
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 7
Alfian melirik Renata yang baru kembali dari kantin. Seulas senyum jahil terukir di bibirnya. Merasakan firasat buruk, Alfian kembali menunduk tampak sibuk dengan laptopnya.
“Pak Alfian, dapat salam dari ibu Merry,” kata Renata sambil menghentikan langkahnya di depan ruangan Alfian.
“Jangan bercanda, Renata. Cepat lakukan tugasmu,” sahut Alfian dingin.
“Pak, kalau bapak nggak bergerak, nanti bu Merry keburu diambil orang loh,” kata Renata sambil berlalu masuk ke ruang direktur.
Alfian bangkit dari duduknya, ia ingin menanyakan maksud Renata. Tapi sosok gadis itu keburu masuk dan menutup pintu. Renata melihat ruangan direktur kosong. Sepertinya Reynold belum kembali dari makan siang. Renata duduk kembali di kursinya. Ia tersenyum melihat pekerjaannya tinggal sedikit. Diliriknya kotak merah yang kini berpindah ke mejanya. Ada sebuah kertas terselip dibawahnya.
Renata mengambil kertas itu lalu membaca isinya, ‘Ini milikmu. Pakailah di kantor.’ Tangan Renata membuka kotak merah itu dengan hati-hati. Ia mencoba memakai jam tangan mewah itu yang sangat pas melingkar di tangannya.
“Apa boleh buatku? Kok rasanya aneh ya? Apa semua karyawan baru mendapat jam mewah seperti ini?”
gumam Renata bertubi-tubi.
Bimbang melanda antara ingin melepas atau tetap memakai jam tangan itu. Dirinya membaca tulisan yang tertera di kertas sekali lagi. Jelas-jelas kalau ia boleh memakai jam tangan itu. Akhirnya Renata memutuskan akan memakai jam tangan itu di kantor saja.
**
Setitik sinar menerangi jalanan di depan kantor. Barusan setelah makan siang, hujan turun dengan lebatnya sampai-sampai Renata terkaget-kaget. Ia duduk di samping jendela besar yang berkali-kali menampilkan cahaya kilat disusul suara petir yang menggelegar. Reynold tidak kembali lagi ke kantor, setelah makan siang, ia harus mengurus sesuatu via online dan tidak bisa melakukannya di kantor.
Renata merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan ingin
membawa semua dokumen itu ke ruangan Alfian. Diambilnya beberapa dokumen sekaligus lalu berjalan mendekati pintu. Renata sempat kebingungan membuka pintu itu, lalu ia teringat dengan kata-kata Alfian.
“Buka pintu!” ucapnya cukup nyaring.
Pintu ruang direktur langsung terbuka perlahan untuk Renata. Ia bisa keluar dengan mudahnya dari sana.
“Pak Alfian, ini dokumennya sudah selesai,” kata Renata sambil menumpuk dokumen yang sudah selesai di meja Alfian.
“Letakkan saja disana dulu. Mau aku bantu?” tanya Alfian dingin.
“Nggak usah, pak. Saya bawa pelan-pelan saja,” sahut Renata.
Setelah selesai bolak-balik membawa semua dokumen itu, Renata meminta pekerjaan pada Alfian. Pria itu berpikir sejenak, dokumen yang harus diperiksa Renata sudah selesai semua. Ia meminta Renata mengembalikan dokumen yang sudah selesai kembali, ke department masing-masing. Renata mendorong troli besar menuju lift. Ia mengikuti petunjuk warna sesuai dengan masing-masing map yang tertera di lift.
Perusahaan tempat Renata bekerja memang didesain untuk memudahkan gadis itu belajar. Reynold ingin saat mereka bersatu dalam pernikahan nanti, Renata harus bisa mendampinginya di perusahaan FoRena Group. Saat Renata sampai di bagian keuangan, ia melihat banyak sekali meja yang disekat. Ia mendekati meja terdekat lalu menanyakan ruangan manajer keuangan.
Seorang staf keuangan menunjuk ruangan di ujung lift. Renata mendorong troli menuju kesana, ia hampir
menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik sekat. Untung saja Renata bisa mengerem tepat waktu.
