Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 25


__ADS_3

“Andika, kamu sudah bangun. Mau makan apa?” tanya Kaori manis.


Ken meminta Renata untuk tetap tinggal di walk in closetnya sementara dia menghampiri Kaori. Ken juga berpesan kalau mereka akan bicara lagi setelah ini. Saat ini Andika juga membutuhkan perhatian yang sama karena baru saja kehilangan papanya. Renata yang ditinggalkan di walk in closet itu terduduk di lantai dengan perasaan yang kacau. Dia ingin bicara dengan papa Alex dan mama Mia saat ini juga. Tapi mendengar ucapan Ken tentang mengerjai Reynold, Renata butuh penjelasan dulu tentang maksud pria itu.


“Aku harus tenang dulu. Barusan aku hampir menyakiti Kaori. Dia marah nggak ya?” gumam Renata pusing sendiri.


Wanita itu menatap isi walk in closet Kaori dan Ken untuk mengalihkan pikirannya dari masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Baru saja ingin menenangkan diri, ponsel Renata berdering diatas meja sofa. Dia bisa menebak kalau itu adalah Reynold. Renata buru-buru berdiri lalu keluar dari walk in closet itu setelah menyambar sebuah syal yang tergantung di dekatnya.


Kaori, Ken, dan pelayan sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu. Renata segera mengambil ponselnya dan menekan icon hijau. Dia langsung duduk di sofa kamar Kaori sambil menimang syal di tangannya. Wajah Reynold langsung muncul di layar ponsel Renata.


“Ada apa, kak?” tanya Renata sambil menguap lebar.


Dia harus menyamarkan kedua matanya yang pasti sudah memerah karena menangis tadi. Renata belum ingin Reynold tahu apa yang terjadi sebenarnya. Meskipun kebenaran ini bisa membuat mereka berdua menyatu tanpa halangan lagi.


[“Kamu lagi dimana, Ren? Kok nggak ada di kamar?”] tanya Reynold yang mengawasi Renata dari software penyusup SPIKE.


“Kakak tahu darimana, aku nggak ada di kamar?” tanya Renata penuh selidik.


Reynold  terlihat gelagapan sejenak sebelum menjawab kalau Renata duduk di sofa yang berbeda dari yang ada di kamarnya. Untung saja Reynold bisa memberi jawaban yang memuaskan Renata, meskipun wanita itu masih terlihat ragu-ragu. Masalahnya, Reynold selalu bisa menemukan dimana dirinya berada. Apalagi Reynold bekerja untuk perusahaan IT yang katanya hanya mengurusi tentang games.


Renata jadi ingin tahu sebenarnya apa yang dikerjakan oleh Reynold sampai pria itu sangat yakin dia bisa mengalahkan perusahaan besar milik papa Alex, kak Ello, Ken, bahkan milik papanya sendiri, Om Ronald. Melihat kening Renata berkerut karena sibuk berpikir, Reynold tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya. Sekarang pertanyaannya itu akan menjadi bumerang baginya.


[“Kamu kenapa, sayang? Lagi mikirin apa? Aku loh, sudah ada disini,”] ucap Reynold penuh rayuan.


“Kak, sebenarnya kakak kerja apa sih? Pekerjaan apa sampai bisa membangun kerajaan bisnis?” kejar Renata.


Reynold langsung diam seribu bahasa. Kedua matanya bergerak seperti sedang mencari sesuatu di tempat lain atau mungkin minta pertolongan kepada seseorang di sampingnya. Renata memakai kesempatan itu untuk mendesak Reynold dan mengancamnya.


“Kalau kakak nggak mau jujur, aku nggak mau ngomong sama kakak lagi,” ucap Renata hampir menekan icon merah untuk menghentikan obrolan mereka.


[“Jangan! Renata, jangan coba-coba mematikan sambungan v-call itu atau kamu akan menyesal.”] Reynold balik mengancam Renata tapi wanita itu tidak takut.


Renata langsung menekan icon merah dan meletakkan ponselnya di atas meja sofa lagi. Dia lalu menimang-nimang syal yang sedari tadi berada di tangannya. Pandangannya jauh ke depan, terlihat fokus pada vas bunga di atas meja, tapi sebenarnya Renata memikirkan hal lain. Kalau sampai Reynold mewujudkan ancamannya, matilah


dirinya nanti.


“Renata, kamu masih disini,” ucap Ken yang masuk lagi ke dalam kamarnya.


“Hah? Oh, kamu mau istirahat ya,” sahut Renata lalu beranjak dari duduknya.


