
Bunga yang layu
Ia terus memukul tubuh pria itu. Membuatnya terluka
parah persis dimana luka-luka Lili yang ia lihat tadi. Dan yang paling parah
tentu saja di bagian yang paling menyakiti Lili. Elo menerobos masuk tepat saat
Dion sudah selesai mematahkan lengan dan kaki pria itu.
Teriakan dan rintihan kesakitan memenuhi ruangan
yang berbau anyir penuh dengan cipratan darah. Elo meraih bahu Dion dan menatap
matanya. Dengan santai, Dion mengelap tangannya yang memerah karena memukuli
pria itu.
“Apa yang kau lakukan?”tanya Elo sambil melihat
keadaan pria itu.
“Ketua tim, bawa tuan muda kembali ke atas. Dia
tidak pantas berada di tempat hina seperti ini. Rawat ******** itu. Aku akan
menjadikannya samsak tinjuku. Penderitaannya baru saja dimulai.”seringai Dion.
“Dion, hentikan. Kita bisa melaporkan dia ke polisi.”kata
Elo.
“Penjara terlalu nyaman buat dia. Aku akan
membuatnya menderita sampai Lili sembuh. Kita lihat saja apa Lili mau
memaafkannya atau tidak.”
“Apa kau akan membunuhnya?”tanya Elo lagi.
“Tidak sekarang.”balas Dion sambil berjalan keluar
dari ruangan itu.
Ia harus segera kembali ke rumah sakit untuk
melihat keadaan Lili. Riri yang menunggu di dekat lorong segera mengejar Dion
bersama Elo. Mereka masuk ke helikopter bersama-sama.
Selama dalam perjalanan, Riri menatap Dion yang
melamun. Ia bahkan tidak menyadari kalau kedua tangannya terluka dan lebam.
“Kak, tanganmu luka. Harus diobati.”kata Riri.
“Biarkan saja, Ri.”kata Dion.
“Kak, apa Lili akan baik-baik saja?”tanya Riri
memberanikan dirinya.
“Dokter bilang dia akan sadar satu jam lagi. Atau
mungkin sudah sadar.”
Mata Dion terbelalak melihat sosok berpakaian rumah
sakit, berdiri di pinggir pagar tinggi diatas rumah sakit. Ia berusaha memanjat
pagar itu dengan susah payah.
“Lili!! Elo, pakai sabuk pengamanmu. Pegang Riri!
Cepat!”teriak Dion.
Elo melakukan apa yang diminta Dion dengan cepat. Ia
tahu kalau Dion akan melompat keluar dari helikopter itu.
“Mas!! Kak Dion!!”teriak Riri yang menjerit
ketakutan melihat pintu helikopter terbuka dan Dion melompat dari sana tanpa
memakai pengaman apa-apa.
“Tenang, Ri. Ada tangga dibawah. Tenang, sayang.”kata
Elo berusaha menenangkan Riri yang shock.
Pilot helikopter berusaha menjaga agar tangga tetap
stabil dan perlahan mendekatkan ujung tangga ke pagar atap rumah sakit. Dion
melompat turun dengan mudah dan memberi tanda agar helikopter menjauh dulu.
__ADS_1
“Lili! Kamu mau ngapain?!”teriak Dion sambil
berlari menghampiri Lili.
“Jangan mendekat! Jangan mendekat, Dion. Aku sudah
kotor! Hiks. Hiks.”tangis Lili semakin deras.
“Tolong Lili, dengarkan aku. Kamu jangan nekat.”bujuk
Dion.
“Aku gak mau hidup lagi, Dion.”
“Kamu mau ninggalin aku? Ok, kita pergi sama-sama.
Ayo, kita tinggalin Elo, tinggalin Riri. Biarin mereka sendiri.”kata Dion
sambil melompati pagar atap rumah sakit lebih dulu.
“Aku akan lompat duluan. Kamu lihat, wajahku sudah
rusak. Seharusnya aku lakukan dari dulu.”kata Dion sambil melangkah mundur.
“Tunggu!! Dion, kamu jangan nekat! Jangan...”panggil
Lili sambil mencoba memanjat pagar itu.
Rasa sakit di tubuhnya menghentikan langkah Lili,
ia terjatuh dengan keras ke lantai, dan merintih kesakitan. Dion kembali
mendekati Lili, ia menggendong Lili yang kesakitan masuk ke dalam rumah sakit.
“Dokter! Dokter! Cepat kesini!”teriak Dion.
Lili kembali diperiksa dan disuntik obat penenang
dosis rendah. Ia masih bisa sadar saat Riri dan Elo masuk ke ruang rawat Lili.
“Lili...”panggil Riri.
Lili yang awalnya melamun dengan luka lebam di
wajahnya, menoleh perlahan menatap Riri. Ia mencoba tersenyum agar Riri tidak
khawatir padanya.
