Duren Manis

Duren Manis
Bunga yang layu


__ADS_3

Bunga yang layu


Ia terus memukul tubuh pria itu. Membuatnya terluka


parah persis dimana luka-luka Lili yang ia lihat tadi. Dan yang paling parah


tentu saja di bagian yang paling menyakiti Lili. Elo menerobos masuk tepat saat


Dion sudah selesai mematahkan lengan dan kaki pria itu.


Teriakan dan rintihan kesakitan memenuhi ruangan


yang berbau anyir penuh dengan cipratan darah. Elo meraih bahu Dion dan menatap


matanya. Dengan santai, Dion mengelap tangannya yang memerah karena memukuli


pria itu.


“Apa yang kau lakukan?”tanya Elo sambil melihat


keadaan pria itu.


“Ketua tim, bawa tuan muda kembali ke atas. Dia


tidak pantas berada di tempat hina seperti ini. Rawat ******** itu. Aku akan


menjadikannya samsak tinjuku. Penderitaannya baru saja dimulai.”seringai Dion.


“Dion, hentikan. Kita bisa melaporkan dia ke polisi.”kata


Elo.


“Penjara terlalu nyaman buat dia. Aku akan


membuatnya menderita sampai Lili sembuh. Kita lihat saja apa Lili mau


memaafkannya atau tidak.”


“Apa kau akan membunuhnya?”tanya Elo lagi.


“Tidak sekarang.”balas Dion sambil berjalan keluar


dari ruangan itu.


Ia harus segera kembali ke rumah sakit untuk


melihat keadaan Lili. Riri yang menunggu di dekat lorong segera mengejar Dion


bersama Elo. Mereka masuk ke helikopter bersama-sama.


Selama dalam perjalanan, Riri menatap Dion yang


melamun. Ia bahkan tidak menyadari kalau kedua tangannya terluka dan lebam.


“Kak, tanganmu luka. Harus diobati.”kata Riri.


“Biarkan saja, Ri.”kata Dion.


“Kak, apa Lili akan baik-baik saja?”tanya Riri


memberanikan dirinya.


“Dokter bilang dia akan sadar satu jam lagi. Atau


mungkin sudah sadar.”


Mata Dion terbelalak melihat sosok berpakaian rumah


sakit, berdiri di pinggir pagar tinggi diatas rumah sakit. Ia berusaha memanjat


pagar itu dengan susah payah.


“Lili!! Elo, pakai sabuk pengamanmu. Pegang Riri!


Cepat!”teriak Dion.


Elo melakukan apa yang diminta Dion dengan cepat. Ia


tahu kalau Dion akan melompat keluar dari helikopter itu.


“Mas!! Kak Dion!!”teriak Riri yang menjerit


ketakutan melihat pintu helikopter terbuka dan Dion melompat dari sana tanpa


memakai pengaman apa-apa.


“Tenang, Ri. Ada tangga dibawah. Tenang, sayang.”kata


Elo berusaha menenangkan Riri yang shock.


Pilot helikopter berusaha menjaga agar tangga tetap


stabil dan perlahan mendekatkan ujung tangga ke pagar atap rumah sakit. Dion


melompat turun dengan mudah dan memberi tanda agar helikopter menjauh dulu.

__ADS_1


“Lili! Kamu mau ngapain?!”teriak Dion sambil


berlari menghampiri Lili.


“Jangan mendekat! Jangan mendekat, Dion. Aku sudah


kotor! Hiks. Hiks.”tangis Lili semakin deras.


“Tolong Lili, dengarkan aku. Kamu jangan nekat.”bujuk


Dion.


“Aku gak mau hidup lagi, Dion.”


“Kamu mau ninggalin aku? Ok, kita pergi sama-sama.


Ayo, kita tinggalin Elo, tinggalin Riri. Biarin mereka sendiri.”kata Dion


sambil melompati pagar atap rumah sakit lebih dulu.


“Aku akan lompat duluan. Kamu lihat, wajahku sudah


rusak. Seharusnya aku lakukan dari dulu.”kata Dion sambil melangkah mundur.


“Tunggu!! Dion, kamu jangan nekat! Jangan...”panggil


Lili sambil mencoba memanjat pagar itu.


Rasa sakit di tubuhnya menghentikan langkah Lili,


ia terjatuh dengan keras ke lantai, dan merintih kesakitan. Dion kembali


mendekati Lili, ia menggendong Lili yang kesakitan masuk ke dalam rumah sakit.


“Dokter! Dokter! Cepat kesini!”teriak Dion.


Lili kembali diperiksa dan disuntik obat penenang


dosis rendah. Ia masih bisa sadar saat Riri dan Elo masuk ke ruang rawat Lili.


“Lili...”panggil Riri.


Lili yang awalnya melamun dengan luka lebam di


wajahnya, menoleh perlahan menatap Riri. Ia mencoba tersenyum agar Riri tidak


khawatir padanya.


