
DM2 – Happy family
“Gitu? Bisa emang berhasil?”tanya Rio lagi.
Ia mengangkat bayi Kaori dari car seat dan mengeluarkan keranjang piknik. Ia
melanjutkan ngobrol dengan Kaori seolah bayi itu mengerti apa yang sedang ia
katakan dan pembicaraan mereka cukup nyambung.
Sampai di dalam rumah, Rio bertemu Mia yang
sedang duduk di ruang keluarga. Mia mengulurkan tangannya meminta Kaori.
“Kalian cepet banget pulangnya. Happy
disana?”tanya Mia.
Rio melengos di samping Mia. Gadis yang
baru keluar dari kamar mandi, langsung mencari Alex yang sedang bermain game di
ruang kerjanya. Sebelum ke kamar mandi tadi, Gadis menanyakan keberadaan papa
mertuanya itu pada Mia. Rio melihat Gadis menutup pintu ruangan itu.
“Dia mau ngapain?”tanya Rio.
“Gak tau. Baru dateng langsung nyari papa.
Kaori udah maem? Kamu laper gak?”tanya Mia.
Mb Roh yang mendengar kedatangan Kaori
langsung menyiapkan makanan untuk bayi itu. Ia mengambil alih Kaori dari tangan
Mia untuk disuapi bubur.
“Kalian bertengkar?”tanya Mia.
Rio mengangguk, ia menceritakan apa yang
terjadi tadi termasuk pernikahan Melda dan X yang mendadak. Mia
manggut-manggut, ia cukup terkejut meengetahui kalau X dan Melda memiliki
hubungan sejauh itu. Tapi Mia cepat-cepat menyalahkan Rio yang tidak percaya
pada Gadis.
“Bisa-bisanya kamu nuduh Gadis begitu.
Cepat minta maaf sana.”kata Mia.
“Dia gak mau ngomong sama aku, trus gimana
mah?”rengek Rio seperti anak kecil.
Mia membisikkan sesuatu ke telinga Rio,
pria itu langsung bangkit berdiri dan pergi keluar rumah lagi.
Di dalam ruang kerja Alex,
“Pah, aku boleh ganggu bentar gak?”tanya
Gadis hati-hati.
“Hmm. Apa, Dis? Mau makan sesuatu?”tanya
Alex yang tahu kalau orang ngidam suka makan aneh-aneh.
“Bukan, pah. Gini, tadi kan aku piknik sama
Rio sama Melda juga. Ketemu kak Katty disana. Nah, kak Katty bilang kalau dia
pernah liat Melda. Dia ngasi foto waktu pemakaman Kaori, pah. Melda ada disana
jadi body guardnya kak Katty.”
Alex menekan tombol pause, ia duduk
menghadap ke Gadis. “Maksudmu apa?”tanya Alex.
“Kak Katty penasaran dan bilang mungkin gak
kalau Melda itu dikirim seseorang untuk jadi mata-mata di kantor papa.”
Alex mengatakan kalau begitu siapa yang
mengirimnya dan untuk apa? Selama ini Melda mengerjakan tugasnya jadi
__ADS_1
sekretaris dengan baik. Bahkan membantu Alex menemukan beberapa karyawannya
yang korupsi. Ia juga sangat cekatan mengerjakan semua pekerjaannya.
Gadis juga sempat bilang kalau Katty
terlalu banyak menonton film mata-mata. Tapi ia teringat dengan Kinanti. Apa mungkin
Melda dikirim Kinanti untuk mengawasi mereka? Atau lebih parah lagi untuk
mengambil Kaori dari Gadis.
“Kalau gitu harusnya dia bisa menghancurkan
perusahaan dengan mudah, kan? Hampir semua rahasia perusahaan ada di ruangan Romi
dan dia bisa keluar masuk dengan mudah.”kata Alex.
“Itulah, pah. Aku masih ragu-ragu. Takutnya
kalau beneran ada udang dibalik rempeyek, kan bisa berbahaya, pah. Lagian aneh
kalo udah jadi bodyguard, ngapain alih profesi jadi sekretaris lagi.”kata Gadis
serius.
“Kalau udang di balik rempeyek, yang ada
malah enak dimakan, Dis.”canda Alex melihat wajah serius Gadis. Ia tidak ingin
menantunya itu berpikir terlalu keras dan bisa mempengaruhi kandungannya.
Gadis cemberut karena Alex malah bercanda
disaat dirinya mencoba serius. Alex mengacak rambut Gadis.
“Kamu tuch udah kayak detektif aja. Gini
dech, coba papa kasih dia test ya.”
“Emangnya dia sekolah dikasi test segala.”sambar
Gadis.