“Maaf, pak,” kata Renata ramah.
“Oh, tidak apa-apa. Kamu siapa ya? Kenapa baru kelihatan disini?” tanya pria bernama Abdi itu.
Renata mengatakan kalau dirinya staf baru di kantor direktur dan ingin mengembalikan dokumen ke
ruangan manajer keuangan.
__ADS_1
“Kamu Renata ya? Cantik ya seperti namamu,” gombal Abdi.
Renata hanya menanggapi Abdi dengan senyuman basa-basi. Ia mendorong troli mendekati ruangan
Merry dan mengetuk pintu. Setelah mendapat persetujuan masuk, Renata mendorong pintu terbuka lalu menyapa Merry.
“Renata, kamu kesini. Ada apa?” tanya Merry sumringah. Tapi keningnya mengerut ketika melihat Abdi
mengikuti Renata sambil membawa beberapa dokumen milik department keuangan.
“Abdi, ngapain kamu kesini?” tanya Merry heran.
“Saya membantu Renata menurunkan dokumen ini, bu,” sahut Abdi.
Renata dan Merry saling pandang dan membiarkan Abdi membantu Renata. Bahkan setelah selesai, Abdi
masih mencari alasan untuk tetap di ruangan Merry. Pria itu baru keluar dari ruangan Merry setelah Merry memintanya keluar karena ia ingin bicara berdua dengan Renata.
“Hati-hati sama dia, sifatnya agak playboy. Suka mendekati wanita cantik seperti kamu,” bisik Merry.
“Hehe... saya sudah biasa, bu. Ibu mau bicara apa ya?” tanya Renata.
“Apa kamu punya waktu sore ini? Sebenarnya Alfian akan berulang tahun besok. Dia tidak pernah mau
merayakan ulang tahunnya. Jadi aku biasanya memberinya kado. Kira-kira apa yang bagus ya?” tanya Merry.
Renata mencium adanya gosip lagi. Ia mengusulkan sebuah jam tangan. Tapi Merry mengatakan kalau di
“Terus tahun berikutnya, ibu ngasih apa?” tanya Renata kepo.
“Tahun kedua itu dasi, tahun ketiga dompet, tahun keempat itu sepatu. Sekarang tahun kelima, aku
bingung mau ngasih apa,” kata Merry lemes.
“Kasi baju kerja aja, bu,” usul Renata. “Ibu pasti tahu dimana biasanya pak Alfian membeli baju kerja,” kata Renata lagi.
Merry mengangguk menyetujui usulan Renata. Mereka bisa langsung pergi setelah jam pulang kerja. Renata keluar dari ruangan Merry untuk kembali ke ruang direktur. Abdi sempat mengejarnya, tapi pintu lift keburu tertutup.
**
Renata menunggu Merry turun di lobby kantor. Satu persatu karyawan mulai turun dan langsung berjalan
keluar termasuk Abdi. Pria itu masih penasaran dengan Renata dan mulai mengganggunya dengan banyak pertanyaan. Alfian yang kebetulan turun belakangan, berdiri di belakang Abdi sambil menatap Renata yang meringis mendengar gombalan Abdi.
“Ehem... Renata, kamu nunggu siapa?” tanya Alfian to the point.
Abdi gelagapan melihat Alfian ada di belakangnya, ia segera kabur dari sana. Alfian menatap sosok Abdi yang menjauh, memperhatikan dari department mana pria itu.
“Dia ganggu kamu?” tanya Alfian.
“Cuma banyak nanya, pak. Makasih, pak. Bapak mau pulang? Silakan duluan. Saya masih menunggu ibu
Merry,” kata Renata.
__ADS_1
“Kalian mau pergi? Kemana?” tanya Alfian spontan.
Renata menimbang mengatakan yang sebenarnya atau berbohong. Kebetulan Merry yang sudah turun, mendekati mereka berdua. Ia menepuk pundak Alfian agar menyingkir dari depan Renata.
