
Extra part 1
Tiga bulan setelah kelahiran si kembar
Reymond dan Reyna. Gadis tampak sedang menyusui bayi Reymond di kamar mereka.
Rio masuk kesana, langsung membaringkan tubuhnya di samping babyi Reyna yang
tertidur pulas.
“Loh, kok udah pulang? Biasanya lembur.”kata
Gadis tanpa menoleh pada Rio.
“Hmm, kerjaannya udah kelar. Reymond tidur?”tanya
Rio.
“Iya. Baru tidur tapi belum mau lepas nich.”saut
Gadis.
Rio mendekati Gadis, duduk di belakangnya. “Yank,
aku kangen kamu.”bisik Rio membuat Gadis merinding ketika hembusan nafas panas
Rio menerpa lehernya.
“Kenapa, sayang? Ada masalah di kantor?
Hmm?”tanya Gadis sudah hafal kelakuan Rio.
“Masalah dikit. Aku kangen disayang-sayang.
Taruh baby Reymond, uda lepas tuch.”kata Rio.
Ia beranjak ke bawah ranjang, duduk diatas
karpet sambil membuka kancing kemejanya. Gadis melirik Rio yang sudah
bersiap-siap, lalu meletakkan baby Reymond dengan hati-hati diatas ranjang.
“Aku belum mandi, Rio. Bau acem.”kata
Gadis.
“Aku juga belum mandi. Sini bentar, yank.”
Rio mengulurkan tangannya menarik Gadis
dalam pelukannya, tangan Rio mulai meraba masuk ke dalam dress menyusui Gadis.
Ia mencari pengait bra Gadis lalu melepaskannya.
“Yank, tambah besar.”bisik Rio ketika dada
Gadis terpampang di depannya.
“Harus ngasih jatah buat tiga bayi sich.”bisik
Gadis sambil mengedipkan matanya.
Rio menarik tengkuk Gadis, menyatukan bibir
mereka berdua. Disingkapnya dress Gadis hingga daerah sensitifnya terlihat
jelas.
“Yank, kamu gak pake...”belum selesai Rio
bicara, Gadis sudah memagut bibirnya.
Hasrat keduanya sudah sama-sama memuncak
minta dipuaskan. Gadis menutup mulutnya yang terus mendesahkan nama Rio.
“Ugh, Rio... iya disitu... Rio, faster...”bisik
Gadis takut membangunkan bayi kembar yang tertidur diatas ranjang.
Rio semakin bersemangat mendengar bisikan
Gadis. Keduanya hampir mencapai puncak bersamaan saat pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Gadis membeku dalam gerakannya. Posisi mereka saat itu Gadis berada diatas
tubuh Rio.
Keduanya menoleh bersamaan menatap Mia yang
juga membeku di depan pintu dengan tangan memegang handle pintu. Si kecil Kaori
ada di gendongannya. Mia langsung menutup pintu tanpa mengatakan apa-apa. Untung
saja Gadis masih memakai dress-nya.
__ADS_1
“Ma...”panggil Gadis tapi Rio memegang
pinggangnya dengan erat.
“Bentar, yank.”kata Rio melanjutkan
permainan mereka yang sempat tertunda.
Gadis mengerang menerima serangan Rio yang
tidak berhenti sampai keduanya mencapai puncak kenikmatan bersamaan. Bug! Bug!
Sret! Keduanya saling tatap mendengar suara sesuatu di pintu kamar mereka.
“Ada apa?”tanya Gadis.
“Coba aku liat dulu.”kata Rio sambil
memakai celananya lagi.
Rio membuka pintu dan melihat tulisan
terpasang di pintu kamarnya. ‘Dilarang masuk sebelum ketuk pintu dulu.’ Rio melongok
keluar melihat Mia sudah berjalan ke arah tangga.
“Mah, ngapain?”panggil Rio.
“Masang peringatan. Mama kapok mergokin
kalian terus. Gak bisa kunci pintu dulu ya.”protes Mia kesal.
“Papa!”panggil Kaori yang mendengar suara Rio,
tapi Mia keburu membawa Kaori turun.
Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia melihat Gadis melongok ke atas tempat tidur, si kembar masih anteng tertidur
pulas.
“Tahan, yank.”
“Maksudnya?”tanya Gadis bingung.
Rio menempatkan dirinya di belakang Gadis,
lalu memulai permainan panas mereka sekali lagi. Usai permainan mereka, Gadis
turun ke lantai bawah. Perutnya terasa lapar setelah menyusui si kembar dan
snack.
“Kaori sayang. Makan apa?”tanya Gadis.
