
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 33
Ken menoleh menatap reaksi Endy yang menutup mulutnya. Sepertinya akan jadi malam yang panjang kalau Endy mau membahasnya malam ini juga. Dan Ken tidak mau melakukan itu, ia hanya ingin menghabiskan
waktunya yang berharga dan sangat sedikit bersama Kaori.
“Masalah salah paham, itu urusan orang tua kita, Kaori. Yang jelas mereka sudah merestui kita dan sebaiknya kita ke kamar sekarang. Ini sudah malam, kamu harus cepat tidur,” putus Ken.
“Ken, kamu mau itu ya?” tanya Kaori membuat otak Ken sedikit traveling.
“Itu apa? Aku nggak ngerti kamu ngomong apa, Kaori,” sahut Ken pura-pura polos.
“Oh, syukurlah kalo kamu nggak ngerti,” balas Kaori sambil tersenyum manis.
Ken menarik tangan Kaori lalu berbisik pada gadis itu kalau sebenarnya Ken mengerti apa yang dimaksud Kaori. Reaksi Kaori membuat Ken semakin ingin menggodanya. Wajah gadis itu merona merah dengan mimik wajah terkejut.
“Karena kamu sudah memulainya, ayo kita bahas
sampai tuntas, sayang,” bisik Ken.
“K—Ken...!!” pekik Kaori kaget.
Ken mengangkat tubuh Kaori lalu membawanya menaiki
tangga menuju kamar pria itu. Kaori menggenggam erat tongkatnya, jantungnya
mulai berdetak kencang. Sejak menerima lamaran Ken, Kaori sudah bersiap-siap
jika pria itu memintanya untuk melakukan malam pertama duluan. Tapi ketika
waktunya tiba, Kaori tetap tidak bisa menutupi kegugupannya.
Ceklek! Brak! Kaori mendengar suara pintu terbuka
lalu tertutup dengan cepat. Kamar itu memiliki aroma maskulin Ken yang menguar
ke seluruh ruangan. Ken mendudukkan Kaori di pinggir tempat tidur, lalu menarik
tongkat gadis itu dan menyandarkannya di dekat nakas.
Kaori meraba seprai lembut yang sedang ia duduki.
Ia merasakan kalau seprai tempat tidur Ken lebih nyaman dari sebelumnya. Kaori
ingin segera berbaring, tapi takut memancing hasrat pria itu.
“Ken, seprainya ganti ya? Ini terasa lebih lembut
dari sebelumnya,” kata Kaori mencoba menenangkan jantungnya.
“Ini masih seprai yang sama, Kaori. Kamu kenapa
gugup gitu?” tanya Ken ingin menggoda Kaori.
Kaori menunduk malu-malu, gadis itu menarik
tangannya ketika Ken menyentuh ujung jarinya. Ia juga bergeser sedikit saat
merasakan Ken duduk disampingnya. Keduanya hanya duduk diam beberapa saat
dengan pikiran mengembara. Ken bicara lebih dulu kalau ia ingin mengganti
pakaiannya dengan piyama tidur. Kaori hanya mengangguk dengan tangan masih
meraba-raba seprai.
Ken mengganti pakaiannya di dekat lemari baju. Ia
melirik Kaori yang masih anteng di pinggir tempat tidurnya. Kaki gadis itu
mulai bergoyang-goyang menendang ke depan. Sepertinya Kaori sedang berusaha bersantai
dengan menggerakkan kakinya seperti itu.
“Kaori, kamu mau ganti baju? Kamu bisa pakai
kaosku. Ada celana pendek juga,” kata Ken.
“I—iya, Ken. Dimana kamar mandinya?” tanya Kaori
sambil bangkit dari duduknya.
Ken menuntun Kaori menuju kamar mandi dan
menunjukkan tempat wastafel dan juga toilet duduk. Saat Kaori meraih retsleting
dress yang dipakainya, ia menyadari kalau Ken belum keluar dari kamar mandi.
“Ken, kamu bisa keluar kok. Aku bisa sendiri,” ucap
Kaori.
“Aku boleh bantuin kamu? Janji nggak nakal,” bisik
Ken di telinga Kaori.
Kaori terlihat ragu-ragu, wajahnya merah merona.
Tapi saat Ken menyibak rambut panjangnya dan menurunkan retsleting dress Kaori,
gadis itu tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Tangan Ken menyusuri
punggung Kaori yang lembut dan mulus. Kaori sedikit berjengit merasakan tangan
dingin Ken.
