
DM2 – Ketegasan Rio
”Tapi dia tidak bisa menerima kehadiran
Kaori. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah sangat menyayangi Kaori seperti
putriku sendiri. Aku tidak akan sanggup berpisah dengannya.” batin Gadis
sedih.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Alex
keluar cuma pake handuk. “Yank, bajuku dah dateng blum?”tanya Alex pada Mia.
“Pah!”pekik Gadis malu melihat Alex gak
pake baju. Ia memalingkan wajahnya sambil merem.
“Mas! Gak perlu keluar juga. Masuk lagi!”perintah
Mia galak.
Mia membuka tas yang dibawa Rara, ia
mencari pakaian kerja Alex lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Mereka bertiga
menunggu Mia keluar tapi sia-sia saja.
“Hadeh, beneran bakalan punya adik lagi dah
nich.”keluh Rara.
Gadis dan Rio saling pandang tanpa bicara.
Rio melihat Gadis terlihat sedih, ia memang tersenyum pada Rio, tapi tidak bisa
menyembunyikan kesedihannya.
Setelah Alex dan Mia keluar dari kamar
mandi, Mia ingin ikut pulang dulu dengan Rara. Ia akan kembali lagi setelah
menyecek keadaan rumah. Sedangkan Alex langsung berangkat ke kantor.
Dokter melakukan visit pagi itu untuk Rio.
Ia sudah diperbolehkan pulang siang ini juga. Untuk Gadis, ia harus ke dokter
kandungan dulu sebelum pulang.
Tinggallah Rio dan Gadis hanya berdua di
kamar rawat inap itu. Gadis masih melamun, memikirkan nasib Kaori. Biar
bagaimanapun Kaori sudah jadi putri mereka berdua. Mungkin Kinanti akan bisa
menerima Kaori kembali, atau juga tidak. Lalu gimana nasib bayi itu. Kalau
sampai Rio tidak ingin tinggal bersama Kaori, apa yang harus Gadis lakukan.
Gadis sangat mencintai Rio, dia juga menyayangi Kaori.
Semua pikiran ruwet Gadis terlihat jelas di
wajahnya. Rio menarik nafasnya sebelum bicara. “Gadis, kenapa kamu iyakan waktu
mama mengangkat bayi itu? Kamu gak mikirin perasaanku?”
Gadis diam saja. Perutnya terasa nyeri
karena terlalu banyak berpikir. Ia juga gak tau harus jawab apa, menjelaskan
sesuatu pada Rio sekarang hanya akan membuat mereka bertengkar. Dan Gadis tidak
mau mereka bertengkar. Setelah Rio sembuh, hal pertama yang ia inginkan
hanyalah bermanja-manja pada suaminya itu dan bukannya bertengkar.
Rio menggaruk kepalanya, ia ingin mengajak
Gadis bicara, tapi malah dicuekin. Rio melihat Gadis turun dari bed-nya. Ia
masuk ke kamar mandi, “Kamu mau mandi, Dis?”tanya Rio.
“Ya.”saut Gadis pelan.
Rio menyusul Gadis, menahan pintu kamar
mandi yang ingin ditutup Gadis. “Aku ikut mandi ya.”pinta Rio.
Gadis membiarkan pintu kamar mandi terbuka,
__ADS_1
ia hanya ingin mandi, lalu berbaring lagi sampai waktunya ketemu dokter
kandungan. Gadis hanya diam tidak menepis tangan Rio yang mulai menyabuninya.
Ia sedikit terpancing tapi pikirannya tidak bisa ia alihkan pada Rio.
“Gadis, bisa gak kamu mikirin aku sekarang.
Aku baru sembuh. Tolong lihat aku, Gadis.”pinta Rio.
“Maafin aku ya, sayang. Aku egois sekali.”kata
Gadis membelai pipi Rio.
Mereka saling menatap lalu berciuman mesra.
Gadis menikmati semua sentuhan Rio yang sedang memandikannya. “Bayi kita sehat?
Sudah berapa bulan?”tanya Rio.
“Baru 8 minggu. Gak hanya satu tapi dua,
Rio. Kembar.”
Rio berlutut di depan Gadis, wajahnya tepat
berada di depan perut Gadis. Cup. Dikecupnya perut Gadis dengan sayang. Rio
mengatakan kata-kata manis yang membuat Gadis tersenyum senang.
“Anak-anakku sayang, cepatlah besar di
perut mama ya. Kalau kalian sudah lahir nanti, papa akan ajak kalian bermain.”
“Iya, main juga sama kakak Kaori ya.”saut
Gadis sambil menatap Rio.
Rio terdiam sejenak. Ia menatap Gadis juga.
“Bisa gak jangan nyebut dia. Kamu gak ngerti situasi banget.”
