
Siang itu, saat Mia
sedang makan siang bersama Nenek dan Mb Minah, kurir datang mengantarkan
sesuatu untuk Mia.
Mia : “Iya, saya
sendiri.”
Kurir : “Silahkan
bu. Permisi.”
Mia menatap kotak
besar di tangannya dengan bingung. Ia mengocoknya sedikit tapi tidak terdengar
apapun. Mia membawa kotak itu ke dalam rumah.
Nenek : “Apa itu,
Mia?”
Mia : “Nggak tau,
bu.”
Nenek : “Coba
buka.”
Mia : “Iya, bu.”
Mia duduk di ruang
keluarga dan mulai membuka kotak itu. Sebuah gaun malam berwarna biru langit
yang sangat cantik muncul dari dalam kotak.
Nenek : “Wow, bagus
banget. Siapa yang ngirim?”
Mia membongkar
kotak itu, mengeluarkan semua isinya. Gaun, sepatu, tas tangan dan sebuah
kartu. Mia membuka kartu itu, “Sayang, pakai ini untuk malam ini. Aku akan
jemput jam 7. With love. Alex.”
Mia : “Dari mas
Alex, bu. Mia mau dijemput jam 7.”
Nenek : “Mau diajak
kemana?”
Mia : “Sepertinya
ke pesta sama relasinya, bu. Mia coba bajunya dulu ya.”
Nenek : “Lanjutin
makan dulu, Mia. Lagi dikit tuch. Ntar si kembar keburu bangun.”
Mia : “Eh, iya bu.”
Mia meletakkan gaun
itu kembali ke dalam kotak dan melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.
Setelah membantu
membereskan meja makan dan mencuci piring, Mia membawa kotak itu ke dalam
kamarnya. Ia melihat ke dalam boks bayi, si kembar masih anteng tertidur lelap.
Mia membuka kotak
itu dengan tidak sabaran dan segera mengganti pakaiannya dengan gaun itu. Ia
melihat pantulan dirinya di cermin besar.
Mia : “Wow! Pas
sekali.”
Gaun itu membungkus
tubuh Mia dengan sangat baik, membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Mia
mencoba sepatunya juga yang ternyata sangat nyaman.
Mia : “Mas Alex
pinter banget milihnya.”
Mia tersenyum
senang, ia tidak menghubungi Alex lagi karena memang Alex akan mengajaknya ke
pesta nanti malam.
Mia segera
mengganti pakaiannya lagi ketika dilihatnya baby Reva mulai menggeliat. Ia
segera mengurus bayi kembarnya kembali.
*****
Jam 7 malam, Alex
benar-benar datang untuk menjemputnya. Alex menatap kagum pada sosok Mia yang
sudah siap.
Alex : “Kamu cantik
banget, sayang.”
Mia : “Mas, jangan
lama-lama ya perginya. Kasian mb Minah jagain si kembar sendiri.”
Alex : “Kamu tenang
__ADS_1
aja.”
Tiba-tiba dari
ruang tamu muncul Ilham dan Bianca, Rara dan Arnold juga ada disana.
Bianca : “Hai, hai.
Tante Bianca datang mau jagain baby twin.”
Rara : “Iya, mah.
Mama pergi aja sama papa. Biar si kembar kita yang jagain.”
Mia : “Makasih
banyak ya, Bianca, Ilham. Rara sayang, mama pergi dulu sama papa ya.”
Alex menggandeng
tangan Mia, berjalan keluar rumah. Alex membantu Mia masuk ke mobilnya dan
segera masuk ke mobilnya juga.
Alex : “Sudah siap,
sayang?”
Mia : “Sudah, mas.
Mas kok ganteng banget sich.”
Alex tersenyum
lebar mendengar pujian istrinya. Tangan Alex menarik tangan Mia dan mencium
punggung tangannya. Kening Alex sedikit berkerut mencium bau tangan Mia.
Alex : “Yank, tadi
kamu makan sambel terasi ya. Ditanganmu masih bau sambel.”
Mia : “Masa sich?”
Mia mencium
tangannya sendiri, ia nyengir lebar dan mengambil tisu basah dari dalam tas
tangannya.
Mia : “Hehe... tadi
mb Minah habis buat sambel terasi untuk makan malam, aku kan laper, mas. Jadi
nyobain dikit.”
Alex : “Buyar dech.
Baru mau romantis.”
Mia : “Ayo jalan,
mas. Ntar telat ke pestanya.”
Alex menjalankan
mobilnya dengan kecepatan sedang,
kamu tahu kita mau ke pesta?”
Mia : “Itu... Romi
yang bilang.”
Alex : “Oh, kamu
nanya dia waktu gaunnya nyampe ya? Kenapa gak nelpon aku?”
