
Extra part 5
“Nama kamu siapa?” tanya Rio setelah anak itu berdiri.
Anak itu terlihat ragu-ragu untuk menjawab, “Om siapa? Kalo mau kenalan, om duluan dong bilang namanya om siapa.”
Rio tertawa mendengar anak itu banyak bicara alias cerewet. Bawelnya persis mama Mia. Rio tertegun dengan pikirannya sendiri. Ia berlutut di depan anak itu, “Nama om, Mario. Namamu siapa?” tanya Rio.
“Aku Ken, om,” balas Ken datar.
“Ken kesini sama siapa? Nggak mungkin sendirian kan?” tanya Rio sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak tampak orang yang mencari Ken.
“Om, ambilin susu diatas itu,” pinta Ken yang tidak sampai.
Rio menoleh kearah yang ditunjuk Ken dan mengambilkan apa yang diinginkan anak itu. Ken mencari sedotan untuk meminum susu itu tapi ia tidak menemukannya.
“Ken, sedotannya di kasir. Kamu mau susu itu? Ayo, om bayarin,” tawar Rio sambil menunjuk ke kasir.
Ken mengikuti Rio menuju kasir yang kebetulan sedang sepi. Sampai di sana, Ken memberikan susu di tangannya pada kasir wanita itu.
“Mba, sekalian sedotannya dikasikan. Anaknya sudah haus,” kata Rio menunjuk Ken.
Setelah menerima sedotannya, Ken langsung berlari menjauh dari Rio. Pria itu ingin mengejar Ken, tapi ia belum menyelesaikan membayar belanjaannya. Rio terpaksa mengurungkan niatnya dan berharap Ken
baik-baik saja.
Rio membawa tas belanjaan menuju parkiran di bawah. Ia tidak memperhatikan kalau Ken mengikutinya sejak dari supermarket tadi. Anak kecil itu bersembunyi sambil menghabiskan susu yang dibelikan Rio.
Saat Rio sampai di samping mobilnya, Ken menarik-narik celana kain yang dipakai Rio.
“Om, bisa anterin aku nggak?” tanya Ken membuat Rio menunduk menatapnya.
“Emangnya kamu mau kemana?” tanya Rio sambil berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Ken.
__ADS_1
“Aku mau pulang, om. Tapi sopirku nggak tau kemana,” ucap Ken polos.
Rio melihat sekeliling tempat parkir yang luas. Ia merasa aneh karena tidak melihat seorangpun mencari Ken. Untuk ukuran anak seumuran Ken, pergi ke mall sendirian, seharusnya tidak diperbolehkan.
Rio membuka pintu mobilnya dan membantu Ken masuk. Ia juga memasangkan sabuk pengaman dengan benar pada tubuh Ken.
“Ken, rumahmu dimana?” tanya Rio sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
Ken mengeluarkan ponselnya yang lowbat. Sepertinya sejak tadi anak kecil itu memakai ponselnya. Ken membuka galery ponselnya, ia memperlihatkan screenshot alamat mansion mewah milik Endy. Rio memasukkan alamat itu ke ponselnya sendiri dan GPS mulai aktif menunjukkan jalan padanya.
“Ken, kamu punya adik atau kakak?” tanya Rio menghindari keheningan yang mencekam di dalam mobil. Ken terus menatap wajah Rio, mengganggu konsentrasi pria itu dalam menyetir.
“Ada adik, om. Waktu kita ketemu di rumah sakit itu, adik aku lahir, om.” Ken mengalihkan perhatiannya ke spion samping, ia melongok melihat ke belakang.
“Om, ada yang ngikutin kita. Di depan berhenti dech,” pinta Ken.
“Eh, bukannya bahaya ya kalo diikutin trus kita berhenti di tempat sepi gini,” kata Rio masih ingin melajukan mobilnya.
“Nggak pa-pa, om. Itu mobil papaku,” saut Ken.
“Hais, bikin kaget aja. Tapi itu anak beneran mirip aku dech. Apa mungkin yang dibilang Gadis itu beneran?” gumam Rio pada dirinya sendiri. “Aduch, aku harus cepat pulang nich.”