Ken tersenyum maklum lalu meminta Renata duduk lagi. Dia hanya ingin berganti pakaian karena ingin menemani Andika ke pemakaman ayahnya. “Aku dan Kaori akan pergi menemani Andika dulu. Jenazah Anthony sudah ditemukan dan pemakamannya sore ini juga. Kamu mau ikut?”

__ADS_1


“Boleh? Sebenarnya aku bosan di kamar terus. Tunggu ya,” ucap Renata lalu beranjak keluar dari kamar itu.


Di ruang tengah, Renata tidak melihat Kaori ataupun Andika. Dia menebak mungkin saja Andika sedang mengganti pakaiannya dibantu Kaori. Wanita itu buru-buru kembali ke kamarnya lalu membuka lemari pakaiannya. Dia sama sekali melupakan ponselnya yang masih berada di meja sofa kamar Ken. Sampai Renata siap dengan dress serba


hitam dan tas hitam juga, dia sama sekali tidak ingat dengan ponselnya.


Renata kembali ke ruang tengah dan melihat Andika duduk bersama Ken. Melihat Kaori tidak ada di sana, Renata ikut menunggu dengan duduk di dekat Andika. Tidak disangka Renata kalau pria kecil itu bersandar padanya. Meskipun tidak ada air mata yang berlinang di wajah Andika, Renata bisa merasakan tubuh bocah kecil itu sedikit menggigil.


“Kamu kenapa, Dika?” tanya Renata berusaha memberikan perhatian.


“Kak, aku pusing,” bisik Andika masih bersandar pada Renata.


Ken yang mendengar ucapan Andika, mendekati bocah laki-laki itu lalu berjongkok di depannya. Dia menanyakan dengan hati-hati tentang perasaan Andika. Tapi sejurus kemudian, Ken duduk kembali ke tempatnya semula. Andika memberi kode padanya untuk menjauh dan membiarkan kepalanya tetap bersandar pada Renata. Ciri-ciri


playboy sudah terlihat dari sejak Andika kecil.


“Kenapa Ken?” tanya Renata bingung.


“Dia akan sembuh setelah kau memeluknya, Renata,” sahut Ken sambil mencibir ke arah Andika.


Mendengar hal itu, Renata mengulum senyum sambil melirik Andika. Kaori yang sudah selesai berganti pakaian, segera menyusul ke ruang tengah. Mereka segera bersiap-siap untuk menuju tempat pemakaman keluarga Andika. Anthony akan dimakamkan di samping makam istrinya, mama Andika. Tepat ketika mereka hampir keluar dari


“Mau kemana?” tanya Reynold lebih dingin dari sebelumnya.


“Kami mau ke pemakaman Anthony,” sahut Ken sambil melirik reaksi Renata. “Kamu mau ikut?”


Renata sama sekali tidak berani menatap Reynold. Wanita itu hanya sibuk tersenyum pada Andika yang sudah kembali ceria. Reynold mengatakan kalau dirinya mau ikut, tapi pakaiannya sama sekali tidak mendukung. Padahal saat itu Reynold memakai kemeja hitam dan celana panjang hitam. Itu hanya alasan saja untuk melihat reaksi Renata. Benar saja, wanita itu menatap pada Reynold lalu tersenyum tipis.


“Kamu ikut aku,” titah Reynold sambil menarik tangan Renata secara tiba-tiba.


Renata terkejut lantas melepaskan pegangan tangannya pada Andika. Dirinya pasrah dibawa Reynold ke dalam mobil sport pria itu. Kaori yang hampir memanggil Renata, dihalangi Ken yang menuntunnya dan Andika masuk ke dalam mobilnya. Mereka harus segera berangkat atau Andika akan terlambat melepas kepergian papanya untuk


yang terakhir kalinya.


“Tapi, Ken. Gimana kalau kak Rey nekat?” tanya Kaori khawatir.


“Kayaknya dia belum tahu. Kita lihat saja nanti. Kalau Renata mau membantuku, Reynold tidak akan pernah tahu sampai aku yang mengatakannya,” ucap Ken percaya diri.


Kedua mobil itu pun beriringan keluar dari mansion milik Ken, menuju tempat pemakaman papa Andika. Dua buah mobil yang berisi bodyguard Ken juga mengikuti mereka dari belakang. Iring-iringan mobil itu pun segera tiba di pemakaman setelah sebuah mobil polisi memberi jalan kepada mereka. Sepertinya Felix telah memberi bantuan buka jalan kepada Ken dan rombongan agar bisa cepat sampai ke pemakaman.


