak kecewa.”
Alex : “Kamu sudah dewasa sekarang, Rio. Papa
bangga sama kamu. Satu hal lagi, jika suatu saat nanti ada seseorang yang hadir
dalam hidup kamu, mintalah ijin pada Kaori. Dia akan menunjukkan jalannya. Sama
seperti papa minta ijin pada mama Selvi saat papa ingin bersama mama Mia. Dan
kamu lihat sampai saat ini dan papa harap selamanya, papa akan terus bersama
mama Mia.”
Rio : “Ya, pah. Mungkin akan ada, mungkin juga
tidak.”
Alex : “Jangan dipikirkan, nak. Istirahat sana.”
Rio : “Boleh Rio tidur disini?”
Alex mengangguk, mereka berdua berbaring diatas
ranjang dengan foto Selvi berada di tengah mereka. Ponsel Rio tergeletak di
sampingnya, ponsel itu menyala menampilkan wallpaper foto Kaori yang terlihat
sangat cantik.
Mia mengintip dari balik pintu, ia mengusap air
matanya melihat kedua pria di dalam sana tertidur lelap dengan foto cinta
pertama mereka. Pelan-pelan Mia masuk dan mematikan lampu. Sekali lagi ia tersenyum
melihat keduanya dan keluar dari sana.
*****
Katty melihat keluar jendela kamarnya. Malam itu, langit
agak mendung dan suasana sangat suram. Jodi mendekati Katty, menyampirkan
selimut tipis ke tubuh istrinya itu.
Jodi : “Sayang, kamu mikirin apa?”
__ADS_1
Katty : “Aku mikirin Rio.”
Jodi : “Uda ada aku, masi mikirin pria lain.”
Katty : “Dia kan adikku. Kamu suamiku. Bedalah.”
Jodi : “Apa? Coba ulang lagi.”
Katty : “Dia kan adikku. Kamu suamiku...”
Jodi : “Coba kamu manggil aku gitu.”
Katty : “Suamiku?”
Jodi : “Iya, istriku.”
Katty : “Dih.”
Jodi tersenyum menatap Katty, diciumnya bibir
istrinya itu. Ia mengusap kepala Katty dengan sayang.
Jodi : “Jangan sedih lagi, sayang. Kasian Kaori
disana gak tenang.”
Katty : “Aku udah iklas, suamiku. Tapi Rio, entah
kapan bisa iklas. Kasian dia.”
Jodi : “Dia pasti bisa. Beri dia waktu lebih lama,
sayang. Kita tidur yuk.”
Katty : “Aku masih mau disini.”
Jodi pindah duduk di belakang Katty, ia menarik
Katty bersandar padanya dan ikut melihat pemandangan malam. Lama kelamaan,
Katty jatuh tertidur di pelukan Jodi.
*****
Keesokan harinya di kampus, Rio berpapasan dengan
Gadis. Ia sudah ingin bicara tentang magang di kantor papanya, tapi Gadis
sadar kalau setelah kepergian Kaori, Gadis berubah menghindarinya.
Ia baru memperhatikan kalau Gadis selalu duduk di
belakang, jauh dari jarak pandangnya. Kalaupun mereka berpapasan seperti tadi,
Gadis bersikap seolah Rio tidak ada di depannya. Rio duduk di depan kelas
seperti biasanya, ia menoleh ketika Luki berjalan mendekati Gadis dan
mengajaknya ngobrol.
Keduanya tertawa bersama, sesuatu yang biasa
dilakukan Gadis dulu pada Rio. Mencoba menarik perhatiannya dan membuat Rio
tertawa. Gadis selalu berada di sekitar Rio terutama saat Kaori tidak
bersamanya. Entah bagaimana, Gadis selalu bisa menemukan keberadaan Rio.
Luki kembali duduk di samping Rio.
Luki : “Jangan melotot gitu. Horor amat lo.”
Rio : “Mata gue emang gini. Gak suka lo?”
Luki : “Dih, sensi. Gue cuma ngobrol biasa sama
Gadis.”
Rio : “Gak ada hubungannya sama gue.”
Dosen mereka masuk ke kelas dan kuliah dimulai.
Lagi-lagi, dosen memberi tugas dan mengelompokkan Gadis, Luki, dan Rio dalam
satu kelompok. Mereka harus membuat presentasi mengenai membuka sebuah usaha
atau cara berwiraswasta dengan modal dibawah 50jt.
__ADS_1
Dosen : “Kalian silakan duduk dengan kelompok
masing-masing.”
Gadis menarik nafas berat, ia benar-benar tidak
ingin bicara dengan Rio sekarang setelah peristiwa kemarin. Luki duduk diantara
mereka, merasa jadi seperti ibu yang sedang menemani anak perempuannya bicara
dengan calon jodohnya.
Gadis : “Luki, kita mau bikin apa? Kedai kopi?”
Rio : “Gak ada kedai kopi dibawah 50jt. Modalnya
paling gak 100jt.”
Gadis : “Kalau makanan rumahan?”
Rio : “Gimana konsepnya?”
Luki menoleh ke kiri dan ke kanan seperti ingin
menyebrang jalan. Ia pusing dan akhirnya meminta Rio berganti tempat duduk. Rio
pindah duduk disamping Gadis yang sudah mengeluarkan kertas kosong. Keduanya
memperhatikan apa yang ditulis Gadis di kertas itu.
Setelah selesai, Gadis mengangkat kertas itu dan
mulai mengatakan idenya dengan suara pelan.
Gadis : “Ini baru konsepnya. Aku akan tanya bibik
di rumah. Dia biasa belanja ke pasar. Jadi kita bisa tahu berapa budget yang
diperlukan untuk satu porsi makanan.”
Rio : “Untuk pemasarannya bisa lewat online. Ada
aplikasi tofood yang bisa dipakai. Aku akan cari cara gabungnya dan pembagian
hasilnya.”
Luki : “Trus aku ngapain?”
Gadis : “Kamu survey. Anak-anak kost di kampus kita
paling suka pesan makanan apa dan berapa rata-rata harganya. Apa perlu kita
buat kuisioner?”
Rio : “Ya, buat kuisioner yang berisi pertanyaan
singkat. Sebar lewat WA saja.”
Luki merasa beruntung berada di kelompok yang sama
dengan orang-orang paling pintar di kelas mereka. Bahkan Gadis bisa memikirkan
dengan cepat apa langkah yang harus mereka lakukan. Dosen kembali menyuruh
mereka semua diam dan mulai menanyakan apa sudah ada yang punya konsep.
Rio mengangkat tangannya mewakili kelompok. Ia
menjelaskan secara singkat tentang usul Gadis tadi dan langkah apa yang akan
mereka lakukan.
Dosen : “Bagus sekali. Saya sudah bisa membayangkan
hasilnya. Yang lain ada lagi?”
Satu per satu kelompok lain mengangkat tangannya
sampai waktu kuliah sudah berakhir.
Gadis : “Kalau kalian mau, kita langsung ke rumahku
untuk mematangkan presentasi kita sekarang. Aku cukup sibuk dengan tugas
lainnya setelah ini.”
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).