
Mia tampak sedang
menyusui si kembar di ruang keluarga saat Romi datang untuk mengambil undangan
pernikahan Riri. Pagi itu, Alex meminta Romi mengirimkan semua surat undangan
itu melalui kurir.
Romi : “Permisi.
Mia, Riri ada?”
Mia : “Ada, Romi.
Masuk sini.”
Romi : “Baby twin
lagi ngapain?”
Romi duduk di
samping baby Rava yang tampak anteng bermain dengan sarung tangannya. Bayi itu
asyik menggigit sarung tangannya dengan gusinya.
Romi : “Iih,
gemes.”
Mia : “Kamu kapan
nich?”
Romi : “Hmm... kami
masih menunda sich. Jelita masih sibuk belajar bisnis dan mengelola perusahaan
papanya. Umur Jelita kan juga masih muda, cuma ya itu...”
Mia : “Kenapa?”
Romi : “Gak kuat
denger omelan papa mertua. Kalau ketemu pasti nyindir masalah punya cucu. Gitu
ya kelakuan bapak-bapak diatas 50 tahun. Cerewet.”
Mia : “Kasi aja
satu dulu, biar diem.”
Romi : “Iya juga
ya. Ntar dech aku ngomong sama Jelita.”
Riri baru turun
dari lantai 2 sambil membawa beberapa undangan untuk teman SMA-nya.
Riri : “Halo, om.”
Romi : “Kenapa jadi
om? Biasanya manggil kakak.”
Riri : “Kan om udah
nikah.”
Romi : “Tapi kan
kamu manggil Jelita, kakak.”
Mia : “Protes aja
sich. Emang uda cocok dipanggil om. Makanya cepet punya anak.”
Romi menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Riri memberikan undangan yang harus dikirim Romi.
Romi bergerak cepat membagi beberapa undangan yang jalannya searah dan
mengirimkan pesan kepada beberapa orang.
Satu persatu orang
yang dipanggil Romi datang ke rumah Alex dan Romi memberi tugas untuk mengirimkan
undangan pernikahan itu. Sampai tersisa beberapa undangan pernikahan saja, Romi
menggunakan jasa ojek online untuk mengirimkan sisanya.
Romi menepuk
tangannya ketika tugasnya selesai, ia tidak sengaja membuat baby Reva kaget dan
mulai menangis.
Mia : “Wah, om Romi
nakal nich. Cepat gendong, om.”
Romi : “Gimana
caranya?”
Mia : “Gendong aja,
angkat pelan-pelan.”
Melihat Romi
kebingungan, Riri mengangkat baby Reva dan meletakkannya di lengan Romi. Riri
mengajari Romi menepuk pantat baby Reva agar berhenti menangis dan kembali
tertidur.
Mia : “Hihihi...
Riri aja lebih pinter ngasuh anak daripada kamu.”
Romi : “Itukan
insting perempuan, laki-laki kalo gak diajarin, mana bisa. Seru juga ternyata
gendong bayi. Agak berat ya.”
Riri : “Beratnya
__ADS_1
masih wajar kok, om. Emangnya kak Jelita belum hamil?”
Romi : “Belum, kami
nunda punya anak karena masih sama-sama sibuk.”
Riri : “Gimana cara
nundanya?”
Romi menoleh
menatap Mia seolah bertanya, ini boleh dikasi tau apa gak?
Mia : “Kenapa malah
ngliat aku? Jawab dong.”
Riri : “Iya, om.
Jawab dong.”
Romi : “Panggil
kakak dulu, baru aku jawab.”
Romi menjulurkan
lidahnya pada Riri sambil tersenyum jahil. Riri yang melihatnya, memutar
matanya.
Riri : “Gak om, gak
papa, sama aja.”
Romi : “Sama
apanya?”
Riri : “Sama-sama
gak inget umur.”
Romi : “Idih. Ya,
udah. Gak dijawab nich.”
Riri : “Iya, kak
Romi. Puas.”
Romi : “Jangan
galak-galak, ntar suamimu takut deket-deket kamu.”
Riri : “Gak
mungkinlah, kak.”
Romi : “Pede
banget. Jadi istri tuch harus lembut sama suami.”
Riri : “Ya, kak
Romi kan bukan suami Riri, ngapain harus bersikap lembut.
Romi mati kutu
dan Reva sudah tertidur lelap kembali.
Riri : “Cepetan
jawab, kak.”
Romi : “Nich, taruh
dulu adikmu. Aku dah pegel.”
Riri malah menaruh
bantal di bawah lengan Romi untuk mengganjal lengannya. Ia tersenyum dan
menatap mata Romi penuh harap agar pertanyaannya cepat dijawab.
