Duren Manis

Duren Manis
Menerima kenyataan


__ADS_3

Menerima kenyataan


 Alex : “Karena papa merasakan getaran yang sama


saat melihat mama Mia. Di jantung dan hati papa masih ada mama Selvi, papa


menolak semua wanita cantik yang datang mengejar papa. Menarik perhatian papa,


bahkan memaksa ingin papa nikahi. Tapi jantung papa hanya berdebar kencang pada


mama Mia saja.”


Rio : “Rio baru tahu. Rio sempat berpikir papa


sudah lupa sama mama Selvi. Tapi Rio bersyukur papa nikah sama mama Mia.


Meskipun bukan ibu kandung Rio tapi mama Mia menganggap kami seperti anaknya


sendiri. Tapi Rio mungkin gak sekuat papa. Rio masih perlu waktu.”


Alex : “Papa gak akan nglarang atau menghalangi


kamu mengenang Kaori. Tapi kamu harus ingat, kalau Kaori sudah tenang diatas


sana. Secara fisik mungkin dia tidak bersama kita, tapi selamanya dia akan ada


di hati kamu, Rio. Kamu bisa bayangkan apa yang dia rasakan kalau kamu terus


bersedih?”


Rio kembali menangis sampai kehilangan


kata-katanya. Alex memeluk putranya itu dan mereka menangis keras bersama-sama.


Setelah mereka tenang kembali, Rio mulai bicara lagi.


Rio : “Papa benar. Kaori berhak tenang disana. Rio


akan berusaha menjalani kehidupan Rio lebih baik lagi, pah. Biar papa gak


kecewa, Kaori juga gak kecewa.”


Alex : “Kamu sudah dewasa sekarang, Rio. Papa


bangga sama kamu. Satu hal lagi, jika suatu saat nanti ada seseorang yang hadir


dalam hidup kamu, mintalah ijin pada Kaori. Dia akan menunjukkan jalannya. Sama


seperti papa minta ijin pada mama Selvi saat papa ingin bersama mama Mia. Dan


kamu lihat sampai saat ini dan papa harap selamanya, papa akan terus bersama


mama Mia.”


Rio : “Ya, pah. Mungkin akan ada, mungkin juga


tidak.”


Alex : “Jangan dipikirkan, nak. Istirahat sana.”


Rio : “Boleh Rio tidur disini?”


Alex mengangguk, mereka berdua berbaring diatas


ranjang dengan foto Selvi berada di tengah mereka. Ponsel Rio tergeletak di


sampingnya, ponsel itu menyala menampilkan wallpaper foto Kaori yang terlihat


sangat cantik.


Mia mengintip dari balik pintu, ia mengusap air


matanya melihat kedua pria di dalam sana tertidur lelap dengan foto cinta


pertama mereka. Pelan-pelan Mia masuk dan mematikan lampu. Sekali lagi ia tersenyum


melihat keduanya dan keluar dari sana.


*****


Katty melihat keluar jendela kamarnya. Malam itu, langit


agak mendung dan suasana sangat suram. Jodi mendekati Katty, menyampirkan


selimut tipis ke tubuh istrinya itu.


Jodi : “Sayang, kamu mikirin apa?”

__ADS_1


Katty : “Aku mikirin Rio.”


Jodi : “Uda ada aku, masi mikirin pria lain.”


Katty : “Dia kan adikku. Kamu suamiku. Bedalah.”


Jodi : “Apa? Coba ulang lagi.”


Katty : “Dia kan adikku. Kamu suamiku...”


Jodi : “Coba kamu manggil aku gitu.”


Katty : “Suamiku?”


Jodi : “Iya, istriku.”


Katty : “Dih.”


Jodi tersenyum menatap Katty, diciumnya bibir


istrinya itu. Ia mengusap kepala Katty dengan sayang.


Jodi : “Jangan sedih lagi, sayang. Kasian Kaori


disana gak tenang.”


Katty : “Aku udah iklas, suamiku. Tapi Rio, entah


kapan bisa iklas. Kasian dia.”


Jodi : “Dia pasti bisa. Beri dia waktu lebih lama,


sayang. Kita tidur yuk.”


Katty : “Aku masih mau disini.”


Jodi pindah duduk di belakang Katty, ia menarik


Katty bersandar padanya dan ikut melihat pemandangan malam. Lama kelamaan,


Katty jatuh tertidur di pelukan Jodi.