“Kaori, bra-nya dilepas juga nggak?” tanya Ken
jahil.
Kaori menggeleng, ia tersenyum ketika Ken
memasukkan kaos ke kepalanya. Kaos itu menutupi tubuh mungil Kaori,
memudahkannya meloloskan dress tanpa takut tubuhnya akan terlihat Ken. Setelah
mengeluarkan tangannya lewat lengan kaos, Kaori merasakan kalau kaos itu cukup
__ADS_1
panjang hingga menutupi setengah pahanya.
“Ken, kamu keluar dulu ya. Aku mau pakai
toiletnya,” pinta Kaori.
“Iya, sayang. Jangan lama-lama ya. Panggil aja
kalau udah selesai, aku tunggu di depan pintu,” sahut Ken sambil berjalan
keluar dari kamar mandi.
Kaori membutuhkan waktu cukup lama di dalam kamar
mandi. Entah apa yang ia lakukan di dalam sana, saat pintu kamar mandi terbuka,
Ken hampir jatuh melihat penampilan Kaori. Wajah cantik Kaori terlihat lebih
natural dan bersinar. Rambutnya sedikit basah, terkumpul semuanya di bahu kanan
Kaori. Sedangkan bahu kirinya terlihat jelas karena kaos yang kebesaran dan
sepertinya Kaori melepas bra yang dipakainya tadi.
Glup! Ken menelan salivanya, pria itu tanpa sadar
bergerak mundur dari Kaori. Sungguh, ia takut khilaf sekarang kalau berdekatan
dengan gadis yang sangat ia cintai itu.
“Ken? Susuku mana?” pinta Kaori yang terbiasa minum
susu hazelnut.
“Susumu... ach, iya. Sebentar ya. Sini duduk dulu
diatas tempat tidur,” kata Ken sambil menuntun Kaori dan membantunya masuk ke
bawah selimut.
Setelah memastikan Kaori merasa nyaman, Ken membuka
pintu kamarnya tepat saat Endy hampir mengetuk pintu.
“Papa? Ada apa?” tanya Ken sedikit terkejut.
“Ini susu untuk Kaori. Kalian belum tidur?” tanya
Endy sambil memberikan segelas susu beraroma hazelnut pada Ken.
“Baru selesai ganti baju, pah. Makasih susunya,
pah. Ada lagi yang lain?” tanya Ken karena Endy belum beranjak dari depan
kamarnya.
“Jangan kasar-kasar ya. Nanti dia trauma, kamu juga
yang repot. Rayu pelan-pelan sampai dapat,” nasehat Endy membuat Ken ternganga
tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
melongok keluar mengikuti langkah kaki Endy dengan matanya. Seharusnya Endy
melarang Ken menyentuh Kaori sebelum mereka resmi menikah. Tapi sepertinya Endy
dan Kinanti tidak keberatan sama sekali kalau Ken melakukannya sekarang.
“Ken? Itu papamu ya?” tanya Kaori yang masih
menunggu.
“Eh, iya, Kaori. Papa buatin kamu susu. Ini,
minumlah,” kata Ken sambil mendekat, lalu menyodorkan gelas susu hangat ke
tangan Kaori.
Gadis itu tersenyum manis saat susu hangat mengalir
masuk ke tenggorokannya. Entah seberapa enak susu di dalam gelas itu tapi tegukan
Kaori jelas menunjukkan kalau ia sangat menyukai apa yang diminumnya. Saat
gelas susu itu akhirnya kosong, Kaori menyentuh sudut bibirnya yang sedikit
basah.
Bruk! Tubuh Kaori terdorong ke atas tempat tidur
saat Ken tiba-tiba mencium gadis itu lagi. Wangi hazelnut memenuhi dinding mulut
Kaori, ketika Ken menuntut ciuman yang lebih dalam. Tangan Ken juga mulai tidak
bisa diam, menyentuh bagian tubuh Kaori yang bisa ia raih.
“Ach, Ken! Jangan...,” lirih Kaori mencoba melawan
meskipun kalah tenaga.
Ken memanfaatkan berat tubuhnya untuk menahan
pergerakan Kaori. Ia ingin mencium Kaori sampai puas sebelum akhirnya tidur
sambil memeluk gadis itu. Kaori berhenti memberontak, ia malah memeluk leher
Ken sambil menikmati ciuman mereka. Percuma bagi Kaori untuk melawan, ia hanya
bisa pasrah.
“Ken... sayang...,” bisik Kaori membuat Ken menjauhkan
kepalanya sedikit.