Sekembalinya dari mall, Rio mendapati Gadis sedang duduk santai di ruang keluarga bersama bayi kembar mereka. Renata dan Kaori juga ada disana, Renata membacakan buku dongeng untuk Kaori.
Rio duduk di samping Gadis dan memberikan belanjaannya pada istrinya itu. Gadis tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih pada suaminya itu.
“Tadi aku ketemu Ken di mall,” kata Rio.
“Siapa Ken?” tanya Gadis kepo.
“Anak kecil yang kulihat di rumah sakit. Anaknya Endy sama Kinanti. Aku bingung sama si Endy itu, bisa-bisanya ngebiarin anak sekecil itu ke mall sendirian tanpa siapapun yang ngawasin. Katanya dia dateng
kesana sama sopir doang,” cerocos Rio.
__ADS_1
“Masa gitu sich? Emangnya Kinanti nggak ada?” tanya Gadis sedikit curiga.
Mencium hawa cemburu dari Gadis, Rio langsung mengalihkan perhatian istrinya itu. Ia membelai punggung Gadis dan berbisik kata-kata mesum padanya. Wajah Gadis merona mendengar bisikan Rio, ia langsung
lupa apa yang mereka bicarakan tadi.
Perhatian Rio beralih ke Renata dan Kaori. Kedua gadis kecil itu tampak kompak dengan tatanan rambut kuncir dua yang lucu. Rio mengambil ponselnya, ia memanggil Renata dan Kaori agar menoleh padanya.
“Kaori, kita mau difoto. Ayo, say cheese. Sini, hadap sini,” kata Renata menuntun kepala Kaori harus menghadap kemana.
Rio tersenyum puas melihat foto keduanya yang tampak cantik dan imut. Ia memposting, foto itu di akun sosial medianya dan langsung mendapat banyak like dan komentar menanyakan siapa kedua saudara
kembar itu.
Rio memperlihatkan komentar orang-orang pada Gadis yang mengangguk-angguk. Tidak ada yang bisa melewatkan insting detektif Rio. Tapi lebih baik Rio tidak terlalu mengurusi hal seperti itu. Biar saja
orang-orang mau berkomentar apa, toh mereka tidak bisa membuktikan apa Renata dan Ken memang tertukar atau tidak.
Tapi sepertinya Rio tidak akan mudah mengabaikan keberadaan Ken. Pagi itu ketika ia harus mengantar Renata dan si kembar Reymond dan Reyna ke sekolah, Rio melihat Ken berdiri di pinggir jalan. Rio
menghentikan mobilnya, ia keluar dan menyapa Ken.
“Ken! Kenapa mobilnya?” tanya Rio tanpa basa-basi.
“Om Rio, boleh nebeng nggak? Aku udah telat ke sekolah. Pak sopir, aku pergi sama om Rio ya. Beresin tuch mobilnya,” perintah Ken sambil berjalan mendekati mobil Rio.
Sopir Ken ingin mencegahnya karena takut kena marah Endy lagi, tapi Ken mengatakan kalau ia tidak akan mengatakannya pada papanya. Tapi mobil itu harus beres sebelum ia pulang sekolah.
Rio membuka pintu mobilnya di bagian penumpang. Si kembar bergeser sedikit agar Ken bisa duduk di samping mereka. Anak-anak itu berebutan ingin berkenalan dengan Ken yang acuh tak acuh. Tapi ketika Renata menoleh kebelakang dan menyapa Ken, pria kecil itu terpana sesaat. Wajah Ken merona merah ketika Renata menatapnya ramah.
“Hai, Ken. Aku Renata. Sepertinya kita seumuran ya. Kamu sekolah dimana?” tanya Renata.
Ken malah bengong melihat Renata bicara padanya. Ini kalo Reynold lihat, ia akan menonjok wajah Ken karena berani menatap Renata seperti itu.
__ADS_1
“Ouh, kena jerat pesona peri aunty Renata nich,” celetuk Reymond.