*****


Keesokan harinya di kampus, Rio berpapasan dengan


Gadis. Ia sudah ingin bicara tentang magang di kantor papanya, tapi Gadis


sadar kalau setelah kepergian Kaori, Gadis berubah menghindarinya.


Ia baru memperhatikan kalau Gadis selalu duduk di


belakang, jauh dari jarak pandangnya. Kalaupun mereka berpapasan seperti tadi,


Gadis bersikap seolah Rio tidak ada di depannya. Rio duduk di depan kelas


seperti biasanya, ia menoleh ketika Luki berjalan mendekati Gadis dan


mengajaknya ngobrol.


Keduanya tertawa bersama, sesuatu yang biasa


dilakukan Gadis dulu pada Rio. Mencoba menarik perhatiannya dan membuat Rio


tertawa. Gadis selalu berada di sekitar Rio terutama saat Kaori tidak


bersamanya. Entah bagaimana, Gadis selalu bisa menemukan keberadaan Rio.


Luki kembali duduk di samping Rio.


Luki : “Jangan melotot gitu. Horor amat lo.”


Rio : “Mata gue emang gini. Gak suka lo?”


Luki : “Dih, sensi. Gue cuma ngobrol biasa sama


Gadis.”


Rio : “Gak ada hubungannya sama gue.”


Dosen mereka masuk ke kelas dan kuliah dimulai.


Lagi-lagi, dosen memberi tugas dan mengelompokkan Gadis, Luki, dan Rio dalam


satu kelompok. Mereka harus membuat presentasi mengenai membuka sebuah usaha


atau cara berwiraswasta dengan modal dibawah 50jt.

__ADS_1


Dosen : “Kalian silakan duduk dengan kelompok


masing-masing.”


Gadis menarik nafas berat, ia benar-benar tidak


ingin bicara dengan Rio sekarang setelah peristiwa kemarin. Luki duduk diantara


mereka, merasa jadi seperti ibu yang sedang menemani anak perempuannya bicara


dengan calon jodohnya.


Gadis : “Luki, kita mau bikin apa? Kedai kopi?”


Rio : “Gak ada kedai kopi dibawah 50jt. Modalnya


paling gak 100jt.”


Gadis : “Kalau makanan rumahan?”


Rio : “Gimana konsepnya?”


Luki menoleh ke kiri dan ke kanan seperti ingin


menyebrang jalan. Ia pusing dan akhirnya meminta Rio berganti tempat duduk. Rio


pindah duduk disamping Gadis yang sudah mengeluarkan kertas kosong. Keduanya


memperhatikan apa yang ditulis Gadis di kertas itu.


Setelah selesai, Gadis mengangkat kertas itu dan


mulai mengatakan idenya dengan suara pelan.


Gadis : “Ini baru konsepnya. Aku akan tanya bibik


di rumah. Dia biasa belanja ke pasar. Jadi kita bisa tahu berapa budget yang


diperlukan untuk satu porsi makanan.”


Rio : “Untuk pemasarannya bisa lewat online. Ada


aplikasi tofood yang bisa dipakai. Aku akan cari cara gabungnya dan pembagian


hasilnya.”


Luki : “Trus aku ngapain?”


Gadis : “Kamu survey. Anak-anak kost di kampus kita


paling suka pesan makanan apa dan berapa rata-rata harganya. Apa perlu kita


buat kuisioner?”


Rio : “Ya, buat kuisioner yang berisi pertanyaan


singkat. Sebar lewat WA saja.”


Luki merasa beruntung berada di kelompok yang sama


dengan orang-orang paling pintar di kelas mereka. Bahkan Gadis bisa memikirkan


dengan cepat apa langkah yang harus mereka lakukan. Dosen kembali menyuruh


mereka semua diam dan mulai menanyakan apa sudah ada yang punya konsep.


Rio mengangkat tangannya mewakili kelompok. Ia


menjelaskan secara singkat tentang usul Gadis tadi dan langkah apa yang akan


mereka lakukan.


Dosen : “Bagus sekali. Saya sudah bisa membayangkan


hasilnya. Yang lain ada lagi?”


Satu per satu kelompok lain mengangkat tangannya


sampai waktu kuliah sudah berakhir.


Gadis : “Kalau kalian mau, kita langsung ke rumahku


untuk mematangkan presentasi kita sekarang. Aku cukup sibuk dengan tugas


lainnya setelah ini.”


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2