“Makan buah semangka, mah.”jawab Kaori
sambil terus mengunyah.
“Udah selesai, Dis?”
Gadis nyengir mendengar pertanyaan Mia. “Maaf,
mah. Tadi kirain Rio gak minta jatah. Lupa kunci pintu.”
Mia melihat Gadis membuka tudung saji yang
cuma berisi nasi hangat dan sambal. Ia memberitahu Gadis kalau sayur dan lauk
sudah dipindahkan ke atas kompor lagi. Gadis mengambil nasi dan lauk
secukupnya.
Sambil makan, Gadis memperhatikan wajah Mia
yang terlihat lelah. “Mama kenapa? Kok pucet gitu?”tanya Gadis.
“Nggak tau nich. Dari semalem gak enak
badan. Apa masuk angin ya?”kata Mia sambil memijat kepalanya yang sakit.
Mbak Roh yang sudah selesai makan, mengambil
alih Kaori dari Mia. Ketika Mia berdiri dari duduknya, tiba-tiba ia terjatuh
pingsan.
“Mah!!”teriak Gadis panik.
Gadis mengguncang tubuh Mia, menepuk-nepuk
pipinya agar sadar. Mbak Minah yang mendengar keributan di meja makan, segera
menghampiri Mia. Mbak Roh datang membawa minyak kayu putih.
__ADS_1
“Rio!!”teriak Gadis memanggil Rio. “Rio!!
Mama pingsan!!”
Rio yang mendengar teriakan Gadis, segera
berlari menuruni tangga. Dengan sigap Rio menggendong Mia lalu membaringkannya
di atas karpet ruang keluarga. Mbak Minah mengoleskan minyak kayu putih ke
tangan dan kaki Mia yang dingin.
“Mama kenapa, Dis?”tanya Rio mengambil
telpon rumah dan menelpon dokter.
“Nggak tau. Tadi masih baik-baik aja. Baru
berdiri langsung pingsan.”jelas Gadis menggosok tangan Mia.
Rio bicara dengan dokter, memintanya segera
datang ke rumah. Ia juga menelpon Alex agar segera pulang.
Dokter yang datang dengan cepat langsung
memeriksa kondisi Mia. Perlahan Mia mulai sadar, ia mengerjapkan matanya melihat
sekeliling. “Ibu Mia, bisa lihat saya? Apa yang ibu rasakan?”tanya dokter.
“Saya pusing, dokter.”kata Mia memijat
kepalanya.
“Ada mual atau muntah? Kapan terakhir kali
mens?”tanya dokter lagi.
Mia tersadar seharusnya ia mendapatkannya
minggu lalu. “Terakhir bulan lalu, dokter.”
Dokter menanyakan apa mereka punya alat
test kehamilan di rumah itu. Gadis mengangguk, ia memilikinya di kamarnya.
Gadis pergi mengambil test pack sementara dokter memeriksa tekanan darah Mia.
Ketika Gadis turun lagi ke lantai bawah,
Alex sudah ada disana. Wajahnya tampak cemas melihat Mia yang pucat terbaring
lemah.
“Kamu nggak pa-pa kan sayang?”tanya Alex.
“Iya, mas. Cuma pusing.”kata Mia.
“Pusing tapi sampe pingsan gini. Dimana yang
sakit, sayang.”
Dokter dan Rio saling pandang melihat
kemesraan Alex dan Mia yang gak tahu sikon. Gadis menyerahkan test pack pada
dokter.
“Ibu Mia bisa bangun, tolong tampung air
seni di wadah ini ya.”kata dokter.
Alex membantu Mia ke kamar mandi. Ia keluar
duluan membawa wadah berisi air seni Mia. Dokter segera melakukan test dan
jeng, jeng, jeng! Dua garis merah muncul di alat penguji kehamilan itu.
“Selamat ya, pak. Ibu Mia sedang hamil.”
Rio dan Gadis saling pandang tersenyum
senang. Alex langsung memucat seketika, ia tidak menyangka kalau Mia akan hamil
sekarang. Rio yang mengetahui kondisi perusahaan sedang tidak baik
akhir-akhirnya ini, menenangkan papanya.
“Pah, kita jalanin pelan-pelan ya. Pasti
bisa.”kata Rio.
Alex mengangguk, ia teringat Mia masih di dalam kamar
mandi. Alex masuk lagi ke kamar mandi dan tidak kunjung keluar. Rio mengantar
__ADS_1
dokter keluar rumah setelah menyelesaikan administrasi dan sedikit
berbasa-basi. Ia sudah tahu apa yang terjadi di dalam sana.