Ketika mobil Ken berhenti di jalanan dekat tempat upacara pemakaman Anthony, beberapa bodyguard langsung berjaga-jaga dari wartawan ataupun orang-orang yang ingin mendekati Andika. Ken, Kaori dan Andika mendapatkan pengawalan ekstra sehingga mereka bisa masuk ke tempat upacara dengan cepat. Melihat hal itu, Renata mengurungkan niatnya untuk turun. Sudah terlalu banyak orang yang menemani Andika di dalam sana.

__ADS_1


“Kita tunggu di tempat lain saja, kak. Orangnya ramai sekali,” ucap Renata sedikit ngeri melihat banyak orang berbadan besar dan bertato yang berdiri di dekat mobil Reynold.


“Kita kesana ya,” ajak Reynold sambil menunjuk bukit di dekat tempat upacara.


Reynold mengarahkan mobil mengikuti mobil Ken yang juga menuju ke arah yang sama. Sopir Ken menghentikan mobil itu di jalanan yang kosong di atas bukit. Reynold juga menghentikan mobilnya di dekat mobil Ken. Mereka berdua melihat jalannya upacara pemakaman itu dari atas bukit.


“Kak, kasihan ya Andika,” ucap Renata sendu. “Anak itu masih terlalu kecil.”


“Dia akan tegar bersama keluarganya nanti. Bukan salahnya kalau takdir sudah berkehendak,” ucap Reynold membuat Renata menoleh padanya.


“Kehendak takdir,” gumam Renata seolah mencari jawaban atas banyak pertanyaan yang berkecamuk di dadanya.


Wanita itu menelan salivanya ketika melihat Reynold menatapnya dalam. Akhirnya Renata mengerti apa arti tatapan Reynold selama ini padanya. Pria itu mencintainya sebagai seorang pria mencintai seorang wanita. Cinta yang mengharapkan penyatuan yang sah sebagai suami istri, bukan hanya sekadar cinta karena keluarga.


“Kak Rey, apa kau sangat mencintaiku?” ucap Renata tanpa sadar.


“Sangat. Sampai rasanya aku akan mati kalau kau tidak bisa menjadi milikku, Renata,” sahut Reynold tanpa berpikir.


“Saat kau mematikan sambungan telepon tadi, aku hampir gila. Renata, menikahlah denganku. Tolong jangan menjauh dariku,” sambungnya memelas.


Renata tersenyum manis menatap Reynold lalu mendekat pada pria itu. Reynold mengira kalau Renata ingin menciumnya. Dia memejamkan matanya dengan mulut sedikit dimonyongkan. Tapi Renata sama sekali tidak ingin mencium Reynold, dia ingin meminta jawaban pria itu tentang pertanyaannya tadi.


“Kak Rey, berhenti monyong gitu. Aku mau nagih jawaban kakak. Cepat jawab, kakak kerja apa?” desak Renata lalu mencubit kedua pipi Reynold.


“Haduh! Sakit, Ren! Aku pikir kamu nggak inget lagi sama pertanyaanmu itu. Lagian kenapa mau tahu sih? Kamu tinggal duduk manis dan semua yang kamu inginkan akan kamu dapatkan. Percaya sama aku,” ucap Reynold mencoba menjelaskan.


Renata memicingkan matanya menatap Reynold. Dia tetap teguh menuntut jawaban atas pertanyaannya. “Bagaimana aku bisa yakin sama kakak kalau tidak melihat buktinya? Hari gini cuma janji saja, mana bisa aku percaya.”


Renata bersedekap dengan wajah cemberut. Jantungnya berdetak sangat kencang ketika dirinya mendesak Reynold dengan sangat agresif. Renata tidak tahu apa akibatnya melakukan itu. Tapi dia perlu kepastian kalau melangkah bersama Reynold adalah keputusan yang tepat. Renata tidak ingin menyakiti keluarga mereka hanya karena mengikuti keinginan Reynold. Apalagi saat mengetahui kebenaran tentang siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya.


“Kenapa kamu mau tahu apa pekerjaanku, Renata? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Reynold seolah bisa membaca semua yang ada di kepala Renata.


***


Sambungannya jangan ditunggu ya. Pasti up lagi kok.


Ada yang nyariin aku? Jujur, aku nggak kemana-mana kok. Cuma sibuk di RL aja.


Btw, guys aku minta tolong dong mampir ke ceritaku yang baru. Judulnya Wanita Sang CEO. Covernya wanita gendut dan imut kayak aku.


Buku ini ikut lomba soalnya, jadi minta dukungan masukin ke rak dan komen ya. Makasih atas dukungan kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2