
Extra part 51
Tiba di rumah Jodi, hanya ada penjaga yang
membukakan pintu gerbang. Katty mengerutkan keningnya melihat lampu ruang tamu
sudah mati. Bahkan sepertinya lampu di dalam rumah mati semua. Jendela besar terlihat
berwarna gelap dari luar.
“Penjaga, kenapa lampu di rumah mati? Kemana semua
orang?” tanya Katty pada penjaga yang membantunya menurunkan barang belanjaan
Katty.
“Saya tidak tahu, nyonya. Shift saya mulai setengah
jam yang lalu dan dari tadi tidak ada yang keluar atau datang selain nyonya,”
sahut penjaga itu sopan.
Katty tidak bertanya lagi, ia mengambil semua
belanjaannya dari tangan penjaga lalu berjalan masuk ke dalam rumah seorang
diri. Suasana yang gelap membuat Katty kesulitan berjalan. Ia menggapai dinding
mencari saklar lampu, tapi ia ingat kalau saklar lampu hanya ada di dekat dapur
dan tangga. Ketika Katty ingin mengeluarkan ponselnya untuk menghidupkan lampu,
tiba-tiba lampu menyala.
“Surprise!!!!” teriak semua orang bersamaan.
Belanjaan Katty berjatuhan ke lantai, ia bengong
melihat semua orang sudah berdiri menatapnya. Perhatian Katty teralihkan pada
Jodi yang berjalan mendekatinya. Pria itu terlihat tampan dengan setelah jas.
“Sayang, kamu sudah pulang. Ganti baju dulu ya.
Kita lanjutkan pestanya,” kata Jodi.
Tapi Katty tidak mau mengganti pakaiannya. Ia
menunjuk-nunjuk Jodi, menuduh pria itu mengkhianatinya bahkan sebelum
pernikahan mereka, puluhan tahun yang lalu.
“Sayang, nanti kita bicarakan ya. Semua orang sudah
nunggu kamu. Dandan dulu ya,” bujuk Jodi.
Katty masih marah, wanita itu bahkan mengamuk
sambil mendorong-dorong Jodi. Tingkahnya membuat Jodi terpaksa menyeret Katty
masuk ke kamar mereka. Suasana pesta yang tadinya sempat tegang, kembali
berjalan seperti biasanya.
Di dalam kamar mereka, Katty melepaskan dirinya
dari pelukan Jodi, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Segala uneg-unegnya
harus keluar sekarang atau ia akan gila.
“Aku sudah ketemu sama anakmu dari wanita lain. Dia
minta hak-nya sebagai anak. Apa keputusanmu?” tanya Katty to the point.
“Sayang, itu semua nggak bener. Cuma prank, yank. Aku
setia sama kamu, sumpah,” bujuk Jodi.
“Trus kenapa Alan punya test DNA kalian? Foto kamu
juga sama mamanya, sangat dekat. Masih berani bilang itu prank! Kamu
pengkhianat brengsek!” maki Katty sambil bangkit lalu menendang meja.
Ia mengaduh kesakitan sendiri sampai terduduk di atas
tempat tidurnya. Katty mengurut kakinya yang sakit. Jodi menghela nafas,
sepertinya prank-nya kali ini cukup berlebihan.
“Yank, Alan itu anaknya X dan Melda. Aku sengaja
minta tolong sama Alan untuk ngeprank kamu. Biar aku bisa nyiapin pesta kejutan
kali ini,” jelas Jodi. “Anaknya ada diluar kalo kamu nggak percaya.”
Tiba-tiba Katty menangis kencang, ia
berguling-guling diatas tempat tidurnya seperti anak kecil yang tidak dapat
mainan baru. Jodi melihat jam-nya. Ia membiarkan Katty tetap seperti itu sampai
lima menit berikutnya.
“Udah, sayang? Jangan nangis lagi dong. Ayo kita
keluar,” ajak Jodi.
“Kamu tega ngeprank aku kayak gitu. Aku malu tahu!
Ada calon besan juga!” kata Katty yang sempat melihat Bianca dan Ilham tadi.
