
Ilham mulai sadarkan diri, ia memegangi kepalanya yang pusing. Saat ia melihat wajah Bianca, Ilham langsung memeluknya dengan erat.
Bianca : "Il...Ilham kamu baik-baik aja? Gak ada yang luka kan?"
Ilham : "Aku gak pa-pa. Kamu kenapa bisa disini? Kamu diculik juga?"
Bianca : "Aku... Aku lagi nunggu orang yang akan dijodohkan denganku. Papaku bilang kalau kami akan bertemu disini. Kamu mau minum?"
Ilham : "Kenapa aku bisa disini?" Ilham meminum orange juice yang disodorkan Bianca.
Bianca : "Itu sepertinya kamu diculik sama papaku..."
Ilham : "Apaa??!!"
Bianca mundur selangkah menjauh dari Ilham yang menatapnya dingin. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Tapi pandangan Ilham seolah mengatakan kalau Biancalah biang keroknya.
Bianca sedih melihat pandangan mata Ilham. Ia sudah menguatkan hatinya untuk tidak bertemu Ilham lagi. Tapi papanya malah mengirim pria ini kesini. Dan apalagi maksud papanya menculik Ilham.
Bianca : "Aku gak tahu apa-apa. Kemarin aku sudah pamitan dengan Mia dan Alex. Dan menemui papa karena aku setuju dijodohkan dengan entah siapa."
Bianca duduk kembali di kursinya semula, ia merasa sudah terlalu banyak bicara. Dan Ilham mungkin tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan.
Mereka duduk diam dalam waktu yang cukup membuat bokong panas. Ilham masih menatap Bianca yang hanya bisa menunduk takut.
Bianca : "Itu pintu keluar ada disana. Pergilah, aku masih menunggu orang disini."
Ilham menoleh melihat pintu yang ditunjuk Bianca. Ia kembali menatap Bianca yang sudah menunduk menahan tangisannya.
Bianca terlihat cantik dengan dress hijau muda yang dipakainya. Perempuan manis ini berdandan untuk kencannya kali ini.
Ilham : "Apa kamu dandan untuk ketemu pria itu?"
Bianca : "Se...sedikit. Tapi ini make up biasa. Aku ke kantor juga begini kan?"
Bianca diam lagi, untuk apa juga dia harus menjelaskan tentang make-upnya malam ini. Terus terang ia cukup asal-asalan bermake-up hanya untuk menghormati pria yang akan menemuinya.
Ilham bangkit berdiri, ia berjalan ke arah pintu tanpa bicara apa-apa lagi dengan Bianca. Hati Bianca yang sudah patah hati jadi dua karena Alex, patah lagi seperempat karena Ilham kini sudah hancur seketika.
Tubuhnya menggigil setelah sosok Ilham keluar dari ruangan itu. Padahal mereka baru bertemu sebulan tapi Bianca sudah mencintai Ilham.
__ADS_1
Bianca mengusap setiap tetesan air mata yang turun ke pipinya. Pandangan matanya menatap kosong pada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Sudah dua jam ia menunggu pria itu yang tak kunjung datang.
Bianca : "Apa papa salah ngasi jam-nya? Sampai kapan aku harus menunggu."
Bianca menoleh menatap jendela besar di ruangan itu. Ia berjalan mendekatinya dan berdiri di sisi jendela yang menunjukkan pemandangan malam kota itu.
Bianca : "Setidaknya pemandangannya bagus. Orange juice-nya juga enak."
Kerlipan lampu di malam hari tidak membuat Bianca merasa lebih baik. Mulutnya bilang baik-baik saja tapi hatinya benar-benar sudah hancur.
Kali ini Bianca menangis terisak-isak. Tubuhnya sampai merosot jatuh di pinggir jendela, tangannya mendekap tubuhnya yang mulai kedinginan.
Begini amat ya jadi dia, pria yang disukainya sama sekali tidak menyukainya. Dan saat ia menanti seorang pria yang tidak ia kenal, pria itu malah tidak mau datang.
