
Extra part 66 Riri & Elo
Dion ingin memancing Elena agar datang ke rumah
besar dan selanjutnya menangkap wanita jahat itu. Elena tentu saja dengan
bodohnya terhasut lalu pergi menuju rumah besar untuk memastikan sendiri apa
yang terjadi disana. Kedatangan Elena langsung disambut keramaian orang-orang
yang sengaja dbayar untuk menyamar menjadi wartawan. Mobil mewahnya diijinkan
masuk setelah penjaga melihat Elena.
Tanpa curiga, wanita itu melangkah keluar dari
dalam mobilnya dengan pakaian yang kurang bahan. Menarik semua pusat perhatian
dalam sekejap. Harapan Elena, ia akan melihat Riri sedang terpuruk sendirian
dituding sebagai wanita murahan oleh kakek Michael.
Saat Elena menyibak kerumunan orang banyak yang ada
di halaman rumah besar, ia tidak melihat siapapun di depan sana. Keningnya berkerut,
melihat pintu rumah besar terbuka lebar. Sejenak keraguan hinggap di hatinya,
tapi rasa penasaran lebih besar mendorong Elena untuk melangkah masuk ke dalam
rumah itu.
Elena tersenyum saat mendengar suara Riri berteriak
kesakitan. Sepertinya wanita itu sedang dipukuli seseorang. Geraman kemarahan
seorang pria juga terdengar dari arah ruang kerja. Elena berjingkat mendekati
pintu yang sedikit terbuka. Ia ingin melihat sendiri saat Riri dipukuli Elo.
Mata Elena terbelalak melihat Riri benar-benar
dipukuli Elo. Riri meringkuk menutupi kepalanya dan Elo terus memukuli Riri
tanpa henti. Elena bertepuk tangan, ia sangat senang bisa melihat pemandangan
yang sangat ingin ia lihat. Terbayang rasa sakit Elena ketika dipukuli Pak
Brian. Sangat menyakitkan dan menyedihkan kondisinya saat itu. Dan sekarang
Riri merasakan apa yang ia rasakan dulu.
“Wah, wah. Seharusnya kamu dipukuli di luar sana,
j*****!” pekik Elena dengan rasa senang yang amat sangat.
Seolah tidak mendengar kata-kata Elena, Elo terus
memukuli Riri sampai wanita itu tidak bergerak lagi. Elena melangkah masuk
dengan angkuhnya, ia mendekati Elo tapi matanya menatap sosok Riri yang
tergeletak di lantai.
“Kau sudah puas?! Kau membuat tuduhan palsu tentang
perselingkuhan Riri dan Dion,” tanya pria itu sambil berjalan membelakangi
Elena.
“Ya, aku sangat puas. Seharusnya kau buang dia ke
jalanan, Angelo sayang. Istrimu yang sangat kau cintai itu, sangat bodoh. Aku
tidak perlu repot melakukan apapun. Dia sendiri yang tidak kuat menahan dirinya.
Pengawal bodohmu juga gitu. Apa kau kecewa? Kita bisa memulai lagi,” pinta Elena
sambil menoleh menatap Elo.
“Riri tidak akan melakukan hal kotor seperti itu,
kalau bukan kau yang menjebaknya!” teriak Elo yang berdiri di tempat gelap.
“Aku tidak ada di pulau itu. Dia berselingkuh
dengan Dion di dalam gua. Apa yang mau kau buktikan lagi? Akui saja istrimu
lebih j***** dari aku. Dia hanya berpura-pura\, Angelo. Akulah yang selalu
mencintaimu dengan tulus,” rayu Elena.
“Jadi kau mengakuinya. Aku bahkan tidak menyebutkan
ada pulau. Bagaimana bisa kau tahu kalau mereka ada di dalam gua?” tanya Elo
dengan tenangnya.
“Di postingannya kan begitu. Ada kok,” kata Elena
mulai ragu.
Sesungguhnya Elena tidak pernah membuat postingan
yang menyebutkan mereka kepergok di dalam gua. Kalau di sebuah pulau ada. Wajah
Elena sedikit pucat, tapi keserakahan mulai membuatnya lebih berani
memprovokasi Elo.
“Mereka berselingkuh, Angelo. Akui saja. Semua itu
benar. Istrimu tidak setia, pengawalmu juga sama. Mereka pengkhianat kotor!”
cerca Elena.
