Duren Manis

Duren Manis
Mencari tahu tentang itu


__ADS_3

Mia tampak sedang


menyusui si kembar di ruang keluarga saat Romi datang untuk mengambil undangan


pernikahan Riri. Pagi itu, Alex meminta Romi mengirimkan semua surat undangan


itu melalui kurir.


Romi : “Permisi.


Mia, Riri ada?”


Mia : “Ada, Romi.


Masuk sini.”


Romi : “Baby twin


lagi ngapain?”


Romi duduk di


samping baby Rava yang tampak anteng bermain dengan sarung tangannya. Bayi itu


asyik menggigit sarung tangannya dengan gusinya.


Romi : “Iih,


gemes.”


Mia : “Kamu kapan


nich?”


Romi : “Hmm... kami


masih menunda sich. Jelita masih sibuk belajar bisnis dan mengelola perusahaan


papanya. Umur Jelita kan juga masih muda, cuma ya itu...”


Mia : “Kenapa?”


Romi : “Gak kuat


denger omelan papa mertua. Kalau ketemu pasti nyindir masalah punya cucu. Gitu


ya kelakuan bapak-bapak diatas 50 tahun. Cerewet.”


Mia : “Kasi aja


satu dulu, biar diem.”


Romi : “Iya juga


ya. Ntar dech aku ngomong sama Jelita.”


Riri baru turun


dari lantai 2 sambil membawa beberapa undangan untuk teman SMA-nya.


Riri : “Halo, om.”


Romi : “Kenapa jadi


om? Biasanya manggil kakak.”


Riri : “Kan om udah


nikah.”


Romi : “Tapi kan


kamu manggil Jelita, kakak.”


Mia : “Protes aja


sich. Emang uda cocok dipanggil om. Makanya cepet punya anak.”


Romi menggaruk


kepalanya yang tidak gatal. Riri memberikan undangan yang harus dikirim Romi.


Romi bergerak cepat membagi beberapa undangan yang jalannya searah dan


mengirimkan pesan kepada beberapa orang.


Satu persatu orang


yang dipanggil Romi datang ke rumah Alex dan Romi memberi tugas untuk mengirimkan


undangan pernikahan itu. Sampai tersisa beberapa undangan pernikahan saja, Romi


menggunakan jasa ojek online untuk mengirimkan sisanya.


Romi menepuk


tangannya ketika tugasnya selesai, ia tidak sengaja membuat baby Reva kaget dan


mulai menangis.


Mia : “Wah, om Romi


nakal nich. Cepat gendong, om.”


Romi : “Gimana


caranya?”


Mia : “Gendong aja,


angkat pelan-pelan.”


Melihat Romi


kebingungan, Riri mengangkat baby Reva dan meletakkannya di lengan Romi. Riri


mengajari Romi menepuk pantat baby Reva agar berhenti menangis dan kembali


tertidur.


Mia : “Hihihi...


Riri aja lebih pinter ngasuh anak daripada kamu.”


Romi : “Itukan


insting perempuan, laki-laki kalo gak diajarin, mana bisa. Seru juga ternyata


gendong bayi. Agak berat ya.”


Riri : “Beratnya

__ADS_1


masih wajar kok, om. Emangnya kak Jelita belum hamil?”


Romi : “Belum, kami


nunda punya anak karena masih sama-sama sibuk.”


Riri : “Gimana cara


nundanya?”


Romi menoleh


menatap Mia seolah bertanya, ini boleh dikasi tau apa gak?


Mia : “Kenapa malah


ngliat aku? Jawab dong.”


Riri : “Iya, om.


Jawab dong.”


Romi : “Panggil


kakak dulu, baru aku jawab.”


Romi menjulurkan


lidahnya pada Riri sambil tersenyum jahil. Riri yang melihatnya, memutar


matanya.


Riri : “Gak om, gak


papa, sama aja.”


Romi : “Sama


apanya?”


Riri : “Sama-sama


gak inget umur.”


Romi : “Idih. Ya,


udah. Gak dijawab nich.”


Riri : “Iya, kak


Romi. Puas.”


Romi : “Jangan


galak-galak, ntar suamimu takut deket-deket kamu.”


Riri : “Gak


mungkinlah, kak.”


Romi : “Pede


banget. Jadi istri tuch harus lembut sama suami.”


Riri : “Ya, kak


Romi kan bukan suami Riri, ngapain harus bersikap lembut.


Romi mati kutu


dan Reva sudah tertidur lelap kembali.


Riri : “Cepetan


jawab, kak.”


Romi : “Nich, taruh


dulu adikmu. Aku dah pegel.”


