Duren Manis

Duren Manis
Hal yang sama


__ADS_3

Hal yang sama


“Loh, bukannya


tadi udah dibersihin?”tanya Riri.


Lili menunduk


malu menyadari dia sudah salah ngomong. Dion mengalihkan perhatian semua orang


dengan menghidangkan makan malam mereka. Ia juga mengatakan akan menghias kamar


pengantinnya sendiri nanti. Elo dan Riri tidak berhenti menggoda Lili dan Dion


sepanjang makan malam mereka.


Malam itu, Lili


membantu Dion membereskan kamarnya. Tapi saat Lili ingin membantu Dion menghias


kamar pengantin mereka nantinya, Dion mengatakan akan melakukannya sendiri. Semua


pesanan Dion sudah datang sejak tadi dan Lili kembali ke kamarnya membiarkan


Dion mengunci diri di kamar.


Riri


memperlihatkan semua perlengkapan untuk pernikahan Lili besok dan mereka


beristirahat lebih awal agar bisa bangun lebih pagi.


*****


Gadis sudah kembali bekerja di kantor Alex


seperti biasanya. Ia sedang membereskan berkas untuk meeting Alex dengan client


baru mereka. Saat itu kurir datang membawa sebuket bunga.


“Dari siapa?”tanya Gadis sebelum menerima


bunga itu.


“Silakan dilihat kartunya, nona. Saya hanya


mengantar.”


Gadis mengambil kartu dari bunga itu dan


melihat tulisannya. ‘Untuk calon istriku, dari calon suami yang sangat


mencintaimu.’ Gadis menerima buket bunga itu dan mencium kelopak mawar merah


yang berbau wangi.


“Bisa romantis juga ya. Pasti ada yang nyuruh.”Gadis


mengedarkan pandangannya dan melihat Romi sedang mengintip dirinya. “Tuch, kan


beneran ada yang nyuruh. Tapi gak pa-pa dech.”


Gadis beranjak ke pantry, ia mengambil vas


bunga kosong dan merangkai bunga itu di dalamnya. Ketika kembali dari pantry,


Gadis berpapasan dengan Rio yang baru selesai meeting dengan Thalia, putri


pemilik perusahaan yang menjadi client mereka. Gadis melirik tangan wanita


seksi itu yang melekat erat di lengan Rio.


“Oh, bunga yang cantik. Siapa yang


mengirimnya?”tanya Thalia sambil merebut kartu di tangan Gadis. “Oh, manis


sekali dari calon suamimu ya. Selamat atas pernikahanmu.”


“Terima kasih, nona Thalia.”


“Rio, sekretarismu saja sudah mau menikah.


Kamu kapan?”tanya Thalia dengan genit.


Rio hampir menjawabnya tapi Gadis sudah

__ADS_1


lebih dulu mengatakan kalau Rio masih menunggu waktu yang tepat untuk menikah.


Ia hanya ingin melihat reaksi Rio saat Thalia mendesaknya. Rio hanya menatap


Gadis yang berlalu ke mejanya dan meletakkan vas bunga itu di sudut meja.


Thalia memaksa Rio untuk mengantarnya


kembali ke mobilnya. Ia bahkan hampir membawa Rio dengan paksa kalau ponsel Rio


tidak berdering. Saat Rio kembali ke atas setelah menjawab telpon, ia tidak


melihat Gadis di mejanya. Alex meminta Gadis membereskan mejanya yang


berantakan dan ia akan pergi untuk mengantar Mia dan si kembar imunisasi.


Tanpa sepengetahuan Gadis, Rio masuk ke


ruang kerja Alex setelah papanya pergi. Ia sempat memberi tahu Romi kalau ia


ingin membicarakan sesuatu dengan Gadis dan minta agar mereka tidak diganggu.


“Jangan lama-lama. Lagian Gadis baru saja


keguguran. Apa kau merencanakan sesuatu?”selidik Romi sambil memicingkan


matanya.


“Ach, om. Aku cuma ingin memastikan


sesuatu.”


Gadis menoleh saat Rio mendesaknya di sudut


meja kerja Alex. “Rio, jangan ganggu aku.”


