Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Bertemu Kinanti


__ADS_3

DM2 – Bertemu Kinanti


“Oh, eh... sayang, makan lagi


dagingnya.”kata Alex salah tingkah menyuapi Mia potongan daging agar istrinya


itu mau diam.


Rio menahan tawanya melihat papanya gugup.


Ia membawa dua piring untuknya dan juga Gadis kelantai atas. Setelah


menyelesaikan makan mereka, keduanya kembali mengobrol sampai rasa kantuk Rio


tak bisa dibendung lagi. Ia beberapa kali menguap lebar.


“Aku tidur duluan ya. Ngantuk banget.”


Gadis mengelus-elus kepala Rio yang dengan


cepat mendengkur.


”Kinanti ya. Sepertinya kita harus ketemu.


Mungkin kalian berjodoh hingga dipertemukan seperti ini.”


“Aku mencintaimu, Rio. Dan aku sanggup


melakukan apapun untuk membuatmu bahagia.”


Gadis mencium bibir Rio sebelum terlelap


dalam pelukan pria tampan itu.


Disuatu tempat di sebuah apartment, Kinanti


sedang menatap foto Rio yang ia ambil diam-diam saat pria itu sedang bekerja


dengan serius. “Rio, kamu ganteng banget sich. Aku jatuh cinta pada pandangan


pertama nich.”


Kinanti menciumi ponselnya sampai ada


panggilan masuk yang tidak sengaja tertekan hidungnya. “Sayang! Akhirnya kamu


mau angkat telponku!”


Kinanti menjauhkan ponselnya dan melihat


‘anak mami’ di layar ponsel itu. “Apa sich? Aku udah bilang kita udah putus.


Jangan telpon aku lagi.”


“Tapi sayang, aku kangen banget sama kamu.


Aku kangen kamu ituin.”


Kinanti mengancam akan menutup telponnya


kalau Endy si anak mami tidak berhenti mengatakan hal-hal mesum. Endy terus


merayu Kinanti agar mau berbaikan dengannya. Kinanti bertemu Endy saat mereka


baru masuk kuliah. Sifat Endy yang kemayu, membuatnya sering jadi bulan-bulanan


kakak kelas mereka.


Saat Kinanti sedang lewat hendak ke toilet,


ia melihat Endy di bully, Kinanti langsung membela Endy. Sejak itu Endy mulai


mengikutinya bahkan mereka akhirnya berpacaran sampai Kinanti tidak tahan


dengan sifat Endy yang selalu manja padanya. Belum lagi mama Endy yang over


protektif pada Endy, membuat Endy jadi anak mami.


Kinanti selalu memanggil Endy dengan


sebutan anak mami. Tapi dia tidak bisa memungkiri kalau memiliki perasaan


sayang pada pria itu. Perasaan sayang yang membuatnya menyerahkan segalanya


pada pria kemayu itu.


“Berhenti menelponku!”bentak Kinanti. “Aku


sudah menemukan penggantimu.”

__ADS_1


“Nggak mungkin!!”lengking Endy tapi Kinanti


sudah memutuskan panggilan Endy. Ia berdecih kesal ketika Endy menelpon lagi.


“Rio sayang, aku gak sabar nunggu ketemu


kamu besok.”


Pikiran Kinanti melayang membayangkan


senyum manis Rio untuknya. Ia mesam-mesem sendiri, membayangkan Rio


mendekatinya, mengelus pipinya dan mendekat semakin mendekat sampai akhirnya


mencium bibirnya.


Wajah Kinanti merona, ia membalik tubuhnya


tengkurap, dan menendang ke segala arah tidak sengaja kakinya menendang ujung


meja. Kinanti sontak memegangi kakinya yang kesemutan.


“Aduduuh... mending aku tidur dech. Sampai


ketemu, Rio. Muaaahhh...”


Keesokan harinya, Gadis sengaja menyiapkan


makan siang untuk dibawa ke kantor Rio. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Rio,


dan berencana menunggunya kalau memang Rio tidak ada.


Sampai di kantor Arnold, Gadis menyampaikan


keperluannya pada resepsionis, tentu saja ia ditanya hubungannya dengan Rio.


“Saya istrinya, Gadis.”


“Apa ibu sudah ada janji?”


“Aduch, saya belum buat janji loh. Tapi


boleh masuk gak? Saya bawain pak Rio makan siang.”


“Gadis?” Gadis menoleh saat namanya


dipanggil. Ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya.