“Kau yang pengkhianat\, j*****! Kau tidak berhak
menilai Riri seperti itu!” bentak Elo.
Elena sedikit tercekat, tapi ia belum mau menyerah.
__ADS_1
Elena benar-benar merayu Elo, mempengaruhi pria itu agar meninggalkan Riri. Ia
bahkan tidak merasa kasihan melihat Riri yang masih telungkup di lantai. Elena
berjalan mendekati Elo, meraba tubuh pria itu yang lebih pendek dari Elo.
Tiba-tiba mata Elena melotot saat menyadari kalau
pria yang dia kira adalah Elo ternyata bukan Elo, melainkan Heru. Pria itu
terkekeh geli melihat Elena jatuh ke dalam perangkap dengan sangat bodoh.
“Selain j*****\, kau juga bodoh ya. *****!” kata
Heru sambil menjambak rambut Elena dan membalik tubuhnya.
Wanita yang telungkup di lantai tiba-tiba bangun
dengan cepat sambil merapikan penampilannya lagi. Elena melihat kalau wanita
itu bukan Riri. Rambut dan postur tubuhnya memang mirip, bahkan suara juga
mirip tapi dia bukan Riri.
“Kalian??!! Menipuku!!” jerit Elena yang kesakitan.
“Kau yang duluan, nyonya,” kata Heru masih
menjambak rambut Elena.
Wanita itu diseret keluar dari ruang kerja lalu
dibawa ke sebuah ruangan rahasia di dalam rumah besar. Satu-satunya tempat yang
tidak boleh didatangi penghuni rumah besar kecuali Dion, pak Kim dan Nyonya
Ratna. Tidak ada yang berjaga di depan pintu ruangan itu. Tapi sekali masuk kesana,
tidak akan bisa keluar kecuali dengan memberi tanda pada sensor di dinding.
Elena menjerit, berteriak mengatakan kalau Riri dan
Dion telah berselingkuh di belakang Angelo. Di dalam ruangan itu sudah menunggu
Dion yang sudah tidak sabar memberi Elena pelajaran. Saat Heru melempar Elena ke
dalam sana, wanita itu berbalik dengan cepat mencoba keluar, tapi Dion tidak
akan pernah melepaskannya sekarang.
**
Lili menoleh saat Dion berjalan mendekati tempat ia
duduk. Mereka saling pandang sebelum Dion beranjak ke kamar pribadinya di
lantai bawah. Dion jarang sekali menggunakan kamar itu kecuali ia sedang sangat
marah atau habis melakukan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh akal sehat
orang normal.
Dion hampir menutup pintu kamar itu ketika Lili
“Mama tidak akan suka melihatnya nanti,” kata Dion
dingin.
Lili memang tidak pernah masuk ke kamar pribadi
Dion itu, Dion tidak suka Lili masuk kesana karena sikap pria itu akan sangat
berbanding terbalik dengan Dion yang menjadi suami Lili. Tapi untuk saat ini
Lili ingin bersama Dion, ia ingin mengenal lebih dalam suami yang sudah hidup
bersamanya selama bertahun-tahun.
“Hanya kali ini saja. Boleh?” pinta Lili sambil
menatap Dion dengan pandangan memohon.
Dion menggeleng, ia menutup pintu kamar membiarkan
Lili tetap berdiri di luar kamar. Wanita itu menunduk, kecewa dengan keputusan
Dion. Tapi ia tetap menghormati privasi suaminya. Saat Lili berbalik hendak kembali
ke tempat ia duduk tadi, pintu kamar terbuka lalu Dion menarik tangan Lili
masuk.
“Pah?! Apa papa yakin?” tanya Lili menatap mata
Dion.
Pria itu menutup pintu lalu menguncinya. Lili bisa
melihat di dalam kamar itu ada satu set komputer dengan banyak monitor. Ada
juga peta daerah sekitar dan juga beberapa foto terpasang di dinding. Lili
melihat Dion masuk ke kamar mandi, ia mengikuti suaminya yang mulai membuka
pakaiannya.
Bau anyir darah memenuhi kamar mandi saat Dion mencuci
tangan dan wajahnya di wastafel. Pakaian yang dikenakan Dion tadi tampak sudah
masuk ke tong sampah. Dion bukan hanya membersihkan tangannya, ia juga berdiri
di bawah shower yang mengucurkan air meluruhkan sisa-sisa darah di tubuhnya.