Mia : “Gak keburu,
mas. Si kembar bangun sich.”
Mia tidak mau
membahas mengenai chat misterius yang ia terima, ia tidak mau merusak malam
yang baik ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat mereka bertengkar
nantinya.
*****
Alex menghentikan
mobilnya di parkiran sebuah hotel. Sebelum turun, Alex menoleh pada Mia,
Alex : “Sayang,
kamu bawa lipstik gak?”
Mia : “Bawa, mas.
Kenapa?”
Belum sempat Mia
bicara lagi, Alex sudah membungkamnya dengan ciuman yang membuat Mia terlena.
Alex bahkan tidak memberi jeda pada Mia yang mulai kehabisan nafas. Mia
ngos-ngosan diserang Alex,
Alex : “Sayang...
Kau seksi sekali.”
Mia : “Maas....
kita gak masuk?”
Alex : “Kita masuk
bentar aja ya. Habis itu ke kamar.”
Mia : “Jangan, mas.
Ntar kemaleman, kasian si kembar.”
Alex : “...Iya,
__ADS_1
sayang. Ayo kita masuk.”
Alex menuntun Mia
turun dari mobil setelah Mia memperbaiki dandanannya. Alex tersenyum dan
menggandeng tangan Mia masuk ke ballroom tempat pesta kalangan atas itu
dilaksanakan.
Pesta itu adalah
pesta ulang tahun perusahaan salah satu relasi Alex dan Alex mendapat undangan
untuk menghadirinya. Saat beberapa orang teman bisnis Alex melihatnya, mereka
melambaikan tangan pada Alex.
Mia : “Mas, ini
bukan pesta yang biasanya ya?”
Alex : “Iya, ini
rekan bisnisku yang lain. Kamu santai aja.”
Mia mengikuti
langkah kaki Alex mendekati salah satu temannya, mereka menatap Mia dan memuji
kecantikan Mia. Meskipun masih sedikit mekar, tubuh Mia memang bagus, kulitnya
juga putih mulus.
Alex mulai cemburu
melihat cara pria-pria disana menatap tubuh Mia. Para undangan pria kebanyakan
tidak membawa pasangan mereka yang sebenarnya, jadinya tidak ada yang cemburu
melihat kelakuan mereka.
Alex : “Sayang,
kita cari minum yuk.”
Mia : “Ya, mas.”
Alex membawa Mia
mendekati meja yang berisi minuman, seorang pelayan membantu mengambilkan apa
yang mereka butuhkan. Mia meminum minuman yang lebih ringan kadar alkoholnya,
sementara Alex hanya minum softdrink karena harus menyetir.
Alex : “Gak pa-pa
kamu minum itu? Ntar ASI-nya gimana?”
Mia : “Gak pa-pa
kalo dikit cuma buat menghangatkan badan aja, mas. Ya jangan sebotol juga.”
Alex : “Kalau untuk
menghangatkan badan, aku ada caranya.”
Mia tersenyum saat
Alex membisikkan sesuatu padanya, ia memukul pelan dada Alex saat Alex mencium
pipinya. Kemesraan mereka dilihat seseorang yang sejak awal terus memperhatikan
kedatangan mereka tanpa menunjukkan dirinya.
Linda meremas gelas
minuman di tangannya, ia melirik minuman di tangannya dan tersenyum licik.
Linda melihat pelayan datang ke arahnya dan melambaikan tangan padanya,
Linda : “Bantu aku.
Kamu mau uang?”
Linda
memperlihatkan segepok uang di dalam tas tangannya.
Linda : “Kamu lihat
pria yang bersama wanita berbaju biru langit disana?”
Pelayan menoleh
sebentar, memicingkan matanya dan mengangguk.
Linda : “Masukkan
ini ke minuman pria itu dan ikuti mereka. Kalau bisa yang wanita juga. Katakan
mereka bisa beristirahat di kamar 307, ini kartu kamarnya.”
Pelayan itu
mengangguk dan Linda memberikan sebagian uang di dalam tasnya.
Linda : “Kalau kau
berhasil, aku kasi sisanya. Sudah sana.”
Linda tersenyum
licik melihat pelayan itu berjalan mendekati Mia dan Alex.
🌻🌻🌻🌻🌻
Hai, salam buat pembaca semua. Author selalu
menantikan like dan komentar kalian loh. Kasi author semangat dong. Meskipun
gak bisa up banyak, tapi kan kasi semangat buat rutin up gitu.
Author lagi kumat malesnya nich. Jangan lupa vote
juga ya.
Hehe, author banyak banget permintaan...
__ADS_1
Klik profil author buat lihat karya author yang
lainnya ya.