“Lili dimana yang sakit?”tanya Riri sambil
“Nona, saya baik-baik saja. Melihat nona, sakitnya
sudah hilang.”kata Lili sambil menarik tangannya yang digenggam Riri.
Riri merasakan kalau Lili tidak ingin disentuh
siapapun. Tangannya gemetar saat bicara dan jelas sekali ia menahan air matanya
agar tidak jatuh. Riri menatap Elo yang berdiri di samping Dion. Mereka berdua
keluar dari ruangan itu, membiarkan Dion dan Lili berdua saja.
“Lili...”panggil Dion.
“Berhenti memanggilku. Bisa gak kamu keluar? Aku mau
sendiri.”pinta Lili.
“Dan lihat akibatnya membiarkanmu sendiri. Kamu mau
apa di atap tadi? Mau loncat? Mau bunuh diri?! Hah!”teriak Dion.
“Apa kamu gak lihat keadaanku?! Aku... kehormatanku
sudah hilang!”teriak Lili sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
“Lalu kenapa?!”tanya Dion sambil menatap mata Lili.
Lili memalingkan wajahnya, ia tidak mau menatap
mata Dion. Ia tidak sanggup menahan rasa malu karena perbuatan pria kurang ajar
itu. Lili merasa dirinya sudah tidak pantas lagi untuk Dion.
“Jangan lakukan itu, Lili. Jangan memalingkan
wajahmu seperti orang lain. Cuma kamu yang mau melihatku tanpa rasa jijik.”pinta
Dion.
“Aku sudah ternoda, Dion. Kamu masih bisa bersama
wanita lain. Tinggalkan aku sendiri.”
“Aku cuma mau kamu, Lili. Tolong jangan mengusirku.
__ADS_1
Sejak aku punya bekas luka ini, terlalu sering aku terusir.”pinta Dion lagi.
“Kasi aku sendiri, Dion.”mohon Lili sambil
menangis.
“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi.
Menikahlah denganku, Lili.”pinta Dion sambil mencium punggung tangan Lili.
*****
Gadis terbangun lebih dulu keesokan harinya, ia
langsung masuk ke kamar mandi karena ingin muntah. Rio masih tertidur lelap
sampai terbangun mendengar suara muntah Gadis. Rio menggerakkan tubuhnya yang
tidak terlalu sakit lagi. Ia bangkit berdiri dan mengikuti Gadis ke kamar
mandi.
“Hoeek... Hoeekk. Uhuk... uhuk.”Gadis terus muntah
sampai isi perutnya terkuras habis.
“Kamu gak pa-pa?”tanya Rio.
Gadis mengangguk, ia akan merasa lebih baik setelah
muntah. Mia datang membawakan minyak kayu putih. Rio mengurut tengkuk Gadis
sampai muntahnya mereda.
“Sudah baikan? Cepat mandi ya. Sarapan hampir siap.”kata
Mia.
“Iya, mah.”kata Gadis.
Gadis dan Rio naik ke lantai 2, Rio mengikuti Gadis
yang ingin masuk ke kamar Riri sambil membawa pakaian ganti yang diberikan Mia
tadi malam. Gadis yang merasa diikuti, menoleh ke belakang.
“Rio! Kamu ngapain masuk kesini? Keluar sana. Aku
mau mandi.”usir Gadis pada Rio.
“Kamu belum cium aku.”pinta Rio.
Gadis membelalakkan matanya mendengar permintaan
Rio. Rio juga sama kagetnya dengan Gadis karena meminta hal seperti itu tanpa
ia sadari.
“Ehem... Aku ke kamar dulu.”kata Rio sambil keluar
dari kamar Riri.
Gadis terus tersenyum malu-malu setelah itu. Bahkan
setelah ia selesai mandi, Gadis tidak berhenti tersenyum.
“Rio, kamu mau mandi? Aku udah selesai.”kata Gadis,
mengetuk pintu kamar Rio.
“Masuk aja, Gadis.”kata Rio dari dalam.
Gadis membuka pintu kamar Rio, ia melihat Rio sedang
berusaha membuka kaosnya. Gadis membantu Rio melepas kaos dan juga celananya.
Ia mengambil baskom berisi air hangat dan juga washlap.
Rio melirik Gadis yang sedang mengelap tubuhnya.
Senyuman terus menghiasi wajah Gadis, membuat Rio ikutan senyum-senyum. Gadis
juga membantu Rio memakai pakaian kerjanya. Rio akan ikut ke kantor hari ini.
“Kamu yakin bisa kerja? Lukamu gimana?”tanya Gadis.
*****
"Gak pa-pa. Aku mau vote sama like novel ini dulu. Kamu udah?"tanya Rio pada Gadis.
"Eh, iya. Aku juga belum. Untung kamu ngingetin."kata Gadis.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1