Lili menatap tubuh Dion yang belum beranjak dari bawah
shower. Ia hanya melakukan itu tanpa mengatakan apa-apa. Sebenarnya ia sedikit
takut melihat hawa dingin menyelimuti Dion. Lili berpikir untuk pergi dari
sana, ia mulai tidak nyaman berada di ruangan yang suram itu.
__ADS_1
Lili tersentak saat lengan dingin Dion menyentuh
lengannya, ia sempat melamun dan tidak menyadari Dion yang sudah selesai mandi.
Entah kenapa Lili merasa dirinya seperti kelinci kecil yang tersesat di kandang
singa. Lili menelan salivanya, pantas saja Dion tidak mengijinkannya masuk ke
kamar itu. Berada di kamar itu sama sekali tidak nyaman dan baunya juga aneh.
“Duduk,” pinta Dion sambil menunjuk sofa tunggal di
sudut ruangan.
Lili langsung menurut dan duduk disana dengan tubuh
mulai tegang. Dion mendekati lemari dengan tubuh tidak tertutup apa-apa. Lili benar-benar
tidak bisa berpikir, ia terlalu tegang sampai keringat dingin mulai membasahi
tangannya. Dion berbalik tiba-tiba, berdiri di hadapan Lili yang kaget
melihatnya belum pakai baju.
“Kamu kenapa?” tanya Dion dengan nada bicara yang
sangat dingin.
“A—aku? Nggak kenapa,” kata Lili cepat sambil
geleng-geleng kepala.
“Tutup matamu,” perintah Dion.
Lili langsung tutup mata tanpa bertanya apa
alasannya ia harus menutup mata. Hening. Tidak ada suara atau pergerakan apapun
di depannya. Sesuatu menutup mata Lili, sebuah kain yang langsung diikat Dion
di belakang kepala istrinya itu.
“Dion, aku takut,” lirih Lili merasa tidak nyaman.
“Diamlah. Nikmati saja,” kata Dion di telinga Lili.
Dion mengecup telinga Lili, tubuh tegang Lili
perlahan mulai terhanyut dalam permainan Dion. Ada sensasi yang berbeda saat
Dion melakukannya dengan menutup mata Lili. Belum lagi suasana aneh di dalam
kamar itu membuat Lili merasakan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya.
“Ach, Di...on,” lirih Lili saat pria itu menyatukan
tubuh mereka. Lili sudah tidak bisa menolak ataupun menghindar dari Dion yang
sudah menunjukkan dominasinya.
Gila! Hanya itu yang sempat terlintas di kepala
Lili saat suaminya itu membuka ikatan pada matanya. Lili memicingkan matanya
melihat sekeliling ruangan yang tiba-tiba penuh dengan cermin. Dion mengikat
kedua tangan Lili jadi satu di belakang tubuhnya.
“Dion! Ach! Jangan!” pekik Lili merasakan tubuhnya
terhentak dengan kuat.
Dion membuat Lili benar-benar kelelahan sampai
tertidur di pelukan suaminya. Pria itu melirik jam, sudah hampir pagi saat Dion
akhirnya selesai.
“Hmm...,” lirih Lili yang terbangun karena haus.
“Kenapa bangun, mah?” tanya Dion yang kembali
hangat.
“Haus, pah. Minta minum,” sahut Lili merasakan
pegal di seluruh tubuhnya.
Dion mendekatkan segelas air ke bibir Lili, wanita
itu menghabiskan segelas air sebelum melihat sekeliling. Lili mendongak menatap
Dion yang tersenyum padanya.
“Mah, gimana semalem?” tanya Dion.
Lili tidak menjawab tapi malah tersenyum malu-malu
sambil menyusupkan wajahnya ke dada Dion. Suaminya itu membuat Lili merasakan
sensasi saat malam pertama mereka dulu. Ia semakin mencintai Dion dan berharap
pernikahannya akan selalu bahagia.
“Kenapa nggak jawab? Masih kurang ya?” tanya Dion
masih menggoda Lili.
“Kok tumben beda gini sich? Apa karena papa
habis...,” Lili menggantung kata-katanya, ia tidak ingin membahas Elena, tapi jelas
ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada wanita jahat itu.
“Habis apa? Hmm?” tanya Dion ingin menegaskan apa
yang ingin dikatakan Lili.
“Apa yang terjadi dengan dia, pah? Orang jahat itu,”
__ADS_1
kata Lili takut-takut.