
DM2 – Bertemu Kinanti
“Oh, eh... sayang, makan lagi
dagingnya.”kata Alex salah tingkah menyuapi Mia potongan daging agar istrinya
itu mau diam.
Rio menahan tawanya melihat papanya gugup.
Ia membawa dua piring untuknya dan juga Gadis kelantai atas. Setelah
menyelesaikan makan mereka, keduanya kembali mengobrol sampai rasa kantuk Rio
tak bisa dibendung lagi. Ia beberapa kali menguap lebar.
“Aku tidur duluan ya. Ngantuk banget.”
Gadis mengelus-elus kepala Rio yang dengan
cepat mendengkur.
”Kinanti ya. Sepertinya kita harus ketemu.
Mungkin kalian berjodoh hingga dipertemukan seperti ini.”
“Aku mencintaimu, Rio. Dan aku sanggup
melakukan apapun untuk membuatmu bahagia.”
Gadis mencium bibir Rio sebelum terlelap
dalam pelukan pria tampan itu.
Disuatu tempat di sebuah apartment, Kinanti
sedang menatap foto Rio yang ia ambil diam-diam saat pria itu sedang bekerja
dengan serius. “Rio, kamu ganteng banget sich. Aku jatuh cinta pada pandangan
pertama nich.”
Kinanti menciumi ponselnya sampai ada
panggilan masuk yang tidak sengaja tertekan hidungnya. “Sayang! Akhirnya kamu
mau angkat telponku!”
Kinanti menjauhkan ponselnya dan melihat
‘anak mami’ di layar ponsel itu. “Apa sich? Aku udah bilang kita udah putus.
Jangan telpon aku lagi.”
“Tapi sayang, aku kangen banget sama kamu.
Aku kangen kamu ituin.”
Kinanti mengancam akan menutup telponnya
kalau Endy si anak mami tidak berhenti mengatakan hal-hal mesum. Endy terus
merayu Kinanti agar mau berbaikan dengannya. Kinanti bertemu Endy saat mereka
baru masuk kuliah. Sifat Endy yang kemayu, membuatnya sering jadi bulan-bulanan
kakak kelas mereka.
Saat Kinanti sedang lewat hendak ke toilet,
ia melihat Endy di bully, Kinanti langsung membela Endy. Sejak itu Endy mulai
mengikutinya bahkan mereka akhirnya berpacaran sampai Kinanti tidak tahan
dengan sifat Endy yang selalu manja padanya. Belum lagi mama Endy yang over
protektif pada Endy, membuat Endy jadi anak mami.
Kinanti selalu memanggil Endy dengan
sebutan anak mami. Tapi dia tidak bisa memungkiri kalau memiliki perasaan
sayang pada pria itu. Perasaan sayang yang membuatnya menyerahkan segalanya
pada pria kemayu itu.
“Berhenti menelponku!”bentak Kinanti. “Aku
sudah menemukan penggantimu.”
__ADS_1
“Nggak mungkin!!”lengking Endy tapi Kinanti
sudah memutuskan panggilan Endy. Ia berdecih kesal ketika Endy menelpon lagi.
“Rio sayang, aku gak sabar nunggu ketemu
kamu besok.”
Pikiran Kinanti melayang membayangkan
senyum manis Rio untuknya. Ia mesam-mesem sendiri, membayangkan Rio
mendekatinya, mengelus pipinya dan mendekat semakin mendekat sampai akhirnya
mencium bibirnya.
Wajah Kinanti merona, ia membalik tubuhnya
tengkurap, dan menendang ke segala arah tidak sengaja kakinya menendang ujung
meja. Kinanti sontak memegangi kakinya yang kesemutan.
“Aduduuh... mending aku tidur dech. Sampai
ketemu, Rio. Muaaahhh...”
Keesokan harinya, Gadis sengaja menyiapkan
makan siang untuk dibawa ke kantor Rio. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Rio,
dan berencana menunggunya kalau memang Rio tidak ada.
Sampai di kantor Arnold, Gadis menyampaikan
keperluannya pada resepsionis, tentu saja ia ditanya hubungannya dengan Rio.
“Saya istrinya, Gadis.”
“Apa ibu sudah ada janji?”
“Aduch, saya belum buat janji loh. Tapi
boleh masuk gak? Saya bawain pak Rio makan siang.”
“Gadis?” Gadis menoleh saat namanya
dipanggil. Ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya.