Riri malah menaruh


bantal di bawah lengan Romi untuk mengganjal lengannya. Ia tersenyum dan


menatap mata Romi penuh harap agar pertanyaannya cepat dijawab.


Romi : “Emang


dasar. Kan bisa pakai pengaman atau menghitung masa subur.”


Riri : “Pengaman?”


Romi : “Mia, ini


serius boleh dijelasin. Ntar aku dibunuh Alex gara-gara ngasi tahu beginian


sama Riri.”


Mia : “Iya, anaknya


memang perlu tahu hal beginian. Daripada Riri nanya papanya sendiri, bukannya


dijawab malah kabur ntar papanya.”


Romi akhirnya


menjelaskan beberapa pengaman yang bisa digunakan untuk menunda kehamilan dan


juga cara menghitung masa subur.


Romi : “Jadi bisa


menunda kehamilan dengan aman.”


Riri : “Jadi bisa


itu dengan aman?”


Kening Romi


mengkerut, ia ingat Riri baru berumur 19 tahun sekarang dan itu umur yang masih


terlalu muda untuk hamil. Romi cepat-cepat menjelaskan pada Riri kalau di


usianya yang sekarang agak rentang kalau hamil.


Romi : “Riri kalau


bisa jangan hamil dulu ya. Tunggu usiamu 22 tahun gitu.”


Riri : “Iya, Riri

__ADS_1


juga belum mau hamil. Kan belum lulus kuliah juga. Riri nanya biar tahu aja,


kak. Sapa tahu mas Elo khilaf.”


Romi : “Oh, iya.


Habis nikah memang susah menahan diri. Kakak juga gitu.”


Mia : “Namanya juga


laki-laki kalo udah on, langsung fokus satu tujuan aja. Semak belukar.”


Romi dan Mia kompak


tertawa, membuat kaget bayi kembar di tangan mereka masing-masing. Keduanyasibuk


menenangkan baby Rava dan Reva, sementara Riri mulai menghitung masa suburnya


sendiri.


Tanggal yang ia


dapat bertepatan dengan hari ulang tahun Elo dan juga hari pernikahan mereka.


Riri memegangi pipinya yang merona. Kalau Elo minta haknya pada saat malam


pertama mereka, gimana? Sebenarnya Riri juga bingung gimana caranya bisa hamil.


Ia sempat berpikir saat mereka terakhir tidur bersama, ia akan hamil saat itu,


tapi ternyata tidak.


Riri : “Kak, kalau


itu saat masa subur, bisa langsung hamil ya?”


Romi : “Biasanya sich


kemungkinannya lebih besar, Ri. Dan bisa langsung jadi anak laki-laki gitu.


Tapi kamunya harus nyampe bersamaan dengan Elo.”


Riri : “Maksudnya


gimana, kak? Nyampe kemana?”


Romi menggaruk


kepalanya lagi. Ia bingung gimana harus menjelaskan bagian yang ini lebih


detail tapi gak vulgar.


Mia : “Mama rasa


Elo tidak akan berani meminta hak-nya sekarang, Ri. Jadi skip dulu untuk bagian


ini ya. Kasian kak Romi udah merah gitu mukanya.”


Romi : “Iya, Ri...


Eh, ada telpon.”


Romi mengambil


ponselnya dan tertera Alex calling.


Romi : “Waduh,


kayaknya aku kelamaan disini. Ya, halo, Lex.”


Alex : “Kamu


dimana? Kenapa belum balik kantor?”


Romi : “Aku masih


di rumahmu.”


Alex : “Ngapain


kamu lama-lama di rumahku? Tugasmu uda selesai?”


Romi : “Uda beres.


Ini aku masih jagain baby twin.”


Alex : “Kok kamu


yang jaga, Mia mana? Mb Roh mana?”


Romi : “Mia lagi


mules. Mb Roh kayaknya masih sibuk nyuci baju bayi.”


Romi mulai panik


dan asal ngomong aja pada Alex.


Mia : “Sialan, mama


dikatain mules.” Bisik Mia pada Riri yang terkikik geli.


Alex : “Cepatan


balik. Kerjaan numpuk nich.”


Romi : “Iya, ini


Riri juga ada. Sabar.”


Romi memberi tanda


pada Riri untuk mengambil baby Reva dari gendongannya.


Romi : “Aku balik


ke kantor sekarang.”


Alex terdengar


masih mengomel di telpon saat Romi berjalan keluar dari rumah Alex dan segera


mengemudikan mobilnya kembali ke kantor Alex.


🌻🌻🌻🌻🌻


Riri polos banget


ya, belum tahu aja dia gimana nikmatnya kehidupan pengantin baru. Kasian juga


Elo harus puasa sampai Riri lulus kuliah.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2