Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Ketegasan Rio


__ADS_3

DM2 – Ketegasan Rio


”Tapi dia tidak bisa menerima kehadiran


Kaori. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah sangat menyayangi Kaori seperti


putriku sendiri. Aku tidak akan sanggup berpisah dengannya.” batin Gadis


sedih.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Alex


keluar cuma pake handuk. “Yank, bajuku dah dateng blum?”tanya Alex pada Mia.


“Pah!”pekik Gadis malu melihat Alex gak


pake baju. Ia memalingkan wajahnya sambil merem.


“Mas! Gak perlu keluar juga. Masuk lagi!”perintah


Mia galak.


Mia membuka tas yang dibawa Rara, ia


mencari pakaian kerja Alex lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Mereka bertiga


menunggu Mia keluar tapi sia-sia saja.


“Hadeh, beneran bakalan punya adik lagi dah


nich.”keluh Rara.


Gadis dan Rio saling pandang tanpa bicara.


Rio melihat Gadis terlihat sedih, ia memang tersenyum pada Rio, tapi tidak bisa


menyembunyikan kesedihannya.


Setelah Alex dan Mia keluar dari kamar


mandi, Mia ingin ikut pulang dulu dengan Rara. Ia akan kembali lagi setelah


menyecek keadaan rumah. Sedangkan Alex langsung berangkat ke kantor.


Dokter melakukan visit pagi itu untuk Rio.


Ia sudah diperbolehkan pulang siang ini juga. Untuk Gadis, ia harus ke dokter


kandungan dulu sebelum pulang.


Tinggallah Rio dan Gadis hanya berdua di


kamar rawat inap itu. Gadis masih melamun, memikirkan nasib Kaori. Biar


bagaimanapun Kaori sudah jadi putri mereka berdua. Mungkin Kinanti akan bisa


menerima Kaori kembali, atau juga tidak. Lalu gimana nasib bayi itu. Kalau


sampai Rio tidak ingin tinggal bersama Kaori, apa yang harus Gadis lakukan.


Gadis sangat mencintai Rio, dia juga menyayangi Kaori.


Semua pikiran ruwet Gadis terlihat jelas di


wajahnya. Rio menarik nafasnya sebelum bicara. “Gadis, kenapa kamu iyakan waktu


mama mengangkat bayi itu? Kamu gak mikirin perasaanku?”


Gadis diam saja. Perutnya terasa nyeri


karena terlalu banyak berpikir. Ia juga gak tau harus jawab apa, menjelaskan


sesuatu pada Rio sekarang hanya akan membuat mereka bertengkar. Dan Gadis tidak


mau mereka bertengkar. Setelah Rio sembuh, hal pertama yang ia inginkan


hanyalah bermanja-manja pada suaminya itu dan bukannya bertengkar.


Rio menggaruk kepalanya, ia ingin mengajak


Gadis bicara, tapi malah dicuekin. Rio melihat Gadis turun dari bed-nya. Ia


masuk ke kamar mandi, “Kamu mau mandi, Dis?”tanya Rio.


“Ya.”saut Gadis pelan.


Rio menyusul Gadis, menahan pintu kamar


mandi yang ingin ditutup Gadis. “Aku ikut mandi ya.”pinta Rio.


Gadis membiarkan pintu kamar mandi terbuka,

__ADS_1


ia hanya ingin mandi, lalu berbaring lagi sampai waktunya ketemu dokter


kandungan. Gadis hanya diam tidak menepis tangan Rio yang mulai menyabuninya.


Ia sedikit terpancing tapi pikirannya tidak bisa ia alihkan pada Rio.


“Gadis, bisa gak kamu mikirin aku sekarang.


Aku baru sembuh. Tolong lihat aku, Gadis.”pinta Rio.


“Maafin aku ya, sayang. Aku egois sekali.”kata


Gadis membelai pipi Rio.


Mereka saling menatap lalu berciuman mesra.


Gadis menikmati semua sentuhan Rio yang sedang memandikannya. “Bayi kita sehat?


Sudah berapa bulan?”tanya Rio.


“Baru 8 minggu. Gak hanya satu tapi dua,


Rio. Kembar.”


Rio berlutut di depan Gadis, wajahnya tepat


berada di depan perut Gadis. Cup. Dikecupnya perut Gadis dengan sayang. Rio


mengatakan kata-kata manis yang membuat Gadis tersenyum senang.


“Anak-anakku sayang, cepatlah besar di


perut mama ya. Kalau kalian sudah lahir nanti, papa akan ajak kalian bermain.”


“Iya, main juga sama kakak Kaori ya.”saut


Gadis sambil menatap Rio.


Rio terdiam sejenak. Ia menatap Gadis juga.


“Bisa gak jangan nyebut dia. Kamu gak ngerti situasi banget.”