“Kenapa kamu disini? Gak masuk aja.”Ilham


mendekati Gadis. Ia memperingatkan resepsionis yang bertugas saat itu untuk


mengingat keluarga Arnold, termasuk Gadis. Resepsionis itu membungkuk meminta


maaf pada Gadis.


“Sudah, om. Gak pa-pa. Om darimana?”


“Aku tadi meeting di luar. Ayo, Rio ada


diatas.”ajak Ilham. “Kamu bawa apa?”


“Ini makan siang buat Rio. Om sudah makan,


kita bisa makan sama-sama.”


Mereka masuk ke dalam lift yang membawa


mereka ke lantai tempat ruang kerja Rio berada. Gadis melirik satu meja di


seberang meja Ilham, ada tas wanita disana.


*”Tas mahal. Seleranya bagus juga.”*


“Gadis, masuk sana. Buka aja pintunya.”


“Eh, tapi aku takut ganggu Rio, om.”


“Gak pa-pa. Hari ini gak ada tamu kok.”


Gadis menenangkan jantungnya, ia sedikit


ragu ketika hampir membuka pintu. Ia takut melihat apa yang sedang dikerjakan


Rio di dalam. Entah sendirian atau bersama Kinanti, sekretaris baru yang


diceritakan Rio tadi malam.


Sambil menarik nafas panjang dan tersenyum,

__ADS_1


Gadis membuka pintu. Ia terpana melihat Rio sedang tersenyum menatap seorang


gadis yang memang sangat mirip Kaori. Keduanya menoleh  bersamaan saat Gadis tidak sengaja


menjatuhkan tas tangannya di depan pintu.


Gadis tersenyum manis, ia menoleh menatap


tasnya yang jatuh, lalu berjongkok mengambilnya.


“Sayang, kamu disini?”panggil Rio, mendekat


pada Gadis.


Ditariknya lengan Gadis lembut, ia


mengambil alih tas tangan dan tas bekal di tangan Gadis sebelum menggenggam


tangan wanita itu masuk ke ruangannya.


“Kamu bawa apa?”tanya Rio pada Gadis. Ia


sudah melupakan kalau Kinanti masih ada disana. Dunia Rio langsung teralihkan


melihat kedatangan Gadis.


“Aku bawain makan siang. Kamu udah makan?”tanya


Gadis sambil menatap dalam mata Rio.


Gadis melihat cinta Rio hanya untuknya,


bahkan Rio tidak menoleh lagi pada Kinanti yang jelas-jelas ada di belakangnya.


Rio malah mengelus-elus tangan Gadis yang terasa dingin. Gadis sesungguhnya


sangat gugup sebelum membuka pintu ruang kerja Rio. Sekarang setelah berada di


dalamnya, ia semakin gugup.


Aneh kan? Dirinya merasa sangat aneh,


padahal ia hanya datang mengunjungi suaminya dan bukan mengunjungi


selingkuhannya. Entah kenapa Gadis merasa dirinya pihak ketiga disana. Gadis


menggelengkan kepalanya dengan segala pikiran anehnya. Jelas-jelas dia istri


sah, Rio juga hanya menatap dirinya setelah kedatangannya.


Gadis tersenyum sendiri dengan pemikiran


konyolnya barusan. Rio mendekatinya, membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.


Kata-kata mesum tanpa sensor meluncur dari mulut Rio masuk ke telinga Gadis dan


berakhir menghangatkan wajah cantik Gadis.


“Rio, kamu jangan nakal.”bisik Gadis.


“Salahmu sendiri datang sekarang. Aku lagi


kelaparan.”


“Karena ada dia?”


“Sapa?”


Gadis menunjuk ke belakang Rio dengan


dagunya, Kinanti masih menatap mereka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa


dilukiskan. Pandangan kedua wanita itu bertemu, Gadis masih memasang wajah


manisnya. Tapi tidak bagi Kinanti yang hatinya tidak karuan dengan kedatangan


Gadis. Ia jelas kesal karena Rio tidak mengacuhkannya lagi. Itu dia, wanita


dalam foto yang terpasang di meja kerja Rio.


*****


Maaf ya kalo up-nya telat. Saya masih sama baby tadi jadi baru bisa ngetik sekarang.


Btw, yang mau GC saya boleh loh. Klik aja profil saya trus masuk grup chat. Kita saling kenalan disana dan bisa ngobrol juga.


Udah hampir 400 episode nich. Maaf kalo banyak bawang, mumpung masih murah.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2