Ken menatap wajah merona Kaori yang tampak sangat
cantik. Tangan gadis itu menangkup kedua pipi Ken lalu mengelusnya dengan
__ADS_1
lembut.
“Kaori, aku tidak bisa menahannya. Maafkan aku,”
bisik Ken lirih.
“Aku tahu, Ken. Tapi pelan-pelan ya. Ini pertama
kali bagiku. Jujur, aku takut,” ucap Kaori sedikit gemetar.
“Apa aku boleh? Malam ini?” tanya Ken mulai
berdebar.
Kaori mengangguk tanpa ragu, gadis itu kembali
merangkul leher Ken dengan senyum manis malu-malu. Ken menelan salivanya sekali
lagi lalu memeluk Kaori dengan sangat erat sampai gadis itu kesulitan bernafas.
Kaori memukul-mukul punggung Ken dengan heboh.
“Huaahh... Ken!! Aku nggak bisa nafas!” jerit Kaori
setelah Ken melepaskannya.
“Maaf, maaf, sayang. Habisnya aku gemes mau makan
kamu, tapi nggak berani sekarang. Jadi jangan mancing dengan masang wajah
pasrah gitu dech,” kata Ken.
Kaori tertawa cekikikan, lalu menepuk-nepuk pundak
pria itu. Suara tawa ceria Kaori memenuhi kamar Ken. Ia sangat bahagia dicintai
pria yang baik seperti Ken. Kaori memuji Ken yang sangat mengerti tentang apa
yang ia rasakan. Meskipun ada kesempatan, Ken memilih menjaga Kaori sampai
waktunya tepat.
Sedang asyik mereka bercanda di atas tempat tidur
Ken, suara ketukan pintu membuat Ken menoleh. Ken mengeluh siapa yang berani
mengganggu mereka berdua tengah malam seperti itu. Tapi Ken beranjak juga
membukakan pintu kamarnya, wajah Ginara muncul di depan pintu.
“Ken, nyonya Kinanti dibawa ke rumah sakit.
Sepertinya tidak sadarkan diri,” kata Ginara melapor pada Ken.
“Apa? Dimana Kenzo?” tanya Ken sedikit panik.
“Kenzo sudah tidur. Aku akan menjaganya. Mas Alan
sudah pergi bersama tuan Endy. Apa kamu mau menyusul ke rumah sakit?” tanya
Ginara.
Ken tampak berpikir sejenak, ia sudah berjanji
untuk tidak meninggalkan Kaori sendirian. Tapi ia juga harus ke rumah sakit
untuk melihat keadaan Kinanti.
“Ken, kita ke rumah sakit sekarang. Ayo, cepat
ganti baju,” ajak Kaori sambil mencoba turun dari tempat tidur.
“Tunggu, Kaori. Aku bantu kamu ganti baju. Kak
Ginara, tolong jaga Kenzo ya,” ucap Ken cepat sambil menutup pintu kamarnya
lagi.
Ginara hampir mengatakan kalau sebaiknya dia yang
membantu Kaori berganti pakaian, tapi sepertinya Ken sudah terbiasa membantu
kekasihnya itu. Senyum mengembang di bibir Ginara, sepertinya hubungan Ken dan
Kaori sudah lebih dari sekedar pacaran.
Ken menuntun Kaori masuk ke kamar mandi tempat
pakaian gadis itu tergantung tadi. Saat Kaori hampir melepas kaos yang
dipakainya, ia terkejut mendapati Ken membantunya memasukkan dress lewat kaki
Kaori.
“Kalau caranya seperti ini, aku nggak bisa lihat,
Kaori. Ini bramu. Lepas kaosnya dulu,” ucap Ken menenangkan Kaori.
Kaori memilih percaya pada Ken, ia melepas kaos
yang tadi menutupi tubuhnya lalu memakai bra sendiri. Ken menarik dress
menutupi tubuh Kaori lalu menarik retsletingnya hingga tertutup.
Keduanya berjalan keluar dari kamar mandi dan
giliran Ken yang berganti pakaian. Kaori menunggu di dekat tempat tidur Ken
dengan tongkat sudah siap ditangannya. Pria itu melihat ponselnya tergeletak
diatas nakas disamping Kaori berdiri. Ia berpikir untuk menghubungi Alan agar
bisa tahu rumah sakit mana tempat Kinanti dibawa.
“Kaori, tolong
ambil ponselku diatas nakas. Ada di samping tongkatmu tadi. Pelan-pelan saja,” pinta
__ADS_1
Ken. Kaori...