“Rio, kamu pernah mencintai nama itu.
Kenapa sekarang kamu gak bisa menyayangi bayi dengan nama itu juga?”tanya Gadis
sedih.
menghancurkan rumah tangga kita. Sekarang kamu sudah hamil anak kita sendiri.
Kembalikan dia pada ibunya!”ketus Rio kesal.
“Dia bukan barang. Kaori, putriku. Kalau kamu
gak bisa terima dia, terserah kamu.”tegas Gadis.
Lagi-lagi Gadis bersikeras dengan
keinginannya. Hatinya sudah terikat pada bayi itu sejak dalam kandungan
Kinanti. Seperti yang dikatakan Kinanti, bayi Kaori sudah ditakdirkan diasuh
oleh Gadis.
“Gadis!! Kamu...!!”bentak Rio.
Bentakan Rio menyadarkan Gadis. Ia teringat
janjinya sendiri untuk tidak egois lagi terhadap siapapun. Gadis berlutut di
depan Rio, ia menahan sesak didadanya.
“Maaf... maaf, Rio. Aku... tidak akan egois
lagi. Terserah kamu saja.”kata Gadis tercekat.
Rio membantu Gadis bangun, mengeringkan tubuhnya
lalu memakaikan pakaian Gadis. Mereka keluar bersama-sama dari kamar mandi dan
melihat Mia sudah ada di kamar itu.
“Kalian baru selesai mandi. Sudah
makan?”tanya Mia.
Ia melihat Gadis tampak sedih, menantunya
itu berjalan kembali ke bed-nya dan berbaring tanpa menyisir rambutnya. Rio
mengepalkan tangannya melihat reaksi Gadis.
__ADS_1
“Mah, Rio mau Kaori dikembalikan ke ibunya.
Gadis sudah setuju.”kata Rio mengagetkan Mia.
“Kamu yakin? Gadis?”tanya Mia lagi. Tapi
Gadis tidak mengatakan apa-apa. Ia sudah tertidur dengan air mata menetes dari
sudut matanya.
Mia menoleh pada Rio lagi. Ia mengajak Rio
duduk di sofa. “Rio, kalau seperti ini, Gadis akan sedih.”
“Mama seharusnya memikirkan perasaanku sebelum
mengangkat bayi itu. Ibunya hampir menghancurkan rumah tanggaku dengan Gadis,
mah.”kata Rio.
“Tapi itu perbuatan ibunya dan bayi itu
yang harus menanggung akibatnya.”kata Mia.
“Maksud mama?”tanya Rio bingung.
“Bayi Kaori buta, Rio. Kamu belum tahu itu?”
“Apa??!”pekik Rio terkejut.
“Kinanti tidak mau membawanya waktu dia
pergi dari rumah kita. Gadis menerima bayi itu, merawatnya seperti putrinya
sendiri. Selain merawat kamu waktu itu. Dia sudah banyak berkorban untuk Kaori,
Rio. Perasaannya pada Kaori sudah seperti seorang ibu menjaga putrinya. Mama
belum pernah melihat Gadis sebahagia itu sejak kamu sakit. Kaori sudah seperti
penghibur kesedihannya.”
Rio diam, terlihat sibuk berpikir.
“Mama tidak memaksa kamu bisa menerima bayi
Kaori. Tapi kamu harus pikirkan perasaan Gadis. Lagipula, kedatangan Kinanti
kemarin untuk menegaskan status Kaori. Kinanti juga meyakini, kehadiran
Kaorilah yang membuat Gadis bisa hamil. Mereka, Kinanti dan Endy sudah
menyerahkan Kaori untuk menjadi putri kalian.”
“Tapi, mah...”
“Kalau kamu tetap bersikeras, kita akan
kembalikan Kaori pada orang tuanya. Tapi kamu harus bisa meyakinkan mama kalau
Gadis akan baik-baik saja. Dia sedang hamil, Rio. Pikirannya tidak boleh stress.
Kehamilannya masih rentan di usia muda seperti ini. Pikirkan lagi keputusanmu,
Rio.”kata Mia menggenggam tangan Rio.
Saat siang menjelang, Mia terpaksa
membangunkan Gadis untuk makan dan bersiap ke dokter kendungan. Di masa-masa
kehamilannya kali ini, Gadis tidak terlalu merasakan mual dan muntah. Ia hanya
ingin makan sesuatu yang asam atau terkadang manis. Itulah kenapa ia tidak
menyadari kalau dirinya sedang hamil.
Gadis duduk di bed, ia meminum air lebih
dulu sebelum mulai makan. Gadis menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara. Ia
turun dari bed, tidak memperhatikan sekelilingnya dan memakai sandalnya lagi.
“Dokternya sebelah mana, mah?”tanya Gadis
dingin.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1