“Lili dimana yang sakit?”tanya Riri sambil


“Nona, saya baik-baik saja. Melihat nona, sakitnya


sudah hilang.”kata Lili sambil menarik tangannya yang digenggam Riri.


Riri merasakan kalau Lili tidak ingin disentuh


siapapun. Tangannya gemetar saat bicara dan jelas sekali ia menahan air matanya


agar tidak jatuh. Riri menatap Elo yang berdiri di samping Dion. Mereka berdua


keluar dari ruangan itu, membiarkan Dion dan Lili berdua saja.


“Lili...”panggil Dion.


“Berhenti memanggilku. Bisa gak kamu keluar? Aku mau


sendiri.”pinta Lili.


“Dan lihat akibatnya membiarkanmu sendiri. Kamu mau


apa di atap tadi? Mau loncat? Mau bunuh diri?! Hah!”teriak Dion.


“Apa kamu gak lihat keadaanku?! Aku... kehormatanku


sudah hilang!”teriak Lili sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.


“Lalu kenapa?!”tanya Dion sambil menatap mata Lili.


Lili memalingkan wajahnya, ia tidak mau menatap


mata Dion. Ia tidak sanggup menahan rasa malu karena perbuatan pria kurang ajar


itu. Lili merasa dirinya sudah tidak pantas lagi untuk Dion.


“Jangan lakukan itu, Lili. Jangan memalingkan


wajahmu seperti orang lain. Cuma kamu yang mau melihatku tanpa rasa jijik.”pinta


Dion.


“Aku sudah ternoda, Dion. Kamu masih bisa bersama


wanita lain. Tinggalkan aku sendiri.”


“Aku cuma mau kamu, Lili. Tolong jangan mengusirku.

__ADS_1


Sejak aku punya bekas luka ini, terlalu sering aku terusir.”pinta Dion lagi.


“Kasi aku sendiri, Dion.”mohon Lili sambil


menangis.


“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi.


Menikahlah denganku, Lili.”pinta Dion sambil mencium punggung tangan Lili.


*****


Gadis terbangun lebih dulu keesokan harinya, ia


langsung masuk ke kamar mandi karena ingin muntah. Rio masih tertidur lelap


sampai terbangun mendengar suara muntah Gadis. Rio menggerakkan tubuhnya yang


tidak terlalu sakit lagi. Ia bangkit berdiri dan mengikuti Gadis ke kamar


mandi.


“Hoeek... Hoeekk. Uhuk... uhuk.”Gadis terus muntah


sampai isi perutnya terkuras habis.


“Kamu gak pa-pa?”tanya Rio.


Gadis mengangguk, ia akan merasa lebih baik setelah


muntah. Mia datang membawakan minyak kayu putih. Rio mengurut tengkuk Gadis


sampai muntahnya mereda.


“Sudah baikan? Cepat mandi ya. Sarapan hampir siap.”kata


Mia.


“Iya, mah.”kata Gadis.


Gadis dan Rio naik ke lantai 2, Rio mengikuti Gadis


yang ingin masuk ke kamar Riri sambil membawa pakaian ganti yang diberikan Mia


tadi malam. Gadis yang merasa diikuti, menoleh ke belakang.


“Rio! Kamu ngapain masuk kesini? Keluar sana. Aku


mau mandi.”usir Gadis pada Rio.


“Kamu belum cium aku.”pinta Rio.


Gadis membelalakkan matanya mendengar permintaan


Rio. Rio juga sama kagetnya dengan Gadis karena meminta hal seperti itu tanpa


ia sadari.


“Ehem... Aku ke kamar dulu.”kata Rio sambil keluar


dari kamar Riri.


Gadis terus tersenyum malu-malu setelah itu. Bahkan


setelah ia selesai mandi, Gadis tidak berhenti tersenyum.


“Rio, kamu mau mandi? Aku udah selesai.”kata Gadis,


mengetuk pintu kamar Rio.


“Masuk aja, Gadis.”kata Rio dari dalam.


Gadis membuka pintu kamar Rio, ia melihat Rio sedang


berusaha membuka kaosnya. Gadis membantu Rio melepas kaos dan juga celananya.


Ia mengambil baskom berisi air hangat dan juga washlap.


Rio melirik Gadis yang sedang mengelap tubuhnya.


Senyuman terus menghiasi wajah Gadis, membuat Rio ikutan senyum-senyum. Gadis


juga membantu Rio memakai pakaian kerjanya. Rio akan ikut ke kantor hari ini.


“Kamu yakin bisa kerja? Lukamu gimana?”tanya Gadis.


*****


"Gak pa-pa. Aku mau vote sama like novel ini dulu. Kamu udah?"tanya Rio pada Gadis.


"Eh, iya. Aku juga belum. Untung kamu ngingetin."kata Gadis.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2