“Rio, kamu pernah mencintai nama itu.


Kenapa sekarang kamu gak bisa menyayangi bayi dengan nama itu juga?”tanya Gadis


sedih.


menghancurkan rumah tangga kita. Sekarang kamu sudah hamil anak kita sendiri.


Kembalikan dia pada ibunya!”ketus Rio kesal.


“Dia bukan barang. Kaori, putriku. Kalau kamu


gak bisa terima dia, terserah kamu.”tegas Gadis.


Lagi-lagi Gadis bersikeras dengan


keinginannya. Hatinya sudah terikat pada bayi itu sejak dalam kandungan


Kinanti. Seperti yang dikatakan Kinanti, bayi Kaori sudah ditakdirkan diasuh


oleh Gadis.


“Gadis!! Kamu...!!”bentak Rio.


Bentakan Rio menyadarkan Gadis. Ia teringat


janjinya sendiri untuk tidak egois lagi terhadap siapapun. Gadis berlutut di


depan Rio, ia menahan sesak didadanya.


“Maaf... maaf, Rio. Aku... tidak akan egois


lagi. Terserah kamu saja.”kata Gadis tercekat.


Rio membantu Gadis bangun, mengeringkan tubuhnya


lalu memakaikan pakaian Gadis. Mereka keluar bersama-sama dari kamar mandi dan


melihat Mia sudah ada di kamar itu.


“Kalian baru selesai mandi. Sudah


makan?”tanya Mia.


Ia melihat Gadis tampak sedih, menantunya


itu berjalan kembali ke bed-nya dan berbaring tanpa menyisir rambutnya. Rio


mengepalkan tangannya melihat reaksi Gadis.

__ADS_1


“Mah, Rio mau Kaori dikembalikan ke ibunya.


Gadis sudah setuju.”kata Rio mengagetkan Mia.


“Kamu yakin? Gadis?”tanya Mia lagi. Tapi


Gadis tidak mengatakan apa-apa. Ia sudah tertidur dengan air mata menetes dari


sudut matanya.


Mia menoleh pada Rio lagi. Ia mengajak Rio


duduk di sofa. “Rio, kalau seperti ini, Gadis akan sedih.”


“Mama seharusnya memikirkan perasaanku sebelum


mengangkat bayi itu. Ibunya hampir menghancurkan rumah tanggaku dengan Gadis,


mah.”kata Rio.


“Tapi itu perbuatan ibunya dan bayi itu


yang harus menanggung akibatnya.”kata Mia.


“Maksud mama?”tanya Rio bingung.


“Bayi Kaori buta, Rio. Kamu belum tahu itu?”


“Apa??!”pekik Rio terkejut.


“Kinanti tidak mau membawanya waktu dia


pergi dari rumah kita. Gadis menerima bayi itu, merawatnya seperti putrinya


sendiri. Selain merawat kamu waktu itu. Dia sudah banyak berkorban untuk Kaori,


Rio. Perasaannya pada Kaori sudah seperti seorang ibu menjaga putrinya. Mama


belum pernah melihat Gadis sebahagia itu sejak kamu sakit. Kaori sudah seperti


penghibur kesedihannya.”


Rio diam, terlihat sibuk berpikir.


“Mama tidak memaksa kamu bisa menerima bayi


Kaori. Tapi kamu harus pikirkan perasaan Gadis. Lagipula, kedatangan Kinanti


kemarin untuk menegaskan status Kaori. Kinanti juga meyakini, kehadiran


Kaorilah yang membuat Gadis bisa hamil. Mereka, Kinanti dan Endy sudah


menyerahkan Kaori untuk menjadi putri kalian.”


“Tapi, mah...”


“Kalau kamu tetap bersikeras, kita akan


kembalikan Kaori pada orang tuanya. Tapi kamu harus bisa meyakinkan mama kalau


Gadis akan baik-baik saja. Dia sedang hamil, Rio. Pikirannya tidak boleh stress.


Kehamilannya masih rentan di usia muda seperti ini. Pikirkan lagi keputusanmu,


Rio.”kata Mia menggenggam tangan Rio.


Saat siang menjelang, Mia terpaksa


membangunkan Gadis untuk makan dan bersiap ke dokter kendungan. Di masa-masa


kehamilannya kali ini, Gadis tidak terlalu merasakan mual dan muntah. Ia hanya


ingin makan sesuatu yang asam atau terkadang manis. Itulah kenapa ia tidak


menyadari kalau dirinya sedang hamil.


Gadis duduk di bed, ia meminum air lebih


dulu sebelum mulai makan. Gadis menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara. Ia


turun dari bed, tidak memperhatikan sekelilingnya dan memakai sandalnya lagi.


“Dokternya sebelah mana, mah?”tanya Gadis


dingin.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2