__ADS_1
“Mereka udah tahu bakalan begitu reaksimu, sayang. Ganti
baju dulu ya. Gaunmu udah siap tuch,” kata Jodi masih membujuk Katty.
Dipeluknya istri yang sudah mendampinginya selama
bertahun-tahun. Ibu dari anak-anaknya dan juga menantu terbaik yang dimiliki
papa dan mama Jodi. Katty juga memeluk Jodi dengan erat. Setelah
bertahun-tahun, ia masih takut kehilangan pria itu. Katty selalu berusaha
mengimbangi Jodi, menjadi pasangan yang melengkapi suaminya itu.
Meskipun Jodi sudah menyerahkan semua harta
keluarga menjadi atas nama Katty, wanita itu masih memiliki ketakutan kalau
Jodi akan meninggalkannya suatu saat nanti.
“Sayang, selamanya kita akan bersama-sama. Meskipun
kamu jadi tua dan keriput, aku tetap mencintaimu, kucing liarku. Tapi aku suka
kalau kamu marah kayak kemarin, yank. Aku ngerasa kembali seperti waktu kita
belum nikah dulu. Aku request yang kayak kemarin lagi, boleh nggak?” tanya Jodi
sambil menaikturunkan alisnya.
“Kamu nakal, yank,” rengek Katty manja.
Tapi Katty tidak bisa menolak Jodi. Mereka sibuk
berdua di dalam kamar, sementara di luar kamar, Pak Jang dan beberapa pelayan
yang siap membantu Katty, masih tetap setia menunggu.
Tamu undangan yang tidak terlalu memusingkan yang
punya hajat, asyik menikmati pesta. Keira tampil cantik dengan gaun berwarna
merah maroon. Sangat serasi dengan Bilar yang memakai kemeja warna senada.
Keduanya selalu lengket kemana-mana berdua terus.
Bianca dan Ilham tentu saja ada disana juga. Bahkan
X juga datang bersama Melda dan Alan. Mereka sengaja diundang untuk menjelaskan
prank yang membuat Katty salah paham parah. Selain itu ada Guntur dan juga
Anisa yang datang bersama putri kedua mereka, Ginara.
Ginara, gadis manis berusia dua puluh dua tahun itu
sedang mencicipi beberapa hidangan yang tersedia di atas meja. Alan yang
tahu isi yang ada di atas nampan kecil.
Alan dan Ginara saling menatap sebelum sama-sama
mengangguk. Untuk sesaat Alan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ginara.
Wajah cantik gadis itu mulai mengganggu pikirannya.
“Hai. Kamu mau tahu isinya? Silakan diambil,” sapa
Ginara pada Alan.
“Hai juga. Buat kamu aja,” kata Alan sambil
berjalan memutari meja.
Alan mengambil kudapan lain lalu memakannya sambil sesekali
melirik Ginara. Pemuda itu tersenyum tipis melihat ekspresi Ginara yang kepedesan
karena menggigit cabai dari tahu isi. Ia menyodorkan sebotol minuman dingin
pada Ginara.
“Sss... hah... pedes banget. Makasi ya. Namaku
Ginara. Kamu?” tanya Ginara sambil berjuang mengurangi rasa pedas di lidahnya.
“Aku Alan,” sahut Alan.
“Oh, kamu tokoh utamanya yang membuat kak Katty dan
kak Jodi berantem?” tanya Ginara kepo.
“Itukan cuma prank. Bukan hal yang serius,” sahut
Alan lagi.
Katty dan Jodi akhirnya keluar dari kamar mereka.
Katty tampak anggun mengenakan gaun yang senada dengan dasi yang dikenakan
Jodi. Keduanya tersenyum bahagia sambil menyapa para tamu yang diundang. Pelayan
dan beberapa body guard juga ikut bergabung dengan pesta malam itu.
“Sayang, ada kejutan lagi untuk kamu. Siap ya.
Tiga! Dua! Satu!” seru Jodi.