“Apa maksudmu tadi? Kenapa gak bilang kalau


kita yang akan menikah. Aku calon suamimu.”


Gadis meletakkan berkas di tangannya. “Aku


lihat kau sangat nyaman di pelukan wanita itu. Aku tidak mau menghilangkan


senyumannya dari wajahnya. Cepat atau lambat dia juga akan tahu akhirnya.”


“Tidak.”


Rio merangkul pinggang Gadis, mendekatkan


tubuh mereka berdua hingga menempel satu sama lain. “Rio, ini di kantor.


Seseorang bisa masuk...”


“Aku sudah menahannya dari tadi. Cium aku,


Gadis. Kau terlihat cantik membawa bunga itu tadi. Kau suka bunganya.”


“Aku suka bunganya tapi tidak dengan orang


yang memberikannya.” Rio menjauh sedikit, ia menatap mata Gadis yang terlihat


kesal padanya. “Apa kau mengirimkan bunga itu untuk membujukku?”


“Membujuk apa?”


“Jadi kau bisa gampang minta maaf habis


merayu wanita seperti Thalia.”


Rio tersenyum senang, Gadis jelas cemburu


padanya. Ia menarik Gadis masuk ke ruang istirahat Alex. “Rio, kamu mau apa?


Jangan dikunci pintunya. Dokter melarang kita melakukan itu dulu!”


“Aku cuma mau menghukummu sedikit saja.


Kenapa banyak bicara? Apa pikiranmu sekotor itu?”


Wajah Gadis memerah menyadari Rio nyengir


lebar, pria itu hanya ingin menggodanya seperti biasanya. Rio mendekati Gadis,


mencium wanita pujaannya itu sampai nafas mereka tak beraturan. Tubuh Gadis

__ADS_1


gemetar saat Rio mencium daun telinganya.


“Rio, kamu... sudah...”


“Jangan lakukan lagi. Kau calon istriku.


Kita akan menikah sebentar lagi dan tidak memalukan mengakuinya sekarang.”


“Popularitasmu akan turun kalau kita


mengatakannya sekarang. Kau ini diam-diam sangat mirip dengan papamu ya. Banyak


sekali wanita yang masih mengejarnya, meskipun sudah menikah.”


“Jangan sampai mamaku tau, atau mereka akan


ditendang satu per satu.”


“Apa aku akan mengalami hal yang sama? Sibuk


menendang pelakor?”


Gadis duduk bersandar diatas tempat tidur


dengan Rio duduk diantara kakinya. Tangan Rio mulai nakal, mengelus-elus paha


Gadis sampai Gadis harus memukul tangan Rio.


“Aku mau pegang. Sini tanganmu.”Rio mencekal


kedua tangan Gadis ke belakang punggungnya.


“Rio! Geli! Jangan pegang disitu. Ampun.


Rio, jangan!”


Rio menatap wajah merah Gadis dengan


ekspresi menahan geli di pahanya yang terus di elus Rio. Ia melihatnya sebagai


undangan untuk melangkah lebih jauh. Saat Rio hampir melucuti baju Gadis,


ponselnya berdering.


Rio menekan icon hijau di layar ponselnya


dan juga loudspeaker. Suara manja Thalia terdengar dari sana. “Halo Rio, kamu


lupa sesuatu ya?”


“Halo, nona Thalia. Saya lupa apa ya?”


“Proposalnya. Bawa ke rumahku nanti malam


ya.”undang Thalia sambil mendesah gak jelas.


Gadis berusaha melepaskan tangannya yang


masih di cengkram Rio tapi Rio malah sengaja menyentuh area sensitif Gadis


sampai wanita itu mendesah cukup keras.


“Rio! Kamu lagi ngapain sich? Ada siapa


disitu?!” Thalia berteriak kesal.


“Nanti saya kirim ya, nona. Saya sedikit


sibuk sekarang.”


“Tapi...”


Rio menekan tombol merah dan kembali konsen


pada Gadis. “Rio, kamu jangan nakal. Jangan lepas bajuku!”


Keributan di ruang pribadi Alex, menarik


perhatian Alex yang baru kembali dari mengantar Mia dan si kembar. Ia mendekati


pintu ruangan itu, mulai menguping.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2