
Extra part 19
Melda mengkerutkan keningnya saat melihat Rio datang ke kantor dengan tergesa-gesa. Ia bahkan belum memakai dasinya dengan benar. Pria itu langsung masuk ke ruang kerjanya, lalu membetulkan penampilannya dengan cepat.
Sedetik kemudian, suara telpon mengalihkan perhatian Melda. Dengan satu tangan masih mengetik di laptop, Melda menerima telpon itu. Suara merdu seorang wanita menyapa dari seberang sana. Tamu yang mereka tunggu pagi itu sudah datang. Melda meminta resepsionis mengantar tamu sampai ke lift dan ia bersiap menyambut di depan pintu.
“Rio, clientnya udah datang,” panggil Melda.
“Iya, gue bentar lagi siap,” sahut Rio sambil merapikan rambutnya.
Melda berjalan lebih dulu ke pintu lift yang berbunyi tanda pintu akan terbuka. Ting! Melda tersenyum cerah menyambut tamu mereka, tapi senyumnya langsung surut saat mendapati lift dalam keadaan kosong. Melda berbalik dengan cepat kembali ke mejanya, ia menelpon ke bawah menanyakan keberadaan tamu mereka.
Resepsionis mengatakan kalau Alex sudah datang dan tamu itu malah mengobrol dengannya di lobby kantor. Memang terdengar suara Alex di seberang sana. Itu artinya Alex berada di dekat lift, Melda cepat-cepat
meletakkan telpon lalu berjalan kembali ke depan lift yang sudah tertutup kembali.
Rio menyusul berdiri di samping Melda agak ke depan dan mata Melda melotot kaget melihat sesuatu di leher Rio.
“Lo habis....” Kata-kata Melda terhenti saat mendengar suara lift, lalu pintu terbuka dan... Jreng! Alex keluar dari sana bersama client mereka. Melda cepat-cepat menetralkan ekspresi wajahnya setelah melihat leher Rio. Ia beralih melihat client mereka yang saat itu berpakaian sedikit terbuka.
”Ini kalau dilihat Ibu Mia, bakalan perang dunia nich. Apa aku harus kirim spesifikasi pakaian ya, untuk client kalau mau ketemu Pak Alex.”
“Bu Christina, selamat datang di kantor kami,” sapa Rio dengan sopan.
“Ach, masih muda, ganteng lagi. Ini siapa ya?” tanya Christina genit pada Rio.
“Ini putra saya, Rio. Bu Christina, silakan ke ruang meeting dulu. Saya ke ruang kerja sebentar,” ucap Alex mempersilakan Christina berjalan bersama Rio dan Melda.
Client mereka kali ini cukup besar dan sangat suka dengan pria tampan. Itu salah satu alasan Christina memilih perusahaan Alex. Lihat saja gayanya berjalan sambil merangkul lengan Rio manja. Melda menahan
senyum gelinya melihat Rio yang pucat karena tante-tante itu menariknya terus.
“Ya, ampun. Di ruangan kamu banyak nyamuk ya. Kok merah-merah gini lehernya sih?” tanya Christina sambil meraba hasil perbuatan Gadis kemarin malam.
Bukan cuma satu tapi ada lima bekas ciuman yang memerah di leher Rio. Itulah kenapa Melda sangat kaget melihatnya.
“I—iya, Bu Christina. Ada nyamuk besar di rumah semalam,” sahut Rio canggung.
__ADS_1
“Kamu sudah punya istri? Anakmu berapa?” tanya Christina lagi setelah mereka duduk di ruang meeting.
“Maaf, Bu Christina. Mau minum apa? Kopi atau teh?” tanya Melda memotong pembicaraan mereka berdua.
Christina ingin dibuatkan kopi hitam saja, ia kembali sibuk meng-interview Rio tentang apa yang dilakukan pria itu semalam. Tapi Rio berusaha mengelak dengan membahas tentang performa perusahaan Alex.
Ketika Alex dan Melda masuk kembali ke ruang meeting, mereka segera memulai meeting yang membahas kelanjutan dari kerja sama antara perusahaan Alex dengan perusahaan Christina.
**
Sejam kemudian, meeting itu akhirnya berakhir. Rio menghempaskan tubuhnya dikursi di depan Melda. Ia menarik dasinya hingga lebih longgar dan membuka kancing atas kemejanya.
“Gila! Banyak banget! Itu leher, dada lo kenapa?” tanya Melda sambil menghitung merah-merah di leher dan dada Rio.
Sampai sepuluh lebih yang terlihat, belum lagi yang tersembunyi. Rio menepis tangan Melda yang semakin kepo ingin membuka kemejanya.