“Renata, ayo kita pergi,” ajak Merry.
Mereka meninggalkan Alfian tanpa jawaban yang pasti. Pria itu jadi penasaran ingin tahu kemana Renata dan Merry pergi. Ketika sedang menunggu mobilnya diantar, Merry berbisik pada Renata.
“Dia nanya apa?” tanya Merry.
“Kita mau kemana,” bisik Renata.
“Kamu bilang?” bisik Merry lagi.
Renata menggeleng dan mobil Merry akhirnya tiba juga di depan mereka. Keduanya segera masuk ke dalam
mobil dan pergi dari sana. Tanpa mereka sadari, Alfian mengikuti mereka dengan mobilnya. Di dalam mobil, ponsel Renata terus berbunyi. Reynold menelponnya sejak dirinya keluar dari kantor. Tapi Renata selalu me-reject-nya. Merry meminta Renata mengangkat telponnya dulu. Akhirnya Renata menekan icon hijau.
[]”Halo, kak. Aku masih nemenin atasanku belanja,” kata Renata cepat.
[]”Mau kemana? Nanti pulang jam berapa? Mau makan di rumah atau di luar?” tanya Reynold bertubi-tubi.
[]”Kayaknya ke butik atau mall. Mungkin selesai dua sampai tiga jam lagi. Nanti aku makan di rumah, kak,” sahut Renata lagi.
Jantungnya sudah berdebar kencang membuat suaranya sedikit gemetar. Kejadian semalam membuat
Renata malu sekali setiap bertemu Reynold dan ingin menghindari pria itu untuk sementara.
[]”Share loc. Nanti aku susul kesana. Kita makan di luar. Aku mau bicara penting,” sahut Reynold lalu mematikan sambungan telpon mereka.
Renata cemberut menatap layar ponselnya yang kembali ke layar utama. Merry yang kepo bertanya dengan siapa Renata bicara.
“Ponakan saya. Tapi kemarin kami... itu... anu... ciuman,” kata Renata gantian lemes.
“Hah?!!” jerit Merry kaget. Untung saja mereka sudah sampai di parkiran butik. Merry meminta Renata
untuk menceritakan apa yang terjadi padanya dan Reynold, tapi Renata belum sanggup untuk cerita saat itu.
Mereka akhirnya masuk ke butik bersamaan dengan Alfian yang juga berhenti di dekat mobil Merry. Pria
itu melirik ke dalam butik tempat Merry dan Renata menghilang ke dalamnya. Kata-kata Renata tadi siang masih mengganggunya dan sekarang melihat Merry datang ke butik pakaian pria membuat Alfian semakin tidak tenang.
Sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru berhenti di samping mobil Merry. Alfian menatap sosok
Reynold yang keluar dari sana. Ia tidak mengenai pria tampan itu sebagai direktur perusahaan FoRena Group. Reynold tidak masuk ke dalam butik, tapi menunggu sambil bersandar pada mobilnya. Alfian juga melakukan hal yang sama, menunggu Merry keluar.
Merry terlihat sibuk memilih pakaian untuk Alfian. Ia segera menemukan yang cocok dan menanyakan
ukurannya pada pelayan butik. Renata juga melihat-lihat pakaian pria di butik itu. Ia ingin membelikan sesuatu untuk Reynold. Tapi membayangkan ciuman mereka, wajah Renata merona lagi.
“Aku benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya menerima ciumannya. Mikir apa aku sich?!” jerit Renata tiba-tiba.
Ia melihat sekeliling, pelayan dan Merry sampai menoleh menatapnya. Renata nyengir malu, ia menyembunyikan wajahnya di balik salah satu jas yang ada di gantungan baju. Setelah menerima kotak yang berisi pakaian kerja untuk Alfian, Merry mengajak Renata makan dulu sebelum mengantarnya pulang. Mereka melihat Reynold berdiri di samping mobilnya. Tatapan dingin pria itu mampu membekukan siapa saja. Renata meminta maaf karena tidak bisa menemani Merry makan, ia harus pergi dengan Reynold untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.
__ADS_1