“Kenapa kamu disini? Gak masuk aja.”Ilham
mendekati Gadis. Ia memperingatkan resepsionis yang bertugas saat itu untuk
mengingat keluarga Arnold, termasuk Gadis. Resepsionis itu membungkuk meminta
maaf pada Gadis.
“Sudah, om. Gak pa-pa. Om darimana?”
“Aku tadi meeting di luar. Ayo, Rio ada
diatas.”ajak Ilham. “Kamu bawa apa?”
“Ini makan siang buat Rio. Om sudah makan,
kita bisa makan sama-sama.”
Mereka masuk ke dalam lift yang membawa
mereka ke lantai tempat ruang kerja Rio berada. Gadis melirik satu meja di
seberang meja Ilham, ada tas wanita disana.
*”Tas mahal. Seleranya bagus juga.”*
“Gadis, masuk sana. Buka aja pintunya.”
“Eh, tapi aku takut ganggu Rio, om.”
“Gak pa-pa. Hari ini gak ada tamu kok.”
Gadis menenangkan jantungnya, ia sedikit
ragu ketika hampir membuka pintu. Ia takut melihat apa yang sedang dikerjakan
Rio di dalam. Entah sendirian atau bersama Kinanti, sekretaris baru yang
diceritakan Rio tadi malam.
Sambil menarik nafas panjang dan tersenyum,
__ADS_1
Gadis membuka pintu. Ia terpana melihat Rio sedang tersenyum menatap seorang
gadis yang memang sangat mirip Kaori. Keduanya menoleh bersamaan saat Gadis tidak sengaja
menjatuhkan tas tangannya di depan pintu.
Gadis tersenyum manis, ia menoleh menatap
tasnya yang jatuh, lalu berjongkok mengambilnya.
“Sayang, kamu disini?”panggil Rio, mendekat
pada Gadis.
Ditariknya lengan Gadis lembut, ia
mengambil alih tas tangan dan tas bekal di tangan Gadis sebelum menggenggam
tangan wanita itu masuk ke ruangannya.
“Kamu bawa apa?”tanya Rio pada Gadis. Ia
sudah melupakan kalau Kinanti masih ada disana. Dunia Rio langsung teralihkan
melihat kedatangan Gadis.
“Aku bawain makan siang. Kamu udah makan?”tanya
Gadis sambil menatap dalam mata Rio.
Gadis melihat cinta Rio hanya untuknya,
bahkan Rio tidak menoleh lagi pada Kinanti yang jelas-jelas ada di belakangnya.
Rio malah mengelus-elus tangan Gadis yang terasa dingin. Gadis sesungguhnya
sangat gugup sebelum membuka pintu ruang kerja Rio. Sekarang setelah berada di
dalamnya, ia semakin gugup.
Aneh kan? Dirinya merasa sangat aneh,
padahal ia hanya datang mengunjungi suaminya dan bukan mengunjungi
selingkuhannya. Entah kenapa Gadis merasa dirinya pihak ketiga disana. Gadis
menggelengkan kepalanya dengan segala pikiran anehnya. Jelas-jelas dia istri
sah, Rio juga hanya menatap dirinya setelah kedatangannya.
Gadis tersenyum sendiri dengan pemikiran
konyolnya barusan. Rio mendekatinya, membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.
Kata-kata mesum tanpa sensor meluncur dari mulut Rio masuk ke telinga Gadis dan
berakhir menghangatkan wajah cantik Gadis.
“Rio, kamu jangan nakal.”bisik Gadis.
“Salahmu sendiri datang sekarang. Aku lagi
kelaparan.”
“Karena ada dia?”
“Sapa?”
Gadis menunjuk ke belakang Rio dengan
dagunya, Kinanti masih menatap mereka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa
dilukiskan. Pandangan kedua wanita itu bertemu, Gadis masih memasang wajah
manisnya. Tapi tidak bagi Kinanti yang hatinya tidak karuan dengan kedatangan
Gadis. Ia jelas kesal karena Rio tidak mengacuhkannya lagi. Itu dia, wanita
dalam foto yang terpasang di meja kerja Rio.
*****
Maaf ya kalo up-nya telat. Saya masih sama baby tadi jadi baru bisa ngetik sekarang.
Btw, yang mau GC saya boleh loh. Klik aja profil saya trus masuk grup chat. Kita saling kenalan disana dan bisa ngobrol juga.
Udah hampir 400 episode nich. Maaf kalo banyak bawang, mumpung masih murah.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.