“Dih, mesum banget sich lo. Jablay lo ya,” kata Rio membuat Melda teringat suaminya, X yang sedang bertugas keluar kota.
“Lo sendiri terlalu over. Kalian tuch ngapain kemarin malem sampe lo babak belur gini terus terlambat kerja?” tanya Melda kepo.
“Lo gila ya. Enteng banget ngomong gitu. Tapi kok gue nggak percaya ya? Nggak mungkin lo cuma keluar sekali. Masa Gadis bisa seagresif itu?” tanya Melda kepo mengingat wajah Gadis yang kalem.
“Kalo Gadis nggak agresif, nggak jadi tuch si kembar Reymond sama Reyna. Mereka kan ada, waktu aku masih sakit. Sekali aja, tapi muantap banget,” kata Rio sambil membetulkan kemeja dan dasinya.
“Lo sih enak, istri deket. Gue boro-boro mau praktek, ketemu aja setahun cuma empat kali. Itulah kenapa anak gue nggak jadi-jadi,” kata Melda sambil mengambil file dari rak di belakangnya.
“Itu artinya kak X kurang kuat,” sahut Rio cengengesan.
Melda kembali duduk di kursinya, ngambek dengan bibir manyun. Rio menahan ekspresinya mengikuti ekspresi wajah Melda. Yang berakibat melayangnya seperangkat peralatan kantor kearah Rio. Mulai lagi
mereka berdua berantem di pagi yang tenang itu.
**
Ketika hampir jam pulang kantor, Melda bersenandung sambil membereskan meja kerjanya. Rio yang tumben mendengar Melda bersenandung, melongok lewat pintu ruang kerjanya.
“Ada yang lagi seneng nich,” goda Rio.
__ADS_1
“Iya dong. X mau pulang hari ini, minta dijemput,” sahut Melda sambil memperbaiki riasannya.
“Ntar gue kirimin jamu kuat dech,” ledek Rio sekali lagi.
Tapi Melda tidak menanggapinya, ia sangat senang mendengar kabar kepulangan X. Meskipun yang ngabarin anak buah X, tapi Melda tetap happy banget.
“Rio, gue pulang duluan ya. Pesawatnya mendarat jam enam. Gue cuma punya waktu satu jam buat sampai sana,” kata Melda sambil mengambil tas tangannya.
“Perlu gue anterin? Ntar nyasar loh,” balas Rio.
“Gue ada yang jemput dong. Nyonya X, anak buahnya banyak,” sahut Melda dengan songongnya. Meskipun terkadang dia takut sendiri berbuat salah dihadapan semua anak buah X. Rio memeletkan lidahnya sambil
melirik Melda yang sudah berjalan menuju lift.
Benar saja sampai di bawah, anak buah X sudah siap menunggunya dengan mobil hitam. Bukan hanya satu mobil tapi dua mobil berisi pria berbadan besar. Beberapa karyawan Alex sampai mengingkir dari dekat
mereka, ada juga yang kepo ingin melihat siapa yang dijemput dengan pengawalan ketat itu.
Seorang bodyguard berbadan lebih kecil, membukakan pintu untuk Melda setelah melihatnya keluar dari lobby kantor Alex.
“Kakak ipar, silakan masuk,” kata Alvin bodyguard kepercayaan X untuk menjaga Melda.
“Alvin, kenapa hari ini banyak yang ikut? Apa ada sesuatu yang spesial?” tanya Melda merasa heran.
“Kak X membawa seorang tamu penting, jadi keamanan ditingkatkan dua kali lipat,” sahut Alvin sambil menutup pintu mobil setelah Melda duduk dengan baik.
Melda memikirkan tamu penting seperti apa yang dibawa X, dia jarang membawa orang lain saat kepulangannya. Kalaupun kebetulan bersama Bianca atau anak-anaknya, pengamanan mereka juga tidak seketat ini.
Perjalanan mereka juga cukup cepat karena jalanan yang cukup lengang sebelum jam pulang kerja yang biasanya membuat jalanan sedikit padat. Tahu-tahu mobil hitam itu mulai memasuki gerbang bandara menuju terminal kedatangan.
Melda merapikan penampilannya sekali lagi. Sebenarnya ia ingin mengganti baju kerjanya dulu tadi, tapi waktunya tidak banyak. Setidaknya Melda bisa memaksimalkan riasan wajahnya dan juga aroma wangi parfum, yang ia semprotkan.
Alvin mengantar Melda sampai ke gerbang kedatangan. Satu persatu penumpang pesawat mulai keluar dari pintu kaca. Melda menatap penuh harap sampai ia melihat sosok X berjalan dengan seorang remaja laki-laki yang cukup tampan.
**
Next story Melda & X
__ADS_1