Pikirannya semakin buruk saat menyadari ponselnya sudah mati karena kehabisan baterai. Bianca meratapi ketidakberuntungannya.
------
Mia berjalan menyusuri lorong di lantai 4 sebuah hotel terkenal di kota Y. Ia mendapat pesan dari nomor tak dikenal yang memintanya datang ke hotel itu untuk bertemu Alex.
Langkahnya berhenti saat ia sampai di depan kamar nomor 456. Pintu kamar itu tidak tertutup dengan benar hingga masih ada sedikit celah. Mia melihat ke kanan dan ke kiri, situasi hotel yang sepi.
Matanya terbelalak melihat Alex tampak pasrah menikmati gerakan seorang wanita diatasnya. Rambut panjang wanita itu melambai ke kanan dan ke kiri minta di jambak.
Wanita itu menoleh, Mia mengenalinya, ia ingin berteriak mengatakan hentikan, tapi suaranya tidak keluar. Ia tercekik sesuatu hingga tak bisa bicara. Stella bangkit dari atas tubuh Alex yang masih terbaring.
Ia berjalan mendekati Mia yang gemetar menahan marah. Mia ingin menjambak rambut Stella tapi tidak bisa mendekatinya.
Tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Suaranya terasa tertahan sesuatu. Mia berusaha menggerakkan tubuhnya, nafasnya hampir habis karena usahanya itu.
Sampai tubuhnya berguncang hebat dan rasa sakit perlahan mulai ia rasakan diperutnya. Mia mulai berteriak, kali ini suaranya terdengar lantang,
Mia : "Anakku, tolong anakku!!"
Semakin keras tubuhnya terguncang, Mia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Pandangannya mulai gelap dan segaris sinar mulai terbuka.
Mia membuka matanya, ia menatap sekeliling dan melihat Alex mencengkeram kedua bahunya.
Alex : "Sayang, kamu kenapa? Mia?"
__ADS_1
Mia : "Aduch...!! Sakit, mas..."
Alex menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Wajahnya memucat melihat darah segar mengalir dari tubuh bagian bawah Mia.
Alex segera menggendong Mia keluar dari kamar. Ia berteriak memanggil Arnold dan Rara yang segera keluar dari kamar mereka.
Alex : "Kita ke rumah sakit. Cepat!"
Melihat Alex menggendong Mia, Arnold sigap mengambil kunci mobilnya yang parkir paling luar.
Arnold : "Ra, ambil dompet dan ponselku. Cepat!"
Arnold berlari ke depan pintu dan membukanya, ia segera menghidupkan mobilnya dan keluar lagi untuk membuka pintu gerbang rumah Alex.
Keributan di lantai bawah membuat si kembar dan nenek terbangun juga. Alex, Mia dan Arnold sudah ada di dalam mobil. Mia hampir kehilangan kesadarannya dan darah terus mengalir dari tubuhnya.
Alex : "Ra, ambilkan tas mama, dompet dan ponsel papa, cepat bawa ke rumah sakit. Kita duluan kesana, Arnold."
Rara bolak balik menyiapkan perlengkapan Mia dan Alex. Ia juga mengganti pakaiannya dengan cepat. Untung saja tadi ia sudah memberikan ponsel dan dompet Arnold.
Saat Rara akan mengambil kunci mobil Alex, ia menyadari sesuatu kalau ia belum bisa menyetir. Ditengah kepanikannya, Rio dan Riri yang sudah ganti baju, mengambil kunci mobil Alex.
Rio : "Ayo cepat, mb."
Rio dengan sigap memundurkan mobil Alex dan Riri menarik gerbang menutup. Mereka siap menyusul Mia ke rumah sakit.
Rara : "Rio, habis ini tolong cerita sejak kapan kamu bisa nyetir??"
Rio cuma nyengir sambil tetap konsen menyetir sementara Riri menghubungi Arnold untuk menanyakan rumah sakit yang mereka tuju.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------