Romi : “Emang
dasar. Kan bisa pakai pengaman atau menghitung masa subur.”
Riri : “Pengaman?”
Romi : “Mia, ini
serius boleh dijelasin. Ntar aku dibunuh Alex gara-gara ngasi tahu beginian
sama Riri.”
Mia : “Iya, anaknya
memang perlu tahu hal beginian. Daripada Riri nanya papanya sendiri, bukannya
dijawab malah kabur ntar papanya.”
Romi akhirnya
menjelaskan beberapa pengaman yang bisa digunakan untuk menunda kehamilan dan
juga cara menghitung masa subur.
Romi : “Jadi bisa
menunda kehamilan dengan aman.”
Riri : “Jadi bisa
itu dengan aman?”
Kening Romi
mengkerut, ia ingat Riri baru berumur 19 tahun sekarang dan itu umur yang masih
terlalu muda untuk hamil. Romi cepat-cepat menjelaskan pada Riri kalau di
usianya yang sekarang agak rentang kalau hamil.
Romi : “Riri kalau
bisa jangan hamil dulu ya. Tunggu usiamu 22 tahun gitu.”
Riri : “Iya, Riri
__ADS_1
juga belum mau hamil. Kan belum lulus kuliah juga. Riri nanya biar tahu aja,
kak. Sapa tahu mas Elo khilaf.”
Romi : “Oh, iya.
Habis nikah memang susah menahan diri. Kakak juga gitu.”
Mia : “Namanya juga
laki-laki kalo udah on, langsung fokus satu tujuan aja. Semak belukar.”
Romi dan Mia kompak
tertawa, membuat kaget bayi kembar di tangan mereka masing-masing. Keduanyasibuk
menenangkan baby Rava dan Reva, sementara Riri mulai menghitung masa suburnya
sendiri.
Tanggal yang ia
dapat bertepatan dengan hari ulang tahun Elo dan juga hari pernikahan mereka.
Riri memegangi pipinya yang merona. Kalau Elo minta haknya pada saat malam
pertama mereka, gimana? Sebenarnya Riri juga bingung gimana caranya bisa hamil.
Ia sempat berpikir saat mereka terakhir tidur bersama, ia akan hamil saat itu,
tapi ternyata tidak.
Riri : “Kak, kalau
itu saat masa subur, bisa langsung hamil ya?”
Romi : “Biasanya sich
kemungkinannya lebih besar, Ri. Dan bisa langsung jadi anak laki-laki gitu.
Tapi kamunya harus nyampe bersamaan dengan Elo.”
Riri : “Maksudnya
gimana, kak? Nyampe kemana?”
Romi menggaruk
kepalanya lagi. Ia bingung gimana harus menjelaskan bagian yang ini lebih
detail tapi gak vulgar.
Mia : “Mama rasa
Elo tidak akan berani meminta hak-nya sekarang, Ri. Jadi skip dulu untuk bagian
ini ya. Kasian kak Romi udah merah gitu mukanya.”
Romi : “Iya, Ri...
Eh, ada telpon.”
Romi mengambil
ponselnya dan tertera Alex calling.
Romi : “Waduh,
kayaknya aku kelamaan disini. Ya, halo, Lex.”
Alex : “Kamu
dimana? Kenapa belum balik kantor?”
Romi : “Aku masih
di rumahmu.”
Alex : “Ngapain
kamu lama-lama di rumahku? Tugasmu uda selesai?”
Romi : “Uda beres.
Ini aku masih jagain baby twin.”
Alex : “Kok kamu
yang jaga, Mia mana? Mb Roh mana?”
Romi : “Mia lagi
mules. Mb Roh kayaknya masih sibuk nyuci baju bayi.”
Romi mulai panik
dan asal ngomong aja pada Alex.
Mia : “Sialan, mama
dikatain mules.” Bisik Mia pada Riri yang terkikik geli.
Alex : “Cepatan
balik. Kerjaan numpuk nich.”
Romi : “Iya, ini
Riri juga ada. Sabar.”
Romi memberi tanda
pada Riri untuk mengambil baby Reva dari gendongannya.
Romi : “Aku balik
ke kantor sekarang.”
Alex terdengar
masih mengomel di telpon saat Romi berjalan keluar dari rumah Alex dan segera
mengemudikan mobilnya kembali ke kantor Alex.
🌻🌻🌻🌻🌻
Riri polos banget
ya, belum tahu aja dia gimana nikmatnya kehidupan pengantin baru. Kasian juga
Elo harus puasa sampai Riri lulus kuliah.
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).