Tiba-tiba dari atas, seribu balon mulai berjatuhan memenuhi
tempat pesta. Katty tersenyum girang melihat ratusan balon berjatuhan memenuhi
__ADS_1
lantai. Semua orang tampak bermain-main dengan kumpulan balon itu. Tapi tidak
bagi Ginara. Gadis itu terus menutupi telinganya, ia takut kalau balon-balon
itu akan meledak. Ginara takut mendengar suara balon meletus.
Saat Ginara sedang menghindar dari hujan balon, ia hampir
jatuh karena kakinya terlilit tali yang menempel di beberapa balon. Seseorang
menangkap tubuhnya dengan cepat lalu membantu melepaskan belitan tali di kaki
gadis itu. Ginara tersenyum lagi pada Alan yang sibuk membantunya. Mereka
kemudian duduk di kursi yang jauh dari kumpulan balon .
“Makasih, Alan. Aku takut sama suara balon pecah.
Kalau tahu kejutannya ada hujan balonnya gini, dari awal aku nggak kesini dech,”
cerocos Ginara.
“Kalo kamu nggak kesini, kita nggak bakalan ketemu
dong,” bisik Alan.
“Kamu bilang apa?” tanya Ginara yang tidak mendengar
apa yang dikatakan Alan.
Pemuda itu menggeleng, ia mengalihkan perhatian Ginara
pada dekorasi buah di meja yang berisi makanan. Salah satu balon melambung
menuju dekorasi yang berisi buah nanas itu. Sedikit lagi balon itu akan
meledak, Alan dengan cepat menutup kedua telinga Ginara dengan kedua tangannya.
Dor! Dor! Dor! Beberapa balon meletus sekaligus.
Ginara memejamkan matanya, tapi ia tidak terlalu jelas mendengar suara ledakan
balon itu karena Alan menolongnya lagi. Anisa yang tahu tentang ketakutan
Ginara, mencari putrinya itu dan mendapati Ginara sedang duduk bersama Alan.
Senyum mengembang di bibir Anisa, setidaknya Ginara
sudah mendapat teman baru lagi. Putrinya itu memang ramah dan supel. Sedikit
lemot karena pikirannya yang polos, membuat Anisa harus selalu memberi pengertian
ekstra pada gadis itu.
“Ginara, kamu nggak apa-apa, sayang?” tanya Anisa
sambil berjalan menghampiri keduanya.
Alan segera melepaskan tangannya dari telinga
Ginara. Pemuda itu berdiri, membiarkan Anisa duduk di samping Ginara. Bahkan
Alan menghilang dengan cepat sebelum Ginara memperkenalkannya pada Anisa.
X, Melda, dan Alan mendekati Katty dan Jodi. Pak
Jang memberitahu mereka kalau Katty ingin bertemu. Alan berdiri di belakang X,
ia tidak mau mengambil resiko akan ditampar Katty.
“Loh, ini mamamu, trus yang difoto itu, kok nggak
mirip?” tanya Katty.
“Aku edit dikit, tante. Nggak sulit, itu kerjaan
kecil,” sahut Alan masih berdiri di belakang X.
“Kamu kenapa nggak berani deket-deket. Sini, aku
mau jewer telingamu. Bisa-bisanya ngeprank aku kayak gitu,” kata Katty dengan
nada bercanda.
Alan berpindah sembunyi di belakang Melda, ia
memegang pinggang mamanya itu sambil tersenyum canggung. Katty tidak
mempermasalahkan lagi tentang prank itu. Ia mulai memperhatikan Alan yang
terlihat masih sangat muda tapi sangat jenius. Jodi sudah menceritakan kalau
semua bahan pendukung prank itu, dikerjakan oleh Alan.
“Lan, kamu nggak minat kerja sama aku? Gaji nego
tipis lah,” kata Katty memiliki maksud yang sama dengan Jodi.
“Nah, tante Katty aja juga minat sama keahlian
kamu. Kerja sama om juga ya,” kata Jodi maksa.
X dan Melda mencoba membujuk Alan juga. Mereka
berpikir kalau Alan tidak ada kerjaan dan lebih banyak menghabiskan waktu di
kamarnya, entah melakukan apa.
“Atau kamu masih sekolah ya? Kelas berapa?” tanya
Katty.
__ADS_1