“Maksud papa kayak jebakan gitu. Ntar papa
pikirin dech langkah selanjutnya.”
Gadis melengos di sofa, ia sudah cukup
melihat Gadis tidak bicara lagi, kembali melanjutkan game-nya. Ia asyik bermain
game dengan Gadis di sampingnya. Gadis terus menatap layar TV yang menampilkan
permainan game sepak bola itu sampai kantuknya tak tertahan lagi dan ia
tertidur pulas.
Alex tersenyum melihat Gadis tertidur. Ia menekan
pause lagi di stick game dan perlahan mengangkat tubuh Gadis lalu
membaringkannya di tempat tidur. Gadis menggeliat mencari posisi yang nyaman
untuk melanjutkan tidurnya. Sementara Alex lanjut bermain games. Ia berpikir
tentang Melda dan akan melakukan test pada sekretarisnya itu nanti.
Mia yang menunggu Gadis keluar dari ruang
kerja Alex, jadi bingung kenapa Gadis gak keluar juga. Ia beranjak kesana dan
melihat Gadis melungker diatas tempat tidur.
“Sstt... dia ketiduran. Sini, sayang.”panggil
Alex pada Mia.
“Cucumu belum lahir udah nempel terus sama
opa-nya. Gimana dah lahir nanti ya?”tanya Mia.
Mia duduk di samping Alex yang langsung bergeser
duduk di belakang Mia. Ia menanyakan apa yang mereka bicarakan tadi. Alex
mencium leher Mia, tangannya meraba masuk ke balik kaos Mia.
“Itu, Katty bilang sama Gadis kalau Melda
mungkin mata-mata yang kirim Kinanti.”singkat, padat, dan jelas yang dikatakan
__ADS_1
Alex membuat Mia membulatkan matanya kaget.
Saat Mia hampir berteriak, Alex sudah
membungkamnya dengan ciuman yang dalam. Alex menekan tengkuk Mia sampai
istrinya itu tidak bisa melepaskan ciuman mereka. Selain mencium, tentu saja
tangan Alex tidak bisa diam. Ia mencari tempat favoritnya dan ketika
menemukannya, Alex tidak mau berhenti.
“Maa..sss.”lirih Mia di telinga Alex.
“Yank, pindah ke kamar yuk.”ajak Alex
sambil menarik Mia bangun. Mereka keluar dari ruang kerja Alex dan masuk ke
kamar mereka.
Beberapa menit kemudian,
Rio baru kembali dari luar, ditangannya ada
paper bag dan juga bunga mawar. Ia masuk ke dalam rumah sambil celingukan berharap
Gadis tidak memergokinya. Ia melangkah dengan cepat naik ke lantai atas. Sampai
di kamarnya, Rio menutup pintu kamar rapat-rapat dan memulai aksinya.
Setelah menyiapkan kejutan untuk Gadis, Rio
mulai mencari keberadaan istrinya itu. Saat melewati kamar orang tuanya, Rio
berhenti sejenak. Ia berjengit mendengar lenguhan Alex dari dalam sana.
“Dih, gak siang gak malem, hajar trus, pah.”kata
Rio sambil lanjut ke ruang kerja Alex.
Dibukanya pintu perlahan, ia melihat Gadis
tertidur di atas tempat tidur. Rio ikutan juga berbaring di samping Gadis, ia
ingin memeluk istrinya itu.
“Mmm...”gumam Gadis yang terbangung karena
gerakan di tempat tidur.
“Yank, dah bangun ya. Jangan marah lagi
dong. Maaf aku yang salah.”kata Rio merajuk.
Gadis mencibirkan bibir bawahnya yang
langsung dilahap Rio. Gadis memukul-mukul dada Rio, ia ingin melepaskan ciuman
mereka. Tapi Rio malah mengukungnya dengan lengan kurusnya yang tetap kuat.
“Lepasin!”kata Gadis.
“Gak mau! Aku mau peluk kamu. Pengen peluk,
pengen cium.”rajuk Rio.
“Kamu nyebelin!”kata Gadis menunjuk-nunjuk
pipi Rio.
“Maaf!!”kata Rio tidak mau melepaskan
tangannya yang memeluk Gadis.
“Kamu buat aku malu. Disana banyak orang
yang liat kita!”teriak Gadis masih menunjuk-nunjuk Rio.
“Iya, aku tau salah. Maafin ya, sayang.
Bobok lagi.”
Gadis tidak mau tidur lagi, ia menggelitiki
pinggang Rio agar bisa lepas dari pria itu. Gadis bangun dengan cepat dan
keluar dari ruang kerja. Ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, saat
ia membuka pintu matanya terbelalak melihat kejutan dari Rio.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.